Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 29


__ADS_3

"Permisi Mbak, ini reservasi atas nama siapa," ucap sang resepsionis hotel


Ya, akhirnya dengan sangat terpaksa Bella membawa Abian menginap di hotel, entah ini suatu kebetulan Bella juga tidak tau kenapa situasinya begitu pas.


Bella bahkan curiga jika Abian benar-benar sengaja merencanakan dan menjebaknya untuk sengaja memilih restoran di hotel juga bilang Abian yang memang ingin mabuk dengan alasan yang masih klise menurut Bella.


Tapi jika memikirkan segala kemungkinannya Bella malah sakit kepala. Tangan Bella bahkan sudah memijat kepalanya. Harusnya yang sekarang pusing bukan ia tapi Abian yang memang sedang mabuk.


"Abian Damara," ucap Bella berusaha tenang sambil mengetukkan jarinya pada meja resepsionis. Dan pandangannya sesekali melirik Abian yang masih terduduk lemah pada sofa tunggu di lobi hotel.


"Pembayarannya mau tunai atau kredit," tanya sang resepsionis lagi.


"Kredit Mbak." Tanpa pikir panjang Bella segera menyerahkan kartu kredit Abian yang masih ada padanya.


Membuka tas handbag-nya. Bella hanya bisa mendesah dalam hati. Dan kemudian resepsionis itu menerima kartu berwarna hitam tersebut di tangannya.


"Silahkan masukan pin-nya Mbak."


Bella menekan dengan lancar nomor pin kartu kredit Abian, jika saja Bella orang jahat sudah pasti ia rampok isi saldo di kartu Abian ini. Tetapi jika dipikirkan kembali ia juga akan tertangkap dengan mudah.


Lagipula, ini zaman canggih, semua harusnya bisa dilacak dengan cepat dan mudah.


Ya sekali lagi itu hanya pikiran gila Bella saja yang sudah terlalu kesal dengan Abian yang mabuk.


Setelah selesai melakukan administrasi untuk check in sekarang Bella kembali mendesah memutar otaknya, bagaimana tidak, tubuh Abian yang jangkung itu sangat menyulitkan Bella untuk memapahnya.


"Apa ada bellboy yang bisa bantu saya." Bella sedikit menjeda ucapannya setelah resepsionis hotel mengembalikan kartu kredit itu. "Suami, saya mabuk sulit sekali membawanya masuk sampai ke kamar, kebetulan pakai hak tinggi juga."


Resepsionis itu tampak memindai wajah Bella sejenak. Bella hanya berharap kemampuan aktingnya bisa terlihat alami dan nyata.


Bella memulas senyumnya. "Kami tadi habis minum di lounge dengan beberapa kolega, maklum suami saya kalo ketemu temen-temen suka lupa diri Mbak. Tadinya mau langsung pulang tetapi saya juga sedikit minum tadi jadi.. yah lebih baik cari aman dan menginap di sini… Mm, benarkan Mbak." Bella bahkan tertawa kecil dan tersenyum kikuk untuk membuat dirinya tidak terlalu terintimidasi dengan tatapan mata sang resepsionis yang sedang meneliti ucapannya.


Bella sedikit memaksakan senyumannya berharap resepsionis ini percaya pada alasannya dan tidak menaruh curiga pada Bella apalagi atas tindakkan Abian, mengingat kondisinya yang mabuk berat.


Resepsionis ini kemudian tersenyum, "Iya, maaf Bu, saya pikir pacarnya. Soalnya Ibu masih kelihatan muda ternyata sudah menikah. Sebentar saya panggil bellboy-nya. Ibu bisa menunggu bersama suami Ibu— di sana." Sang resepsionis menunjuk pada sofa hitam yang menjadi ruang tunggu.


Bella menyunggingkan senyumnya, "Terima kasih yah Mbak, maaf merepotkan."


Setidaknya Bella bisa bernapas lega dan hal yang ia lakukan sekarang adalah menghubungi mama-nya dan juga Alisa untuk memperkuat alibinya tidak pulang ke rumah.


Mengirim pesan untuk Alisa. “Sa, kalo mama tanya gue menginap di tempatmu sekarang jawab ia aja ya.“ Tulis Bella menggunakan aplikasi pesan singkat.


Tak lama Bella mengirim pesan pada mama Misya.


