
"Bagaimana Bu? Apakah saya diizinkan untuk bisa menikah dengan putri Ibu yang satunya?" seru Carlos yang langsung berbicara meminta Bu Laila untuk juga merestui dirinya dengan Ara.
"Ibu sih terserah anak Ibu saja, bagaimana Ara? Apa kamu bersedia?" Bu Laila menatap wajah sang anak yang terlihat gugup dan salah tingkah.
"Emm ... Ara ... Ara ...!" jawab sang gadis yang masih kaget, bagaimana bisa begitu cepat dirinya dipinang oleh sang Dosen, padahal Ia menyatakan cinta kepada Carlos saja belum terlaksana, justru Carlos meminangnya untuk menjadi istrinya.
"Ibu tidak akan memaksa anak-anak Ibu untuk menikah dengan bukan pilihannya, jika kamu tidak setuju, Ibu pun tidak akan memaksamu untuk menerima lamaran Nak Carlos, itu hak mu. Dan jika kamu tidak setuju, ya sudah! Ibu akan menolak lamaran Nak Carlos untuk ...." Bu Laila tidak melanjutkan kata-katanya karena Ara langsung memotong pembicaraannya.
"Jangan, Bu! Ara setuju ...!" Ara berkata dengan malu-malu sembari menatap Carlos yang tampak tersenyum kepadanya.
Semua nya pun ikut terkejut dengan jawaban Ara yang tiba-tiba setuju untuk menikah dengan sang Dosen.
"Jadi, kamu setuju untuk menikah denganku, Ara?" Carlos berkata sembari menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Ara pun semakin dibuat gugup saat sang Dosen menatapnya demikian.
"Jangan pandang Saya seperti itu dong, Pak! Saya nggak bisa ngomong nih!" Ara tampak begitu gugup, dan Ia mencoba untuk mengurangi rasa gugupnya dengan mengibas-ibaskan tangannya. Hingga akhirnya tangan gadis itu diraih oleh Carlos dan menggenggamnya erat.
Tentu saja Ara begitu terkejut dan tangannya teraba sangat dingin, Carlos pun perlahan mencium tangan Ara dengan lembut membuat gadis itu memejamkan matanya merasakan tangannya mengenai bibir Carlos.
"Aduh aduh! Kakiku lemas nggak bisa lari lagi, mimpi apa aku semalam, hari ini dilamar oleh Dosen ku sendiri." batin Ara yang masih tidak percaya.
"Bukalah matamu dan lihatlah Aku?" titah Carlos kepada Ara. Perlahan Ara membuat kelopak matanya, Ia melihat Carlos yang sedang tersenyum kepadanya. Carlos mendekati wajah Ara dan mencium keningnya. Ara merasakan betapa hangatnya sentuhan lembut bibir sang Dosen yang mengenai keningnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Carlos membawa Ara ke dalam pelukannya, gadis itu masih kaku dan tidak percaya jika pria yang diam-diam Ia sukai ternyata melamarnya begitu cepat.
"Yeeeee ... horeeeeee, Tante Ara dan Om Carlos ikutan nikah." teriak Aksa sembari bertepuk tangan.
*
*
*
*
Mereka berdua menanti calon istri masing-masing untuk keluar dari kamar mereka dan duduk bersama di depan penghulu.
"Waduh kenapa mereka lama banget ya, Dadd?" bisik Carlos kepada sang Daddy yang juga menantikan kedatangan calon istrinya.
"Namanya juga wanita, dandannya butuh waktu sehari penuh, mereka yang sibuk mempercantik dan menghias diri. Ujung-ujungnya nanti kita juga yang bongkar mereka." sahut Leo yang tentu saja Dirinya sudah berpengalaman lebih dari sang Anak.
"Bongkar? Apanya yang dibongkar Dadd?" Carlos terlihat penasaran dengan ucapan Leo.
"Nanti kamu tahu sendiri." balas sembari tersenyum smirk.
__ADS_1
Hingga akhirnya pintu kamar terbuka, perlahan bayangan dua sosok wanita dengan gaun pengantin nan indah keluar dari kamar mereka, tak berkedip sama sekali mata kedua pria itu, ketika Asha dan Ara muncul secara bersamaan.
"Waduh Dadd! Kayaknya Aku udah nggak sabar ingin segera bongkar saja, cantik!" seru Carlos yang terpesona melihat pengantin wanitanya.
"Jangan bicara seperti itu, kamu pikir Aku juga tidak ingin bongkar langsung, terlalu sering Asha menolakku, tapi tidak untuk malam ini." balas Leo dengan tersenyum smirk.
Sementara itu Asha pun merasakan tatapan calon suaminya begitu liar, Ia pasti sudah pastikan, malam ini dirinya tidak akan bisa lepas dari cengkeraman sang singa. Pun sama halnya dengan Ara yang melihat tatapan mata Carlos terlihat begitu dalam.
"Kakak? Ara takut, lihat deh tatapan mata calon suami kita." bisik Ara kepada sang Kakak sembari berjalan menghampiri pengantin pria.
"Kamu pikir Kakak juga tidak takut, sangat menakutkan sekali." balas Asha sembari mencoba mengatur nafasnya yang mulai tak teratur.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
...Bagi yang bertanya, nanti bagaimana panggilan mereka, Asha panggil adiknya bagaimana? Ara panggil Kakaknya bagaimana? Aksa panggil Carlos bagaimana? Kok ribet sih? Sebenarnya bukan ribet ya! Yang bikin ribet kita sendiri. Soal panggilan nggak usah terlalu dipermasalahkan, yang dipermasalahkan itu jika pernikahan mereka haram. Itu garis keras. Nggak bisa diganggu gugat. Soal panggilan senyaman yang bersangkutan. Ara tetap memanggil Asha Kakak, Carlos tentu saja memanggil Asha Mommy, sedangkan Aksa panggil Ara tetap Tante, Aksa manggil Carlos tetap Om. Asha memanggil Ara tetap Adik, dan menganggap Carlos tetap anak tirinya. Ara tetap memanggil Ayah Mertua kepada Leo. Intinya nggak usah dipersulit sendiri ya! Karena dalam keluarga Author ada yang kayak gini, dan mereka tak mempermasalahkan tentang panggilan, toh mereka juga sudah tahu silsilah keluarga seperti apa yang terpenting pernikahannya HALAL 🥰🥰...
__ADS_1