Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 47


__ADS_3

"Cil, apa lo gak bisa apa bantu gue," ucap Abian.


Keduanya kini tengah duduk mengobrol di sebuah cafe di kawasan Senopati yang letaknya tak jauh dari area perkantoran Abian.


"Bantuin apa?" tanya Cecil.


"Lo gak bisa apa bujuk mami supaya percaya sama gue."


"Percaya masalah apaan sih Kak Bian. Lo kalau bicara tuh sampai tuntas jangan gantung gini 'kan gue jadi gagal paham."


Abian kemudian mendelikkan matanya. "Aduh, susah yah kalo ajak lo diskusi. Telmi (telat mikir)."


Cecil yang mendengar hal itu lantas mendengus sebal. "Ih, ledek aja terus. Gak perlu minta bantuan gue yah Kak Bian.. awas aja," ucap Cecil sebal.


Abian menunjukan cengirannya. "Haduh gitu aja ngambek. Gimana mau punya pacar bawel lo. Dikit-dikit ngambek. Hilangkan sifat yang kayak gitu jangan mentang-mentang lo anak bontot."


"Kenapa jadi bahas gue. Nyebelin."


Cecil kemudian mengambil gelas cup yang berisi es caramel macchiato, miliknya.


Sementara, Abian yang mendengar hal itu dengan sikap jahilnya mengusak puncak kepala adiknya itu gemas. "Duh, dasar anak bontot," ucap Abian.


"Serius Kak Bian lo tuh mau minta bantuan apa sih,” pekik Cecil dengan nada kesal.


Abian menghela napas panjangnya. "Gue sebenarnya mau minta tolong supaya lo deketin si Amel. Semacam memata-matai gitu—" Abian sejenak menjeda ucapannya. "Gue tuh yakin kalau gue gak buat Amel hamil. Lo percaya sama gue 'kan, Cil."


Dahi Cecil mengkerut. "Gimana lo bisa se-yakin itu? Lo 'kan playboy gitu. Gue masih inget loh dulu lo sering disamperin cewek-cewek lo ke rumah yang ujungnya pada nangis mengadu sama mami tentang l,” tutur Cecil kelewat jujur.


Abian menghela napasnya sejenak. "Itu masa lalu Cil. Kenapa terus diungkit sih. Lagipula itu cuma cinta monyet, bisa berubah lah."


Cecil menggelengkan kepalanya. Abian memang sulit ditebak dan udara di Jakarta semakin panas. Cecil harus selalu mengelap dahinya setelah beberapa menit. Untung saja masih ada sedikit angin yang bertiup.


"Tetap aja, mami jadi pusing karena ulah lo. Belom lagi lo tuh di sekolah kerjaannya kalo gak tawuran yah dipanggil gara-gara buat nangis cewek-cewek."


Abian memutar bola matanya malas sebab kalau curhat dengan Cecil pasti ujung-ujungnya ia yang akan diceramahi persis seperti mami-nya versi muda.


"Ya sudahlah, jangan ngomel terus Cil. Gue lagi pusing juga malah diomelin terus."


"Bukan ngomel Kak Bian. Cuma bilang fakta yang terjadi aja. Jangan sensitif gitu deh."


Abian kemudian menatap Cecil dengan pandangan sorot mata lelahnya. "Gue pengen lepas dari Amel— Cil. Dia tuh bukan wanita yang gue cinta, ada wanita lain yang gue cinta dari dulu. Gue tau penyesalan selalu datang diakhir. Makanya gue mau mengakhiri hubungan gue sama Amel sebelum semuanya terlambat dan gak bisa diubah."


Cecil kemudian memutar sedotan yang ada di gelas cup kopinya. "Gue juga sebenarnya gak terlalu suka sama Kak Amel. Dia kelihatannya cuma pengen milikin lo aja Kak, harusnya kalau dia cinta sama lo.. Mm, dia juga harus bisa berbaur sama keluarga kita. Yang gue rasakan malah sebaliknya mami sama gue yang berasa terus mengimbangi keluarga mereka."


"Makanya Cil, kalo gue bisa punya kekuatan buat hilangin pikirannya Amel. Mungkin gua mau buat dia lupain gue selamanya. Ya … tapi gimana namanya juga cuma harapan kosong gue aja yang kebanyakan nonton film superhero." Abian tersenyum simpul.

__ADS_1


"Udahlah gue mumet mikirin ini. Gue cuma minta tolong aja supaya lo bantu gue biar gak rewel tuh si Amel ngadu-ngadu sama mami tentang ini-itu. Masalah kerjaan gue aja lagi numpuk." Lanjut Abian berbicara lagi.


Cecil kemudian tersenyum menyeringai. "Bisa aja sih Kak, tapi gak ada yang gratisan dong."


Dan Abian tau maksud dari Cecil itu, adiknya memang punya jiwa bisnis yang luar biasa. "Lo mau apa lagi kali ini, jangan bilang mau beli printilan oppa-oppa lo itu."


Bukan sebuah gelengan melainkan sebuah anggukan yang Abian terima.


"Astaga Cil, berapa banyak uang yang sudah lo abisin cuma buat hal-hal kayak gak berguna gitu yang akhirnya lo buat pajangan doang di kamar."


Cecil yang sedang mengunyah kentang gorengnya itu hanya diam mendengar ocehan Abian. Seakan tidak peduli, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.


"Duh, sudah deh mau beliin apa enggak. Kalo gak mau yah sudah." Cecil sok jual mahal.


