Athanor Online : Monarch Of War

Athanor Online : Monarch Of War
Gugur


__ADS_3

Bilah hitam dan plat besi keras kembali berbenturan. Bilah hitam datang dengan kuat dan gesit, sementara tameng bulat bertahan dengan wujudnya yang kokoh. Serangkaian tebasan pedang bergerak layaknya gempuran ombak yang tak ada habisnya, namun tameng bulat menghempaskan semua layaknya karang pemecahan ombak


Namun ia tahu bertahan bukanlah sesuatu yang bijak kali ini. Ia menambah tenaga pada kepalan tangan, dan saat pada dalam momentum yang ia miliki. Dengan ledakan otot pada lengannya, ia memukul mundur serangan jenderal goblin.


"Cih.."


Sang jenderal berdecak kesal, ia telah masuk kedalam mode terbaiknya, ia telah memasukan energi kegelapan jauh lebih pekat di pedang peraknya. Namun, ia masih belum bisa menumbangkan sosok berarmor hitam itu. Setiap ia menyerang pasti lawannya membalas balik, dan itu sangatlah merepotkan baginya


Ia merasakan detak jantungnya sedikit berantakan, ia mengatur nafas yang sembari tadi terlalu dipaksakan. Sayap hitam ia kepakan, telapak kakinya melayang sedikit jauh di atas tanah. Bilah perak ia genggam dan dengan momentum yang pasti dia melesat


Kedatangan sosok hijau gelap bersayap dengan bilah perak yang dialiri aura hitam pekat, membuatnya seolah-olah harus menyambutnya secara hangat. Dengan tingkat akurasi yang tinggi ia melempar tameng bulat nya.


"Kau mengejek ku!?"


Merasa direndahkan dengan serangan yang terlampau sederhana. Satu hal yang paling ia benci adalah ketika ia direndahkan. Sudah cukup baginya untuk direndahkan, dipaksa untuk membunuh sesamanya merupakan hal yang paling ia sesali.


Sementara itu mereka, Manusia. Seolah-olah tertawa riang diatas penderitaan rasnya. Ia sangat membenci mereka, melihat mereka bahagia saja sudah cukup memberi alasan untuknya berperang. Mereka sama sekali tidak layak untuk sebuah hal yang bernama kebahagiaan


Dengan amarah yang memuncak, sang jenderal menghempaskan tameng bulat dalam jarak yang jauh. Tapi hal yang terduga terjadi, dibelakang tameng bulat. Muncul sebuah tombak panjang dengan ujung tombak yang memekik tajam.


Merasa telah termakan oleh siasatnya. Namun serangan yang terlampau sederhana belum cukup untuk menumbangkan sang jenderal. Dengan pergerakan yang sederhana, sang jenderal menghindari lemparan tombak panjang


"Kena kau"


Kepakan sayapnya mengerucut dan jatuh dengan bilah pedang perak yang diselimuti oleh aura hitam, pedangnya menukik ke bawah menyerang sosok manusia berarmor hitam. Merasa telah menang dalam duel, ia tersenyum lebar. Tapi kejutan yang sebenarnya terjadi saat ini juga


Dibalik helm bajanya ia tersenyum picik. Ia menatap keatas melihat sosok bersayap yang melesat kearahnya dengan kecepatan yang tinggi. Tapi itu tak membuatnya khawatir sedikitpun, semakin dekat jarak keduanya maka semakin besar keuntungan berpihak kepadanya.


Jarak keduanya semakin dekat, dan senyuman lebar pada balik helmnya terlihat cukup jelas. Ketika sosok bersayap itu sudah pada jarak yang pasti. Telapak tangannya bersinar perak namun terlihat sangat redup.


"Exchange..." Suara pelan terdengar pada balik helm baja. Dan secara tiba-tiba


*Jlebb


"Khuak!"


Darah segar keluar dari mulut kotornya, ia menatap kebawah tubuhnya. Entah apa yang terjadi, namun yang pasti sebuah tombak panjang menusuk dan menembus perutnya. Rasa sakit begitu terasa membuatnya merapatkan taring untuk sekedar meredam rasa sakit.


Namun ini belum berakhir, ia merasakan hawa membunuh yang sangat terasa. Dengan susah payah ia menghentak kaki depannya untuk sekedar mengambil jarak aman. Dan benar saja selang seperkian detik, sosok berarmor hitam jatuh dan menghantam tanah dengan kedua tombak pendeknya. Tanah disekitarnya retak dan hancur berlubang, membuatnya paham kualitas dari serangan itu


"Hm.."


