
Gedung tinggi menjulang keatas, menunjukan betapa kokoh serta megahnya gedung tersebut, sebuah kata 'Citra Organization" memampang begitu jelas menandakan besarnya nama tersebut. Sebuah perusahaan teknologi yang begitu besar dan merupakan salah satu perusahaan raksasa, membuatnya begitu disegani dalam hampir semua aspek
Melupakan bagaimana megah dan tinggi gedung utama, disalah satu ruangan yang cukup besar terlihat seorang pria berusia 30 tahunan menatap lelah laptopnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi yang terlihat sangat nyaman, ia menghela nafasnya lelah melihat tugas kerja yang menurutnya tidak ada habisnya
Ia mengambil gelas putih berisi kopi hitam, ia meminumnya secara perlahan mengingat kopi masih dalam keadaan yang panas. Rasa pahit yang begitu kuat menggeliat di lidahnya, mungkin beberapa orang cukup terganggu dengan rasa pahit, tapi tidak berlaku untuknya. Rasa pahit begitu kuat membuatnya semakin nyaman dikala tumpukan file pekerjaan di laptopnya yang sangat memuakkan
Matanya menatap sekitar ruangan untuk sekedar mengistirahatkan dari cahaya biru laptop. Berbagai furnitur yang cukup bernilai tersebar secara rata di ruangannya, warna tembok yang putih bersih membuat ruangan itu terlihat cukup elegan
"Diaz keadaanmu bagaimana yah?" Ucapnya sambil memandang langit-langit ruangan
Sebagai Master sekaligus kakak sudah sewajarnya merasa sedikit khawatir. Sudah cukup lama Reno kenal Diaz, ingatan tentangnya sangat mudah untuk dibayangkan saat ini, Diaz yang begitu berandal dahulu berubah menjadi seseorang yang disiplin serta menjadi pribadi yang lebih baik karenanya.
Reno merasa kalau ia telah berhasil menjadi Master atau guru bagi Diaz, tapi disisi lain rasa khawatir juga sering menghantuinya. Cukup lelah, Reno menenggak kopi hitam untuk membuatnya sedikit lebih nyaman
Reno membuka ponselnya dan segera menyetel Mp3. Terdengar nada bergetar serta sedikit sentuhan terompet terdengar sangat nyaman, jari telunjuk kanan Reno mengetuk lembut meja kerjanya berusaha untuk menyesuaikan nada yang terdengar
"Isi kepala dibalik topi baja, semua serdadu pasti tak jauh berbeda.."
Reno sedikit berdendang kecil dan sedikit melupakan permasalahan pekerjaan yang menumpuk, walaupun Reno bukanlah saudara kandung Diaz namun karena kebersamaan yang mereka jalin cukup kuat, maka membuat mereka memiliki beberapa atau banyak kesamaan, yaitu musik adalah mood mereka
Reno adalah seorang CEO dari Citra Organization, membuatnya begitu sibuk akan dokumen. Tapi walaupun begitu sebenarnya ia bukanlah CEO asli melainkan hanya CEO boneka. Yang memimpin Citra Organization adalah ayahnya bukan Reno, namun karena ayahnya sangat malas mengerjakan dokumen yang dibilang banyak, sehingga memilih Reno untuk menggantikan posisinya.
Namun semua keputusan yang krusial tetap dipegang oleh ayahnya, lagipula intelektual Reno tidak jauh berbeda dengan ayahnya.
"Sudah cukup lama Diaz masuk ke Athanor Online, aku akan coba cek akunnya"
Reno mengganti layar laptopnya dan dengan berbagai ketikan cepat, Reno berhasil masuk dan melihat status dari pemain yang bernama Zephys yang merupakan Diaz dalam dunia Athanor Online
Melalui akun GM atau Game Master, Reno melihat status, item serta histori pertarungan Zephys. Reno melihat berbagai sesuatu yang menurutnya begitu abnormal. Leveling yang begitu cepat, status yang begitu tinggi di levelnya, dan menciptakan Skill Series. Walaupun begitu Reno percaya kalau ini murni skill dari Diaz
"Mengalahkan dan menyumbang damage terbesar saat melawan Boss Dungeon Kargalan di dungeon Blue Lair, kah?. Sangat mengesankan..."
