
Arga merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, ia menyadari jika malam ini harus rela tertidur di sofa ruang kerjanya.
“Agk! Udah jam enam aja.“
Segera mungkin Arga bangun dan bersiap untuk pergi ke kantor. Kesehariannya memang berbeda semenjak Arga punya ambisi untuk menguasai Maha Group. Perusahan terbesar dan paling terkenal yang dimiliki papa-nya. Meskipun secara otomatis ayahnya mewariskan itu padanya karena Arga adalah anak satu-satunya dari pernikahan sah bersama ibunya.
Karena ingin membalas dendam juga untuk mendepak istri kedua ayahnya yang merupakan ibu dari Arletta.
“Loh Bel, gak perlu repot-repot sih.“
Arga kaget sebab Bella sudah ada di dapur dan terlihat sedang memasak sesuatu yang harum. Entah apa tapi yang pasti sudah membuat perut Arga keroncongan.
“Gak repot kok Ga, lebih baik lo sekarang mandi siap-siap berangkat kerja deh. Sebentar lagi roti isinya selesai. Gue juga buat jus jeruk.“
“Makasih banget yah Bel, gue biasanya kalo sarapan sukanya di kafetaria atau beli roti di minimarket.“
“Ya sekali-kali gak apa-apa kok, Ga. Ini cuma hal kecil aja yang bisa gue lakuin karena lo udah baik hati tampung gue di apartemen lo.“
Bella memulas senyumnya. “Ga, bajunya nanti gue balikin kalo udah bersih yah.“
Namun kepala Arga menggeleng. “Buat lo aja Cit, simpan aja yah.“
“Mm.. dasar lo, Ga. Padahal di rumah gue udah ada beberapa baju lo juga yang gue pinjam,” tutur Bella.
“Gak apa-apa kok. Ya udah gue siap-siap dulu yah. Nanti lo mau pergi kemana?“ tanya Arga.
“Paling pulang ke rumah dulu Ga.. buat setor muka sama mama Misya.“
“Ya udah gue antar yah.“
“Eh, jangan!“ Bella langsung mengatakan penolakannya dengan wajah paniknya.
Ekspresi itu membuat Arga mengerutkan dahinya. “Kenapa?“ tanya Arga reflek.
Pandangan Bella sekilas terlihat tidak fokus dan lidahnya menjulur guna membasahi area bibirnya. “Em.. itu, Mm— gak enak lah repotin lo lagian lawan arah banget. Nanti lo malah telat ke kantor. Gue naik taksi online aja bisa kok, Ga.“
“Beneran? Lo yakin Bel?“ Arga kembali bertanya untuk meyakinkan Bella.
“Iya yakin kok,” jawab Bella.
__ADS_1
Dari pancaran wajahnya memang tidak terlihat sedikitpun keraguan. Tapi dilain sisi ada hal lain yang membuat Arga penasaran.
“Oh iya.. nanti waktu kita sarapan lo bisa gak Bel kasih tau gue kenapa tiba-tiba lo datang ke apartemen gue dan sedih gitu. Gue gak minta penjelasan rinci kok tapi gue minta alasan aja supaya gue ngerti lo kenapa. Apa lo masih ingat, gue pernah bilang 'kan kalo lo itu udah gue anggap sebagai adik gue sendiri.“ Jelas Arga.
Padahal saat mengatakan sudah menganggap Bella sebagai adiknya sendiri, Arga nyatanya sudah menyimpan perasaan suka sebagai lelaki terhadap Bella.
Kepala Bella mengangguk kecil. “Iya Ga, nanti gue bakal ceritain kok.“
Arga melangkahkan kakinya untuk lebih dekat pada Bella dan tangan Arga terulur menyentuh puncak kepala Bella lembut. Tanpa sepatah katapun Arga pergi meninggalkan Bella untuk masuk ke kamar yang semalam sempat menjadi tempat singgah-nya untuk beristirahat dengan nyaman.
Selesai menumpuk sayuran dan keju lembaran di atasnya, Bella lalu meletakan roti isinya di piring sambil menunggu Arga keluar dari kamarnya.
Sambil menunggu Arga keluar dari kamarnya, Bella menyalakan ponselnya lagi setelah semalaman sengaja ia nonaktifkan.
Setelah beberapa menit mengaktifkan kembali ponselnya, Bella dapat melihat sepuluh panggilan tak terjawab dan ada tiga pesan suara yang berasal dari Abian. Bahkan beberapa chat yang menyusul masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya.
Awalnya Bella ragu untuk melihat dan membuka salah satu notifikasi yang Abian kirimkan. Tapi belum sempat Bella menyentuh layar ponselnya untuk membuka notifikasi nama Abian sudah terpampang di layar ponselnya.
Dengan sangat jelas, Abian memanggil.
Bella menghela nafasnya. Sedikit banyak setelah kembali berkomunikasi dan bertemu dengan intens. Bella tau sikap keras kepala Abian.
Dan disatu sisi Bella juga tidak munafik jika ia masih butuh Abian. Harusnya Bella tidak lemah.
“Kenapa?“ Suara Bella menjawab.
“Bel, akhirnya kamu jawab telepon aku juga. Kamu dimana sekarang?“ tanya Abian di seberang telepon-nya.