Ia sedikit kagum dengan ketangguhan Goblin bersayap didepannya. Dengan luka yang parah ia tidak menyangka kalau lawannya masih bisa bergerak. Tapi walaupun begitu ia tahu kalau serangan seperti tak bisa menumbangkan sosok jenderal goblin ini


"Argh!"


Dengan sedikit erangan kesakitan ia mencabut paksa tombak panjang yang bersarang pada tubuhnya, sebuah lubang pada perutnya perlahan tapi pasti mulai tertutup. Walaupun begitu Hpnya masihlah berkurang yang sembuh hanyalah lukanya saja


Ia kembali mengatur nafasnya yang terdengar begitu berat. Sudah beberapa kali ia terkecoh oleh manusia berarmor hitam ini. Tapi jujur saja, yang ini adalah hal yang paling tak terduga, itu cukup membuatnya terkejut


'Dia memiliki skill yang mampu bertukar dengan target, kah?'


Tidak ada bukti namun itu adalah kenyataan, lawannya bertukar tempat dengan tombak panjang yang sebelumnya ia hindari. Dan ketika ia menyerang otomatis ia akan terkena tombak panjang dan lawannya berada pada ketinggian, dan melancarkan serangannya


Tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk berfikir, sekali lagi dua tombak pendek menghujani tubuh sang jenderal. Ia masih belum pulih sepenuhnya dan ini menghambat setiap pergerakan. Beberapa kali hunusan lawan berhasil mendarat pada tubuhnya


'Dia cepat sekali!'


Tak ingin kembali terpojok, ia mengepak sayapnya dan terbang mundur mengambil jarak. Tak ingin lawannya pergi begitu saja, pemain berarmor hitam itu melompat keatas. Namun itu sudah sang jenderal prediksikan

__ADS_1


Bilah perak kembali pekat. Ia menebas ruang kosong dan menciptakan gelombang tebasan hitam dengan kecepatan yang tinggi. Tak kehabisan akal, telapak tangannya kembali bersinar redup


"Exchange"


Sang jenderal dan manusia bertukar tempat, namun posisi sang jenderal jauh lebih membahayakan. Karena sebuah gelombang tebasan tajam mengarah padanya.


'Cih, skill yang merepotkan!'


Energi kegelapan kembali mengisi bilah peraknya, dan seraya gelombang tebasan hitam mengarah padanya. Ia menebas ruang kosong dan membuat gelombang tebasan bertabrakan satu sama lain. Asap hitam mengepul begitu pekat dan menutupi penglihatan masing-masing mereka.


Sosok berarmor hitam muncul dari pekatnya asap hitam. Dengan dua tombak pendek yang berada masing-masing tangannya, ia melesat ke udara dan membentur kedua tombaknya kearah bilah perak sang jenderal. Mereka beradu kekuatan hingga pada akhirnya sang jenderal harus jatuh dan menghantam tanah dengan keras


"Argh!" Erangnya


Sang jenderal jatuh telentang, rasa sakit pada punggung sudah pada tahap yang mengerikan. Namun matanya masih terbuka lebar. Di ketinggian ia melihat sosok berarmor hitam jelas, ia memusatkan energinya pada titik tombaknya. Dengan bantuan gravitasi ia jatuh kebawah layaknya komet yang menghantam daratan


'Gawat'


Merasa dalam bahaya dia dengan sekuat tenaga menghindar. Namun semuanya telah terlambat


*Boom!


Dentuman keras terdengar di sekitar mereka, begitu juga dengan tanah yang bergetar hebat. Sancaka yang berada pada tumpukan mayat gobiln juga sedikit tersentak. Ia hampir saja jatuh, namun dengan keseimbangan yang ia miliki maka mudah baginya untuk mengatasi


Tapi itu bukanlah fokus utama Sancaka, ia melihat dengan jelas dampak dari serangan yang ditimbulkannya. Walaupun tertutup dengan asap tapi ia yakin dampak yang diberikan sudah pada destruktif yang tinggi. Bagi seseorang yang memiliki banyak skill AOE, ia merasa sedikit tersaingi. Tapi dibalik itu semuanya, ia tersenyum kecil


"Dia harimau yang menyembunyikan kukunya, yah?"


