
Dijalan pada abad pertengahan, Zephys berjalan cukup ringan dengan banyaknya pejalan lain berlalu lalang. Zephys memandang sekitar, rumah abad pertengahan, beserta udara yang segar begitu indah ia rasa. Tidak ada habisnya ia nyaman dengan hawa ini, setidaknya jauh dari polusi kota yang memuakkan itu.
Zephys kali ini berada pada distrik-distrik perdagangan. Banyak sekali makanan-makanan yang cukup enak bisa ia lihat, beberapa kali Zephys mencicipi makanan itu. Keaslian rasa serta aroma begitu kuat, ia tidak percaya kalau ini hanyalah dunia virtual. Entah bagaimana teknologi berjalan sekarang, yang pasti lama kelamaan ini akan mengubah dunia.
Saat ini Zephys bukan berada di Renburg, melainkan kota tetangga yaitu Westburg. Sama seperti informasi yang dikatakan Raya, kalau ada seorang master bela diri yang memiliki sedikit informasi tentang pusaka Nakroth. Sin, hanya itu nama yang ia tahu.
Beserta dengan menikmati hawa abad pertengahan, Zephys tak lupa bertanya pada orang yang lewat. Yah, siapa tau mereka mengetahui dimana Sin itu berada.
“Kau datang kesini tanpa alamat orang itu?, Aku kagum dengan kebodohanmu.”
Rodant selalu tak bisa diam, mengoceh sepanjang hari. Memang ini sangatlah mengganggu, jadi menghiraukannya adalah keputusan yang sangat bijak.
Namun yang dikatakan Rodant ada benarnya. Tidak mungkin ia berjalan dikota ini sambil menanyakan nama Sin, bahkan wajahnya saja Zephys tidak mengetahuinya. Zephys sedikit berfikir, kalau benar Sin master beladiri maka ada sesuatu yang bisa mengerucutkan pencariannya.
“Rodant, apa yang kau pikirkan kalau mendengar kata Master beladiri?.”
“Hm, Jurus?.”
Zephys hanya bisa tersenyum kecil. Tidak menyangka pemikiran Rodant sangat sederhana, karena biasanya ia memiliki pemikiran tajam. Bahkan lebih tajam dari Zephys, mungkin.
Zephys melingkar senyumannya, sambil berfikir sederhana ia mengucapkan pemikiran yang sederhana. “Dojo.” Ujarnya
***
*Bug bug bug
Disebuah sudut kota Westburg. Dan disebuah ring berwarna hitam, beserta seruan semua orang. Satu orang pria melawan satu orang wanita, mengesampingkan gender yang berbeda, mereka melayangkan satu demi satu pukulan, tangkisan, serta tendangan.
Si pria berwajah sangar dan bertindik itu, melayangkan rentetan tinju yang begitu berat. Beserta dengan nafasnya yang memburu, dan seruan mendukung dari orang sekitarnya, ia menghujam serangan tajam pada si wanita.
Wanita dengan penutup kepala, mencoba menghindari setiap gempuran tinju itu. Pergerakannya begitu halus, terlihat indah didepan semua orang, rasanya begitu mustahil bagi orang-orang disana untuk meniru pergerakan itu.
Namun, itu membuat lawannya begitu kesal. Dia menarik nafasnya berat, beserta fokus yang tinggi ia mencoba mengenai wanita bertudung itu. Tinjunya semakin tajam dan cepat, namun kaki si wanita menunjukan sebuah perbedaan. Langkahnya cepat, suara ketukan ring terdengar nyaring dibuatnya.
Si pria itu meregangkan lengannya. Sebuah serangan cepat datang dari depan, si pria yakin dengan kecepatannya sekarang mustahil bisa dihindari oleh wanita itu. Namun, ketika jarak tinju dah wajah wanita itu mengecil. Dibalik jaket bertudung hitam itu, ia tersenyum kemenangan.
Dengan sedikit memiringkan kepalanya, sebuah serangan telak berhasil ia hindari. Si wanita itu menyiapkan tinju tersirat, melayangkannya dari bawah, lalu menghantam dagu lawan. Sebuah serangan Uppercut mengenai secara telak. Ia jatuh seketika beserta dengan kesadarannya.
