Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 44


__ADS_3

Kepala Bella pening ia tak tau kenapa belakangan ini Abian suka sekali mencium bibirnya. Bella tau Abian dan dirinya memang tengah dimabuk cinta.


Tetapi Bella tidak ingin Abian melakukan semua perlakuan manis hanya sebatas ia mengikuti nafsunya semata.


"A-abi," ucap Bella saat tautan bibir mereka terlepas tangan mungilnya sejenak mendorong bahu Abian.


"Aku harus pulang dulu …."


Bella kemudian menempelkan jari telunjuknya pada bibir Abian yang terlihat basah dan merona.


"Apa enggak bisa melakukan foreplay lagi, sayang."


Wajah Abian tampak memohon dan bibirnya sudah berlarian pada area bahu Bella yang ia singkap.


"Bi!" Bella memekik, sambil menahan nafasnya setelah Abian dengan nakal mengelus area privasinya dengan seduktif.


"Cuma sebentar sayang. Aku janji gak bakal sakitin kamu. Aku benar-benar kangen sama kelopak mawar pink kamu."


Kemudian dengan lancang Abian menarik celana karet celana thong milik Bella dan mencampakkannya begitu saja di lantai.


Entah karena lagi-lagi gairah yang menguasainya, atau karena nafsu setan yang datang tak bisa lagi Bella bendung. Pada akhirnya Bella ikut terhanyut pada bujuk rayu manja yang selalu Abian dengungkan.


Bella tak tau apakah ini pengalaman buruk atau pengalaman baik yang membuatnya merasakan rasa puas atau candu dari sentuhan-sentuhan, adrenalin dan libido yang semakin meningkat.


Harusnya Bella bisa melawan dan ingat perkataan Asa tentang bahaya melakukan perbuatan penuh dosa dan nikmat sekaligus ini. Meski secara sah ia masih perawan tapi tetap saja Bella sudah membiarkan Abian untuk melihat, merasakan bentuk db membiarkan Bella merasakan orgasme.


"A-bian, kamu mau ngapain?" Kepanikkan Bella tak terbendung saat wajah Abian ada di antara kedua kakinya.


Kepala Bella tersentak ke belakang saat bibir dan benda lunak tak bertulang itu memporak-porandakan isi kepalanya menjadi tidak waras. Lagia Abian bertindak sebagai penguasa.


"Apa kamu merasakannya?"


Pertanyaan yang tentunya tidak bisa dijawab Bella dengan baik, bibirnya malah sibuk meracau tak tentu arah.


Tubuh Bella berjengit. Jemarinya secara otomatis menjambak rambut kepala Abian yang ada di antara kedua sisi pangkal pahanya.


"Abian, kamu gila!"


Setelah mendapat jambakan dan pekikan dari Bella, kepala Abian menengadah melihat wajah Bella yang gelisah dan frustasi akibat perbuatannya.


"Aku mau kamu merasakan pengalaman lebih nikmat lagi denganku Bella sampai akhirnya kamu gak akan bisa lupa dan tubuh kamu candu dengan aku," ucap Abian dengan suaranya yang parau. Kedua manik mata hitamnya yang semakin terlihat seperti jelaga.


Namun belum sempat Bella mengudarakan protesnya. Bella kembali memekik.


Saat jemari Abian lancang menusuk kelopak inti tubuhnya.


Bella menjulingkan matanya ia tak sanggup menahan gejolak gila di dalam sekujur tubuh dan pikirannya. Abian merubah setiap inci tubuhnya panas membara seperti nyala bara yang terus terkena tiupan angin.


Tangan Bella kembali ingin menggapai rambut Abian. Namun sepertinya Abian sudah mengantisipasi hal tersebut. Tangan besarnya dengan mudah menghentikan tangan mungil Bella di perutnya. Membuat tangan Abian yang kini menjadi sasaran rematan, guna menahan gejolak di dadanya.


