
"Itu menyenangkan sekali!." Ujarnya sambil tersenyum lebar
Sudah 3 jam Diaz dan Melody menikmati wahana permainan ditaman bermain ini. Walaupun keberadaan Melody sangat menarik perhatian, tapi ia masih bisa menikmati kesenangannya. Tapi, ia harus bersiap akan berita heboh untuk besok. Apalagi ia berjalan dengan seorang pria.
Tapi melupakan hal yang melelahkan, cukup membuatnya bahagia.
Diaz tersenyum kecil, ketika melihat insan cantik didepannya tersenyum lepas tanpa beban sedikitpun. Diaz merasa sesuatu seperti jenuh dan letih ketika ia bertemu dengan Melody untuk pertama kalinya. Ia terlalu bekerja keras dan sangat begitu ambisius, itu bagus, namun juga buruk bagi pikiran seseorang.
'Aku bersyukur bisa mengajakmu kesini.' Batin Diaz.
Melepas sedikit kepenatan batin pada Melody sudah cukup membuat Diaz menarik nafasnya lega. Walaupun Diaz bukan siapa-siapa baginya, namun entah kenapa ia sangat peduli terhadapnya. Ia tidak mau dia terlalu bekerja keras dan tertekan, bahkan ketika ia rehat dari profesinya sebagai penyanyi.
"Hei kenapa kau senyum-senyum?, Ada yang salah dengan wajahku?." Cerutunya
"Tidak apa-apa." Ujar Diaz, dibalas dengan pipi menggembung oleh Melody yang menandakan ia tidak puas akan jawaban Diaz.
Mereka berdua duduk disebuah bangku taman yang sepi, mengingat keberadaan Melody terlalu besar jadi memerlukan tempat yang jarang dilewati orang.
Diaz menatap dalam Melody, matanya memandang kedepan tanpa ragu dan percaya diri. Melody yang hendak tadi berbahagia mendadak senyap. Memainkan surai hitamnya, ia merasa canggung ketika ditatap oleh pria disampingnya.
"Itu berbahaya, Diaz..." Lirihnya, namun masih terdengar jelas.
Diaz yang mendengar itu, memilih untuk menoleh kearah lain, mengerti akan berbahaya bagi mereka berdua. Mereka berdua duduk begitu dekat namun disisi lain juga begitu jauh. Tidak ada topik pembicaraan, serta sebuah perasaan malu juga menyelimuti keduanya. Mungkin jika ada orang yang melihatnya, akan terlihat sangat lucu.
Diantara rasa canggung mereka, Melody melihat kearah sebuah bangunan kecil. Melody sedikit melirik kearah Diaz yang juga sedang canggung, sepertinya ia ingin memulai pembicaraan namun seperti yang Melody duga. Diaz mudah sekali untuk ditebak. Melody menghela nafasnya, ia segera mengucapkan sedikit permintaan egoisnya.
"Hei, ayo kesana." Ujarnya dengan jari telunjuk yang mengarah pada bangunan itu.
Merespon, Diaz melirik kearah jari telunjuk Melody. Ia sedikit membaca sebuah tulisan yang cukup besar dibangunan itu.
"Game Center?."
***
1 jam telah berlalu, Diaz sangatlah percaya diri dalam bidang ini. Game merupakan sesuatu yang paling ia kuasai selain beladiri. Diaz merupakan sosok yang berbakat, bisa jelas tergambar bagaimana ia bisa melewati setiap rintangan yang ada di Athanor Online.
Dalam kesulitan apapun, serta musuh apapun. Diaz selalu mempunyai cara serta strategi yang rumit untuk mencapai sebuah kemenangan. Tak mengherankan bagaimana Diaz bisa menyelesaikan game Antharis Online yang terkenal kesulitannya.
Membutuhkan sebuah kesabaran, ketelitian, serta kemampuan yang benar-benar cukup untuk memainkan game tersulit itu. Berbekal itu, Diaz mampu menjadi sesuatu yang bisa katakan Newbie terkuat. Namun,
"Yeay, ini kemenangan ku yang ketujuh kalinya." Sorak Melody bahagia.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan pria yang menjadi lawannya. Diaz tertunduk lesu ketika melihat sebuah tulisan kalah pada permainan Arcade Fighting, yang mereka mainkan. Diaz meratapi hal itu lebih dalam lagi.