Para penonton tercengang melihat itu, sebuah pertunjukan begitu indah sang wanita tampilkan. Gerakan yang indah, begitu menawan, serta serangan penutup yang begitu mematikan. Berhasil menyita perhatian penonton.
Sementara penonton bersorak. Seorang pria bertopeng gagak memperhatikannya dari jauh. Ia duduk kursi tak jauh dari tempat ring tersebut. Benar, dia adalah Zephys.
“Heh..” Ujarnya terkesan
Sudah lama ia tidak melihat seseorang dengan kemampuan seperti itu, baik gerakan kaki, tangan, serta kecepatan refleknya begitu cepat. Wanita itu kaya akan gerakan serta pola serangan, mampu memilih keputusan dengan begitu baik. Jujur sebagai seseorang yang mengerti beladiri, Zephys begitu terkesan.
“Menurutku wanita itu jauh lebih laki-laki dari kebanyakan laki-laki disini.” Rodant memotong pemikiran Zephys. Namun Zephys juga berfikir sama. “Aku setuju.” Ujarnya.
Memang langka momen dimana Zephys dan Rodant satu pemikiran. Tapi itu adalah kenyataan, hingga pada akhirnya sebuah kejadian menarik perhatian Zephys. Sebuah suara dari wanita itu memecah keramaian.
“Ada pria yang lebih jantan daripada dia?, Kalau ada cepatlah naik ke ring!.” Seru wanita itu.
Semua orang terlihat tidak terkejut, namun diantara mereka semua tidak ada yang berani. Wajar, pria yang jatuh tadi adalah pria terkuat di bar ini, maka otomatis jika ada yang berani menantang, maka kekalahan merupakan hal yang sangat jelas.
Wanita itu menqghembuskan nafasnya. Kecewa dengan apa yang ia lihat, dari banyak sekali pria yang datang tidak ada yang berani menantangnya. Mungkin, pria yang baru saja ia kalahkan adalah figur penting di bar ini. Yah itu adalah alasan yang paling masuk akal. Ia meletakkan kedua tangannya pada saku jaketnya, berniat pergi dari ring.
__ADS_1
Namun, ring itu bergoyang pelan. Menandai kalau ada seseorang yang mencoba memasuki ring tersebut. Wanita itu mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Melihat seorang pria berbaju hitam beserta dengan topeng gagak yang menjadi sorotan utama. Ia tersenyum kecil.
“Kau ingin melawannya?.”
“Tentu, aku tidak bisa melewatkan kesenangan ini.”
“Yah terserahlah, asal kau tidak lupa dengan tujuan kita kemari.”
Rodant sedikit mempertanyakan, namun ia memilih untuk tidak terlalu mengekang Zephys. Tidak ada salahnya ia bertarung di ring ini. Rodant tahu, Zephys adalah maniak bertarung. Tentu hal seperti ini sudah ia tebak. Rodant hanya berdoa Zephys tidak lupa tujuannya untuk mencari Sin.
Zephys menggantungkan sabit besarnya yang merupakan Rodant pada salah satu tiang ring. Ia memegang tali karet bermaksud untuk memasuki ring. Namun, sebuah jendela biru terlihat.
“{Anda akan kehilangan seluruh Status, Fame, dan Skill sementara saat didalam ring. Anda ingin memasuki ring?}.”
Panel sistem terlihat, namun Zephys tidak terlalu menggubris. Ketika memasuki ring, maka otomatis semua status akan hilang dan menyisakan satu nilai disemua status. Ini merupakan kebijaksanaan sistem untuk mendapatkan pertarungan di ring yang adil. Karena didalam ring merupakan pertarungan yang suci.
Setelah memasuki ring, Zephys segera mengecek statusnya. Sekedar memastikan.
___
Name : Zephys (Half Demon)
Level : 15
Class : Shadow Reaper, ???, Unique Alchemist (Side Class)
Fraction : -
Fame : 0
Str: 1 Dex: 1 Vit: 1 Int: 1
___
Zephys mengangguk mengerti sebagai sebuah konfirmasi. Sementara itu sebuah suara wanita terdengar dari arah depan. Memecah keheningan Zephys beserta para penonton yang terdiam.
“Kau menggunakan topeng, eh?. Kau buruk rupa atau bagaimana?.” Ujar wanita itu.