Namun semua titik saraf tubuh Bella yang tengah menggebu itu, terpaksa terhenti saat dering telepon milik Abian yang berdering kencang. Awalnya Bella membiarkannya. Tetapi lama kelamaan panggilan telepon itu terus berdering dan sangat mengganggu.


"A-abian … Kamu sepertinya harus menjawab panggilan itu,” ucap Bella sudah payah.

__ADS_1


Abian, tetaplah Abian yang tidak bergeming. Dengan apa yang Bella ucapkan. Apa yang Bella teriakkan.


Sebelah tangan Bella yang bebas kini meremat seprai putih yang ada di dekatnya guna melampiaskan rasa sakit.


Dan tak berselang lama panggilan telepon milik Abian berdering tak putus-putusnya memekikkan telinga.


"Abian, kamu bisa buat telinga aku pecah." Pada akhirnya Bella kembali mengatakan pendapatnya.


"Sial!"


Abian yang mulai merasa ikut terganggu itu bangkit dari tubuh Bella. Dengan wajah memerah dan rahang yang mengeras. Rambut hitamnya bahkan sudah teracak tak tentu arah.


Tangan besarnya lalu mengambil ponsel yang ada di meja tempat tadi Bella memakan sarapannya.


Dan segera menempelkan, ponselnya pada telinganya.


Sementara Bella yang masih berdiam tertidur lemas di atas ranjang itu, kemudian bangkit mengambil pakaiannya yang tercecer akibat ulah Abian.


Tangan mungilnya yang masih terasa lemas kemudian memakai pakaiannya dengan cepat. Tangannya juga menyisir rambutnya yang berantakan.


Tak lupa Bella membersihkan cairan lubrikasi agar tak tertinggal pada tubuhnya. Karena itu tidak akan membuatnya nyaman saat berpakaian.


Sampai pada Bella selesai mengenakan pakaian lengkapnya. Abian terlihat masih sibuk dengan pembicaraannya di telepon.


Bella menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya kali ini ia bisa selamat. Dari sikap mesum Abian, akan sangat bahaya jika sampai Abian menjebol keperawanannya. Nyatanya membiarkan Abian melakukan foreplay adalah cela Abian untuk membujuk Bella berhubungan badan.


Tak lama kemudian Abian kembali dengan wajahnya yang semakin kusut dan wajah kesalnya yang tergambar jelas dan sangat kentara.


"Kamu mau pulang sekarang," tanya Abian.


"Ya sudah. Kamu tunggu sebentar aku perlu ke kamar mandi."


Tanpa menunggu jawaban Bella, dengan lancang Abian sudah masuk pintu kamar mandi.


"Aneh, banget mukanya. Apa dia marah cuma gara-gara enggak jadi make out." Monolog Bella. Menggigit bibir bawahnya.


***


Sekarang Bella sudah berada dalam mobilnya. Tadi setelah Abian kembali dari kamar mandi. Abian langsung menggandeng tangan Bella hingga ke parkiran.


Tadinya Abian juga menawarkan untuk mengantarkannya. Tetapi Bella menolaknya, karena harus mampir sebentar ke rumah Alisa. Untuk menjelaskan situasi tentang dirinya dan Abian.


"Bella," pekik Alisa nyaring saat Bella baru saja keluar dari mobilnya.


"Iya, Sa. Tenang aja gue denger lagi. Nggak harus pakai teriak gitu." Keluh Bella.


"Bunda sama ayah ada," tanya Bella lagi setelah mereka masuk ke dalam ruang tamu.


"Ada di dapur. Bunda lagi masak. Ayah masih kerja, tau deh pulangnya kapan."


"Eh, jangan lupa ya. Lo sudah janji mau cerita sama gue."


Dahi Bella berkerut dan wajahnya terlihat kosong. "Cerita mana?"

__ADS_1


Alisa menyentil dahi Bella. Tentu saja tidak kencang, sebab Alisa hanya main-main dengan perbuatannya itu.


