
Acara makan malam itupun berjalan dengan lancar, bahkan suasana romantis pun semakin terasa di saat Leo meminta Asha untuk menjadi pendamping hidupnya, tanpa ragu-ragu Asha pun tersipu malu untuk menerimanya, sementara Aksa dan Carlos terus memberikan dukungan support untuk keduanya untuk menyatukan cinta mereka. Tampak Carlos dan Aksa bermain sendiri dan membiarkan Asha dan Leo berduaan, karena mereka tahu jika keduanya pasti sama-sama saling merindukan.
"Akhirnya, mimpiku untuk membawamu ke rumah akan terlaksana, Aku akan pulang ke Surabaya dengan membawa seorang istri dan juga anakku, Aku sudah tidak sabar lagi menunggu saat kamu resmi menjadi istriku, secepat mungkin Aku akan mengurus pernikahan kita. Kalau bisa hari ini juga Aku akan menikahimu." seru Leo sembari terus menggenggam tangan Asha. Seolah dirinya tidak ingin jauh dari sisi sang wanita yang sudah membuatnya mabuk kepayang.
"Tidak semudah itu, Pak!"
__ADS_1
"Jangan panggil Aku bapak, panggil Aku dengan Sayang! Aku ingin mendengarnya dari bibirmu yang mungil ini, katakan!" ucap Leo dengan suaranya yang serak dan tangan yang menyentuh bibir Asha dengan lembut, tapi cukup membuat Asha terpejam merasakan begitu dekatnya Leo mengatakan hal itu, sehingga nafasnya begitu terasa hangat menyapu lembut bibirnya yang basah.
"Sayang!" terdengar kata Sayang untuk kali pertamanya dari bibir Asha, seketika membuat Leo spontan mengecup bibir mungil itu begitu dalam. Sementara itu Aksa yang tak sengaja melihat adegan sang Bunda dan Daddy-nya tengah berciuman, dengan cepat Carlos mengalihkan perhatian Aksa dengan menutup mata sang bocah dan membawanya melihat ke suatu tempat diluar restoran itu. Restoran dengan kelas VIP, tentu saja ruangan didesain seindah mungkin, sehingga tidak mudah bagi orang lain melihat isi di dalam restoran itu, sehingga saat Asha dan berciuman, tentu saja tak ada yang menyaksikannya kecuali Aksa, Carlos dan Anto yang masih berada di dalam ruangan.
"Hehehe Aksa! Kita main di luar yuk! Kayaknya pemandangan di luar sangat bagus!" bujuk Carlos sembari membawa sang Adik keluar dari ruang makan. Tentu saja sang Asisten pun dibuat mendelik dengan apa yang dilakukan oleh Leo, Ia tahu betul jika Bosnya itu sudah sangat lama menahan keinginannya untuk bersama Sang pujaan hati, mungkin sudah saatnya Leo membuka penjara hasrat itu.
__ADS_1
Leo menyunggingkan senyumnya dan berkata, "Mereka tahu jika kita membutuhkan waktu berdua saja," Leo kembali menyatukan bibir itu, kembali ciuman itu memanas kembali lalu turun hingga ke ceruk leher Asha, pria itu menghirup aroma tubuh sang wanita dalam-dalam, hingga akhirnya sebuah kata terucap dari bibir Asha.
"Jangan teruskan! Aku bisa gila jika kamu terus seperti ini, please! Kita nikah dulu. Datanglah kepada Ibu, mintalah izin kepadanya, Aku ingin melayani mu dengan tenang dan tanpa rasa takut, karena sebenarnya hati dan raga ini hanya kepersembahkan untukmu, cuma kamu yang berhak memilikinya." Leo berhenti saat mendengar ucapan dari Asha, dan Ia pun terlihat melepaskan sang Ibu dari putranya.
Leo tampak merapikan kemeja dan jasnya yang sempat acak-acakan karena gesekan tubuh mereka membuat keduanya berantakan. Dengan menghela nafas dalam-dalam sembari menenangkan si Dede yang menegang, Ia pun berkata kepada Asha, "Tentu saja Aku akan datang ke rumah Ibumu, Aku akan meyakinkan kepadanya tentang kebenaran kematian Ayahmu, Aku akan meminta maaf kepadanya, dan setelah itu Aku akan membawamu." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...