
Abian terpaksa pulang lebih cepat, padahal tadi ia sebentar lagi bisa membuat Bella terkungkung lemah di bawah kuasanya.
"Iya, Mi. Abian pulang," ucap Abian. Sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Abian memijat pelipisnya, ia begitu kesal saat berada dalam posisi tanggung seperti ini. Abian juga tidak bisa mengulur waktu lebih banyak lagi. Jika tidak mau mami nya mengamuk dan datang ke apartemen atau ke kantornya.
Dengan ocehan dan omelan yang tiada habisnya. Telinga Abian bisa saja berdengung.
"Kamu hati-hati. Berkendara, jangan lupa hubungi aku." ucap Abian saat sampai di area parkir.
"Ya, kamu juga hati-hati yah."
Abian tanpa aba-aba langsung menarik tubuh Bella dan memeluknya erat. Kemudian membiarkan Bella masuk ke dalam mobilnya.
Berkendara selama dua jam lamanya membuat Abian cukup lelah, ia memang sengaja langsung pergi ke rumah Amel.
"Permisi, Mbak. Amelnya ada di dalam," ucap Abian. Melakukan basa-basi setibanya di pelataran rumah Amel.
"Ada Mas, Abian. Masuk aja. Ada di kamarnya."
Kemudian Abian mengacungkan jempolnya. "Makasih ya Mbak."
"Sama-sama Mas Abian,” ucap pekerja rumah tangga rumah Amel.
Melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Amel, sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Abian memang sering melakukannya. Namun itu dulu, sesaat sebelum bertemu dengan Bella.
"Mel, ini gue Abian."
Abian berkata di depan kamar dengan pintu kayu berwarna putih gading itu.
"Masuk aja Bi, gak di kunci." Amel menyahut.
Abian masuk, kemudian mendapati Amel yang tengah berbaring di atas ranjangnya. Dengan perlahan, Abian melangkahkan tungkai kakinya menuju sisi tepian ranjang Amel berada.
Namun sebelumnya Abian meletakan keranjang berisikan buah di nakas yang ada di dekat ranjang Amel. Mata Abian menyipit pada Amel yang terlihat aneh.
"Lo telepon, mami bilang sakit segala." Nada Abian sinis
"Memangnya lo sakit apa," tanya Abian lagi.
"Gak enak badan, lemes badan. Kayaknya karena efek kehamilan muda deh. Atau baby-ku kangen sama kamu ayahnya." Amel tersenyum malu-malu.
Mendengar nada manja itu, membuat Abian memutar bola matanya malas. Padahal Abian sudah menegaskan dan ia serius bilang jika ia tahu dan punya bukti kalau anak yang di kandung Amel adalah milik Marsel.
Kemarin ia juga sudah sepakat tapi Amel rupanya seperti tak punya pendirian dan plin-plan. Termasuk pintar bermain playing victim.
"Ya, sudah kalau gitu telepon bapaknya lah kenapa malah telepon mami gue. Lagipula kita itu sudah putus lama Mel. Kita juga udah sepakat. Mending lo turuti apa yang gue mau dari pada gue bongkar aib lo dan bikin malu diri lo." Tegas Abian.
Amel yang tadinya berbaring kemudian bangkit mendudukkan dirinya. "Kamu mau enaknya doang ya. Giliran aku hamil, kamu tinggalin aku gini aja."
Kelopak Abian memudar.
"Udah deh jangan drama terus. Gue yakin anak yang ada di perut lo anak Marsel. Gue tau kok kelakuan kalian di belakang gue gimana."
__ADS_1
"Kamu cemburu, aku kan memang teman dekat sama Marsel."
(Cih, mulai playing victim. Dasar problematik.) Batin Abian.
Manik mata hitam Abian menatap tajam. "Apa? Cemburu bukannya lo yang cemburuin gue gak jelas. Gue putusin langsung bikin laporan sama mami. Sadar gak sih lo tuh mempermalukan diri lo sendiri sebagai perempuan Mel. Bukannya gue juga udah kasih kesempatan yah."
