
Abian hanya bisa memejamkan matanya dan memukul dinding kamarnya setelah ia kesal setengah mati karena ucapan Bella tempo hari tentang ciuman yang mereka lakukan dan yang Bella rasakan bukan sesuatu hal yang bermakna.
“Sial!“ Suara Abian menggeram.
Padahal sebenarnya Abian sangat sadar sepenuhnya ia menyatakan cintanya pada Bella. Ada dorongan yang kuat hingga membuat hati kecil Abian mengatakan hal itu secara spontan.
Dan gilanya Abian sempat berfikir jika Bella dan mantan pacarnya sewaktu SMA adalah orang yang sama, namun logikanya selalu menolak firasat hati kecilnya itu.
Dan Abian kembali nekat membuktikannya lewat ciuman itu.
Padahal untuk Abian itu adalah salah satu hari terbaik untuknya. Ciuman yang tentu saja termasuk dalam kenangan indah yang akan sulit dilupakan.
"Kak, Bian dipanggil mami." Itu suara Cecil dari balik pintu kamarnya.
Namun Abian hanya diam dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.
Tok..tok! Suara ketukan pintu semakin terdengar nyaring.
"Lo masih tidur," tanya Cecil lagi.
"Bangun mami tungguin lo juga sekarang!" Cecil memekik kencang.
Abian dengan raut wajah yang sebal, bangkit dari ranjangnya dan pergi berlalu ke kamar mandi. Sungguh Abian tidak punya energi untuk berdebat dengan Cecil saat ini.
"Kak, Bian sepuluh menit nggak turun gue buka paksa ya kamar lo!" Ancam Cecil.
Tak lama setelah Cecil berteriak, kemudian terdengar suara langkah kaki yang pergi menjauh.
"Ampun Cil, tuh mulut pingin gue cabein aja," celetuk Abian saat tengah mengeringkan wajahnya yang baru saja ia basuh.
Melangkahkan kakinya perlahan, Abian menatap presensi mami-nya yang sedang duduk tenang di meja makan.
Mengambil selembar roti tawar hangat yang sepertinya belum lama selesai dibakar. Abian nampak bersikap tenang.
"Mih, ada apa," tanya Abian langsung tanpa basa-basi.
"Kamu malam pulang jam berapa?" Mami bertanya.
"Jam dua, sepertinya Abian nggak tau pasti."
Abian kemudian mengambil selai coklat dan juga selai kacang, yang ia oleskan dengan hati-hati pada setiap permukaan rotinya.
"Urusan kerja atau main," ucap sang mami ketus.
"Kenapa lagi sih, Mi. Lagian Abian selalu bertanggung jawab dengan apa yang Abian lakukan selama ini." Dengan wajah lelahnya Abian menggigit potongan roti bakar yang baru selesai ia olesi.
"Berubah sedikit sikap kamu, sebentar lagi kamu akan menikah." Ada nada tegas yang terdengar pada kalimat itu, Abian sangat tau intonasi bicara yang biasa mami-nya pergunakan.
"Mami.. Abian sudah berusaha bahkan sekarang Abian sendiri cukup dirugikan dalam pernikahan itu."
Mami Abian yang sedang memotong pisang untuk campuran rotinya seketika menghentikan kegiatannya sampai terdengar bunyi pisau makan yang berdenting beradu pada piring keramik yang mengganggu.
"Abian kamu harus sadar diposisimu, kamu tetap bersalah karena sudah menghamili Amel. Jangan jadi lelaki pengecut seperti papah-mu." Terdengar jelas suara amarah menggebu-gebu.
"Mi, kenapa selalu aku yang dijadikan kambing hitam untuk hal yang menyangkut papi. Bian tau dia lelaki yang berengsek di mata Mami. Tapi tolong Mi, sekali ini aja meski ada darah kotor itu yang mengalir di tubuh Abian tapi jangan sekali-kali Mami samakan Abian dengan papi." Tegas Abian.
