Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 32


__ADS_3

Satu bulan terakhir ini Arga harus rela mengalihkan bisnis kecilnya pada Jodhi dan manajer lapangan yang bertugas di toko dan coffee shop-nya.


Arga juga harus rela pindah dari Bandung ke Jakarta, tempat pusat bisnis perusahaan papanya itu.


Arga harus memastikan jika perusahaan milik papanya itu tidak akan jatuh pada mama tirinya itu.


"Kak Arga."


Arletta tanpa permisi masuk begitu saja ke dalam ruangannya. Dengan penampilannya yang selalu terbuka itu memang selalu sukses membuat semua mata lelaki menoleh ke arahnya.


Seperti saat ini Arletta menggunakan rok tenis dan blouse crop top berlengan pendek yang memeluk tubuhnya erat.


"Mau apa ke sini." Arga mengangkat tangannya ke udara, menumpukan kedua lengannya pada meja di hadapannya.


Arletta dengan wajah tersenyumnya lantas berjalan mendekat ke meja kerja Arga.


"Makan siang bareng yuk, Kak." Suaranya terdengar manja.


Arga kemudian melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kanannya. "Masih ada tiga puluh menit lagi. Memangnya mau makan di mana Letta."


Arletta menyenderkan bokongnya pada meja kayu itu. "Dekat kantor aja. Kak Arga suka makan apa? Arletta nggak terlalu hafal makanan kesukaan Kakak."


Arga menggeser tubuhnya hingga kursi kerjanya sekarang menghadap Arletta.


"Gue nggak terlalu pemilih kok soal makan yang penting tempatnya nyaman dan bersih."


"Ya sudah, kita makan di resto chinese food aja, gimana?"


Abian mengangguk. "Boleh tuh, tapi sebentar lagi. Nggak masalah tunggunya?"


"Nggak masalah kok, Kak Arga."


Arga kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi, sedangkan Arletta masih berada di tempatnya.


Seakan tidak terusik dengan kehadiran Arletta, Arga menyelesaikan pekerjaannya itu dengan tenang.


Sementara Arletta yang tadinya di dekat meja Arga kini sudah berpindah duduk menunggu Arga di sofa yang di sediakan untuk tamu.


Arga kemudian berdiri mengambil jas yang tadinya tersampir di gantungan di sudut ruangannya.


"Letta, ayo. Jadi makan siangnya."


Arletta langsung bangkit dari sofa dan menggamit lengan Arga. "Jadi dong Kak, aku juga udah reservasi tadi sambil tunggu Kak."


"Oh, gitu." Tanggapan Arga seadanya.


Saat akan menyalakan mesin mobilnya Arga, menoleh ke arah Arletta. "Restonya di sebelah mana Letta."


Arletta kemudian membuka ponselnya, setelah itu menekan beberapa tombol pada GPS yang terpasang di mobil Arga. "Sudah aku masukkin alamatnya. Tinggal jalan aja ikutin navigasinya Kak."


Arga kemudian menjalankan mesin mobilnya. Alamat yang Arletta masukkan ke dalam GPS-nya sebenarnya memang tidak terlalu jauh atau merupakan tempat yang asing bagi Arga.


Ia hanya terkesan saja ternyata Arletta memang mempersiapkan dengan baik segala sesuatu, terorganisir dan sangat rapi.


Jika saja Arga tidak kenal betul pada Arletta mungkin bisa dipastikan ia juga akan mudah terjerat pesona Arletta. Pesona beracun yang mematikan.


"Kak Arga, Arletta senang deh. Kak Arga beneran mau buka hati."

__ADS_1


Arga menarik senyum tips di bibirnya. "Gue juga senang apalagi lo nggak ngerepotin."


"Iya dong, Arletta sudah biasa mandiri kok dari kecil."


"Dari kecil," ucap Arga membeo.


Arletta kemudian memainkan jemarinya yang ada di pangkuannya. "Mama selalu sibuk dari Arletta kecil, Arletta biasa dititipin di rumah nenek. Lagi di sana enggak ada anak seumuran. Arletta jadi biasa main sendiri."


Meski terdengar seperti kisah yang menyedihkan dan membuat simpatik tetapi itu semua tidak berlaku pada Arga.


"Sama dong kayak gue."


Arletta yang malu dengan tanggapan Arga yang biasa-biasa saja, kemudian menyampirkan helaian anak rambutnya yang menjuntai ke dalam telinganya.


"Coba aku dari kecil ketemu Kak Arga pasti kita berdua bisa main bersama dan nggak kesepian."


Arga menekan sudut bibirnya, ia sebenarnya sudah benar-benar muak dengan pembicaraan ini tetapi ia harus bisa menahan dirinya, tujuannya masih belum tercapai. Jika ia menyerah pada Arletta maka semua pengorbanannya sampai di detik ini akan menjadi sia-sia.


"Sayangnya takdir gak mengizinkan kita bertemu lebih awal."


Arletta kemudian menatap Arga yang baru saja mematikan mesin mobilnya. "Tetapi pada akhirnya kita tetap bisa bertemu."


