Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 50


__ADS_3

Selagi duduk di sofa, jemari Bella sedang asik menekan beberapa tombol pada layar ponsel pintarnya.


Mengirim pesan untuk Alisa. “Sa, boleh minta tolong pak Deni ambil mobil gue gak nanti.“ Pesan Bella pada Alisa.


Tak lama Alisa kemudian membalas.


Balasan dari Alisa. "Jemput di mana mobil lo mogok?"


Tak lama bukan balasan yang Bella dapat malah sebuah panggilan masuk dari Alisa.


Dengan senyum simpul Bella mengangkat panggilan dari Alisa. Menempelkan ponselnya pada telinganya.


"Bel, mobil lo di mana? Lo gak dalam bahaya 'kan.“ Ada nada khawatir yang jelas tercetak disana.


Mendengar nada bicara temannya yang sedikit panik itu Bella mengulum senyumnya sebab Alisa memang selalu se-heboh itu mengeluarkan reaksinya.


Belum lagi Alisa mudah berfikir negatif jika menyangkut sesuatu yang tidak wajar seperti ini.


"Ada di apartemen Abian. Berantem gue sama dia."


"Gila! Gila banget tuh playboy." Alisa menyalak sebal. Jelas Alisa terdengar emosi.


"Eh, tunggu. Kan lo lagi sama dia kok lo minta jemput mobil lo gue gak ngerti. Kebiasaan cerita cuma sepotong. Ada apa sih Bel." Alisa kembali berbicara di telepon.


Bella menghela napasnya lelah. "Duh panjang banget cerita lewat telepon. Lo 'kan juga kalo nanya banyak sudah kayak mahasiswa lagi demo. Nanti aja kita ketemu. Lagi gue tuh kirim chat gitu maksudnya mau binta bantuan lo. Gak mungkin juga pak Deni jemput mobil gue gitu aja, sedangkan kunci mobilnya sama gue."


Duh terkadang sikap Alisa yang babar itu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi Bella.


"Ya, sudah. Lo mau ke sini kapan? Kalo besok sih gak janji pak Deni bakan anter Bunda buat belanja soalnya."


Terdengar suara kekehan Alisa yang begitu khas di telinga Bella.


"Ya, nanti mungkin 2-3 jam lagi gue ke rumah lo. Kalau sudah mau dekat nanti dikabari lagi, Sa."


"Okay! Jangan lupa cerita apa yang kejadian sama lo,” ucap Alisa.


Belum sempat mengudarakan suaranya Alisa sudah memutus sambutanmu teleponnya.


Bella hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Dasar mama Alisa." Gumam Bella.


Senyum di bibirnya tak bisa luntur jika itu menyangkut Alisa sebab selalu ada saja sikap ekspresifnya yang membuat Bella tertawa dan menggelengkan kepalanya


Meletakkan ponselnya kembali dalam tasnya. Bella berjalan menuju kaca yang ada di seberangnya, yang memantulkan cahaya matahari yang berubah menjadi jingga melalui gorden tipis itu.


Memandang langit selalu menjadi kesukaan Bella.


"Hei, lagi lihat apa sih.. serius banget." Suara Barito itu membuat Bella langsung menoleh ke sumber suara yaitu tepat di belakang punggungnya.


"Liat macetnya Jakarta," celetuk Bella seadanya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya. "Duh, gak tau sejak kapan jadi suka liat kemacetan gitu sih Bel."


Terkadang memang Bella merasa Arga adalah sosok lelaki yang pantas menjadi kakaknya, menjadi sandaran untuk melepas beban sebagai anak tertua.


"Ga.. sudah lama tinggal di pindah ke apartemen ini," tanya Bella membuka pembicaraan.


Arga lantas menoleh kemudian kepalanya mengangguk kecil. "Iya, sekitar dua bulan."

__ADS_1


Bibir Bella mengerucut. "Kok, tega banget sampai gak kabarin sih Ga .…"


Arga terkekeh. "Kan tadi udah bilang mau kasih kejutan. Lagian gak mau juga ganggu konsentrasi yang sibuk nyusun skripsi. Tau kok seribet apa bimbingannya kalau sama pak Agus.“ Jelas Arga.