__ADS_1
Abian beranjak dari kursi, roti yang baru saja ia makan sedikit diletakkan begitu saja di piringnya. Padahal tadi pagi perutnya sangat lapar dan semua rasa laparnya tiba-tiba langsung menguap begitu saja setelah mendengar ocehan maminya tentang papinya. Apalagi memojokan Abian dengan dengan papi-nya yang tidak bertanggung jawab.
Semua hal yang menyangkut papinya memang selalu saja menjadi hal sensitif untuk dibicarakan. Rasa trauma itu masih membekas di kepala Abian.
Sesampainya di kamar Abian langsung mengambil ponselnya, menempelkan pada telinganya. Seperti sedang menunggu seseorang di seberang sana untuk menjawab panggilannya segera mungkin.
"Gue ke rumah lo sekarang. Jangan coba-coba menghindar." Dan setelah itu Abian memutuskan sambungan teleponnya.
Dengan tergesa Abian mengganti bajunya dan pergi melajukan mobilnya menembus kepadatan kendaraan pada jalan protokol yang ada di Jakarta.
Setelah satu jam lamanya berkendara. Abian sampai di sebuah rumah yang cukup megah. Dengan pagar hitam yang menjulang tinggi dua kali tinggi tubuhnya.
"Permisi, Amelnya ada Mbak," ucap Abian sopan pada pekerja asisten rumah tangga.
"Masuk aja, Mas Abian. Ada di dalam."
Abian lantas mengangguk, melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Amel.
"Nggak biasanya kamu datang cepat setelah telepon aku." Amel melipat kedua tangannya di bawah dadanya dengan wajah yang enggan menatap Abian.
"Jangan buat ini seperti drama Mel, Apa lo gak cape?" Sebelah tangan Abian memijat pelipisnya. "Untuk apa kamu mengadu sama mami karena aku enggak respon pesan atau telepon kamu tadi malam."
Amel, wanita cantik itu mengerucutkan bibirnya. "Memang kenapa? Wajar 'kan aku calon istri kamu." Amel berbicara ngotot.
"Aku capek kamu selalu cemburu ini dan itu gak jelas! Kalau kamu memang gak percaya sama aku lebih baik kita batal nikah aja, belum nikah aja kamu udah kayak gini gimana kalau udah nikah beneran."
Amel lantas menajamkan tatapannya pada Abian. "Abian harusnya kamu mengerti aku sedikit, aku lagi hamil! Wajar kalo aku sensitif atau posesif." Jelas ada nada amarah yang terselip dalam kalimat itu. Meski wajahnya terlihat datar.
"Kamu, benar-benar gak berubah. Aku capek!" tutur Abian kesal.
Abian lelah, ia tidak tahu nasibnya akan seperti ini terjebak dengan wanita seperti Amel.
"Aku nggak peduli. Mungkin waktu aku masih sekolah dan aku enggak punya kuasa juga otak. Kamu bisa menjebak aku seenaknya― menyetir aku sesuka kamu. Tapi sekarang aku gak akan tinggal diam."
Amel menghentakkan kakinya, wajahnya sudah memerah padam menahan amarah. "Kamu gak akan bisa Abian. Ada anak kamu di dalam perut aku." Amel menunjuk perutnya yang sudah membuncit itu.
Mendengar hal itu Abian tersenyum sinis. "Amel, kamu percaya diri sekali. Biarpun aku playboy aku sangat tau dan sadar dengan apa yang aku lakukan saat berhubungan badan dengan wanita. Dan apa perlu aku kasih tau orangtuamu seperti apa kelakuanmu itu."
Sementara Amel terdiam di tempatnya tidak lagi menarik uratnya.
"Kenapa? Kamu takut aku tau semuanya.“ Nada suara Abian meledek. “Aku diam karena aku menghargai kamu. Bagaimanapun kamu itu pernah jadi wanita yang aku sayang, tapi kamu selalu menekan aku karena obsesi gilamu yang gak masuk akal." Lanjut Abian lagi.
Abian benar-benar menumpahkan segala kekesalannya.
"Abian jangan meremehkan aku!, Tarik semua kata-kata kamu. Aku bisa pastikan ini adalah anakmu."
"Kalau begitu aku minta pernikahan kita ditunda sampai anak itu lahir dan bisa melakukan tes DNA yang jelas kebenarannya." Tantang Abian.