Mengirim pesan untuk mama Misya. “Ma, Bella menginap di rumah Alisa yah. Lagi kangen. Besok pagi langsung ke kampus juga. Jangan khawatir, Bella baik-baik aja.“ Tulis Bella.


Dan setelah mengetikan pesan itu, ponsel Bella berdenting.

__ADS_1


Tidak lama ponsel Bella berdenting dan di layar ponselnya menunjukkan layar notifikasi dari Alisa. “Pokoknya nanti lo hutang cerita sama gue, Bel.“ Balas Alisa dari pesan sebelumnya yang Bella kiriman.


Setidaknya Bella bernapas lega. Sahabatnya itu menyetujui permintaannya.


Kemudian, Bella kembali mengetikan pesan untuk membalas jawaban pesan Alisa dan setelahnya ia memasukkan ponselnya ke dalam handbag-nya.


"Permisi Bu, katanya Ibu butuh bantuan untuk bawa suami Ibu yang mabuk ke kamar." Suara lelaki itu membuat Bella menoleh, sepertinya bellboy-nya sudah datang.


"Iya, Mas Didi. Tolongnya saya agak sedikit tipsy juga." Bella lagi-lagi membaca nama yang tersemat di seragam bellboy itu dengan baik.


Tangannya juga memegang kepalanya untuk melengkapi aktingnya.


"Baik, Bu. Mari saya antar,” ucap sang pelayan ramah.


Tubuh Abian yang besar sepertinya membuat bellboy bernama mas Didi itu kesulitan. Meski gak banyak Bella mencoba membantu dengan memapah tubuh Abian dengan memegang sisi tubuh lainya yang mudah Bella jangkau.


"Sayang," rancau Abian dengan matanya yang setengah membuka ke arah Bella.


Bella hanya tersenyum kikuk, menanggapi celotehan Abian itu. "Maaf ya, Mas― suami saya kalau lagi mabuk bicaranya suka melantur." Bella menunjukkan cengirannya disusul dengan suara tawanya yang palsu.


"Ah, enggak masalah Bu. Lagi memang ada beberapa tamu kok yang seperti itu,” sahut Mas Didi.


Kemudian, tidak lama lift membuka. Mereka telah sampai di lantai tujuh.


"Ini Bu, key card-nya." Menyodorkannya di hadapan Bella.


"Makasih yah Mas.“ Bella mengambil key card tersebut, menempelkannya dan tak lama pintu kamar terbuka.


Bella lantas mengangguk menyetujui saran Didi, lagi pula siapa yang mau memapah Abian lagi.


Setelah meletakkan Abian di ranjang, Bella mengambil dua lembar uang dengan pecahan berwarna biru yang ada di dompetnya. "Terima kasih, Mas Didi."


Dan kemudian setelah Didi keluar dari kamar itu, Bella hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.


"Astaga. Gue benar-benar gila. Gue benar-benar terpaksa terjebak dalam satu ruangan dengan Abian. Kenapa sikap gak tega gue malah buat gue terjebak sendiri," Monolog Bella pada dirinya.


Bella juga terjebak dengan kebohongannya yang ia mulai di meja resepsionis tadi. Kebohongan yang tidak ada gunanya dan malah membuatnya menerima nestapa.


Selagi duduk di tepi ranjang, Bella hanya bisa memijat kepalanya, sebab terlalu banyak teka-teki tentang percakapannya malam ini dengan Abian. Di dalam diri Bella menjadi menerka-nerka apa yang dimaksud dan siapa cinta pertama Abian itu.


Tidak bisa dipungkiri ada secercah harapan yang ia gantungkan, pada pernyataan lelaki mabuk ini. Bella berharap Abian juga sedang mencarinya.


Daripada terus memusingkan hal ini, lebih membersihkan wajahnya dengan air dingin. Bella melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


Tangan Bella dengan cekatan membuka aksesori yang menempel pada tubuhnya tidak lupa dengan membersihkan wajahnya dengan kapas pembersih yang sudah dibubuhkan micellar water di sebuah wadah kecil yang tersimpan dalam handback-nya.


Wajah Bella kembali polos, ia juga membuka kuncir rambutnya dan menggulung rambutnya asal kebagian atas.

__ADS_1


"Kenapa, ini menjadi semakin rumit." Monolog Bella di depan cermin.