Zephys tersenyum kecut dibalik topeng gagaknya. Tidak menyangka wanita didepannya begitu tajam mulutnya. Zephys melepas topeng gagaknya, memperlihatkan wajahnya yang cukup misterius. Rambut Zephys kini berwarna pirang, ini merupakan efek dari inang Darkin.
Rodant memiliki kemampuan untuk memodifikasi tubuh inangnya dalam skala kecil. Oleh karena itu, jika Zephys malas dengan warna rambutnya ia bisa menggantinya. Yah, Rodant tak lebih dari makhluk penyemir rambut.
“Wajahmu cukup imut untuk seseorang yang akan babak belur.”
“Benarkah?, Mungkin tinjuku akan membuat harga dirimu hancur.”
“Cobalah.”
Niat Zephys dari awal kesini adalah untuk mengisi perutnya, tapi ia tidak menyangka harus memasang kuda-kuda bertarung saat ini. Zephys menarik nafasnya pelan, sedikit merendahkan tubuhnya beserta dengan fokusnya yang memuncak. Melihat lawannya begitu berbeda, wanita itu hanya terkekeh kecil.
Wanita itu membungkuk sedikit kedepan, membulatkan kedua telapak tangannya erat. Beserta nafasnya yang teratur, ia memberatkan posisi pada kedua kakinya. Zephys melihat lawannya, tanpa sadar mengigit lidahnya.
‘Tidak ada celah..’ Batinnya.
Namun, tidak ada gunanya untuk mematung. Zephys mengambil langkah pertama, ia menekan otot pada kedua lengan. Zephys melangkah cepat beserta dengan tiga pukulan beruntun, wanita itu tidak menghindar melainkan menahan dengan kedua lengannya, serangan pertama dan kedua mampu ia tahan namun yang ketiga wanita itu mengubah arah serangan.
__ADS_1
Membuat Zephys membuka celah, wanita itu langsung mengunci pergerakannya begitu halus. Ia mencengkram kuat dan menjatuhkannya ke bawah, membuat Zephys bertekuk lutut.
“Kenapa begitu terburu-buru?.” Ujarnya
Dengan sedikit tersenyum jahil. Wanita itu membenturkan dahinya pada kepala Zephys membuatnya sedikit tersentak, tidak berhenti sampai disitu. Wanita mengepalkan tinju dan mengarahkannya secara telak pada perut Zephys. Membuatnya sedikit kehilangan kesadaran.
Pukulan pada perut sudah cukup membuatnya terganggu. Wanita itu kembali meninju perut Zephys jauh lebih keras, membuatnya terpental dan tergeletak pada tali karet ring. Mata Zephys sedikit berkunang-kunang, namun nafas serta fokusnya masihlah belum padam, begitu pula dengan lengannya yang mengikat pada tali karet ring untuk membuatnya tetap berdiri.
‘Wanita benar-benar menyeramkan.’
Namun ini bukan waktunya untuk mematung. Zephys melihat wanita itu datang padanya, dengan hadiah tinju kasih sayang mengarah pada pipi kanannya. Zephys mampu membaca begitu jelas, dalam waktu yang cepat Zephys langsung menunduk dan memberikan tinju tersirat. Tinju mengenai perut wanita itu, namun belum cukup untuk menghentikan gempurannya.
Tinju menyilang terlihat pada indra Zephys. Ia kembali menghindari dengan pergerakan reflek yang cepat, tentunya dengan tinju tersirat yang ia bawa. Dominasi wanita itu sedikit goyah, namun ia masih percaya diri.
Tinju kembali terlihat datang dari depan dengan kecepatan tinggi. Namun bukan hal yang berarti bagi Zephys yang mempunyai reflek yang tinggi. Ia bergerak menyamping, mengunci siku, dan mengarahkan tinju kearah bawah dagu sebagai serangan balasan.
Wanita itu melangkah kebelakang, pukulan pada dagunya cukup membuat langkah kaki menjadi goyah. Zephys memanfaatkannya, ia melompat dan mengarahkan pukulan mengarah pada pipi wanita itu. Sebuah gerakan iconic dari superhero Superman. Yaitu, ‘Superman Punch’.
