
Sang pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua, kini hanya tinggal mereka saja, Asha turut duduk bersimpuh seperti Leo, keduanya saling menatap dan memandang, hingga akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibir Leo, "Kamu yakin sudah memaafkan ku?" tanya Leo dengan tatapan matanya yang mesra. Asha menganggukkan kepalanya dan Ia terlihat menundukkan wajahnya. Asha begitu malu ketika bola mata Leo menatapnya dengan tajam.
Asha melihat tubuh Ayah anaknya itu memar karena beberapa cambukan yang melayang pada tubuhnya, Asha mencoba menyentuh luka memar itu, tak terbayangkan pasti sangat sakit rasanya.
Leo terlihat meringis saat tangan Asha mengusap luka itu, dan itu membuat Asha kembali menarik tangannya dan berusaha untuk tidak menyentuhnya.
"Sakit?" tanya Asha yang tidak tega melihat kondisi Leo. Entah kenapa Asha terlihat tiba-tiba iba melihat Leo seperti itu, pria yang terlihat garang pada semua orang, saat ini seperti kucing kecil yang minta dielus-elus oleh induknya.
__ADS_1
"Kamu tanya bagaimana rasanya? Sakit kah Aku? Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa rinduku selama ini, mencarimu di setiap sudut kota, Aku seperti orang gila yang selalu menunggu kedatangan mu, menunggu gadis yang sudah memberikan nafas kehidupan baru untukku," ungkap pria yang kini berusia setengah abad itu. Namun, pesonanya tak pernah lekang oleh waktu, bahkan diusianya yang semakin matang, Leo semakin terlihat berwibawa.
"Kenapa Pak Leo harus melakukan hal itu?" Asha semakin penasaran, bagaimana orang yang paling berpengaruh di dunia bisnis itu jatuh cinta kepadanya hanya karena pertemuan yang tak sengaja itu, pertemuan yang melahirkan seorang anak yang sangat tampan.
"Aku sendiri juga tidak tahu, setelah kematian istriku. Aku seperti tidak punya arah tujuan, Aku sangat mencintainya, hingga Aku marah dengan takdir. Kenapa takdir memisahkan kami dengan cara yang tragis, istriku meninggal dalam kecelakaan, dan mulai saat itu aku merasa sendirian, hari-hari ku tidak lepas dari kekerasan. Aku tidak mau lagi mengenal yang namanya cinta, karena ditinggal oleh orang tercinta itu sangat menyakitkan. Hingga suatu malam kamu datang padaku. Kamu sudah memberiku semangat untuk hidup," ungkap Leo sembari mengusap lembut wajah Asha.
"Malam itu, Saya tidak tahu kalau saya akan mabuk, seingat saya malam itu teman-teman membuat sebuah permainan, siapa yang kalah maka Ia akan mendapatkan hukuman yaitu meminum segelas bir. Dan sialnya Saya kalah tiga kali. Sejak meminum bir yang ketiga, Saya sudah tidak ingat apa-apa. Dan tahu-tahu saya bersama Anda dalam keadaan ... keadaan ...!" Asha tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia tak sanggup untuk meneruskannya.
__ADS_1
Asha mendongak dan melihat tangan Leo yang begitu kuat, kemudian perlahan Asha meraih tangan itu dan Ia pun ikut beranjak berdiri. Leo menyunggingkan senyumnya, tanpa basa-basi Ayah dari Carlos dan Aksa itu dengan gagahnya menggendong tubuh Asha dan membawanya ke sebuah tempat, dimana mereka berdua akan melepaskan rindu.
Perlahan Leo berjalan menaiki anak tangga sembari terus menatap wajah Asha dengan mesra, sementara Asha pun melingkarkan tangannya pada leher sang Bos. Tatapan mata itu tak pernah lepas hingga akhirnya Leo tiba di suatu tempat yang begitu romantis.
Leo merebahkan tubuh Asha di atas ranjang tidur yang mewah, jantung Asha semakin berdegup kencang, saat Leo mulai mencumbunya. Pria itu begitu pintar membawa Asha ke dalam keindahan surgawi. Kerinduan yang teramat berat, selama lima tahun Leo harus menunggu.
Untuk sejenak Asha menahan tangan Leo yang mulai menarik pakaian dalamnya, Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jika diteruskan tidak menutup kemungkinan kejadian lima tahun yang lalu akan terulang lagi.
__ADS_1
"Jangan Pak!" Asha meminta Leo untuk tidak melepaskan benda yang melindungi area terlarang itu. Leo menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Ibunda Aksa itu dengan sendu.
...BERSAMBUNG...