
Di depan cermin Abian memulas senyumnya. Pagi ini rencananya Abian akan menjemput Bella untuk pergi ke sebuah tempat yang ingin Abian tunjukkan.
Tempat spesial yang sangat ingin Abian beritahu hanya pada Bella orang yang ia cinta sejak dulu dan saat ini.
Abian menekan Bel, pintu rumah Bella terbuka dan mendapati Tante Misya yang membuka pintunya.
“Eh, Abian. Mau jemput Bella yah?“
Bibir Abian menyungingkan senyum. “Iya Tante Misya tau aja.“
Tante Misya kemudian mempersilahkan Abian untuk duduk di ruang tamu. “Gimana keadaan toko sama restorannya Tante?“
“Bagus kok, Tante senang banget iklan yang kamu buat jadi makin terkenal.“ Tante Misya berucap dengan semangat.
“Mm, aku senang hasilnya bagus. Itu juga karena Tante bisa proaktif.“
Sedang asik mengobrol, Bella datang mendekat. “Ma, Bella pergi dulu sama Abian.“ Pamit Bella.
“Ya udah kalau gitu, hati-hati.“
Mama Misya kemudian menatap Abian yang sudah berdiri gendang menghampiri Bella.
“Abian jaga baik-baik anak Tante yah,” ucap Tante Misya.
Dengan mantap Abian mengangguk. “Pasti Tante. Abian akan bertanggung jawab kok pulangin putri Tante kerumah dan sehat dan selamat.“
Sementara Bella tidak memberikan tanggapan apapun dan memilih untuk mencium tangan mamanya.
“Kita mau pergi kemana sih Bi?“ Bella bertanya sesaat mereka sudah berada di dalam mobil.
Dengan sudut bibir menahan senyum Abian berucap, “Mm, sekarang masih kejutan.“
“Memang ada hal spesial sampai jadi kejutan gini?“
Dengan mantap Abian mengangguk tangannya yang semula berada pada bagian transmisi mobil kemudian menggapai tangan Bella yang berada di atas pahanya. “Bisa dibilang begitu.“
“Kamu kok jawab ya gantung gitu gak pasti.“ Bela kembali bertanya.
“Ya soalnya aku pengen liat reaksi kamu pas tau kayak gimana sayang. Sekarang duduk manis aja yah. Gak lama kok perjalanannya.“
Dan setelah itu keadaan mobil menjadi hening sejenak.
Sebenarnya tanpa Bella ketahui sebenarnya Abian ingin mengajak Bella untuk pergi ke rumah miliknya yang baru saja rampung dikerjakan beberapa minggu lalu. Rumah masa depan Abian nanti bersama Bella.
“Sayang, kamu masih sakit?“ Abian yang melihat Bella yang terlihat lemah dan pendiam itu, merasa khawatir.
“Mm, udah lebih baik kok. Gak perlu cemas. Aku juga udah bawa obat kalau aja kepalaku semakin pusing.“
“Kalau makin sakit jangan di tahan yah supaya kita bisa ke rumah sakit. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa.“ Jujur Abian.
“Iya, aku juga gak mau pingsan lagi kok.“
“Mm, Bi.. Kalo aku lihat ini jalan tol mau ke Tangerang,” ucap Bella.
__ADS_1
“Kamu pintar banget sih sayang.“ Puji Abian.
Hanya percakapan itu yang terjadi selama di dalam mobil karena Bella tertidur begitu saja. Sekitar satu jam kemudian akhirnya Abian sudah hampir sampai di rumah miliknya.
Begitu juga Bella yang mulai terbangun dan mengelap sudut bibirnya.
“Gak ada air liurnya kok sayang, tidur aja kamu cantik.“ Tangan Abian membelai kepala Bella lembut.
“Apa sih kamu gombal.“ Bella menggeser posisi duduknya kedua tangannya terangkat layaknya bayi yang baru bangun tidur. “Masih jauh lagi Bi?“
“Udah dekat kok. Kenapa? Apa kamu pegel duduk terus? tanya Abian.
Dengan polos Abian mengangguk. “Mm, iya aku pegel apalagi pinggang aku.“ Jujur Bella.
“Sebentar lagi sayang, sepuluh menit lagi habis persimpangan jalan itu nanti kita tinggal masuk ke jalan rumahnya kok.“
Bella membuka botol air mineral yang ada di dekat kantung pintu mobil dekat tempat duduknya. “Minum dulu,” ucap Bella.
Dengan perhatian Bella memberikan minuman pada Abian. Tentu dengan senang hati Abian menerima air mineral tersebut. Bagaimana Abian bisa melupakan Bella, bagi Abian Bella itu wanita yang paling baik dan menerima Abian apa adanya. Terkadang Abian merasa jika ia tidak pantas dengan Bella.
Karena ia berantakan, bukan hanya dari keluarganya bahkan masa lalunya juga seperti itu. Tetapi Abian hanya berharap kecil masa depannya akan sedikit tertata jika itu bersama Bella. Cinta pertama Abian yang menyembuhkan hatinya yang kelam dan mengajarkan tentang cara mencintai tanpa syarat itu seperti apa.
Mobil yang Abian kendarai terhenti pada sebuah gerbang kayu yang terlihat menjulang tinggi dengan sekelilingnya tembok yang ditutupi tanaman merambat.
Rumah yang terlihat asri meski berada di tengah kota.
“Sebentar yah sayang, aku buka gerbangnya dulu.“
Abian hendak membuka sabuk pengamannya, tetapi tangan Bella dengan cepat menggapai tangan Abian.