“Di rumah teman aku. Buat apa ketemu, aku lagi gak mau ketemu sama kamu dulu. Aku juga sibuk buat bimbingan sama pak Agus,” dalih Bella.
“Jangan menghindar gitu dong Bel, soal yang semalam aku minta maaf. Iya, aku akui aku salah.“ Abian membuat pengakuan.
“Bagus kalau kamu sadar kamu salah. Aku gak menghindar tapi aku butuh waktu sendiri untuk kesibukan aku dan rasa kesal aku karena kamu. Abian.. kalau kamu mau kita ketemu lagi baiknya kamu kasih aku waktu buat sendiri dulu.“ Suara napas Bella tampak terengah-engah. Dadanya tiba-tiba sesak dan tanpa menunggu jawaban dari Abian, langsung saja Bella menutup sambungan teleponnya dengan Abian.
Tubuhnya lemah sehingga Bella harus berpegangan pada meja makan. Dan terduduk lemas di kursinya.
(Kenapa susah banget buat balas dendam sama lo.. Abian. Gue pikir gue mampu, gue udah berubah dan gue udah jadi Bella yang baru siap hadapi lo tapi nyatanya gue tetap Bella yang lemah dan mencintai lo seperti diri gue yang dulu. Diri gue yang masih polos dan percaya jika lo sangat tulus menyayangi gue apa adanya.) Batin Citra.
Dadanya sesak, dan jantungnya nyeri.
__ADS_1
“Loh Bel, kok malah tidur lagi di meja makan?“
Suara Arga menyadarkan Bella yang memang sedang dalam posisi membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang sengaja ia tumpukan menyerupai bantal.
Bella menoleh kemudian menegakkan tubuhnya. “Enggak kok Ga, gak ngantuk. Tiba-tiba tadi sedikit lemes aja,” dalih Bella.
Telapak tangan Arga menyentuh dahi Bella. Mendapat perlakuan itu Bella hanya diam sampai Arga menarik telapak tangannya lagi.
“Bel, mau ke rumah sakit?“ Raut wajah Arga tampak khawatir.
Namun kepala Bella menggeleng lemah. “Gak perlu Ga, paling cuma kurang tidur aja. Nanti kalau udah makan dan minum vitamin juga semuanya akan baik-baik aja.“ Jelas Bella, mencoba untuk tidak buat Arga menjadi khawatir.
“Ya udah tapi gue antar sampai rumah aja yah. Jangan menolak, rasanya lebih tenang kalau gue antar lo pulang sampai rumah.“
Jika sudah seperti ini, Bella juga tidak bisa menolak sebab wajah Arga yang terlihat tegas dan tidak bisa di bantah.
“Sorry yah.. gue ngerepotin lo terus,” tutur Bella
“Jangan bilang gitu Bel, gue lakuin ini karena gue sayang sama lo.“
Pada akhirnya setelah menyelesaikan sarapannya, Bella menaiki mobil Arga yang mengarah ke rumahnya.
“Bel, soal lo datang ke apartemen gue tengah malam kemarin karena apa, Bel?“ tanya Arga.
“Mm, itu.. masalah gue berantem sama teman aja. Jadi malam itu gue ada janji ketemu makan malam terus kita cekcok gitu. Kebetulan juga tempat gue makan malam itu dekat dari apartemen lo. Jadinya gue putusin buat ke tempat lo. Pikiran gue lagi kalut.“ Jelas Bella.
“Apapun itu, kalo memang cekcok selesaikan sampai tuntas yah Bel. Supaya gak ada kemarahan yang terpendam dengan teman lo itu. Biarpun lo berteman tetapi kalau seseorang yang sakit hati bisa dendam. Karena cinta dan benci itu tipis jalannya. Jangan sampai teman lo dendam,” ucap Arga.
Meski sedang mengemudi rupanya Arga tetap mendengarkan dengan seksama.
“Kalau dua dendam gak apa-apa lah Ga.. jangan diambil pusing. Lebih baik berteman dengan orang yang menerima kita apa adanya.“
“Iya, Lo benar kok.. Gue cuma ingatan lo aja. Nyatanya musuh dalam selimut itu benar adanya kok Bel. Gue gak mau lo sampai celaka.“
Bibir Bella menyunggingkan senyumnya. “Makasih yah Ga udah dikasih pandangan yang bagus.“
“Tentu aja Bel,”
Sesudah bercerita tentang Bella, kemudian Arga membicarakan hal lain lagi. Terkadang Bella bingung, kenapa Arga yang begitu baik dan dewasa masih belum punya pacar. Mereka saling dekat dan juga Arga sering menyatakan rasa sayangnya pada Bella secara terang-terangan.
__ADS_1
Tapi yah sekali lagi semua sebatas teman dan kakak-adik saja. Tidak lebih dan tidak ada pernyataan resmi dari Arga untuk mengajaknya berpacaran. Semuanya menggantung begitu saja.
(Ga.. kalau saat nanti gue selesai balas dendam sama Abian, apa hubungan kita ini bakal berlanjut atau gue harus ketemu dan adaptasi lagi sama cowok lain? Jujur gue terlanjur nyaman sama lo Ga.. tapi di satu sisi gue juga gak yakin sama perasaan ini ke lo beneran cinta atau semacam rasa penasaran aja.) Batin Bella.