"Terus juga di kantor pasti sibuk bangt 'kan soalnya kerja di kantor keluarga pasti tekanannya besar,”titur Bella.


Sebab Bella juga mengalami apa yang ia rasakan seperti juga Arga rasakan.


Arga mengangguk. "Ya, sih Awalnya berat. Tapi lama-lama jadi terbiasa kok Bel. Pasti ngalamin juga kayak gitu yah Bel," tanya Arga


"Bel, boleh gak minta peluk?"


Bella yang ditanya begitu tentu saja sedikit terkejut. Tetapi ia juga tak bisa memungkiri jika di dalam hati juga merindukan Arga. Hari ini juga terasa berat bagi Bella, pelukan seorang teman dekat pasti tidak ada salahnya dan itu juga bukan hal yang berlebihan.


"Boleh," jawab Bella.


Kedua tangannya merentang seakan tengah menyambut Arga untuk memeluk tubuhnya.


"Kalo lagi gak sibuk atau kebetulan lewat bisa mampir ke sini kok kayak waktu di apartemen sebelumnya,” ucap Arga.


Kepala Bella mengangguk. "Nomor handphone tuh yang mana si Ga? Kok udah jarang hubungi."


"Masih yang lama kok, cuma memang kemarin banyak kerjaan jadi gak sempat buat hubungin aja."


"Huh, bilang aja sibuk sama pacar yah 'kan," sarkas Bella.


Arga terkekeh. "Cemburu?“ tanya Arga.


"Gak boleh cemburu?“ Bella terkekeh dengan ekspresi wajahnya yang jenaka.


Bella hanya menjawab seadanya, tidak bermaksud mengarah serius namun Arga merenggangkan pelukannya dan mengecup pipi Bella.


"Kenapa sih jadi gemesin,” celetuk Arga.


"Masa masih gemesin, udah tua gini juga.. gak pantes dong jadi gemes."


"Di mata aku tetap gitu."


Dan entah karena suasana atau karena kelihaian Arga dalam membuat afreksi di tubuh Bella, dengan suasana yang berubah. Dan tiba-tiba ada sengatan listrik yang mengalir akibat kulit dan pandangan mereka yang bertemu, bibir Arga sudah menempel pada bibir Bella.


Ini bukan jenis pertautan bibir yang menggebu, hanya saling menempel manis. Beberapa detik kemudian Arga menarik bibirnya. Hingga sudut bibirnya membentuk garis senyum yang amat menawan.


"Mau pulang sekarang atau kita jalan-jalan bareng gimana?" Tawar Arga.


Bella yang masih terhanyut dalam khayalannya kemudian mengerejapkan matanya lucu. "Em, t-tadi kamu bilang apa?"


Suara Bella sedikit tergagap sebab ia tidak sempat mendengar apa yang dikatakan Arga baru saja.


"Mau menginap di apartemen," ucap Arga jahil.


Pipi Bella bersemu merah dan manik mata coklatnya berkelana menghindar dari tatapan Arga yang seakan mengintimidasinya.


Tangan mungil Bella mendorong pelan dada Arga sehingga pelukan mereka terlepas. Berjalan mengambil tas selempangnya yang ada di sofa.


"Arga.. jangan mengada-ngada gitu deh bercandanya."


"Habis melamun aja. Terus kita mau ke mana? Itu pertanyaannya Bel." Jelas Arga.


"Antar aku ke rumah Alisa aja yah. Nanti aku tunjukin arahnya."

__ADS_1


"Alisa, pacarnya Jodhi itu 'kan Bel," tanya Arga. Memastikan.


Dengan cepat Bella mengangguk. "Iya, keberatan gak kira-kira kalau minta antar ke sana?"


"Gak kok, ya udah. Ayo, nanti malah kemaleman sampai sananya." Arga memulas senyumnya.


Benar-benar tipikal cowok yang ramah dan Bella juga memilih tidak membahas kecupan bibir yang Arga berikan padanya itu tadi.


Keduanya melangkah menuju tempat dimana mobil Arga terparkir.


