Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 64


__ADS_3

Bella memasak steak dengan mudah. Itu memang bukan pekerjaan yang sulit. Arga juga membantunya dengan menyiapkan alat makan juga menyiapkan pelengkap steak seperti sayuran dan juga kentang goreng.


Sebagai seorang lelaki Arga cukup mumpuni untuk memotong bahan-bahan atau memberikan sejumlah bumbu.


Membuat Bella sedikit terkejut. “Aku gak tau kamu juga ternyata pintar masak. Padahal aku kasih kamu sayuran dan kentang utuh.“


“Waktu kuliah aku tinggal sendiri. Waktu lulus aja aku kembali ke Bandung,” jawab Arga.


“Mm, yah tapi aku gak sangka kamu bakal se-jago itu. Aku kira kamu cuma bisa masak yang instan aja. Atau biasanya pesan lewat online.“ Jujur Bella.


Arga terkekeh. “Kamu udah underestimate sama aku yah. Lain kali aku yang masak deh.“ Suaranya penuh percaya diri.


“Boleh deh. Penasaran juga kamu bisa masak apa?“


“Coba aku kasih tantangan sama aku.“ Dengan percaya diri Arga menjawab.


Sejenak Bella berpikir. “Gimana kalau masak spaghetti deh tapi jangan pakai bumbu instan yah.“


“Oke, aku terima tantanganmu. Tapi nanti aku dapat hadiah gak?“ tanya Arga.


“Ya boleh, aku kasih kamu sesuatu yang kamu inginkan ada?“ Bella balik bertanya.


Bibir Arga tersenyum simpul. “Ada sih, nanti deh aku kasih tau kalau aku udah mulai masak yah.“


“Oke deh,” jawab Bella.


Obrolan ringan itu membuat senyum Bella sedikit banyak mengeluarkan senyum dibanding dengan ia yang kemarin lemah dan hanya berbaring di ranjang seharian. Beruntung Alisa sangat pengertian.


Tadi pagi juga Bella selagi mandi dan berendam mengompres matanya dengan kantong es batu dan juga menggunakan concealer lebih banyak di bawah matanya guna menutupi mata panda dan juga bengkaknya.


“Ga, tolong ambilkan piring dong, aku gak sampai.“ Pinta Bella.


“Sebentar yah Bel, aku kecilin dulu api kompornya.“


Bella mengangguk dan ia melihat Arga dengan mudah mengambil piring yang tersusun dalam kabinet yang berada diatas kepalanya dengan sangat mudah tanpa perlu berjinjit.


Sedangkan Bella, berjinjit saja tidak sampai.


“Lain kali aku bawa kursi plastik kecil deh yah atau tangga kecil,” celetuk Bella.


“Mm, boleh aja kalau kamu mau sering masak di dapur aku.“


“Kalau kamu gak keberatan,” ucap Bella.


“Aku senang kok. Soalnya aku bisa lebih hemat. Dan aku bisa banyak ngobrol lagi sama kamu.“


Arga meletakkan dua buah piring. Bella langsung menyambutnya dan meletakan daging yang sudah selesai ia panggang. Kemudian berjalan menuju meja makan.


Bella mengambil sebotol wine, bukan untuk ia minum tapi untuk ia masak sebagai saus untuk steak-nya.


“Ya aku rasa itu bukan ide yang buruk. Aku juga suka ngobrol sama kamu soalnya pikiran kita jadi positif.“ Jujur Bella.


Sambil mengobrol dan sedikit bercanda, akhirnya Bella dan juga Arga menyelesaikan masaknya. Bella mengakui jika Arga itu lelaki yang sangat sportif.

__ADS_1


Keduanya duduk saling berhadapan. Di temani dengan musik jazz yang sengaja Arga putarkan untuk mereka. Suasananya sangat nyaman dan juga intim.


Meski entah apa yang disebut untuk hubungan mereka berdua tapi Bella semakin yakin untuk mulai mengenal Arga lebih jauh dibandingkan dari waktu mereka pendekatan dulu.


“Mm, kamu masak steak-nya pas banget matangnya dan sausnya aku suka. Mirip saus yang ada di restoran.“


“Kamu juga pintar kok buat masak sayur sama kentang gorengnya. Apalagi kenyangnya. Garing dan gak berminyak sama sekali.“


Arga memulas senyumnya. “Gimana buka restoran bareng aja sama aku?“ Tawar Arga. Suaranya jenaka.


“Wah ide bangus. Aku juga belum punya restoran steak,” sahut Bella.


Sambil mata Arga melirik ke arah Bella dan mendengar semua ocehan Bella, tangan aktif untuk menyuapkan makanan dan menuangkan wine untuk dirinya sendiri.


“Kamu minum soft drink aja yah,” ucap Arga.


Bibir Bella mengerucut. “Minum wine sedikit aja boleh kok. Aku bukan anak dibawah umur tau.“


Arga yang melihat hal itu kemudian bangkit dan mengambil gelas untuk Bella. Bukan gelas yang sama seperti Arga untuk minum wine tetapi gelas sloki kecil untuk minum wiski.


Bella yang memang sedang ingin minum itu kemudian mengambil gelas wine milik Arga. “Kamu terlalu meremehkan aku.“


Arga hanya geleng-geleng kepala dan mengambil gelas lagi untuk wine. Rasanya Bella hari ini tidak bisa diatur atau dicegah.


“Arga,” panggil Bella.


Suasana menjadi sendu dan Bella yang sudah meneguk habis satu gelas wine. Mereka hanya saling berbicara ringan tentang hobi masing-masing.


