Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 51


__ADS_3

"Bella!" Suara Alisa yang cempreng sudah menyambut disaat baru keluar dari mobil Arga.


Sementara Arga yang melihat itu hanya tersenyum simpul. Rasanya Arga saja sudah tidak kaget dengan sikap heboh Alisa. Meskipun sebenarnya Arga tidak terlalu sering bertemu dengan Alisa.


"Aduh iya Sa. Sudah kayak gak ketemu setahun aja padahal baru juga dua hari yang lalu gue main,” ucap Bella.


Wajahnya meringis karena Sura cempreng khas Alisa yang membuat telinganya sedikit terkejut.


"Ya, namanya kangen." Alisa bertutur penuh semangat.


Lalu Alisa menoleh ke arah Arga. "Arga kok ke Jakarta gak ngabarin. Kan gue bisa titip oleh-oleh gitu. Minimal kerupuk seblak atau mochi," celoteh Alisa.


"Alisa," panggil Bella mengingatkan.


"Iya, gak masalah dong Bel namanya nitip bukan suruh beliin loh. Iya 'kan Ga." Wajah Alisa sudah nyengir kuda.


Mendengar hal itu, Arga menganggukkan kepalanya. Padahal Arga sebenarnya sudah lama tinggal di Jakarta. Sepertinya waktu itu Bella lupa untuk bercerita.


"Nanti paketin deh khusus cuma buat lo, sama bunda," jawab Arga.


Seperti biasa Arga selalu bersikap ramah.


Tubuh Alisa melonjak kegirangan. "Asik, baik banget memang lo." Puji Alisa.


"Paling ada maunya dia suka muji," cibir Bella. Diiringi suara tawa Bella yang terkikik.


Mata Alisa melirik dan menyipitkan matanya. "Eh, gak masalah dong namanya juga usaha."


Sedang asik bercengkrama kemudian bunda Astrid keluar dari dari pintu utama.


"Alisa, ada tamu bukanya di persilahkan masuk. Malah sambil berdiri gitu bicaranya," celetuk bunda Astrid.


"Ini baru mau diajak masuk kok, Bun." Alisa menjawab santai.


Bella menyambut tangan bunda Astrid begitu juga dengan Arga untuk memberi salam.


"Duh, Arga kamu makin ganteng aja Nak. Terakhir ke sini waktu sama Jodhi itu 'kan di pesta Alisa."


Arga tersenyum simpul. "Iya, Bunda masih ingat aja."


Bunda Astrid memang lebih suka jika dipanggil dengan sebutan bunda dibanding dengan sebutan tante dari teman-teman Alisa yang sudah pernah bertandang ke rumahnya pasti tau hal itu. Katanya kalau tante sudah tidak cocok dengan umur tante Astrid yang sudah memasuki umur setengah abad.


"Ya udah ayo masuk," ucap Bunda Astrid.


Mereka melangkah masuk ke ruangan tamu dengan sofa besar dan panjang berwarna hitam yang empuk. Tanpa diduga Bunda Astrid juga sudah menyuguhkan beberapa cemilan dan jus jeruk.


"Bunda, gak perlu repot gini. Aku kayak tamu remis aja," celetuk Bella.


"Biar kamu betah di sini." Bunda Astrid menyunggingkan senyumnya.


Kemudian Alisa sudah tau jika bundanya ini paling senang jika ada teman Alisa yang main di rumahnya. Karena bunda Astrid ini memang suka ngobrol. Tidak pandang bulu mau anak muda maupun sesama orangtua bahkan yang jauh lebih tua tidak masalah.


Dan Bella paham kemampuan sosial ini sangat menurun pada Alisa.


"Arga sekarang apa kesibukannya, ganteng?“ tanya bunda Astrid.


"Astaga, Bun. Malu-maluin aku aja." Alisa sudah mendelik sebal.


Wajah Alisa sudah terlihat jengkel. Sedangkan Bella dan Arga hanya terkikik mendengar ucapan Bunda Astrid yang memang lucu di mata Bella.


Memang Alisa itu persis sekali dengan Bunda Astrid kalo sedang berbicara.