Tapi wanita itu bereaksi jauh lebih cepat dari yang diduga. Ia bergerak menyamping, membiarkan tinju Zephys melewatinya, dan disaat yang bersamaan wanita itu mencengkram leher Zephys dan membantingnya kebawah ring. Zephys jatuh dengan keras dan begitu telak, beserta dengan raungan kesenangan para penonton.
“Itu saja?.”
Cukup sudah, diantara rasa sakit yang menjerit pada punggungnya. Zephys bangkit dengan memutar kakinya, berakselerasi pada kedua telapak tangan. Zephys bangkit bersamaan dengan gerakan pamungkasnya. Sebuah serangan kaki memutar cepat layaknya baling-baling. Membuat wanita tersebut mundur beberapa langkah.
Zephys bangkit dan memulai kuda-kuda. Zephys memulai terlebih dahulu, pergerakan kakinya mulai mengalami kenaikan drastis. Zephys melayangkan rentetan tendangan begitu rumit, mulai membalikan keadaan. Sementara dominasinya telah menghilang, wanita tersebut mulai terpojok.
Sudut, kecepatan, serta presisi bisa ia lihat begitu jelas. Setiap tendangan Zephys mempunyai nilai destruktif yang tinggi, wanita itu mencoba menahan dengan kedua lengannya. Namun, lengannya tergelincir tak kuat menahan tendangan Zephys jauh lebih lama, tentunya ini dimanfaatkan dengan baik.
Melihat celah, Zephys menendang perut wanita secara telak. Dibalik tudungnya, wanita itu menggeliat kesakitan. Namun persetan dengan gender, Zephys melanjutkan tendangan. Walaupun dalam posisi sulit, wanita itu masih bertahan dengan lengannya yang sudah pada titik terendah.
Zephys melompat dan memutar tubuhnya. Memahami apa yang Zephys lakukan, wanita itu mempersiapkan postur tubuhnya, menjadikan lengan kanannya sebagai tameng utamanya. Bersamaan dengan itu, tendangan Zephys memutar kuat. Layaknya benturan besi, tendangan kuat Zephys tertahan oleh lengan wanita tersebut.
Namun, Zephys jauh lebih unggul. Layaknya tombak yang menembus tameng. Tendangan Zephys mengugurkan lengan wanita itu, membuatnya jatuh kebawah dengan keras.
Bersamaan dengan jatuhnya wanita itu, suara sorakan penonton bar terdengar ruah. Layaknya pertunjukan yang begitu layak untuk dipertontonkan. Sementara Zephys hanya bisa menarik nafasnya perlahan.
“Itu saja?.” Ujarnya
Zephys sedikit membalas provokasi yang cukup menyinggungnya. Namun, berbalik dengan keadaan. Dalam keadaan tersungkur, terdengar suara tertawa kecil darinya. Wanita itu berdiri tentu dengan kaki yang cukup lemas. Zephys berjalan mundur mengambil jarak. Memberi waktu untuk wanita itu kembali berdiri.
“Kau lumayan terampil, Es krim.” Ujarnya
Sambil tersenyum kecil, Zephys hanya menjawab. “Aku anggap itu pujian.”
Wanita itu melepas jaket bertudung yang menutupi keseluruhan wajah, terlihat sedikit pakaian bagian atas berwarna hitam untuk menutupi dadanya. Wanita berpenampilan tomboi, jelas terlihat. Potongan rambut mohawk dengan warna pink, tato naga yang terlukis pada perutnya, begitu pula tindik dikedua telinganya.
Wanita itu meregangkan lehernya yang cukup sakit, jujur serangan tadi memakan lehernya begitu telak.
“Jangan terlalu sombong.”
Wanita itu merendahkan tubuhnya cukup rendah, ia mengangkat kaki kanannya begitu tinggi hingga hampir tumit menyentuh dahinya. postur kaki kirinya begitu lurus dan kokoh, begitu pula dengan kedua tangan yang layaknya kendali atas pergerakan.
Zephys yang melihat itu hanya bisa terdiam, dalam pengetahuannya ini merupakan kuda-kuda yang kuat namun disisi lain begitu indah. Zephys menelan ludahnya, hanya dengan kuda-kuda yang wanita itu perlihatkan cukup membuatnya bergetar.
“Waktunya serius, Es krim.”
__ADS_1
_________________________
Trivia :