“Mm, kenapa Bel? Kamu pusing?“


Tubuh Bella berdiri tegak dari kursinya. “Tuh 'kan aku bisa.“


Sementara Arga mengulum bibirnya, sebab bukan berdiri tegak Bella malah menjadi sempoyongan. Meskipun khawatir, Arga tidak berusaha membantu karena Arga tidak ingin membuat Bella menjadi semakin marah atau tersinggung. Karena saat ini sedari tadi mereka bercerita emosi Bella tidak stabil.


“Arga.. gimana kalau kita menikah. Bulan depan yah.“


Arga terdiam, tau jika Bella mabuk dan apapun yang Bella katakan meski itu adalah keingin dalam hatinya tapi lebih banyak disebabkan oleh perasaan impulsif yang bercampur emosi dalam gelas alkohol.


“Aku antar pulang yah.“ Arga segera bangkit dari kursinya dan mendekat pada kursi Bella.


“No! Aku mau tau jawaban kamu. Kita menikah yah. Aku udah gak mau hidup sendiri lagi. Kamu itu ganteng, keluarga aku suka dan kamu cowok yang paling pengertian sabar dan memperlakukan aku benar-benar baik,” racau Bella.


“Ya.. kita omongin nikahnya kalau kamu udah sadar yah.“


Namun kepala Bella bergeming dan memeluk erat tubuh Arga. “Nggak mau.. gak mau. Kalau gak gimana kita berhubungan intim yah. Terus kamu hamilin aku yah.“


Arga yang mendengar itu malah sedih. Terlihat sekali jika Bella benar-benar sedang depresi karena putus cintanya. Ya, Arga tau semua kisahnya dari Alisa yang memberitahu hal itu.


Dibalik sikap pendiam dan tegarnya, nyatanya menyimpan banyak luka dan hati yang rapuh.


Arga memilih diam dan mengusap punggung Bella lembut. Arga juga merasakan jika bagian dadanya juga basah karena Bella yang mulai menangis tersedu-sedu.


Harti Arga hancur. Tentu saja karena Bella itu wanita yang amat sangat ia cintai.

__ADS_1


“Bel, kita pulang yah.“


Jemari besar Arga mengusap sudut mata dan juga pipi Bella bahkan tanpa ragu mengambil tisu untuk mengusap hidung Bella yang berair.


“Ga, satu ciuman yah sebelum pulang.“ Pinta Bella.


“Bel, kamu mabuk.“ Arga bersuara.


Bela menghela napasnya. Dan dengan gerakan tiba-tiba langsung saja mencumbu bibir Arga lembut. Terdiam, Arga kira setelah ini Bella akan melepaskan ciumannya. Tapi yang terjadi bela malah menginvasi bibir Arga sambil menutup matanya rapat.


Kedua tangan mungil Bella sudah memeluk pinggang Arga erat.


Jika sudah seperti ini Arga yang memang merindukan untuk mengecap birai merah dan manis Bella, hanya berharap ciuman ini bisa sedikit membuat Bella melepaskan beban berat yang tengah ia rasakan.


•••


Pagi ini, harus ke kantor seperti biasa. Awalnya Arga ingin sarapan bersama Bella. Tapi niatan itu urung dilakukan karena Bella masih terbaring di tempat tidur.


Rupanya Bella benar-benar mabuk berat dengan dua gelas wine. Lain kali Arga lebih baik mencampurkan jus anggur disana.


“Ga, oh iya.. katanya kamu akhir pekan ini mau ajak ketemu calon kamu? Benar itu Bella Gunarman?“ tanya papa-nya.


Menjadi anak dari Mahendra Wijadja tidaklah mudah beban di pundak Arga sangat besar dan berat. Terlalu banyak hal yang di tuntut, apalagi mengenai kesempurnaan.


“Ya Pa, bukanya Arga udah pernah bilang kalau Arga memang dekat yah sama Bella.“


“Keluarga Gunarman pilihan yang tepat. Mereka cukup setara dengan keluarga kita. Setidaknya kamu cari calon calon istri ynang bagus. Papa gak ada penolakan untuk itu.“


Mendengar jawaban itu Arga miris. Bagaimana jika ia mencintai Bella saat usaha keluarganya masih biasa saja sudah pasti papanya akan menentangnya habis-habisan.


Tapi jika sampai itu terjadi, Arga juga punya senjata rahasia tentang Laura dan juga perselingkuhan yang mereka lakukan saat Mama Arga masih sehat.


“Oh iya Pa, kalau bisa nanti ada-in acaranya di restoran aja. Arga gak mau di rumah.“


“Ya itu bisa diatur,” jawab Mahendra.


“Oke Pa, kalau gitu Arga mau makan siang dulu.“


Sesudah mengatakan itu, Arga pamit undur diri dari ruangan papa-nya. Beruntung ia tidak harus bertemu Laura lagi di kantor. Karena ibu tirinya itu sudah menjadi ratu di istananya.


Ponsel Arga bergetar dan menampakkan nama tante Misya. Tanpa pikir panjang, Arga langsung menjawabnya.


“Ga, kamu sibuk?“ tanya tante Misya.


“Nggak kok Tan, ada apa?“


“Bisa makan siang bareng? Ada hal yang mau Tante tanyain.“


“Boleh kok, kebetulan Arga juga mau omongin sesuatu sama Tante. Ya udah Tante mau ketemu di mana?“


“Di resto dekat kantor kamu aja.“


“Mm, ya udah nanti Arga kirim alamatnya.“

__ADS_1


Setelah itu percakapan berakhir. Arga segera mungkin memberikan alamat restorannya dan menuju kesana.


__ADS_2