Sesaat Amel terdiam sampai suara ponsel Abian berdering nyaring. Tanpa memperdulikan apa yang akan Amel katakan. Abian langsung bergerak menjauh dan menjawab panggilan teleponnya itu.
"Halo, Bas. Gila lo penyelamat gue banget," ucap Abian berbicara sedikit berbisik.
"Oh, oke gue langsung ke kantor deh. Lo tunggu. Mungkin satu jam lagi gue sampai." Kemudian Abian mengakhiri panggilannya.
"Abian, lo mau ke mana?" Amel mengudarakan tanyanya. Ketika Abian melangkah semakin dekat dengan pintu keluar kamarnya.
"Bastian telepon. Ada klien minta ketemu, bahas masalah kerjaan." Jelas Abian seadanya.
"Kalau masih sakit ke rumah sakit aja, nanti gue telepon Marsel."
Tanpa menunggu jawaban Amel lagi, Abian membuka pintu kamar Amel.
"Untung Bastian telepon kalau gak gue bisa mati bosen dan malah emosi di sini." Monolog Abian.
Kali ini ia sudah tidak bisa lagi bersikap lembut dan pura-pura meng-iya-kan apa yang Amel katakan atau apa yang Amel mau.
Abian sekarang punya prioritas lebih penting, ia harus memperjuangkan cintanya lagi. Abian tak mau jika harus kehilangan Bella lagi. Yang pertama saja sudah cukup menyakitkan. Mungkin yang kedua kali ia benar-benar bisa gila.
Sesampainya di kantor,
"Dih, Bian lo kesurupan atau kenapa sih. Otak lo panas apa gimana? Klien komplain lo malah senang."
Jelas ekspresi Bastian lebih serius dibandingkan Abian yang seperti habis mendapat undian berhadiah milyaran.
"Sini, sini gue liat dimana dia komplainnya."
Abian langsung membaca lembaran kertas yang ada di atas meja Bastian.
Setelah beberapa menit membacanya, ia kemudian melihat dengan seksama dan teliti setiap poin yang dituliskan secara rinci di sana.
"Besok, kita rapat dulu deh sama tim bagian legalitas. Habis itu cek biaya produksi sama kerugiannya dulu sama tim keuangan. Soal melobi kliennya. Serahin aja sama gue, Bas. Yang penting lo siapin berkas iklan yang tayang itu dalam bentuk laporanya. Biar gue pelajari."
Bastian yang tadinya sudah pusing tujuh keliling akhirnya bisa tersenyum lega. "Gila, Bian gue kira lo otak encer pas lagi deketin cewe juga. Ternyata lo lebih jenius dari yang gue kira."
Mendengar hal itu Abian menajamkan pandangannya. "Udah mikir skeptis duluan sih lo sama gue." Disusul suara gelak tawa Abian yang terdengar renyah.
"Eh, tadi kenapa lo bilang gue penyelamat lo mulu."
"Ya, memang lo penyelamat gue disituasi yang tepat."
Dahi Bastian berkerut dan alisnya bertaut. "Memang lo tadi dalam keadaan bahaya?"
Abian kemudian mengangguk lemah. "Bahaya banget Bas."
"Eh, serius ini. Lo kenapa tadi?" Bastian berhenti sejenak meneliti penampilan Abian.
__ADS_1
"Bahaya apaan, fisik lo baik-baik aja sih Bian." Dahi Bastian mengerut bingung.
Abian menghela napasnya sambil terduduk di kursi yang tak jauh dari letak duduk Bastian berada.
"Lo, tau gak Bas tes DNA itu bisa dilakukan kapan?"
"Mau tes DNA siapa lo?" Kini Bastian yang malah balik bertanya.
"Tes DNA sebenernya gua adiknya Nicholas Saputra bukan sih," ucap Abian dengan wajah seriusnya. Namun setelahnya mengulum bibirnya rapat. Seperti seseorang yang sedang menahan tawanya.
