
"Apa benar, gue harus lupaain Abian?" Bella bertanya-tanya dalam hatinya. Apa itu artinya ia harus menerima Arga. Hatinya penuh dengan kebimbangan dan rasa gamang. Bella tidak tau bagaimana harus memutuskan.
Antara Arga atau Abian dua-duanya sama berharganya untuk Bella.
Ting.. tong~
Pintu bel di rumah Bella berbunyi, padahal ia baru akan bersiap keluar untuk pergi ke toko dibilangan Jakarta Selatan memantau keadaan disana, menjalankan tugasnya seperti biasa.
Pintu membuka dan betapa terkejutnya saat Bella saat menyadari Abian berdiri di depan teras rumahnya. Dengan pakaian kerjanya yang terlihat rapi. Seperti kembali seperti semula.
"Kamu, kenapa ke sini?" Bella bertanya.
"Kok kamu kayak gitu ngomongnya kayak gak senang aku ada di sini,” sahut Abian.
Bukan tidak senang hanya saja ini bahkan masih terlalu pagi untuk datang sebagai tamu ke rumah orang. Sekalipun itu pacarnya atau calon suaminya sekalipun.
"Bukan gitu, tapi kenapa se-pagi ini? Kamu bahkan gak kabarin aku mau ke sini."
Abian memulas senyumnya. "Apa aku harus menjelaskannya di sini?" Kamu gak bolehin aku masuk?" Sarkas Abian.
Bella menggeser tubuhnya. "Ya, kamu boleh masuk. Duduk dulu, aku mau ambil minum."
Mau tidak mau Bella harus menjamu tamunya terlebih dahulu.
Berbeda dari Abian yang semalam sangat terlihat kacau dan merancau seperti orang gila, kini Abian terlihat lebih tenang meski tak bisa di pungkiri dengan kantung matanya yang menghitam terlihat sekali jika Abian sedang kacau.
"Apa yang mau kamu jelasin?" Bella berbicara setelah meletakan jus jeruk dan toples camilannya di meja yang ada dihadapan mereka.
Seperti sudah menjadi kebiasaan ia akan selalu menyuguhkan minuman dan juga camilan untuk tamu yang datang tidak perduli jika itu hanya seorang tukang kebun sekalipun.
"Aku mau jelasin tentang permasalahan kita tempo hari dan aku yang datang mabuk ke rumah kamu kemarin malam. Aku yakin omongan aku pasti gak terkontrol dan mungkin aja bisa menyakiti kamu." Jelas Abian.
"Ya sudah kamu bisa jelaskan. Aku bakal dengerin." Bella menatap santai pada Abian. Sebenarnya Bella tidak marah dengan sikap Abian kemarin. Tapi omongan Abian tentang Amel yang hamil bukan anaknya menjadi pikiran yang sedang mengisi penuh kepalanya. Bella tau terkadang tanpa sadar seseorang yang mabuk akan menjadi pembicara yang sangat jujur karena isi kepalanya adalah pikiran yang membebaninya atau selalu menempel sampai tidak bisa dilupakan.
Mata jelaga Abian menatap Bella dengan mata sendunya. "Aku gak mau salah paham ada di hubungan kita, aku mungkin tau ini bukan kabar yang baik untuk hubungan kita, mungkin kamu akan marah besar karena aku bilang seperti ini." Jelas Abian.
Dahi Bella berkerut ia tak mengerti apa yang dimaksud Abian apa benar firasatnya.
"Atau kamu curiga kenapa aku bisa semarah itu hanya karena kamu bahas Amel saat kita mau kencan kemarin. Semua itu sebenarnya karena aku—" Abian melihat manik mata cokelat madu Bella yang sedang fokus padanya. Kedua tangannya saling bertaut di atas pahanya.
__ADS_1
"Aku stres karena mami minta aku untuk menikah dengan Amel padahal aku gak cinta sama dia, Bel. Aku cuma cinta sama kamu, sayang. Please percaya sama apa yang aku katakan ini bukan bualan." Lanjut Abian.
Dunia Bella seperti terbalik, ia seperti kehilangan arah pandangannya. Telinganya berdenging dan hatinya menolak untuk menerima apa yang dikatakan baru saja tentang menikahi Amel bukan keluar dari mulut Abian sendiri.
"Abian! Kamu bercanda 'kan? Ini prank 'kan," tanya Bella.
Tetapi Abian mengulum bibirnya rapat dan pandangannya sangat sendu memandang Bella. Menggambarkan sebuah raut kesedihan yang harusnya tidak Abian perlihatkan sebagai jawaban. Yang artinya hal yang dikatakan Abian adalah kebenaran.
Bola mata Bella mulai mengembun. "Kalau kamu gak cinta kamu harusnya sudah menolak pernikahan itu Abian! Apa karena Amel mengandung anak kamu?"
Bella mengangkat tangannya yang melingkar di jari tengahnya cincin yang Abian berikan untuk melamarnya. “Ini apa artinya? Kamu cuma main-main. Saat aku terpuruk kamu gak ada, apa kamu tau mama aku sakit. Kamu ada dimana Abian. Aku rasa kamu gak pernah serius bilang cinta sama aku.“ Suara Bella terengah.