__ADS_1


"Memang kenapa sih Sa, Bunda tuh seneng banget liat Arga visualnya itu loh kayak aktor film. Mukanya gak bosenin. Mama-mu dulu waktu hamil ngidam apa sih, Ga."


"Bunda!" Alisa memekik dengan wajah yang terlihat sebal.


Pekikan Alisa nyatanya tidak dihiraukan bunda Astrid yang tetapi setia memandang wajah Arga dengan lekat.


"Duh Bunda kayak ibu-ibu genit yang puber kedua tau," ucap Alisa lagi.


Arga yang merasa tak enak dengan pertengkaran itu kemudian tersenyum kikuk. Bella juga sudah paham omongan Alisa yang blak-blakan itu bukan untuk mengejek atau merendahkan.


"Lagi sibuk bantu papa ngurus perusahaan aja Bun."


Kemudian kepala bunda Astrid mengangguk. "Kamu gak kepikiran buat jadi model apa main film serius nih. Bunda bisa rekomendasi teman yang punya agensi buat rekrut talent."


Bak seorang agen pencari bakat Bunda Astrid merayu Arga.


Arga menampakkan senyumnya. "Papa gak izinin buat itu Bunda. Lagi aku tuh gak punya minat dan kemampuan disitu. Aku gak jago akting," jawab Arga jujur.


"Tuh 'kan denger sendiri Bun. Lagian Arga gak suka publisitas berlebih. Di kampus dia udah populer gak perlu gitu-gituan." Alisa menjelaskan.


"Kalau pacar kamu udah punya?" Dengan nada santai Bunda Astrid bertanya. Selagi membuka wadah camilan keripik kentang.


"Astaga Bunda! Memang Bunda itu wartawan gosip," Pekik Alisa. Mencoba menghentikan ocehanan bundanya.


"Duh, kamu bawel banget. Arga aja cuma senyum-senyum Bunda tanya gitu. Gak kayak kamu teriakin Bunda terus protes. Kamu kalo mau ke kamar telepon sama Jodhi yah gak masalah kok bunda masih mau ngobrol sama Arga juga Bella."


Mata Alisa membulat tidak percaya. "Bunda, inget yah suaminya lagi kerja."


"Iya, biarin aja ayah memang lagi kerja." Bunda Astrid menjawab santai.


"Jadi gimana ganteng sudah punya pacar?“ Bunda Astrid lanjut melakukan wawancara.


Arga kemudian menggelengkan kepalanya. "Belum, Bun. Masih cari nih," ucap Arga.


Dibilang seperti itu keduanya saling menatap satu sama lain.


"Doain aja yah Bun," jawab Arga.


Mendengar hal jawaban Arga, pupil mata Bella membesar.


Bunda Astrid tersenyum. "Pasti Bunda doain kok. Kalau Alisa belum punya pacar juga pengen Bunda jodohin sama kamu, Ga."


Sementara Alisa yang namanya disebut tertunduk malu mendengar perkataan bundanya itu yang terlalu berterus terang tanpa disaring terlebih dahulu.


Alisa hanya bisa pasrah saat bundanya terus melanjutkan percakapan dengan Arga dan juga Bella.


Pupus sudah harapan Alisa untuk mendengar cerita tentang kisah Bella dan Abian. Dan kenapa Bella yang bisa bertemu dengan Arga.


Semua karena bundanya terlalu asik dan kepincut dengan pesona Arga.


Alisa kira bundanya sudah melewati kasa puber ternyata, selagi bertemu Arga. Puber keduanya mulai terlihat jelas.


"Oh iya, bunda denger kamu juga punya usaha cafe dan distro gitu 'kan di Bandung?"


Arga yang baru meminum tehnya kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Iya, Bun."


"Duh idaman banget kamu, biarpun orangtua kamu punya perusahaan tetapi tetap bisa mandiri punya usaha sendiri."


Ada kebanggaan yang terpancar di dalam kalimat yang bunda Astrid ucapkan itu. Sekilas Alisa melihat Arga yang memandang haru bundanya bukan dengan perasaan mengangkat dagunya ke atas.


Aneh karena biasanya seseorang yang dipuji akan berlaku seenaknya karena besar kepala tetapi Arga malah berlaku rendah Hagi dan menganggap apa yang dikerjakan bukan sesuatu hal yang besar dan wajar dilakukan setiap orang.