Reno memang memperkirakan tentang potensi Diaz di Athanor Online, namun ia tidak menyangka kalau akan segila ini. Dalam segala aspek, Diaz memang begitu mendukung dalam game ini. Ia sudah dibekali seni beladiri dari Reno, serta kecerdasan pembacaan yang begitu tinggi, dan tidak lupa kemampuan reflek yang juga tidak kalah rusaknya. Membuat Diaz sangat mudah beradaptasi dengan game ini yang bisa dibilang "Cuman modal otot"
Reno kembali mengetik cepat dipapan ketik laptopnya. Dengan akun Game Master, Reno masuk kesalah satu server dan segera melakukan replay ketika Diaz yang kala itu Zephys melawan Kargalan.
__ADS_1
Reno cukup penasaran bagaimana Diaz bisa mengalahkan Kargalan, padahal Kargalan sendiri merupakan Boss Dungeon yang termasuk kuat dalam kelasnya, setidaknya sampai saat ini.
Reno menatap layar birunya, dan melihat Zephys dan Kargalan saling bertarung, pukulan serta tangkisan terlihat begitu jelas dan cepat. Beberapa kali Zephys cukup kesulitan dan terpojok dengan serangkaian serangan Kargalan, namun dengan revolvernya Zephys mampu melakukan perlawanan walaupun terlihat begitu sia-sia
Ketika Zephys mengeluarkan sebuah bilah merah dan berhasil menebas perut Kargalan seketika Reno tertawa cukup lepas. Diaz memang pandai bertarung dengan tangan kosong, namun bakatnya berada pada penggunaan senjata, Diaz terbilang ahli dalam menggunakan senjata, baik itu tongkat, belati, pisau, karambit hingga pedang. Dan tentunya dalam dunia nyata, karena bagaimanapun juga Diaz juga pemegang sabuk hitam dihampir semua beladiri yang ia kuasai
Diaz merupakan orang yang tidak pernah puas dan haus akan rasa penasaran, ia tidak ingin berdiam diri ditempat yang nyaman baginya, ia lebih memilih keluar dan mencari hal yang baru untuk ia serap.
Oleh karena itu ketika Diaz telah mencapai sabuk hitam di seni beladiri yang pertama kali ia pelajari yaitu Silat, ia langsung bergerak dan bergegas mempelajari seni beladiri lainnya. Hingga pada akhirnya Diaz menguasai 4 seni beladiri, yaitu Silat, Taekwondo, Wushu, dan Kick Boxing, dan masing-masing mereka telah Diaz kuasai secara maksimal dan tergolong termasuk ahli
"Sangat mengesankan Diaz"
Reno melihat kemampuan Diaz dalam memakai belatinya. Sudut yang begitu presisi, kecepatan gerak yang optimal, serta kekuatan ayunan yang pas membuat Kargalan begitu kewalahan. Reno hanya bisa tersenyum kecut ketika melihatnya, jujur saja dalam penggunaan senjata ia kalah dari Diaz, namun soal tangan kosong Diaz tidak pernah menang melawan Reno
Dengan usaha yang serius, Zephys berhasil mengalahkan Kargalan dengan menggorok lehernya dengan belati merah yang tiba-tiba terjatuh diantara mereka, entah itu keberuntungan atau prediksi dari Diaz itu sendiri.
Reno tersenyum puas melihat muridnya begitu berbakat dalam baku hantam, sebagai Master beladiri yang telah menurunkan ilmunya, tentu membuat Reno bangga
"Keren sekali"
"Wah!!"
