Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 30


__ADS_3

Beberapa jam sebelum berangkat makan malam bersama Bella.


"Eh, Bian lo sudah tau belum." Bastian menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi.


Abian yang tengah sibuk dengan ponselnya hanya menyahut. "Apaan," jawab Abian singkat seakan tidak tertarik.


"Itu loh, Bella temannya Alisa yang cantik banget."


Abian langsung meletakkan ponsel yang ada di tangannya di atas nakas di dekatnya. Begitu mendengar nama Bella.


"Kenapa, Bella hah." Pupil Abian membesar.


"Eh, Bian waktu itu gue sempet ketemu Jodhi nggak sengaja itu juga dia kebetulan lagi sama pacarnya juga si Alisa 'kan kalau nggak salah namanya." Jelas Bastian.


Sat ini seperti Bastian sedang berada dalam mode ibu-ibu rumpi.


Sesudah mendengar hal itu Abian menjadi sedikit penasaran cerita selanjutnya. Abian mengerutkan keningnya. "Terus apa hubungannya Bas?"


"Bentar, gue cerita pelan-pelan. Lo mau ke mana sih cepet-cepet banget." Suara Bastian seperti sedang menarik gas, sebab Abian yang tidak sabaran.


"Iya.. iya udah. Terus kenapa?"


"Begini Bian, terus gue samperin 'kan si Jodhi sama si Alisa. Pertama gue basa-basi. udah itu gue tanya dong, eh itu si Bella temen lo kalo nggak salah pernah datang kan ke party waktu ulang tahunnya Jodhi di Bandung gitu. Habis itu dia jawab dong bilang iya dan si Alisa bilang ialah datang orang teman satu SMA gue." Dengan lucunya Bastian juga memperagakan intonasi suara Asa yang herannya sangat mirip.


Semula Abian yang mendengarkan serius malah jadi gagal fokus dan berusaha mengulum senyumnya.


"Nah, dari sini lo ngerti enggak." Bastian bertanya.


Mulut Abian mendadak kelu. Jadi firasatnya selama ini benar. Pupil mata Abian bergetar.


"Bian, lo melamun." Bastian lantas menepuk pundak temannya itu. "Eh, jangan kerasukan di sini dong lo. Gue sering begadang di sini loh. Eh! Bian,” pekik Bastian.


Wajah Bastian tampak serius memandang ekspresi Abian yang kosong. Tangannya pada akhirnya menepuk pundak Abian cukup keras sampai terdengar suara tepukan yang nyaring.


“Aww! Gak perlu mukul juga kali, Bas.“ Abian mengusap pundaknya.


"Iya, Bas gue denger. Tadi gue cuma lagi kaget aja dengerin itu fakta dari lo. Gue selama ini sudah persis seperti orang bodoh yang kehilangan akal. Padahal yang selama ini gue cari ada di depan mata gue." Lanjut Abian.


Tentu Abian tidak bodoh dengan petunjuk yang Bastian berikan.


"Ya, lo nggak salah juga sih, Bian. Dari cerita lo 'kan bilang kalo Bella mantan lo dahulu perempuan yang biasa aja. Malah gue lihat fotonya kelihatan dia tuh kaya nerd. Penampilannya sekarang waktu gue liat album foto sekolah lo yah begitu. Bisa nilai sendiri deh,” tutur Abian.


Bibir Abian tersenyum. Semua yang Bastian katakan memang benar adanya.


"Bodoh gue yah. Bisa-bisanya gue nggak sampai ke sana pikirannya. Gue kalau dia bakal berubah sedramatis itu. Efek gak percaya sinetron yang tertanam di otak gue, jadi kadang gue lupa kalo di dunia nyata juga ada yang kayak sinetron ." Suara Abian terdengar lemah.


Bastian menepuk pundak Abian lagi. "Bro, ini jadi pelajaran hidup bahwa dunia itu luas dan kita sebagai manusia itu kecil banget pengetahuannya buat menerka masa depan. Bersyukur lo masih bisa ketemu mantan terindah lo itu."


Tanpa sadar Abian tersenyum simpul, ia tak bisa begitu saja sebenarnya mengakui kejeniusan dan kebijaksanaan Bastian. Mengingat Bastian itu seumuran dengannya.