Mendengar obrolan tak masuk akal itu kemudian Bastian mendengus kesal. "Eh, gue serius Bian! Lo malah bercanda jawabnya."
"Gue mau tes DNA anaknya Amel yang masih ada di perut. Kira-kira bisa gak sih?"
"Lah, lo gimana. Kemarin gue saranin lo diem aja malah lanjutin apa yang mami lo mau. Ini tinggal dua bulan lagi lo menikah. Bukti yang gue kasih tentang Marsel itu bukti chat dan lainnya belum cukup buat Amel ngaku?"
"Ya, Bas gue berubah pikiran setelah ketemu Bella mantan gue yang pernah gue ceritain itu. Gua dah pacaran sama dia sekarang dan mau serius sama dia. Gue udah kamar Bella.. terus gue udah bilang semua aib Amel dia malah playing victim. Gue capek, dan rasanya tes DNA itu yang paling susah buat diputar balikkan fakta. Lo tau juga gue pernah tidur sama Amel di waktu yang berdekatan dengan kehamilannya." Curhat Abian panjang lebar.
"Mana bisa gitu Bian. Tes DNA bisa dilakukan setelah tuh anak lahir." Jelas Bastian.
Abian memijat pelipis kepala, yang kini bertambah menjadi pening. Karena pada kenyataannya setelah menikah Abian harus menunggu enam bulan lagi baru ia bisa melakukan tes DNA dan bodohnya Abian, setengah meng-iya-kan keinginan Amel untuk menikahkarwna bujukkan mami-nya.
Yang awalnya hanya untuk menutup mulut Amel dan menghentikan ocehan mami-nya semata. Tapi sekarang Abian malah terjebak.
"Bian, lo gak bisa. Satu-satunya cara yah lo harus menikah dan kemudian melakukan tes DNA."
"Apa gak ada cara lain Bas. Meski harus di luar negeri gue rela deh bayar." Wajah Abian tampak menyimpan harap pada apa yang akan dikatakan Bastian selanjutnya.
"Tetep gak bisa Bian. Tes DNA yah, harus ada wujudnya. Lo mau kasih tes pakai apa sampelnya. Duh, nyesel gue bilang lo jenius tadi."
Abian mengepal tangannya. Pandangannya menunjukkan amarah yang sangat kental. "Sial, tuh perempuan selalu bikin gue pusing sama tingkah lakunya."
Bastian, menepuk pundah Abian pelan. "Ya, mau gimana lagi, Bian. Keputusan lo sudah sulit diubah. Kalo lo nekat juga taruhan perusahaan. Lo inget 'kan saham bapaknya Amel cukup besar di sini. Kecuali lo bisa cari investor lain dalam waktu dekat."
Dan ucapan Bastian itu menjadi sebuah ide baru lagi bagi Abian.
"Thanks Bas. Lo memang yang paling benar kasih saran kalo gue ajak curhat."
Abian kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Tetapi sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu, Abian menghentikan langkahnya. "Bas, hari ini temenin gue lembur ya."
Bastian kemudian membulatkan matanya. "Ah, gak bisa Bian. Anak gue minta bapaknya pulang cepat hari ini."
"Aduh, gue kasih bonus deh dua kali lipat bulan ini."
Mendengar kata bonus Bastian langsung menerbitkan senyumnya. "Ah, kalo gitu semangat deh gue. Lumayan bisa buat tabungan biaya sekolah anak gue."
Abian tersenyum simpul. "Bukan buat beli item game mobile tuh," celetuk Abian. Kedua alisnya naik turun.
Mengusap rambut bagian belakangnya, Bastian menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Dikit, sampingan aja. Buat melepas stres."
"Terserah deh yang penting hari ini temenin gue lembur yah sampai semingguan ke depan."
Dan Abian melangkah keluar ruangan tersebut. Bersiap berperang habis-habisan untuk menggagalkan pernikahannya dengan Amel.
__ADS_1