Bella mengambil handuk dan mengganti sepatu hak tingginya dengan sandal hotel yang lebih nyaman.


Sementara Abian yang masih terbaring dengan posisi yang masih sama sejak terakhir kali ia tinggalkan.


Di tepian ranjang dengan sprei berwarna putih itu, Bella mendaratkan bokongnya, meraih sepatu pantofel yang masih menempel di kaki Abian.


Merasa kasihan, Bella melepaskannya, tangannya kini menggapai ikat pinggang kulit Abian yang masih memeluk erat pinggangnya.


"Gara-gara lo, dan rasa kemanusiaan gue sendiri jadi repot!" Bella mencebik kesal.


Saat Bella selesai menarik tali pinggang kulit itu pada bagian ban terakhir celana kain Abian, Bella dibuat geram karena kepala gesper Abian yang berbentuk frame itu memeluk erat pinggang Abian dan ia kesulitan untuk membukanya jika Abian dalam posisi tertidur seperti ini.


"Ahk, sial!" Bella memekik kesal.


Seharusnya Bella bisa membiarkan Abian tidur dengan gesper yang masih tersemat di sana, tetapi ia tidak bisa. Hati nuraninya seakan tidak bisa membiarkan hal itu.


Pada akhirnya Bella menarik lebih kencang tali gesper itu di sisi dekat kepala gesernya dan berharap besi pada bagian tengah itu bisa terangkat dengan mudah.


Satu, dua dan tiga akhirnya kepala gesper itu terbuka dan Bella bisa bernafas lega tanpa rasa bersalah.


"Abian." Bella memekik kaget setelah Abian bergerak dan kedua matanya yang tampak memerah itu terbuka lebar.


Seakan tuli Abian malah mendekap tubuh Bella erat dalam pelukannya.


"A-abi.. iii!“


Panggilan Bella yang tercekat, sebab ia mati-matian menahan napasnya karena hembusan napas hangat dan permukaan bibir Abian yang dingin menyentuh tengkuknya, belum lagi kedua tangannya yang melingkar di perut Bella.


Lalu Bella harus bagaimana?


Bella mencoba membuka tautan tangan Abian pada perutnya dengan perlahan, namun lagi-lagi sebelum Bella berhasil melakukannya Abian malah semakin meringkas masuk ke dalam perpotongan leher milik Bella.


"Jangan pergi." Suara parau milik Abian membuat bulu roma milik Bella menegak.


"Maafin aku," ucap Abian. Suaranya yang kini terdengar semakin menyedihkan, lirih menyayat hati Bella.


"Aku sudah berusaha cari kamu. Bahkan, aku hampir gila cari kamu lewat teman SMA kita dan kamu enggak pernah datang memberiku petunjuk di mana kamu. Andai aku enggak pengecut." Abian menghela napasnya panjang.


"I love you so much. Kamu cinta pertama aku Bella. Aku suka saat cium kamu tiba-tiba di sekolah, aku suka semua omelan dan cara kamu yang selalu semangati aku belajar."


Perkataan Abian membuat Bella termangu seperti seseorang yang kehilangan akal. Dan bersamaan dengan itu hatinya sesak. Mereka bahkan hanya berpacaran singkat kenapa Abian masih mengingat saat mereka masih bersama dulu.


Sekuat tenaga Bella menahan air matanya yang sudah mengembang di pelupuk matanya. Tubuhnya lemah tak punya tenaga lagi untuk sekadar mengeluarkan suara, dadanya sesak seperti ada tali yang mengikatnya erat sampai oksigen sulit masuk melalui celahnya sekalipun.


Dan entah tindakan apa yang mendorong tindakan Bella ini, ia kemudian membalikkan badannya. Mengsejajarkan wajahnya dengan Abian.

__ADS_1


Menutup matanya Bella mengecup bibir Abian dan kemudian beberapa detik kemudian menjauhkan wajahnya, masih dalam jarak yang cukup dekat Bella menggigit bibirnya yang kini bergetar. "Abian, I love you too."


Bella tidak yakin apa Abian dapat mendengarnya pernyataan cintanya itu tetapi satu yang dapat Bella pastikan Abian memeluknya semakin erat dan Bella dapat merasakan pipinya yang basah, bukan karena air matanya, melainkan air mata milik Abian dan Bella bisa memastikan hal itu.


__ADS_2