"Ih, tuh kepala berubah jadi enggak ada sisi," sarkas Alisa mengudarakan tawanya.


Bella yang mendengar pun juga ikut tertawa. Sesekali kita memang butuh untuk menertawakan diri sendiri bukan?


Keduanya sampai pada area dapur dan mendapati Bunda Astrid sedang menggerakkan sodetnya untuk mengaduk sesuatu yang enak di dalam penggorengannya.


"Wangi banget Bunda Astrid masakannya." Puji Bella tanpa ragu.


Bunda Astrid yang mendapat pujian dari Bella kemudian memulas senyumnya. "Nanti kalau sudah matang cicipin yah."


Bella kemudian mengangguk cepat. "Siap Tante. Omong-omong. Lagi masak apa?"


"Ini masak sambal goreng kentang pakai hati ayam, tahu goreng sama cah kangkung kesukaan Alisa."


Mendengar menu itu, kedua pupil mata Bella membesar. "Enak banget, Bella sudah lama gak makan masakan rumahan kayak gitu."


"Padahal kamu tiap hari bisa makan enak yah, Bel. Tapi masih kangen masakan rumahan sederhana kayak gini. Alisa malah kerjaannya jajan melulu." Curhat bunda Astrid.


Alisa yang merasa terpanggil kemudian memamerkan deretan giginya. Sambil tersenyum kikuk. "Ya, Bun. Tau sendiri aku udah biasa makan masakan rumahan kayak gitu. Bukannya orang itu kadang lebih suka sama apa yang enggak dia punya,” sahut Alisa.


"Iya, anak Bunda emang pinter kalau bikin alasan."


Alisa kemudian menarik pergelangan tangan Bella. "Kita ke kamar dulu Bun," ucap Alisa berpamitan pada bundanya.


"Ya, nanti kalau sudah siap Bunda telepon kamu."


Alisa mengacungkan ibu jarinya. "Siap Bunda."


Sesampainya di lantai dua mereka langsung masuk menuju kamar Alisa dengan pintu berwarna putih gading bertuliskan 'AlisaHere' dengan tinta berwarna hitam


Setelah membuka pintu hal yang pertama Bella lakukan adalah merebahkan tubuhnya.


Sedangkan Alisa sudah duduk di tepian kasur selagi mengambil gulung yang ia letakkan di atas pahanya.


"Bel, lo itu habis dari mana kok sampai bohongin Mama-mu sendiri."


Alisa langsung saja membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan ceplas-ceplosnya.


"Astaga Sa, baru juga sampai. Sudah ditodong terus."


Alisa kemudian menunjukkan cengirannya. "Ya, gimana. Lo duluan yang bikin gue penasaran."


Bella kemudian mendudukkan dirinya. Tangan mungilnya meraih bantal dengan seprai berwarna abu itu.


Menggigit ujung bibirnya sebentar. Bella menatap Alisa yang kini terfokus pada dirinya. Seakan tengah menunggu kata seperti apa yang akan Bella ucapkan.


"Sa, tapi lo janji dulu jangan marah yah," ucap Bella.


Dan pernyataan Bella itu membuat dahi Alisa berkerut. "Memangnya bisa kayak gitu. Kalau memang harus dimarahi yah gak ada pengecualian dong. Terus apa sih ini yang sebenarnya kau lo bilang. Pasti ada hubungannya sama Abian 'kan," ucap Alisa penuh selidik.


Dan kemudian Bella bernafas panjang dan setelahnya mengangguk kecil.

__ADS_1


"Gue terima lamaran Abian," ucap Bella.


Dan setelah Bella memberitahunya Bella juga menunjukkan cincin yang melingkar di jari tengah tangan kirinya, keheningan tercipta. Alisa diam seribu bahasa dan Bella tak tau apa yang harus ia lakukan selain menunggu apakah temannya baik-baik saja atau akan mengamuk hebat.


__ADS_2