Baik dalam segi kemampuan dan keterampilan, ia sudah pada tingkat mahir atau profesional. Dengan kemampuan yang begitu hebat mengapa namanya masih belum terdengar?, Itu cukup membuat bingung Sancaka


Walaupun tak bisa dibandingkan dengan dirinya. Tapi itu dikarenakan level pemain berarmor hitam itu setengah dengan level Sancaka. Tapi untuk seseorang yang dengan level yang terbilang rendah dan melawan musuh yang dua kali lipat dari levelnya, ini sudah hal yang luar biasa.


Tak ada alasan baginya untuk tidak mengundang pemain berarmor hitam itu untuk masuk kedalam Guild Red Garuda. Sudah lama sejak ia melihat sosok pemain yang begitu berbakat, membuatnya begitu tertarik untuk segera merekrut pemain berarmor hitam itu sebelum guild papan atas lainnya mendahului. Pemain berarmor hitam itu juga memiliki kemungkinan yang tinggi untuk memperkuat barisan depan garda pemain


"Meleset, yah?"


Walaupun begitu, salah satu mata tombak menusuk dalam lengan sang jenderal. Pemain berarmor hitam itu cukup terkejut ketika lawannya berhasil menghindari serangan yang sangat mematikan. Walaupun lawannya harus mengorbankan lengan kirinya


Sang jenderal memegang pangkal lengan kirinya yang sembari tadi mengeluarkan banyak sekali darah. Walaupun kehilangan lengan kirinya tapi bisa dibilang ia masihlah beruntung, karena kalau tidak ia pasti akan meregang nyawa saat itu juga


"Sial, sakit sekali"


Ia mengatur nafasnya pelan, rasa sakit terasa begitu dalam membuat dirinya sangat lemah. Lukanya semakin lama semakin memulih. Tapi ini masihlah permulaan


Lesatan bayangan hitam muncul didepannya. Terlalu cepat serta dirinya yang masih lengah, membuatnya tak bisa merespon dengan begitu bijak. Serangan hunusan tombak pendek menghujani kembali tubuh sang jenderal, tapi dengan usaha yang keras ia mengikuti serangkaian hunusan tombak pendek lawannya


Bohong kalau dirinya tidak kesulitan dengan keadaannya sekarang. Lengannya yang hilang serta rasa sakit yang ditimbulkan membuatnya tak bisa fokus bertarung. Alhasil banyak hunusan tombak yang mengukir halus tubuh keras sang jenderal


"Khuak"


Darah panas keluar dari mulutnya begitu pula pada berbagai bagian tubuh. Melihat lawannya yang semakin tak berdaya membuat pemain berarmor hitam itu tersenyum picik


Ia menyatukan kedua mata tombak pendeknya menjadi satu bagian yang mengerucut tajam. Ia bergerak cepat kedepan dan menghunus tubuh sang jenderal goblin hingga menembus tubuh kerasnya.


Darah panas mengucur deras keluar begitu pula dengan teriakan kerasnya.


"Death Poke"


Saat skillnya diaktifkan, dalam kurun waktu yang bersamaan. Sepuluh? tidak, sekitar dua puluh hunusan tombak bergerak cepat kearah tubuh sang jenderal. Mata serta bilah peraknya tak mampu mengikuti serangkaian hunusan tombak yang terlihat sangat cepat

__ADS_1


Dua puluh hunusan tombak masuk tanpa perlawanan pada tubuh sang jenderal, membuat tubuhnya terlihat banyak sekali lubang. Melihat kondisi lawannya yang sudah pada batas, ia memutar tombak pendeknya dan membidik kepala sang jenderal. Namun


"Jangan remehkan aku!"


Layaknya raja hutan, ia berteriak sebagai simbol kehormatannya. Cukup teralihkan oleh teriakan sang jenderal tapi itu tak bisa menghentikan tombak pendeknya. Tapi perasaan aneh menghantui pikirannya. Dan benar saja, seraya tombak pendek menyerang tengkorak sang jenderal, bilah perak datang dari arah bawah


Melihat itu ia memposisikan diri untuk bertahan. Saat jarak kedua senjata mereka pada titik nol, peraduan kekuatan kembali terjadi. Namun kali ini berbeda, kekuatan sang jenderal goblin terasa jauh lebih berat dari biasanya


"Ugh"


Erangan kecil terdengar didalam helm bajanya, ia tak kuat menahan beban pada kedua tombak dan membuatnya terlempar keatas.