'Aku kalah?.' Batin lesu Diaz
Satu-satunya orang yang mampu menamatkan Antharis Online, mempunyai bakat pembacaan yang tinggi, mahir dalam mengeksekusi strategi, serta pandai dalam mengatur siasat. Kalah?, Oleh seorang wanita yang bahkan jarang sekali bermain game?, Walaupun ini hanyalah sebuah lelucon ini sangatlah tidak seru.
Diaz memukul mesin arcade itu sedikit keras membuat Melody cukup terkejut, tapi untungnya tak ada orang game center ini, "Satu kali lagi!." Ujar serius Diaz. Melody yang melihat keseriusan itu hanya mengangguk pelan. Ia tidak menyangka kalau Diaz bisa sangat serius soal game.
Mereka pun kembali bersaing, kekalahan tujuh kali secara beruntun sudah cukup membuatnya depresi. Namun dengan tatapan serius beserta dengan fokus yang ekstrim Diaz mencoba untuk melawan. Baik jari Melody dan Diaz, bergerak kesana kemari layaknya seorang pianis yang handal.
Namun.
"{Kalah.}" Suara arcade terdengar dari mesin milik Diaz. Dan benar ini adalah kekalahannya ke delapan melawan Melody.
Melody menggaruk pipinya sedikit, ia merasa tidak enak ketika harus mengalahkan Diaz secara telak. Bagaimanapun juga ini karena Melody terlalu terbawa suasana hingga tak menyadari kalau Diaz sudah dipermalukan olehnya.
Berbagai macam strategi yang jitu mampir dipikiran Diaz, ia mengeksekusinya dengan baik tapi tetap saja kemampuan Melody jauh dari yang Diaz pikirkan. Ia kira sangatlah mudah melawan Melody, tapi Melody merupakan lawan yang berat setidaknya setara dengan Errol.
"Hah.. ya sudahlah." Ujar Diaz dengan helaan nafas lelahnya.
Menyadari kalau ia meneruskannya maka akan hanya mempermalukannya jauh lebih dalam. Melody tersenyum kecut ketika melihat Diaz yang seperti putus asa melawannya.
"Aku tak menyangka kau bisa sehebat itu bermain game."
Harus Diaz akui, kesulitan melawan Melody sama dengan ketika ia melawan Errol. Yah mereka berdua merupakan monster yang mengerikan. Diaz harus waspada akan hal itu.
Melody melihat ekspresi wajah Diaz yang nampak begitu kecewa. Bukan terhadapnya melainkan terhadap dirinya sendiri. Melody bisa melihat wajah jengkel Diaz yang jujur sangat imut untuk dipandang. Tanpa sadar tangan Melody membelai surai hitamnya.
"Mungkin lain kali kau bisa mengalahkan ku." Hiburnya
Diaz yang merasakan belaian lembut dari sang gadis segera meresponnya positif. Diaz memegang telapak tangannya, membuat gadis didepannya terkejut. Diaz tak habis pikir apa yang terjadi dengan Melody.
Dahulu ia yang begitu pemalu dan sangat salah tingkah pada sesuatu yang berkaitan dengannya. Tapi sekarang, ia sangat percaya diri ketika berhadapan dengannya, berbeda dengan beberapa waktu lalu yang nampak masih malu-malu. Diaz tersenyum kecil.
"Aku bukan anak kecil lagi kau tahu.." Lirihnya.
Tangan Diaz masih terasa begitu nyaman, tak rela ia lepaskan begitu saja. Melody mengeratkan genggamannya, mencoba untuk percaya diri dan menahan rasa malunya. Tapi jujur perasaan ini membuatnya bahagia, layaknya sebuah candu yang sangat sulit sekali untuk dihindari, atau dipuaskan.