Abian tersenyum sambil mengangguk kecil. "Ya, ya deh terserah lo."


Kemudian Abian menyeruput es americano-nya. "Eh, Cil. Ingat gak lo, primadona kampus yang waktu itu pernah gue jadiin taruhan."


Sejenak, Cecil tampak memutar bola matanya kebagian kiri atas. Seperti sedang mengingat atau mencari sesuatu dalam ingatannya. "Ah," ucap Cecil berseru.


"Kak Bella itu yang pernah kita ajak ketemuan di Legit cafe 'kan."


Abian mengangguk. Sambil bibirnya menyunggingkan senyum.


Punggung Abian bersandar pada penyanggah bagian belakang kursi kayu yang ia duduki.


"Dia bakal jadi istri gue, calon kakak ipar lo sekarang."


Cecil yang sedang menyeruput kopinya kemudian tersedak. "Uhuk! Astaga, lo bilang apa?"


"Bella udah gue lamar dan dia terima lamaran gue," ucap Abian. Tersenyum merekah saat menyebut nama Bella.


Mendengar hal itu tubuh Cecil yang tadinya sedikit bersandar pada penyanggah kursi bagian belakangnya, kemudian memajukan tubuhnya untuk condong ke arah Abian. " Lo yang bener Kak Bian. Jangan buat hoax deh!"


Abian terkikik. "Buat apa gue bikin hoax."


"Gila," pekik Bella kemudian menutup mulutnya cepat sebab takut pengunjung lain merasa terganggu akan suara pekikan Cecil yang cukup nyaring itu.


"Heh, yang benar kalau ngomong." Abian berucap mengingatkan.


Tangan Cecil yang tadi menekan mulutnya kemudian perlahan ia turunkan. "Gue kaget Kak!" ucap Cecil jujur.


"Kenapa kaget, gak biasanya lo sampai kayak gitu."


Cecil kemudian menekan pelipisnya. "Jelas lah Kak orang di kampus tuh kak Bella digosipin sama kak Arga alumni kampus gue. Gila udah tajir ganteng lagi lebih deh dari lo yang penting dia tuh gak playboy. Cowok baik-baik dan sweet."

__ADS_1


"Lah, terus dimana hubungannya." Dahi Abian berkerut bingung.


Kedua bola mata hitam milik Cecil memutar malas. "Jadi, kak Abian gini. Kak Bella itu cantik banget dan susah buat dideketin. Satu-satunya yang bisa deketin dia tuh di kampus cuma kak Arga. Banyak desas desus mereka udah pacaran juga. Soalnya perusahaan kedua orangtua mereka tuh terjalin lama. Kak Bella sama kak Arga tuh ibarat pasangan sultan." Jelas Cecil panjang lebar.


"Oh, gitu. Tapi tetap aja tuh yang namanya Abian yang dapetin hati Bella. Dia tuh dari dulu udah milik gue, Cil."


Mendengar hal itu Cecil menjauhkan tubuhnya dan bergelak tawa sambil menepuk kedua tangannya.


"Kak Bian, lo aja baru kenal lo sudah bisa bilang kak Bella milik lo dari dulu."


"Yeh, susah ya kalo pembuat masalah kayak gue omong jujur dibilang bohong. Padahal gue gak halusinasi."


Cecil yang mendengar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terserah deh, gua tau lo lagi stres."


"Nanti gue tunjukin deh ke depan lo. Kalo cuma foto entar lo bilang sekedar foto doang juga gak jamin bukti 'kan."


"Ya, lah Kak. Lo kerja sama kak Bastian yang jago edit video apa lagi gambar gak sampai satu jam juga dia bisa lakukan itu."


Ponsel Abian bergetar pendek. Tanda pesan masuk yang datang.


Pesan dari Bella. “Bi, aku on the way apartemen kamu.“


Itu pesan dari Bella yang terpampang jelas di layar ponselnya. Membuat sudut bibir Abian terangkat.


"Ya, nanti siap-siap lo nangis haru liat gue sama Bella mesra."


Abian kemudian bangkit dari kursinya, tak lupa mengantongi ponselnya di balik saku jasnya.


Hal itu sontak membuat Cecil bertanya. "Kak Bian lo mau ke mana?"


"Mau ketemu calon istri gue dong. Lo pulang naik taksi online aja yah. Dah yah adikku manis. Gue pergi dulu. Inget yah janji kita. Gue bakal beliin deh apa yang lo mau gak gue batesin limit-nya," ucap Abian. Dengan sedikit tergesa.


Sementara Cecil hanya bisa terdiam di kursinya. "Ya, awas aja kalau cuma PHP (pemberi harapan palsu)."


Abian yang baru hendak melangkah keluar dari mejanya lantang mengangguk. "Semua tergantung usaha lo."


Tangan Abian mengacak puncak kepala adiknya itu. Dan mendapat pekikan dari Cecil yang membuat sudut bibir Abian tersenyum lebar.


"Ih, Kak Bian. Rambut gue jadi kusut nanti."


Sedangkan Abian hanya terkekeh mendengar omelan Cecil.


Dan langkahnya kian melebar untuk segera pulang ke apartemennya menemui wanita yang ia cintai. Abian sudah tak sabar mendekap tubuh Bella. Merasakan wangi manis yang memabukkan itu.


Di dalam kepalanya juga sudah berencana untuk membuat melakukan kelonan di kasur tentu saja dengan cara yang nikmat.

__ADS_1


__ADS_2