Emosinya tidak bisa terbendung lagi. Pandangannya juga menjadi kabur.
"Bella! Aku bersumpah sekalipun Amel hamil itu bukan anakku." Tegas Abian dengan suaranya yang lantang.
Bella terkesiap dan kakinya menjadi lemah. Kedua bola mata Bella memandang wajah Abian dengan segala keberanian yang ia miliki.
"Kamu bisa menjamin dari mana Abian? Apa selama kamu berpacaran dengan Amel kamu tidak pernah berhubungan intim. Aku kira disini jelas aku yang tertipu dua kali." Suara Bella bergetar.
"Bel, enggak seharusnya kamu bilang kayak gitu. Sumpah, aku sudah melawan mami tetapi ini terkait masa lalu keluarga aku, Bel. Mami trauma kalau sampai aku meninggalkan Amel begitu saja saat dia belum melahirkan. Setidaknya tunggu sampai ia melahirkan dan aku akan minta tes DNA untuk membuktikannya kalau aku gak membual."
"Lebih baik kamu pulang!" Bella sudah berdiri dari kursinya.
"Bel, dengerin dulu aku! Kamu jangan emosi kayak gini dong. Aku bicara jujur ke kamu supaya kamu bisa ngertiin posisi aku."
Bella menatap sorot mata Abian tajam. Matanya sudah ingin menangis tetapi sekuat tenaga Bella menahannya.
Abian dengan cepat memegang pergelangan tangan Bella.
"Denger yah Abian Damara. Gimana aku harus ngertiin kamu lagi? Terus habis ini kamu menikah sama dia dan melahirkan anak juga aku harus ngertiin kamu?" Bella menunjuk dada Abian dengan berderai air mata. "Harusnya kamu yang ngertiin perasan aku. Aku bego karena selalu percaya dengan playboy kayak kamu yang gak pernah taubat."
"Lepasin tangan aku! Sebaiknya kamu keluar atau aku aja yang keluar." Bella menatap tajam.
"Bella, dengerin aku dulu. Kamu harus tahan emosimu." Suara Abian dan ekspresinya terlihat memohon.
Abian langsung menarik tangan Bella dan memeluk tubuh Bella erat. Bukan menerima Bella berontak memukuli dada bidang Abian. "Lepasin. Kamu mau apa?"
"Aku bisa teriak!" Ancam Bella.
__ADS_1
Perlahan Abian melepaskan pelukkannya. Bella langsung menjauh dan memberikan tatapan mata tajam. "Abian, lebih baik kita akhiri semua ini. Aku mau putus!"
Cincin pemberian Abian yang semula masih melingkar di jari Bella kemudian Bella lepas begitu saja dan meletakannya begitu saja di meja.
"Bella! Kamu gak boleh bilang gitu."
Bella langsung keluar dari rumahnya tidak perduli jika ia yang sebagai tuan rumah beranjak dari rumahnya sendiri. Dengan air mata yang berlinang.
"Bel!"
"Bella!"
Abian terus memangil Bella. Namun sedikitpun Bella enggan menoleh. Emosi dan rasa gengsinya menjadi dominan. Berjalan tak tentu arah seperti orang gila. Hanya ponsel yang Bella bawa di dalam kantong celana.
"Dasar bego. Abian aja gak ngejar lo!" Bella mengumpat dalam dirinya.
Duduk di taman dekat komplek rumahnya Bella menangis. Bagai dejavu ketika ia pernah mengalami hal seperti ini tujuh tahun silam di masa SMA-nya. Bella kembali lagi menjadi lemah dan ia sama sekali tidak berdaya saat Abian kembali pada Amel lagi. Ya lagi, lagi masa lalunya kembali dan tidak dapat ditolak.
Bella menempelkan ponselnya di telinganya. Menunggu secepat mungkin jawaban.
"Alisa …."
"Lo dimana? Gue butuh lo, Sa." Bella berkata dengan suaranya yang lirih.
"Gue ada salon Bel. Suara lo kenapa kaya gitu? Lo nangis!" Alisa menjawab.
"Sa, gue butuh teman buat cerita. Gue datang ke sana yah."
"Oke, gue kirim chat alamatnya yah. Lo jangan nangis. Tenang yah."
"Ya Sa. Makasih yah. Cuma lo yang selalu ada buat gue."
Tak lama Bella mengakhiri pembicaraannya, ia kembali meneteskan air mata saat mengingat pernyataan cinta Abian yang semuanya hanya berakhiran klise. Bella selalu lemah dengan cintanya, ia selalu saja kalah dan Abian yang sedari dulu nyatanya tak pernah berubah menyakitinya. Tidak perduli seberapa banyak waktu yang ia lalui. Seberapa banyak hal yang berubah tentang hidupnya.
Bella tetaplah Bella yang bodoh saat berhadapan dengan Abian dan Abian yang selalu lihai menipu dengan mengatas namakan cinta.
"Lo gak boleh bimbang Bel. Ini balas dendam! Bukan perasaan cinta lagi," gumam Bella pada dirinya sendiri.
Mau tak mau Bella memesan taksi online lewat aplikasi ponselnya, ia tak mungkin kembali ke rumah. Jika saja Abian belum pergi, itu akan menjadi hal memalukan untuk Bella.
__ADS_1