Amel membelalakan matanya. Sudut bibirnya menarik segaris senyum tipis. "Gak akan, semuanya akan berjalan sesuai rencana aku."
"Jika kamu sangat kesal karena pernikahan ini silahkan saja. Aku gak perduli," Amel lalu membalikan tubuhnya.
"Amel lo benar-benar monster!" Hardik Abian.
Abian langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Memasuki mobil dengan tergesa dan memutar stirnya cepat, berusaha lari secepat mungkin.
__ADS_1
Lelah, Abian lelah. Amel tidak pernah berubah. Hubungan yang memang terus berlanjut semenjak SMA itu nyatanya hanya berjalan menjadi hubungan yang saling beracun.
Dan pada puncaknya Abian tidak tau Amel menemui mami-nya dan menyerahkan testpack dengan garis dua yang terpampang nyata.
Membuat mami-nya meradang dan malu, mami-nya bahkan menangis dan meminta maaf pada atas perlakuan Abian layaknya seperti seorang brengsek.
Abian tersenyum kecut, geretakannya tadi nyatanya tidak berarti apa-apa pada Amel. Dan Abian bimbang dengan kebenaran anak yang ada di dalam perut Amel itu miliknya atau bukan.
Karena dua bulan yang lalu Abian memang pernah mabuk berat dan keesokan paginya ia bangun dengan Amel yang berada di sampingnya. Abian tidak ingat apapun. Yang lebih gilanya itu sangat sesuai dengan usia kandungan Amel dengan waktu setelah kejadian itu.
Apa benar ini adalah karma yang ia dapat dari seorang playboy.
***
Sementara itu disisi lain,
Siang hari ini Bella kembali menjalankan kesibukan membantu mamanya mengurusi toko dan resto. Rencananya ia akan bertemu dengan salah satu staf dari perusahaan periklanan.
"Halo, selamat siang," sapa Bella ramah.
"Siang Mbak, saya Ririn salah satu staf dari kantor periklanan Bit Creative.
Bella tersenyum ramah. "Silahkan duduk, Mbak Ririn. Jadi bagaimana tentang sample iklannya."
Ririn kemudian mengeluarkan komputer tabletnya. "Ini, Mbak." Memperlihatkan isi tabletnya.
Dan setelah itu Bella melihat sample iklannya dengan seksama.
"Bagaimana Mbak, apa sudah sesuai atau ada yang ingin diubah lagi?" Ririn bertanya ramah.
Bella tersenyum kecut, terkadang Bella tidak habis pikir dengan prediksi dan perkataan Alisa yang terdengar asal namun kebanyakan tepat sasaran.
Seperti yang kemarin Alisa bilang soal Abian yang akan menerima tawarannya sebagai narasumbernya ternyata benar adanya. Mama-nya bahkan menggunakan jasa dari perusahaan Abian.
"Untuk saat ini sudah cukup. Saya suka, tetapi untuk lebih pastinya saya kabari besok. Saya harus minta persetujuan dari bu Misya dulu," jawab Bella.
Ririn kemudian memasukan komputer miliknya ke dalam tas. "Baiklah, saya tunggu kabar baiknya."
"Mbak Ririn, untuk tanda tangan kontrak saya langsung ke kantor saja."
"Baik Mbak Bella, kalau begitu saya pamit."
Ririn kemudian bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Abian, takdir sepertinya mendukung aku untuk melakukan balas dendam ini," ucap Bella pada dirinya.
Tangan Bella mengambil ponselnya yang sebelumnya tergeletak. Dan mengetikan beberapa kata pada sebuah aplikasi bertukar pesan yang sering digunakan.
Pesan untuk Abian. “Kapan lo ada waktu, kita harus segera bertemu.“ Tulis Bella.
Setelah, mengirimkan pesan itu beberapa menit kemudian Abian membalas.
Pesan dari dari Abian. “Besok datang ke sini,” balas Abian.
Dan Abian mengirimkan sebuah lokasi, yang anehnya cukup familiar bagi Bella.
__ADS_1