__ADS_1


Tak lama telepon Bella berdering.


"Bun, aku angkat telepon dulu yah. Mama telepon." Sambil menunjukkan ponselnya.


Bella pergi sedikit menjauh dari ruangan tamu. Sementara Alisa, Arga dan bunda Astrid masih asik mengobrol lebih tepatnya bunda Astrid dan Arga yang terus mengobrol sedangkan Alisa hanya jadi komentator sesaat.


"Bun, mending Bunda telepon ayah tau Bunda biasanya chattingan sama teman-teman perkumpulan ibu-ibu. Alisa 'kan juga kau ngobrol sama Arga."


Pada akhirnya Alisa menyerah untuk menunggu bundanya selesai berbicara dengan Arga. Maklum saja bundanya memang senang merumpi.


"Kenapa sih kamu gitu amat sama Bunda. Ya, omongin aja di sini memang Bunda gak boleh dengerin percakapan kalian."


Alisa memutar bola matanya malas. "Kalau boleh aku pasti akan bilang dari tadi."


"Ya sudah deh," ucap Bunda Astrid. Mengalah.


"Bunda mau telepon Ayah. Mau bilang sekarang anaknya nyebelin."


Alisa hanya menggelengkan kepalanya. "Ya sudah aduin aja. Ayah pasti tau itu akal-akalan Bunda."


"Sa, jangan gitu sama Bunda." Arga menginginkan.


"Ganteng, Bunda tinggal dulu ya. Dimakan loh apa yang ada di meja. Tenang aja Bunda buat sendiri kok. Jadi dijamin enak dan bersih."


Setelah mengatakan itu, bunda Astrid meninggalkan ruangan tamu itu. Menyisakan Alisa dan Arga. Sementara Bella masih sibuk dengan teleponnya.


"Ga, lo gimana bisa ketemu Bella dan kenapa lo bisa ada di Jakarta sekarang." Jiwa stalker dan kepo Alisa sudah bisa dibendung lagi.


"Kan tadi sudah ditanya sama Bunda, Sa. Masa tanya lagi."


"Iya tau buat urusan kerjaan tapi masa iya cuma karena itu? Bukan karena Bella juga?"


Arga yang sedang meminum jus jeruknya, terbatuk.


"Uhukk!"


"Kenapa Ga kok, kaget banget kayaknya. Berarti bener yah?" Celetuk Alisa


"Duh Sa, lo tuh ya sudah kayak tutunan dukun tau."


Alisa menunjukkan cengirannya. "Tuh 'kan bener. Kalo kata gue sih lo buruan deh tuh kasih tau perasaan lo ke Bella. Jangan tunggu lagi nanti keduluan ditikung orang."


Manik mata Alisa sejenak memandang Arga.


"Lagian apa lagi sih Ga, yang ditunggu Bella sama lo sudah lama banget deket dan jangan di buat PHP temen gue dong kasisn tau."


Arga menyunggingkan senyumnya. "Ya Sa, tenang aja dalam waktu dekat pasti gue bakal kasih tau perasaan gue ke Bella kalo perlu gue langsung lamar dia."


Mendengar perkataan Arga yang tidak main-main membuat Alisa tertegun. (Mati gue, cuma niat meledek malah beneran ditanggepin. Duh pusing deh tuh Bella milih Arga apa si Abian.) Batin Alisa.


Tak lama Bella masuk kembali ke ruangan tamu. Dengan wajah kusutnya.


"Sa, kayaknya gue harus pulang deh. Mama sakit."


"Sakit? Ada dirumah sakit? Mau di antar pak Deni aja ga, Bel." Tawar Alisa.


Belum sempat menjawab Arga langsung berdiri dari kursinya. "Udah aku aja yang antar, Sa. Gak masalah 'kan Bel."


"Ayo Bel," ucap Arga lagi.


Menatap Arga sejenak, Alisa juga menatap Alisa seolah tengah berkomunikasi lewat pikirannya, tidak lama setelah merasa mendapat dukungan Bella menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Gue pulang ya, Sa. Salam sama bunda dan ayah."


__ADS_2