
"Dia hamil dan aku harus tanggung jawab bayi yang ada di kandungannya padahal aku yakin itu bukan bayi yang aku buat."
Perkataan Abian selalu terniang-niang di telinga dan kepala Bella. Tadi Bella juga menghubungi Bastian dari ponsel milik Abian, hanya berdasarkan melihat kontak yang paling sering di daftar telepon panggilan Abian saja
Bella juga menemukan nama Amel di sana namun lebih banyak untuk panggilan tak terjawab. Tak mungkin juga Bella mengantar Abian ke apartemennya sendiri, sama saja melakukan dua kali pekerjaan yang sia-sia.
Keesokan harinya, Bella terbangun tanpa alarm, ia bahkan terus memikirkan perkataan Abian yang merancau saat mabuk dan datang ke rumahnya tiba-tiba sebagai tamu tidak diundang.
Bella mengambil ponselnya dan hal yang pertama ia lakukan adalah menelepon Alisa. Pikirannya gelisah dan merasa perlu untuk berbagi kabar ini pada Asa.
"Semoga aja dia udah bangun jam segini," ucap Bella. Tubuhnya masih berbaring di ranjangnya.
"Halo Bel, Ada apa?" Suara Alisa terdengar parau khas orang baru bangun tidur.
(Akhirnya Alisa jawab juga.) Batin Bella
"Sa, bisa ketemu gak pagi ini?" tanya Bella.
"Hah, masih pagi banget buka mata aja belum. Ada urusan penting apa sih, Bel. Memang gak bisa diomongin lewat telepon aja."
Bella sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya sebab suara Alisa yang tiba-tiba mengomel.
"Gak bisa Sa, bakal panjang lebar banget dan gue yakin biaya telepon gue bisa bobol cuma gara-gara telepon lo buat curhat." Suara Bella bahkan terdengar memohon.
"Ya sudah, kita sarapan bareng aja deh. Di depan komplek gue aja yah Bel."
"Oke, Sa. Gue kabarin kalau sudah sampai yah."
"Em, Oke."
Bella beringsut dari ranjangnya. Bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke komplek rumah Alisa. Meskipun itu artinya ia harus menyetir satu jam lamanya.
Dengan segala pemikirannya yang penuh. Bella tau isu jika Abian akan menikah dengan Amel tapi Bella sama sekali tidak menyangka jika Amel benar-benar hamil. Mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Abian terasa jantungnya teremat hingga kebagian terkecil. Ternyata apa yang diramalkan oleh Alisa menjadi benar adanya.
Awalnya Bella merasa itu hanya bisa-bisanya Alisa saja. Tapi saat kenyataan itu menampar dirinya, Bella menjadi tidak berdaya.
Kenapa dari semua hal yang harus Bella lalui ia harus mengalami kisah cinta yang rumit. Bahkan musuh di masa lalunya yang menjadi penyebab kandasnya hubungan mereka kembali lagi, tampaknya kali ini membawa ketakutan dan permasalahan yang lebih rumit.
Bagaimanapun, saat ini bukan hanya pertarungan antara ia, Abian dan Amel saja, melainkan dengan anak yang ada di dalam kandungan Amel.
Hati Bella tentu bimbang, siapa yang akan ia percaya? Apakah Abian atau hatinya?
__ADS_1
Bella juga tidak mungkin bisa balas dendam dan menyakiti anak yang ada dalam kandungan Amel.
Sesampainya di komplek depan rumah Alisa. Bella kembali menelepon Alisa memberikan kabar jika ia sudah sampai di depan komplek rumah Alisa, memarkirkan mobilnya Bella bisa melihat banyak sekali tukang makanan yang menjajakan makanan di gerobak maupun tenda sederhana.
Pantas saja Alisa sangat sulit dibujuk keluar komplek rumahnya.
"Hei, Bel." Sapa Alisa. Bella dapat melihat Alisa mengendarai sebuah sepeda.
"Gue gak tau lo bisa naik sepeda, Sa."
"Ya, bisalah. Gue tuh cuma gak bisa naik mobil aja. Takut soalnya," jawab Alisa.
"Pesen makan dulu yah Bel. Gue mau isi otak gue dulu biar konsentrasi buat dengerin curhatan dari lo yang pasti kayak seri film,” celetuk Alisa.
Bella tersenyum simpul bagaimanapun memang Alisa selalu saja menjadi lucu dengan alami di setiap saatnya. Bella juga tidak sakit hati dengan apa yang Alisa katakan. Karena mereka sahabat dan saling mengenal satu sama lain.
"Oke deh gue yang traktir. Di sini apa yang paling enak, Sa. Wajib buat gue coba?“ tanya Bella.
Alisa itu tukang jajan jadi Bella tau jika rekomendasi makanan yang Alisa berikan sudah pasti memang wajib dicoba. Apalagi masalah berbelanja pakaian Alisa itu ratunya.
"Bubur ayamnya enak banget Bel. Kalo gak mie yaminnya enak banget di sini. Dibanding tempat lain sejauh ini masih di komplek gue yang jadi juara."
"Ya sudah pesen itu deh, Sa."
Kepala Bella mengangguk dan Alisa langsung bergerak untuk memesan makanan yang tadi direkomendasikan. Bella menjadi tempat untuk mereka makan, ada beberapa meja juga disediakan bagi pengunjung yang makan untung saja mereka gak harus makan di dalam mobil.
