
Sejenak Bella menghapus air matanya.
(Kenapa sih, gue gak bisa lupain hal itu. Rasanya sakit banget Abian. Kamu bahkan lebih jahat dari teman-teman yang bully aku di sekolah.) Batin Bella.
Bella juga masih mengingat sesudah dia menerima ajakan Abian untuk berpacaran, Abian langsung mengecup tangan Bella dengan lembut. Perlakuan yang sangat asing dan baru pertama kali Bella rasakan. Bella hanya berharap omongan Abian yang menyayangi Bella sepenuh hatinya itu benar adanya.
Hari ini Bella merasa menjadi. Wanita yang sangat beruntung.
"Makasih aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk kamu." Abian menggenggam tangan Bella dengan lembut dan hangat.
Kata orang jatuh cinta itu menakjubkan bahkan ada hal-hal yang hanya dapat dirasakan saat jatuh cinta. Kiranya Bella memang merasakan hal itu semenjak memilih menambatkan hatinya dengan mantap pada Abian.
Belum pernah merasakan hal seperti ini, pacaran adalah hal baru dalam hidup Bella terkadang situasi ini masih dianggap seperti sebuah mimpi. Bagaimana bisa Abian sosok lelaki sempurna bisa menaruh hati dengannya yang tidak cangik dan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Sepanjang mereka menjalin hubungan Abian bersikap layaknya gentleman. Tidak pernah memaksa Bella melakukan hal yang tidak ia suka seperti merubah penampilannya, mengganti kacamatanya atau menyuruh Bella melakukan hal lain dari kebiasaannya. Sikap santainya kadang membuat Bella tak mengerti.
Bella tidak tau ia harus merasa bersyukur atau malah insecure pada dirinya. Baginya Abian itu seperti bintang yang bersinar sedangkan ia hanya kunang-kunang yang ada di malam hari saat bulan maret dan kemudian mati di pagi hari.
"Bi," ucap Bella berdenyit kaget.
"Nanti ada yang liat." Lanjut Bella dengan cepat menghempaskan tangan Abian. Wajahnya terlihat resah dan bola matanya bergulir meneliti keadaan sekitar.
"Abiaan …." Sekali lagi Bella membelalakan matanya. Suaranya menjadi mengecil sebab Abian tiba-tiba mengecup pipinya.
Wajah Abian terkekeh geli melihat Bella yang sedang marah seperti ini, rasanya menyenangkan melihat bibirnya mencebik dan wajahnya yang bersemu memerah. "Apa sih sayang," sahut Abian.
"Kamu tuh nekat. Kita lagi disekolah tau!"
Seketika Abian mengulum senyum. "Jadi kalo di luar baru boleh dong."
__ADS_1
Bella hanya mendengus sebal tapi sedetik kemudian wajahnya kembali memerah.
"Bian." Suara itu terdengar semakin mendekat. Jodhi berdiri di hadapannya dengan wajah yang terlihat panik dan nafasnya yang tersekat.
"Hh― lo buruan ikut gue kita dipanggil ruang konseling."
"Becanda lo ya. Ganggu gue aja sama Bella," jawab Abian memicingkan wajahnya mencoba tertawa jika apa yang dikatakan temannya itu adalah prank.
Namun seketika tawa Abian musnah setelah diseberang sana sosok guru konseling-nya datang sedang berkacak pinggang seolah memintanya segera mengikuti, lewat tatapan matanya yang kelewat menyeramkan.
Bella hanya bisa memandangi Abian dari kejauhan sebab saat itu Jodhi langsung menarik pergelangan tangan Abian. Tidak bisa di pungkiri hati Bella cemas, ia tau jika Abian memang suka mencari onar tapi belakangan ini setaunya Abian tidak melakukan hal yang seperti itu. Bella berharap Abian akan baik-baik saja.
Semenjak terakhir kali bertemu Abian siang itu ,Bella tidak pernah bertemu lagi dengan Abian. Sudah terhitung tiga hari terakhir ini. Bukan hanya Abian, Marsel dan Jodhi mendapat skors setelah panggilan tiga sekawan itu keruangan konseling. Tidak ada yang tau penyebabnya hanya segelintir desas desus jika itu adalah masalah tawuran antar sekolah.
