
"Entahlah! Mungkin apa yang kamu katakan itu benar," balas Asha sembari menundukkan wajahnya. Apa dia tega mengatakan yang sebenarnya kepada Carlos. Jika Ayah kandung Aksa sudah datang. Mengingat Carlos sangat menyayangi putranya.
"Kakak masih memikirkan Pak Leo, bukan?" pertanyaan Ara seketika membuat Asha langsung mengangkat wajahnya, mendengar namanya saja hatinya sudah berdegup kencang. Kemudian Ara menatap mata sang Kakak dan tersenyum sembari mengatakan sesuatu, "Ara bisa membaca lewat bola mata Kakak, dan Kakak tidak bisa bohong, Kakak masih bimbang untuk melanjutkan pernikahan dengan Pak Carlos. Ara benar, kan?"
"Kamu benar, Ara! Kali ini Kakak benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan ini terlalu jauh, Pak Leo berjanji kepada Kakak, dia akan datang ke sini untuk meminta maaf kepada Ibu tentang kesalah pahaman yang sampai sekarang masih membuat Ibu membencinya, menang benar, Pak Leo tidak berniat membunuh Ayah, dan kamu memang benar. Semua itu terjadi karena kesalahpahaman dan fitnah." ungkap Asha.
"Apa? Jadi apa yang Ara duga itu benar? Darimana Kakak tahu, jika Pak Leo benar-benar tidak bersalah?" tanya Ara semakin penasaran.
"Aku menemuinya semalam?" jawaban Asha seketika membuat Ara membulatkan matanya.
"Kakak menemui Pak Leo lagi? Hooo ya ampun, semalam Kakak bertemu dengannya?"
"Iya ... dan dia sudah menjelaskan semuanya."
__ADS_1
Untuk sejenak Ara berusaha untuk mengatur nafasnya, Ia bisa bayangkan jika Kakaknya bertemu dengan pria yang memiliki kekuasaan besar itu, yang pastinya sang kakak tidak akan mudah untuk melepaskan jeratan cinta dari pria yang sudah jatuh cinta kepada sang Kakak.
"Huffftt Syukurlah kalau Pak Leo benar sesuai dugaanku, dan sekarang Aku tahu kenapa Kakak menjadi bimbang dengan keputusan menikahi Pak Carlos," ucap sang Adik yang membuat Asha menatap wajah Ara dan berkata, "Dia laki-laki yang bertanggung jawab, dia rela tersakiti demi mendapatkan maaf dari Kakak, dia menghukum dirinya sendiri seperti saat Ayah terkena cambukan dari anak buahnya, Pak Leo mencambuk tubuhnya sendiri." mendengar pengakuan dari sang Kakak. Ara pun tidak menyangka jika Pak Leo sebesar itu pengorbanan nya untuk mendapatkan maaf dari wanita yang dicintainya.
"Pak Leo melakukan itu pada Kakak? Kalau Aku jadi kakak, Aku nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan ini, uhhh kapan lagi dapat pria mapan, keren, dewasa, penyayang, cool banget kan tuh Pak Leo, meskipun dia udah nggak muda lagi, tapi Ara rasa Pak Leo tenaganya ngga bisa diragukan lagi. Hmm Ara benar kan, Kak?"
Seketika Asha terkesiap saat Ara mengatakan hal itu, karena memang benar adanya, tenaga Leo tidak bisa diragukan lagi, usia bukanlah penghalang untuk tetap berstamina layaknya usia muda. Dan Leo pun sudah membuktikan keampuhan nya kepada Asha meskipun belum sampai terjadi.
"Emm ... ya begitulah!" balas Asha singkat.
"Ara! Apa sih? Nggak usah berfikiran aneh-aneh deh! Aku dan Pak Leo nggak ngapa-ngapain kok," sangkal Asha sembari malu-malu kucing.
"Nggak ngapa-ngapain? Ara nggak percaya? Hello Kakakku sayang, Pak Leo selama lima tahun nggak ketemu Kakak, pasti dong nahan rindu itu berat banget, Kak! Apalagi setelah Kakak tahu kebenaran nya jika Pak Leo tidak bersalah. Nggak bisa bayangin makin menggebu-nggebu aja tuh cinta Pak Leo, jujur deh Kakakku, Sayang! Pasti kalian melepaskan rindu, kan? Iya kan? Udah jujur aja sama Ara, rahasia aman kok, Ibu nggak bakalan tahu." Ara berkata sembari berbisik di telinga sang Kakak.
__ADS_1
Asha tersenyum dan tidak bisa berbohong dengan adiknya yang sudah membuatnya tidak bisa menutup-nutupinya lagi, bagaimana Ia malam itu saat bersama Leo.
"Malam itu kami memang saling melepaskan rindu, Kakak bisa merasakan lagi sentuhan lembut Pak Leo. Tapi, kami tidak sampai sejauh itu melakukannya, kami cuma saling berciuman dan saling memeluk dan ... ah sudahlah Ara, kamu ini paling bisa menggoda Kakak, yang jelas kami tidak sampai melakukan hal yang terlalu jauh."
"Yaaahhh ... cuma gitu doang! Nggak seru, Kak! Kasihan banget Pak Leo, pasti kepalanya pusing dan menggantung lemes tuh!" celetuk sang Adik yang membuat Asha tertawa kecil dan mengiyakan ucapan sang Adik.
Keduanya pun saling tertawa, hingga akhirnya sang Ibu memanggil Asha untuk segera keluar, karena Carlos sudah menunggunya sedari tadi.
"Asha! Kamu masih disini ketawa-ketiwi. Nak Carlos sudah menunggu dari tadi, cepat temui dia!" titah sang Ibu yang seketika membuat keduanya berhenti tertawa.
"Iya Bu!"
Asha pun akhirnya keluar dari kamar dan menemui Carlos dan Aksa yang sudah menunggunya, sementara itu Ara pun tersenyum melihat kepergian sang Kakak, meskipun Ia bersedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, Ia tetap mendoakan kepada Carlos semoga Ia bisa menerima kenyataan jika Sang Kakak dan Ayah dari Keponakannya telah bertemu.
__ADS_1
"Semoga Pak Carlos bisa menerimanya."
...BERSAMBUNG...