Dengan cepat Abian malah menggenggam tangan Bella dan mencium punggung tangannya. “Gak apa-apa sayang. Supaya aku bisa lihat ekspresi kamu kayak gimana.“
Bella menghela napasnya panjang, sebab Abian langsung kabur begitu saja dan membuka pintu gerbang tersebut yang tak lama Bella dapat melihat jika ada seorang pria setengah baya yang kemungkinan besar adalah penjaga rumah tersebut.
“Gak lama 'kan?“ tanya Abian.
Kepala Bella menggeleng dan Abian langsung melajukan kembali mobilnya.
Pemandangan yang menyambut mereka adalah rumah yang bergaya seperti resort di Bali. Banyak ornamen kaca dan juga kayu yang menjadi bagian dominan selain dengan tembok bercat putih yang sangat terlihat kontras.
Rem tangan telah Abian tarik dan mesin mobilnya terhenti. Kemudian membuka pintu mobilnya.
“Ayo sayang. Di dalam lebih bagus lagi.“
Bella keluar dari mobil. Dari pancaran mata Bella Abian bisa mengatakan jika Bella terlihat takjub dan senang sebab bibir Bella yang tersenyum manis secara alami.
Tubuh Bella yang sudah menjadi candu memeluk bela dari belakang dan mencium pelipis Bella. “Kamu suka?“ tanya Abian.
Kepala Bella mengangguk. “Iya suka banget, aku gak ngira kamu bangun rumah dengan konsep sekeren ini.“
Bibir Abian mendekati telinga Bella. “Masuk yuk, sekalian ada yang ingin aku kasih buat kamu.“
Pinggang ramping Bella sudah ditautkan dengan lengan Abian. Keduanya memasuki rumah, sebelumnya Abian sudah mempersiapkan sebuah jalan bunga dan juga buket bunga mawar yang super besar.
__ADS_1
“Bi.. kamu—”
“Aku serius sayang. Besok kita ketemu Mama dan adik aku yah.“
Langkah Abian menuntun Bella untuk mendekati buket bunga mawar yang super besar itu dan Abian kemudian mengambil sebuah cincin dari sebuah mawar putih dengan pita merah disana.
“Maafin aku soal yang sebelumnya. Aku janji akan bersikap lebih baik dan bertanggung jawab.“
Bella menatap Abian dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sayang, boleh 'kan aku minta kesempatan kedua.“
Abian menggenggam tangan Bella dengan sorot mata yang memohon dan menyatakan keseriusan niatnya. “Sayang, masalah Amel aku akan berusaha sekuat tenaga. Kamu percaya 'kan sama aku. Aku janji kesempatan kali ini bakal aku pergunakan dengan baik. Apapun untuk melancarkan hubungan kita aku pasti akan lakukan. Aku bakal jadi lelaki yang memantaskan diri untuk bersanding dengan kamu“ Jelas Abian.
Menunggu, Abian menunggu respon Bella. Sampai akhirnya suara manis dan bibir cantik itu bergerak. “Abian kamu janji?“
“Tentu, aku serius. Rumah ini adalah rumah kita. Atau kamu mau pindah setelah kita bertunangan aku gak keberatan. Kamu bisa isi dengan barang-barang yang kamu suka.“
Kedua bola mata madu milik Bella kembali menatap Abian hati-hati hingga satu anggukan kepala Bella yang Abian tangkap sebagai jawaban atas permintaannya.
Melihat itu Abian merasa hatinya berbunga dan langsung menyebarkan cincin di tangan kiri Bella seperti yang sebelumnya.
Hati Abian memuncah, bagaimana kekasih hatinya itu kembali dalam pelukannya dan memberikan satu kesempatan.
"Terima kasih yah sayang.. Eh, ayang aku, maksudnya." Abian berceloteh.
"Ngomong-ngomong kamu semenjak kapan bangun rumah ini?"
"Aku udah bangun lama sih. tapi semenjak ketemu sama kamu aku berusaha giat buat percepat bangun rumah ini." Jelas Abian.
Karena gemas, Abian menggesek sebentar hidung bangirnya pada pipi halus Bella dan bibirnya dengan cepat juga mencuri kecupan.
"Mm, gitu jadi kalau gak ketemu aku gak selesai-selesai dong ini rumah."
Abian terkekeh. "Mm, mungkin aja."
Oh iya, kamu juga harus lihat bagian kamarnya. Pasti kamu suka," tutur Abian.
Sesampainya di kamar, Abian mengajak Bella ke dekat jendela. pemandangan luas yang berhadapan pada taman dan juga kolam berenang yang sangat cantik.
"Ini indah banget. kalau aja ada pantai atau gunung mirip banget sama villa yang di Bandung."
"Ya, itu 'kan tempat pertama kali kita ketemu. kalau kamu masih ingat."
Abian memang menjadikan bentuk rumah ini seperti villa di Bandung tempat mereka pertama kali bertemu.
Mata Bella berbinar. "Abi, kamu lakukan ini benar buat aku?"
Kepala Abian mengangguk cepat. "Serius ayang, aku udah bilang dari tadi. Kamu gak percaya.. sehabis kita bertengkar aku merasa harus lakukan sesuatu yang nyata supaya kamu yakin dan kasih aku kesempatan." Jelas Abian.
Sesudah berucap begitu Bella langsung memeluk Abian. "Makasih yah, semoga kedepannya ucapan kita baik-baik aja."
Abian memeluk erat. "Tentu aja, aku akan selalu berusaha memperbaiki dan pertahankan hubungan kita. Yang penting kamu percaya 'kan sama aku?" tanya Abian.
__ADS_1
"Ya, karena kamu menunjukkan bukti buat aku."