
Setelah itu Leo mempersilahkan Asha untuk duduk bersama, makan malam khusus yang Leo persiapkan khusus untuk gadis itu. Dengan pelayanan yang mewah dan sangat istimewa.
Di sela-sela mereka makan malam, Leo mulai membuka suara. Pria itu mulai bercerita tentang awal mula Carlos dibawa ke rumahnya oleh seorang wanita yang tak lain adalah istri dari sahabatnya yang sudah meninggal dunia.
"Aku dan Almarhum istriku tidak dikaruniai anak, istriku divonis kanker Ovarium dan Ia tidak bisa mengandung dan melahirkan. Tapi aku tetap setia meskipun Ia menyuruhku untuk menikah lagi, karena Aku tahu cinta kasih istriku sangatlah besar kepadaku, mana mungkin Aku mengecewakan dirinya meskipun Ia yang memintaku sendiri. Hingga akhirnya, salah satu temanku meninggal karena kecelakaan dan Ia meninggalkan seorang istri dengan satu orang bayi laki-laki yang masih berusia 2 bulan." sejenak Leo menghela nafasnya mengingat kejadian yang telah puluhan tahun berlalu, Asha menatap wajah kesedihan pada seorang Leo, pria itu terlihat sangat mencintai istrinya. Kemudian Ia melanjutkan kembali kata-katanya.
"Iya, bayi itu tak lain adalah Carlos. Ibunya datang ke rumah kami untuk menyerahkan putra mereka satu-satunya. Aku lihat istriku sangat bahagia dengan kedatangan Carlos. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengasuh Carlos menjadi putra kami. Kami berdua sudah menganggap Carlos sebagai putra kandung kami sendiri, Aku sangat menyayanginya seperti putraku sendiri. Semua Aku berikan kepada Carlos, kemewahan dan segala kebutuhannya dia dapatkan dariku. Tapi ... tidak untuk satu ini." Leo berkata sembari menatap wajah Asha yang tampak gugup saat Leo berkata seperti itu.
"Mak-maksud Daddy apa?" Asha terlihat salah tingkah.
"Kamu! Itu alasan kenapa Aku tidak bisa mengalah dari anakku, kamu sudah membuat hati seorang Leo kembali membara, setelah bertahun-tahun Aku mati dengan pesona wanita. Setelah malam itu entah kenapa Aku tidak bisa melupakanmu begitu saja, Aku merasa harus bisa mendapatkan mu, menikahlah denganku dan Aku akan membahagiakanmu." ucapnya sembari memegang tangan Asha dan berharap wanita itu mau menerima dirinya.
Ada getaran-getaran halus yang mulai merambat dalam hati Asha, dan perasaan ini tidak sama saat dirinya sedang bersama Carlos, ketika Leo menyentuhnya dengan lembut, getaran itu sangat begitu terasa dan membuat nafasnya menjadi sesak.
__ADS_1
"Maaf Daddy! Sebaiknya Daddy tidak terlalu berharap dari Saya, kita tidak tahu kedepannya seperti apa, Saya memang akan bercerai dengan Carlos, tapi apakah harus Daddy memiliki Saya? Karena Saya tidak pernah mencintai Daddy, tidak pernah."
Mendengar ucapan dari Asha, Leo semakin merremas tangan Asha dan semakin memeluk tangan Asha pada dadanya.
"Daddy! Apa yang Daddy lakukan? Lepaskan tangan Saya?" pinta Asha ketika Leo terlihat mencium tangan Asha dan sesekali mengusapkan nya pada pipinya.
"Jangan pernah berharap untuk pergi dariku, karena Aku sudah menanamkan benih-benih cintaku dalam rahimmu, dan Aku berharap sebentar lagi Aku akan mendapatkan kabar baik jika kamu sedang mengandung anakku, dengan begitu kamu tidak bisa lari lagi, Asha! Kemanapun kamu pergi Aku pasti selalu membayangi mu, ingat itu!" seru Leo kepada Asha dengan tatapan matanya yang tajam.
"Karena Aku merasa kita sudah digariskan untuk bersama, hanya saja kita belum menyadarinya."
Untuk kali ini Asha sefrekwensi dengan Leo, Ia pun merasa begitu dekat dengan Leo, apakah karena mimpi itu. Mimpi yang terasa begitu nyata seolah dirinya dan Leo memang sepasang suami istri, hanya saja mereka terpisah dimensi.
"Aku pun merasakan seperti itu, Daddy! Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa Daddy Leo bukanlah orang lain, bahkan Aku merasa Daddy Leo lebih dekat daripada Carlos, oh ya ampun, apalagi ini bagaimana perasaanku menjadi seperti ini? Apa aku mulai menaruh perasaan kepada Daddy Leo?" batin Asha yang berharap perasaannya salah, bagaimana bisa dirinya merasakan perasaan yang mulai bersemi di sanubarinya.
__ADS_1
Kemudian Leo berdiri dan mengajak Asha untuk berdansa. Dan lagi-lagi Asha tidak bisa menolaknya, untuk sesaat Ia benar-benar melupakan jika Carlos pernah singgah di hatinya, kini hatinya mulai terusik oleh pria matang yang tak sengaja merajai bunga mimpinya dan itu seperti sebuah sugesti, Asha seolah ikut terhanyut seperti saat Leo masih berada dalam mimpinya.
Leo mengajaknya untuk berdansa, kedua tangan kokoh itu meraih pinggang Asha yang masih ramping, mendekatkan dirinya pada gadis yang memberinya nafas kehidupan. Sementara Asha tampak meletakkan kedua tangannya pada dada Leo. Dan tatapan mata itu kembali menyatu. Bibir mereka terkunci, tapi tatapan bola mata itu berbicara, jika keduanya saling memuji masing-masing hingga akhirnya keluar dari bibir Leo, sesuatu yang membuat Asha semakin terhanyut dalam pesona duda itu.
"Hanya ada dua wanita yang mampu membuat hidupku jungkir balik, yang pertama almarhum istriku dan yang kedua adalah Kamu!"
Asha menundukkan wajahnya dan Ia terlihat malu.
"Jangan katakan itu, Daddy! Saya masih berstatus istrinya Carlos, saya tidak berhak mendengar kata-kata itu." balas Asha.
"Kamu istri Carlos hanya ada di atas kertas, tapi sebenarnya kamu adalah istriku, Aku sangat yakin jika Carlos tidak pernah menyentuhmu sama sekali, dan sebentar lagi Aku akan merealisasikannya, kamu akan menjadi milikku seutuhnya, hanya milikku."
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1