Sedikit terpana Bella tak menyangka jika Arga membukakan pintu untuknya dan menutupnya kembali, layaknya seorang ratu yang sangat dilayani.


Siapapun wanita pasti akan tersanjung dengan sikap Arga ini. Ditambah mobil yang Arga kenakan memang berjenis mobil Jeep yang cukup berjarak tinggi dari jalan. Jadi Arga sedikit membantu Bella untuk naik dengan nyaman di kursi penumpang.


"Udah masukin alamat di GPs-nya 'kan Bel," tanya Arga.


"Ya, sudah kok. Sudah sesuai." Bella menjawab yakin.


"Bel, setelah lulus mau lanjut sekolah atau kerja?" Arga kembali membuka pembicaraan. Tangannya dengan cekatan mengendalikan setir mobilnya.


"Aku kayanya kerja bantu mama handle toko. Kasihan kewalahan gitu soalnya setiap tiga tahun pasti ada outlet baru yang dibuka." Curhat Bella.


Tak lama, ponsel di dalam tas Bella berdering.


"Duh bentar yah Ga," ucap Bella.


Tangannya dengan cepat menggapai ponselnya, melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo, iya Sa. Lagi on the way nih ke rumah lo." Bicara Bella menjawab percakapan teleponnya.


"Iya … ya ampun," ucap Bella lagi.


"Sama Arga kok."


Tak lama Bella menjauhkan ponselnya dari telinganya sebab suara Alisa yang memekik nyaring.


"Astaga, bisa budek dengerin teriakan lo. Memang bunda gak ngomel apa lo teriak gitu." Bella menghela napasnya.


"Ya, nanti gue kabarin lagi kalo sudah depan komplek rumah lo." Dan kemudian Bella mengakhiri panggilannya dengan Alisa.


Sementara Arga yang ada di balik kursi pengemudi hanya terkekeh. "Bel, sama Alisa kelihatan memang klop banget. Yang satu kalem yang heboh,” celetuk Arga.


Bella menoleh lalu terkekeh mendengar penuturan Arga itu. "Gitu deh Alisa, tapi benar deh Ga.. kalau selama kita berteman Alisa tuh bisa jadi pelengkap dan pengingat saat dalam segala situasi. Susah dapat teman kayak dia." Jujur Bella.


Arga menganggukkan kepalanya. "Yap, susah. Makanya harus dipertahankan. Termasuk beruntung Bel dapat bestie yang ngerti bahkan tahu luar dalam."


Bella kemudian tersenyum simpul. “Iya Ga.. dulu kayaknya sebelum bisa membuka diri. Kita susah dekat dan percaya sama orang lain tapi lama-lama belajar juga dari nasehat teman-teman yang baik. "


Mengenal Arga sudah cukup lama, membuat Bella paham sifat Arga. Meski diluar kelihatan Arga adalah lelaki yang ramah dan sikapnya yang baik serta manis itu membuatnya punya banyak teman membuat Arga populer dan mudah dikenal namun bukan berarti ia punya banyak teman yang dapat memahami dirinya seutuhnya Arga pernah curhat seperti itu pada Bella.


Mencari teman yang mau menerima dan mengetahui kelemahan kita adalah pekerjaan yang sangat sulit.


Setiap orang selalu punya motif dalam melakukan pertemanan bukan?


"Ya, mungkin gitu. Susah, buat cari orang yang buat aku nyaman Bel."


"Nanti ketemu kok. Kalau kata Alisa, misalnya gak ketemu temen yang ngerti nanti ketemunya partner hidup yang bisa ngertiin."


Abian menekan pedal remnya sebab lampu di depan perempatan jalan di depannya menunjukkan lampu merah yang menyala.

__ADS_1


"Bener sih yang Alisa bilang. Di umur yang udah cukup gini pasti berharap dalam waktu dekat bisa ketemu dengan partner hidup buat bangun masa depan."


Dan Bella bersumpah ketika ia menoleh dan manik matanya saling bertemu dengan Arga. Perasaan Bella merasa jika tatapan Arga begitu dalam saat mengucapkan hal itu. Terutama saat menekan kata partner hidup.


__ADS_2