__ADS_1


"Gila lo Bas, habis telan buku apa lo. Isi kepala lo bagus banget." Abian bergelak tawa. Mencoba mengubah suasana, agar tidak menjadi mengharu biru.


Suasana haru itu sangat tidak cocok untuknya dan Bastian. Selalu Abian berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Sial, lo gue udah keluarin bagus begitu kata-kata mirip motivator atau quote yang suka seliweran di sosial media malah lo ledekin," ucap Bastian.


Wajah Bastian malah tersenyum kecut. Abian menepuk kedua tangannya antusias. Tubuhnya seperti mendapat energi yang lebih besar.


"Iya, iya deh.. udah mirip.“ Abian mengacungkan jempolnya. “Mulai besok lo buka konsultasi aja. Lumayan buat tambahan uang jajan lo buat beli item game." Lanjut Abian.


"Terus rencana lo setelah tau begini gimana, tetapi sebenarnya si Bella itu tau nggak sih lo itu mantan dia Bi."


Tak salah Abian berteman dengan Bastian selain kreatif dan cekatan dalam bekerja ternyata otaknya juga pintar menilai suatu permasalahan.


Abian juga sebenarnya sedang memikirkan hal itu.


"Nah, itu gue juga nggak tau pasti.. Bas. Soalnya dia itu kalau sama gue yah biasa aja. Kalau bawa masa lalu―" Abian tampak mengingat sejenak perlakuan Bella terhadapnya saat belakangan ini ia bertemu sampai pada pertemuan pertamanya.


"Apa Bi, ada bedanya enggak?"


"Apa ya gue juga bingung mesti bilang apa soalnya gue waktu pertama kali ketemu tuh bukan di party-nya Jodhi juga. Terus si Jodhi juga enggak bilang apa-apa. Yang gua kira dia itu temen kuliahnya aja."


"Eh, tetapi lo jujur waktu ketemu dia kaya ada perasaan beda begitu nggak sih."


Abian mengangguk. "Iya, namanya normal Bas, lo aja akuin dia cantik pakai banget."


Bastian tersenyum malu-malu. "Ah, iyalah penilaian gue sebagai lelaki normal itu Bi, lo jangan salah paham."


"Astaga, hampir lupa gue waktu itu liat Bella akrab banget sama temen gue si Arga."


Dan entah mengapa hati Abian tercelos mendengar itu, tadinya ia yakin Bella mengetahui dirinya itu mantan SMA-nya namun setelah ini apa yang bisa diharapkan. Setelah ada nama lelaki lain juga.


"Ya, enggak masalah Bas yang penting itu belum tentu pacarnya." Abian mencoba berpikir positif


Bastian kemudian menunjukkan deretan giginya. "Betul, nggak seperti lo yah.. Bian."


Abian langsung menatap sinis Bastian, sial ia dijadikan bahan gurauan.


"Kenapa, gue kenapa. Dah lah jangan bahas di Amel dulu pusing." Abian tanpa sadar menyentuh keningnya.


"Iya, ya Bos. Jangan potong gaji ya." Bastian terkekeh geli.


"Bian, pokoknya bicarakan baik-baik. Saling bicara dari hati aja. Jangan pikirin cara yang aneh-aneh." Bastian memberikan peringatan.


Bastian bangkat dari sofa. "Gue mau pulang. Biasa ibu-ibu bawel banget di rumah. Anak gue juga rewel cariin bapaknya,” lanjut Bastian lagi.


Biar penampilannya seperti seorang bujang sebenarnya Bastian sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang anak lelaki yang usia baru menginjak tiga tahun. Tentu saja pada usia segitu sedang lucu-lucunya.


Bicara tentang anak sekarang hati Abian jadi bimbang, ia juga sebentar lagi akan menjadi seorang papa. Apa ia bisa melakukan hal seperti itu?

__ADS_1


Sedangkan Abian saja tidak pernah mempunyai gambaran dan sentuhan kasih sayang seorang papa.