Bella mencari bangku kosong. Untunglah ada meja kecil untuk dua orang. Jadi Bella bisa leluasa untuk bercerita dengan Alisa tanpa terganggu dengan pengunjung lain. Kemudian tidak lama Alisa membawa dua botol air mineral dan meletakkannya di meja tempat ia duduk.
"Nanti diantar pesanannya. Jadi lo mau cerita tentang apa? Kenapa lagi tuh si Abian. Eh— tapi sebelum itu, gue mau tanya satu hal tentang Arga."
"Apa? Lo mau tanya apa?" sahut Bella.
"Hubungan lo sama Arga gimana kelanjutannya? Apa Arga cuma PHP'in (Pemberi Harapan Palsu) lo doang."
Pertanyaan Alisa seperti biasa langsung pada intinya. Jika ditanya seperti itu Bella jadi ingat tentang sikap Arga yang menciumnya, menyatakan perasaan dan memintanya untuk menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih.
"Sebenarnya baru ada kemajuan tadi malam Sa, Arga nyatain perasaannya sama gue dia juga cium gue dan minta kita pacaran," jawab Bella. Suaranya tampak berbisik.
"Hah, Apa!" Pekik Alisa.
"Sa, jangan keras-keras suaranya. Nanti malah diperhatiin orang." Bella mencoba mengingatkan.
__ADS_1
Alisa mengeluarkan cengirannya dan matanya menengok ke kanan dan ke kiri. Untung saja tidak ada yang memperhatikan mereka. "Maaf Bel, reflek he-he."
"Terus gimana lo udah jawab belom," tanya Alisa.
Kepala Bella menggeleng kecil. "Belum Sa."
Dengan mulut yang terbuka Alisa terlihat terkejut. "Kenapa? Apa karena Abian?" Tebak Alisa. Yang sepertinya memang selalu saja tepat mengena.
Bola mata Bella sedikit bergulir. "Gak gitu, dia bilang kasih gue waktu buat jawab nggak harus buru-buru jawabnya. Lagian memang harus buru-buru yah."
"Misi, Kak bubur ayam sama mie yaminnya," ucap seorang anak kecil.
"Eh, makasih Dek." Tak lama Bella membuka dompetnya dan mengeluarkan uang lima puluh ribu. "Dek, ini buat jajan," ucap Bella.
Sementara Alisa tersenyum simpul. "Pantas, lo jadi orang kaya raya Bel, hati lo dermawan banget."
"Hus, jangan ngomong gitu. Gue cuma ingat pas gue kecil aja. Harus kerja pas weekend gini, lagian gue cuma kasih dikit aja kok Sa."
Kepala Alisa mengangguk kecil. "Lanjutin deh lo mau curhat apa tentang Abian," ucap Alisa. Sepertinya tidak ingin terlalu jauh ikut campur perihal keputusan Bella mengenai Abian.
"Itu masalah masalah Amel, Sa." Suara Bella terdengar lemah.
Sementara Alisa yang sedang mengunyah mie yamin itu menelannya dengan cepat dan meneguk air mineralnya dengan cepat.
"Hah— apaan? Kenapa lagi tuh nenek lampir?"
Bella menghela napasnya. Entah mengapa mendengar nama Amel ucap Alisa lelah. "Jadi kemarin pas gak lama Arga pergi, pak Deni datang bawa mobil gue dan gilanya Abian maksa ikut ke rumah gue. Saat itu Abian mabuk berat, dia terus minta maaf sambil peluk gue. Sampai akhirnya dia bilang kalau dia lagi sensi karena masalahnya sama Amel."
"Gila! Tuh playboy." Tangan Alisa membentur meja dengan keras. Terlihat emosi dengan apa yang Bella jelaskan tentang Abian.
"Sa, orang-orang pada liatin kita." Bella mengingatkan kembali emosi Alisa.
"Ya, gimana gak emosi dari zaman sekolah sampai sekarang gak ada berubahnya. Gak tobat dia. Terus lo masih mau pertahanin dia Bel? Ini kayak lingkaran setan yang gak ada ujungnya."
Sebenarnya cerita Bella belum lengkap, tetapi melihat reaksi Alisa yang tidak stabil dan diliputi emosi Bella sepertinya mengurungkan niatnya. Rasanya saat ini belum waktu yang tepat untuk menceritakan bahwa kondisi Amel yang hamil dan Abian yang tidak mengakui anak yang sedang Amel kandung.
Bella yang masih diam dengan pemikirannya membuat Alisa kembali berbicara. "Bel, jangan ulangi kesalahan di masa lalu, harusnya lo belajar buat lepasin Abian. Kayaknya udah cukup balas dendamnya lupain juga balas dendam sama Amel. Sebenci-bencinya lo tapi dia lagi hamil. Jadi ada manusia kecil yang gak berdosa dan harusnya gak tersakiti sama ulah orangtuanya," ucap Alisa.
Bella terdiam dan mencerna ucapan Alisa yang sempat menjadi pemikirannya juga.
"Hei, Bel!" Alisa melambaikan tangannya di depan wajah Bella.
__ADS_1
"Eh, iya Sa. Tadi lo bilang apa?" Bella menatap mata Alisa.
Alisa menggenggam tangan sahabatnya itu. "Lebih baik, lo berhenti dan selesaikan balas dendam lo. Jalani hidup lo tanpa bayang-bayang Abian lagi. Udah cukup 'kan semua pengakuan Abian tentang masa lalu yang membuat lo terpuruk. Sekarang lo udah berbeda, lo udah bisa move on."