Mendengar perkataan yang begitu tiba-tiba, membuat Reno terkejut dan secara tidak sadar berdiri dari kursinya dan segera melakukan kuda-kuda seolah siap untuk bertarung. Melihat reaksi lucu dari atasannya membuat wanita berkacamata itu sedikit tertawa kecil
"Wulan sejak kapan kamu disini?" Ucap Reno sambil menahan rasa malunya ketika melakukan hal yang terbilang cukup menghancurkan harga dirinya
"Sejak tadi, kak Reno fokus sekali sampai aku masuk keruang ini kak Reno tidak menyadarinya. Aku pikir kak Reno fokus bekerja, tapi malah..." Ucap Wulan tidak ingin melanjutkan perkataannya dan memilih membuang nafasnya, dan Reno hanya bisa tersenyum kecut
Wulandari Reniwuryaan, adalah sosok perempuan yang paling dekat dengan Reno, ia merupakan adik kelasnya saat TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah bisa dibilang mereka sangatlah akrab dan saling mengenal satu sama lain. Usianya tiga tahun lebih muda dari Reno, tapi karena Reno dahulu adalah murid yang bandel maka ia pernah tinggal kelas satu tahun, membuatnya selalu bersama. Dan sekarang mereka kembali bersama dalam pekerjaan sebagai CEO dan Sekertaris
"Tolong dikerjakan ya tuan CEO" Ucap Wulan dengan senyum nakal yang melingkar cukup manis diwajahnya, tak lupa ia juga menyerahkan tumpukan dokumen agar untuk segera diselesaikan oleh Reno
Merasa urusannya telah selesai, Wulan segera keluar dari ruangan karena pekerjaannya juga cukup banyak, melihat Wulan keluar membuat Reno cukup lega karena kali ini Wulan tidak menceramahi nya
Reno menatap dokumen-dokumen yang bertumpuk cukup membuat Reno frustasi, tapi dokumen ini tidak bisa mengerjakan dirinya sendiri, Reno memutuskan untuk bekerja dan menyelesaikan urusannya karena bagaimanapun juga ini adalah tanggung jawab yang harus ia selesaikan
__ADS_1
***
Sementara itu disisi lain, Andre dan tiga kawannya menatap Diaz dengan tatapan yang bisa dibilang tidak cukup bersahabat. Diaz yang menyadari tatapan itu memutuskan mengambil tindakan
"Tunggu sebentar" Ucap Diaz sambil tersenyum kecil ke Melody
Melody menyadari tatapan mata dari Andre dan kawannya, namun ia tidak menyadari tatapan tidak mengenakan menusuk kearah Diaz. Yang ia lihat hanyalah tatapan biasa, ia memilih menatap jalan raya dan melihat mobil lalu lalang yang menurutnya cukup menarik
"Hai Andre sudah lama tidak bertemu"
Diaz mendekati Andre dan yang lainnya dengan senyum yang mekar diwajahnya. Kebingungan dengan tingkah Diaz yang terbilang aneh dan cukup mengejutkan tentunya bagi mereka ber empat.
Ketika jarak Diaz dan Andre sudah dekat, Diaz kemudian memegang tangan Andre seolah-olah seperti sahabat yang sedang bersalaman. Tidak mempedulikan Andre yang sedang kebingungan, Diaz meremas telapak tangan Andre dengan sangat keras. Perbedaan antara mereka terlihat begitu jelas, wajar saja karena Diaz merupakan ahli beladiri dan Andre menurutnya hanya sebatas keroco saja.
Ekspresi Andre segera berubah, rasa sakit begitu terasa di telapak tangan kanannya. Melihat Andre yang kesakitan membuat ketiga temannya bermaksud untuk membantu Andre. Namun, tatapan tajam menyerang mereka bertiga, membuat langkah mereka berhenti dan entah kenapa nyali mereka menciut.
Diaz memeluk Andre, namun itu bukanlah pelukan seorang sahabat.
"Aku sedang bersama seorang perempuan kali ini Andre, jadi tolong pergi dari sini sebelum aku permalukan kau didepan mereka" Ucap Diaz penuh dengan nada intimidasi dan tidak melepaskan mata tajamnya kearah tiga orang lainnya
Dalam segi kekuatan serta pengalaman jelas Diaz berada pada posisi yang sempurna untuk melakukan ancaman. Disisi lain Andre juga tidak berniat mencari ribut setelah kekuatan cengkraman yang Diaz berikan pada tangan kanannya
Andre juga berpengalaman pada bidang baku hantam, oleh karena itu ia bisa menilai bagaimana berbahaya Diaz ini dengan hanya kekuatan cengkraman yang ia terima. Walaupun Andre cukup dipermalukan oleh Diaz kali ini, namun itu lebih baik daripada harus babak belur dan itu jauh lebih memalukan
Setelah menyelesaikan urusannya, Diaz segera kembali
"Sudah?"
Meski memakai topi serta masker, Diaz masih bisa merasakan aura menarik dari Melody, jujur ini cukup menjadi tanda tanya bagi Diaz
"Yuk pulang" Ucap Diaz dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Melody
_______________________
Min chonghoran iwing!
__ADS_1