Siang itu setelah dari kantor Abian memutuskan untuk pulang ke apartemennya, ia malas pulang ke rumah semenjak selalu adu mulut dengan mami-nya itu. Padahal dulu jauh sebelum Amel datang membawa kekacauan kabar ia mengandung calon anak Abian, mami-nya tidak pernah terlibat adu mulut yang panjang. Terlebih sampai mendiaminya seperti ini.


Di atas nakas tempat tidurnya Abian menyiapkan satu stip obat berwarna putih dan juga bungkusan foil kecil yang berisikan alat pengaman.


"Maaf, ya. Padahal tadi gue sudah antisipasi berangkat lebih awal." Itu adalah kalimat pertama yang Bella ucapkan padan Abian saat ia datang ke restoran yang Abian pilihkan untuk menghabiskan makan malam bersama.


Bella tampak cantik dengan penampilannya, Abian paling suka saat Bella berbicara lembut dan saat ia tersenyum begitu tulus.


Abian harus akui Bella yang sekarang memang lebih menarik, ia juga sudah lebih pandai dalam bersosialisasi. Abian senang Bella terlihat baik atau semakin baik. Walaupun Abian tersenyum kecut dalam hatinya.


Terlintas pemikiran tentang lelaki yang dimaksud Bastian tengah dekat dengan Bella di pesta Jodhi itu. Apa lelaki itu yang membawa perubahan dramatis ini pada diri Bella.


Abian tentu saja menyesal, dia hanya bisa membawa luka pada Bella.


"Apa kamu percaya pada cinta pertama Bel." Malam itu setelah menenggak beberapa gelas wine Abian sengaja mengeluarkan pertanyaan itu pada Bella.


Padahal Abian hanya berpura-pura ingin mabuk dan ingin mengetahui respons apa yang akan diberikan Bella pada pertanyaannya.


Abian kacau ia bahkan telah mempersiapkan segala niat jahat untuk meniduri Bella. Namun, setelah Bella mencium bibirnya dan mengatakan jika ia mencintai Abian.


Sontak hal itu membuat air mata Abian tidak dapat dibendung lagi. Ternyata selama ini Bella tau, ia tau jika Abian adalah mantan pacarnya yang berandal.


Dan sekarang banyak pertanyaan yang mulai memenuhi pikirannya salah satunya adalah kenapa Bella melakukan itu, menyembunyikan segala identitasnya dari Abian.


Malam ini, biar Abian menikmati aroma dan pelukan hangat perempuan yang amat dicintai. Abian bahkan lupa akan rencana bejatnya. Ternyata yang ia butuhkan hanya sebuah pengakuan picisan dan pelukan hangat.


"Bella maafkan aku dan mulai sekarang aku akan berjuang," ucap Abian dalam hatinya.


Pagi ini Abian bangun dengan wajah yang berseri, ia tidak bisa membendung hatinya yang membuncah. Setelah merasakan kulit lembut dan dekapan hangat tubuh perempuan yang ia cintai.


Wajah Bella masih memejam, Abian dengan sengaja memajukan wajahnya untuk mempersatukan kembali dan mencicipi kelembutan bibir Bella yang menjadi candu.


"Morning, sayang." Suara Abian terdengar parau.


Sudut bibirnya terus saja terangkat seolah menyatakan suasana hatinya yang gembira.


Perlahan Bella membuka kelopak matanya. Dan hanya terdiam.


"Maaf ya, aku menyusahkan kamu." Abian berucap tulus.


Dan tanpa aba-aba ******* bibir Bella. Tangan besarnya bahkan terus mengusap punggung Bella yang cukup terbuka, dan kini tangan nakalnya mulai menjelajah mengusap area pangkal lengan hingga tulang selangka dan leher Bella yang lembut.


Tentu saja hal itu membuat tubuh Bella semakin lemah, ia baru saja bangun dari tidurnya dan Abian sudah menciumnya dengan sangat menggebu.


"Em …."


Bella memekik kaget, dalam mulutnya yang terbungkam. Bagaimana tidak Abian baru saja menangkup salah satu bongkahan bulat di tubuhnya.

__ADS_1


"Bella, make love with me.“ Suara Abian terdengar lirih dan begitu seduktif.


Dan Bella membelalakkan matanya setelah permintaan Abian yang tidak masuk akal dan sangat bedebah.


__ADS_2