"Sayang sekali, aku lebih suka ketika sikapmu seperti anak kecil." Ujarnya dengan senyuman jahil yang merupakan khas.
Diaz hanya terkekeh kecil, tidak ada orang disini. Game Center merupakan bangunan yang sepi, karena ditaman bermain sebesar ini banyak sekali wahana yang jauh lebih menyenangkan. Itulah kenapa suasana Game Center sangat sepi, karena telah kalah pamor secara telak.
__ADS_1
Namun, sepi juga merupakan sesuatu yang indah.
Diaz dan Melody saling bertatap dalam. Diruangan yang besar ini, hanya terdengar suara jam berdetak, serta mesin arcade yang masih menyala, cukup mendukung sebuah suasana. Genggaman Diaz mengerat jauh lebih dari sebelumnya. Tak mencoba menghindar, Melody malah mengikutinya.
Telapak tangan Diaz bergerak, menyentuh pipi sang gadis. Hangat, rasanya. Melody terbawa suasana nyaman dari laki-laki didepannya. Mencoba untuk menolaknya namun seakan percuma. Nafas serta detak jantungnya semakin tak beraturan, begitu juga denyut nadi sang gadis yang semakin lama semakin cepat.
Ibu jari Diaz menyentuh bibir sang gadis, menggerakannya dengan lembut begitu pula dengan apa yang jarinya rasakan. Melody diam tanpa kata, tak bisa menolak apa yang selama ini ia inginkan. Untuk seorang perempuan ini terlalu berlebihan untuk hatinya yang masih tak beraturan.
Namun.
Tangan Diaz segera menjauh beserta dengan tatapannya yang sepertinya sedikit berdosa.
"Mau pulang?." Ujarnya menyadari akan berbahaya kalau suasana ini diteruskan lebih lama lagi.
***
Disebuah lembah dataran rendah, sesosok Orge duduk di singgasana dengan ornamen tengkorak manusia. Setiap tengkorak itu adalah manusia terkuat pada negera atau kedaulatan yang ia invasi dalam kurun waktu belakangan. Ia menancapkan pedang besarnya, mencoba untuk gagak perkasa dihadapan bawahannya.
"Tuanku.."
Ogre lain bertekuk lutut, ia sedikit menunduk tak berani berkontak mata dengan tuan atau rajanya. Ia meletakan kapak yang pada sisi tajamnya terlihat kepala manusia yang tertancap dalam. Dengan suara mantap ia berkata.
"Aku membawakan anda sebuah hadiah.." Ujarnya sopan.
Ogre yang duduk di singgasana itu hanya mengangguk sebagai konfirmasi, ia menatap kedepan melihat pasukan nya dalam jumlah yang besar. Ia tersenyum dalam sebuah kesenangan dunia, ambisinya untuk menghabisi semua ras manusia akhirnya bisa tercapai, setidaknya satu langkah lebih maju.
Ogre itu berdiri dari singasana kekuasaannya, ia berjalan maju melewati Ogre yang bertekuk lutut itu, yang sepertinya adalah ajudan setianya. Ogre yang merupakan raja itu, melihat kebawah. Dari atas ia melihat pasukannya yang telah mengangkat senjata mereka masing-masing. Mereka banyak, cukup untuk meratakan satu negara kecil, namun mereka akan terus bertambah seiring invasi yang mereka lakukan.
Mereka perwujudan teror dari dendam monster yang telah tertindas, menginginkan sebuah kesetaraan serta keadilan. Berpaling dari cahaya dan memilih memeluk kegelapan demi sebuah kebebasan. Apa artinya hidup tanpa kebebasan?.
Ogre itu berteriak beserta menyebutkan namanya dengan lantang.
"Aku Gallag, dengan ini ayo kita balas perbuatan para manusia rendahan itu!." Ujarnya disertai teriakan nama dari sang bala tentaranya.
_______________________
Trivia :
Ninja Tak Bermarga telah saya Publish, silahkan jikalau berkenan membaca.
Tho zmilla sughbishuzənnən tachorrin!.
__ADS_1
Tidak ada cahaya yang bisa menembus kegelapan ini!.