"Kak Arga," panggil Arletta.


"Iya," jawab Arga tanpa menoleh.


"Kak, sebentar."


Arletta menarik lengan Arga. Akibat tarikkan itu mau tak mau Arga yang hendak membuka handle pintu mobilnya mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Arletta.


"Ada apa," ucap Arga.


"Kak Arga. Arletta suka Kak Arga."


Senyum kemenangan terukir di dalam hari Arga. Sekarang ia sudah selangkah lebih dekat pada rencananya.


"Aku juga suka dan sekarang kita sudah jadi keluarga."


"Bukan itu maksudnya Kak …."


Arga mengernyitkan dahinya. Memandang sikap Arletta yang berubah menjadi gadis pemalu.


"Terus apa dong."


"Arletta suka Kak Arga lebih dari ikatan keluarga."


Arga tetap menjaga mimik mukanya. "Apa Letta," ucap Arga pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Arletta.


Bukannya menjelaskan Arletta malah menarik tengkuk Arga ********** penuh dengan hasrat dan menggebu.


Sementara Arga hanya diam dan sesekali membalas perlakuan Arletta pada bibirnya dan hati Arga senang bukan karena mendapat ciuman tetapi


Siasatnya kali ini akan berhasil.


"Kenapa cium, Letta." Arga berkata seperti itu setelah tautan kedua nya terlepas.


Sementara Arletta, menggigit ujung bibirnya. "Arletta kan sudah bilang suka sama Kak Arga, Arletta mau kita lebih dari sekedar hubungan keluarga atau teman."

__ADS_1


"Lalu Arletta maunya apa."


"Aku mau jadi pacar Kak Arga kalau boleh." Wajah Arletta bersemu merah.


Arga menarik sudut bibirnya. "Tapi, papa pasti marah kalau sampai tau."


Arga kemudian mengecup birai merah Arletta kembali sejenak. "Arletta, lo cantik dan penurut gue suka." Arga memegang dagu sempit milik Arletta. "Kalau kita pacaran sembunyi-sembunyi lo mau."


Arga menatap dengan wajah sayu-nya.


"Mau Kak, asal Kak Arga sudah suka sama aku rasanya sudah cukup."


"Jadi sekarang kita pacaran 'kan Kak," tanya Arletta lagi.


Arga hanya mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan Arletta.


"Makasih yah Kak Arga. I love you."


Dalam wajah yang berbinar dan pupil mata yang membesar Arletta mengecup kembali bibir Arga.


Lain dengan Arga yang tersenyum tipis dan mengelus sebelah pipi Arletta lembut.


"Ayo," ucap Arga setelah berhasil membuka pintu mobil tak lupa mengantongi kunci mobilnya.


Keduanya lantas berjalan menuju restoran dan masuk ke dalam sebuah ruangan privat yang ternyata sengaja dipesan Arletta.


"Kak, Arga. Setelah ini apa rencana Kakak ke depannya."


"Rencana belum ada, masih nikmatin yang dikerjakan aja. Kalo lo ada rencana apa. Kuliah sedikit lagi selesai 'kan," tanya Arga memastikan.


Tak lama menu yang mereka pesan datang, berbagai macam hidangan tersaji rapi dengan harum bumbu masakan yang beragam tentunya membuat siapa saja yang menciumnya akan merasa tertarik untuk mencicipinya.


"Iya, sebentar lagi Arletta lulus. Papa juga bilang kalau mau aku bisa belajar pegang salah satu cabang perusahaan papa."


Arga hanya tersenyum kecut dalam hatinya, ternyata papanya juga sudah punya rencana lain.


"Gak masalah kalau lo mau. Kan bisa belajar."


Arletta tersenyum simpul sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Kak Arga bisa bantu 'kan." Kedua bola mata hitam itu bergulir menatap Arga lekat.


"Ya, tentu aja."


"Makasih yah, Kak." Arletta memulas senyumnya.


Arga yang melihat itu mau tak mau menunjukkan senyumnya yang sebenarnya adalah sebuah kepalsuan. Tetapi satu hal yang ia sadari semenjak semakin dekat dengan Arletta.


Wanita ini benar-benar menunjukan afreksinya dan berlaku agresif. Memang bukan sesuatu yang salah hanya saja bagaimanapun Arga sebagai lelaki, ia tau sekarang tengah mencoba memasuki dunia yang fana, ia harus berhati-hati jika tak ingin terjebak dengan segala sesuatu yang bersifat muslihat.


"Memangnya papa minta kamu terjun ke cabang perusahaan yang mana," tanya Arga.


"Itu masih dibicarakan kata papa, supaya pas dengan kuliah-ku juga."


"Oh," ucap Arga seadanya.


Meski Arga sangat penasaran tetapi ia mencoba tetap bersikap santai seolah tidak terlalu menunjukkan ketertarikan di mana Arletta akan di tempatkan oleh papanya itu.

__ADS_1


Arga kembali menyantap makanannya. Dalam diam Arga tau jika peperangan antara ia dan papanya akan segera dimulai sekarang.


__ADS_2