Tentu saja Bella cemas sebab ia juga tidak tau mau bagaimana menghubungi dan menemui Abian. Pesan maupun telpon darinya tidak pernah ditanggapi. Dan Bella hanya punya satu teman yaitu Alisa, yang juga mungkin sedang sibuk dengan urusannya dengan Jodhi.
Sebaiknya ia menunggu sedikit lagi, mungkin saat ini Abian juga sedang mencoba menghadapi dirinya dan menenangkan orangtua-nya.
Setelah menunggu satu minggu lamanya rasanya penantian Bella terasa begitu menyiksa. Wajahnya terlihat acuh saat memasuki koridor sekolah melihat kerumunan yang cukup ramai. Langkah Bella semakin cepat mencoba cepat berlalu, keramaian bukanlah hal yang menyenangkan untuknya.
"Gila, kan gue udah bilang bener Abian pacaran sama Amel."
"So sweet banget sih,” ucap cewek berambut pendek.
"Satu cantik satu ganteng."
"Cuma mimpi kalo bisa dapet Abian."
"Memang cuma Amel yang pantes sama Abian," ucap Dahlia, teman dari Amel.
__ADS_1
Kata-kata itu terdengar melewati rungu Bella memang bukan hal yang luar biasa jika Abian menjadi bahan gosip para gadis di sekolahnya. Bella juga sudah sering dengar jika Amel memang menyukai Abian, mereka memang berteman dan Abian selalu terbuka menceritakan hal itu pada Bella.
Namun entah mengapa gosip itu kembali ramai dibicarakan. Jantung Bella mendadak sesak ia harap sesuatu yang mengganggu dalam pikirannya tidak terjadi.
Berjalan sedikit tertunduk Bella meletakan tas punggungnya diatas meja, selagi tangannya melipat diatasnya dan tenggelam didalamnya. Sekarang ia merasa jika saat bertemu Abian hal apa yang ingin ia bicarakan terlebih dahulu.
"Bel… Bella," suara cempreng yang terdengar memekik itu sudah pasti milik Alisa sebab siapa lagi yang memanggil namanya dengan baik selain temannya itu.
Bella menegakan kembali tubuhnya sementara Alisa menarik asal kursi di dekatnya nafasnya sedikit terengah rambutnya juga sedikit berantakan belum lagi wajahnya yang memerah bisa ditebak jika Alisa kesini berlari dengan kecepatan penuh.
"Tarik napas dulu Sa," ucap Bella selagi memberi selembar tisu sebab keringat di pelipis Alisa sudah mulai berjatuhan.
"Hh, Bel kamu U―dahh liat Abian?"
Bella lalu menganggukan kepalanya. "Kenapa?"
Alisa menatap horor ke arah Bella. "Astaga kamu beneran belum tau."
Seperti orang bodoh Bella hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rasanya aneh bagaimana ia tahu apa yang dikatakan Alisa sebab Bella itu bukan tipikal gadis yang update tentang teman-teman di sekolahnya punya teman saja hanya satu, siapa lagi selain Alisa
"Abian itu sekarang pacaran sama Amel tadi pagi mereka bahkan berangkat bareng dan Abian antar Amel sampe kelas dengan manisnya." Dalam satu tarikan napas Alisa menyelesaikan kalimatnya itu sebab ia tidak tega mengungkap fakta ini dan lebih tidak tega lagi jika Bella melihatnya langsung.
Kepala Bella tiba-tiba pening, area matanya terasa panas dan bibirnya terlihat gemetar. Melihat perubahan yang terjadi pada ekspresi Bella, Alisa berinisiatif langsung memeluk Bella erat.
"Bel, calm down aku ada disini." Suara Alisa terdengar lembut selagi tangannya mengusap surai Bella perlahan
Dan semenjak mengetahui fakta itu Abian tak pernah datang lagi menemui Bella bahkan mereka hanya saling diam ketika mata mereka saling bertemu. Dan Bella memilih untuk melupakan Abian, ia sadar memang sedari awal hubungannya dengan Abian itu hanya angan dan mimpi yang tak akan pernah tercapai.
Masa lalu yang selalu melekat di pikiran Bella.
__ADS_1
Kemudian Bella memilih menyudahi untuk memandang laut dan masuk ke dalam kamarnya. Bella tidak mau orang-orang melihatnya menangis sebab ia sudah bertekad tidak ingin memperlihatkan air matanya dihadapan orang lain lagi. Bella yang sekarang adalah Bella yang berbeda, Bella yang kuat, mandiri dan percaya diri.