Melihat lawannya berada diudara membuat senyum licik keluar pada mulut penuh darah sang jenderal. Ia mengisi kembali bilah peraknya, aura hitam jauh lebih pekat dari biasanya keluar menyelimuti bilah perak yang indah. Dengan kekuatan yang mungkin terakhir kalinya, ia menebas udara kosong.


"Great Rapid Slash!"


Sebuah gelombang tebasan hitam jauh lebih besar melesat kearah sosok berarmor hitam yang masih berada diudara. Walaupun dirinya tak bisa bergerak leluasa diudara namun ini adalah adalah posisi yang sempurna baginya.


"Hell Rage Series"


Dia memusatkan kekuatan pada kedua titik tombaknya. Seraya tebasan hitam bergerak cepat kearahnya. Ia menjatuhkan diri dengan kedua tombaknya yang ia pegang erat, ia menukik dan menyambut gelombang tebasan hitam dengan serangan penentu


"Series One : Death From Above!"


Serangan mereka berbenturan dengan sangat dahsyat. Membuat semua pemain baik itu dari kubu Goblin ataupun Manusia menatap kearah sumber suara. Tanah yang bergetar hebat dan debu serta angin yang berhembus kencang, berhasil menutupi pemenang dari duel antara mereka berdua


Tidak ada benturan logam yang terdengar, mata mereka semua fokus melihat kearah sumber suara. Antara pemain berarmor hitam atau Sang Jenderal Goblin. Debu mulai menipis karena angin yang berhembus, salah satu sosok terlihat berdiri diatas tanah.


Sancaka yang melihat itu tersenyum kecil. Sosok pemain berarmor hitam berdiri tertunduk diatas mayat jenderal goblin bisa ia lihat dengan jelas. Kedua tombak pendeknya menembus tengkorak sang jenderal goblin dan membuatnya menjadi pemenang


"Sungguh pertunjukan yang luar biasa" Ucapnya sambil tersenyum kecil


Kedua tangannya juga mulai bertepuk pelan sebagai tanda apresiasi terhadap pemain berarmor hitam yang memberikannya pertunjukan yang sangat menakjubkan. Para pemain yang melihatnya juga bertepuk tangan sebagai tanda apresiasi


Berbeda dengan para goblin yang terlihat sangat putus asa ketika pemimpin mereka berhasil ditumbangkan. Satu persatu dari mereka menarik mundur, para pemain juga tak lagi memiliki niat untuk mengalahkan gobiln. Karena bagaimanapun juga perang telah berakhir saat pemimpin mereka telah tumbang


Sancaka melompat dan mendarat disamping pemain berarmor hitam. Ia bisa melihat tanah yang hancur dan berlubang karena dampak dari serangan tombak miliknya. Membuat Sancaka yakin kalau pemain didepan sangatlah berpotensi


"Selamat atas kemenangan mu"


Sancaka membuka percakapan, ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pemain yang sangat berpotensi disini. Untung saja dirinya ikut dalam perang ini, kalau tidak ia pasti tidak akan menemukan bakat seperti ini. Sancaka yakin para pemimpin guild papan atas sangat menyesal karena tidak mengikuti perang ini


"Um" Jawabnya sambil mengangguk pelan


"Namaku Sancaka, pemimpin dari Guild Red Garuda. Kalau kau berkenan kau bisa bergabung dengan kami"


"Terima kasih, tapi untuk saat ini aku tidak ingin terlalu terkekang dengan peraturan guild. Mungkin dimasa depan aku akan bergabung dengan guild mu"


Apakah ia ditolak?, Sancaka cukup terkejut dengan jawaban dari pemain berarmor hitam itu. Tapi ia tidak ingin memaksa seseorang untuk bergabung dengan guildnya jadi lebih baik ia melepasnya


"Begitu yah?, Mungkin kalau kau berubah pikiran kau bisa menghubungi ku" Ucap Sancaka hangat dan dibalas dengan anggukan kecil oleh pemain berarmor hitam


Pemain itu melangkah pergi dari medan perang yang penuh darah tersebut. Melihatnya pergi membuat Sancaka ingat sesuatu yang sangat penting


"Hei!, Siapa namamu?" Ucapnya sedikit tinggi karena pemain itu telah melangkah cukup jauh. Mendengar dirinya dipanggil, ia menoleh kebelakang.


"Fang"


_______________________

__ADS_1


Trivia : Walau Fang terlihat ahli dalam menggunakan dua tombak pendek. Namun dua tombak pendek bukanlah senjata superiornya


Min chonghoran iwing. (Kita lebih kuat bersama.)


__ADS_2