
Alasan yang Bella bilang tentang ia sibuk bimbingan dengan dosennya memang bukan hanya alasan semata-mata yang ia buat. Sekali lagi Bella memang bisa berkelit tetapi bukan untuk berbohong lebih jauh.
“Bel, kenapa? Kok wajah lo pucet gitu?“ Alisa bertanya.
“Gak apa-apa Sa, gue cuma kurang tidur aja dan juga makan gue kurang teratur. Maklum lah di bab empat ini 'kan paling banyak menguras tenaga.“
“Iya gue tau, terus yang waktu itu lo di hotel sama Abian itu gimana ceritanya. Tapi lo malah nginep di apartemen Arga, gue jadi bingung deh Bel.. benar Lo baik-baik aja?“ tanya Alisa.
Seperti biasa Alisa memang selalu cerewet dan ingin tahu apa yang dialami Bella. Bukan sekedar ingin tahu saja karena pada akhirnya Alisa selalu membantu memberikan pandangannya pada Bella.
“Sa.. soal itu, gimana kalau kita ceritanya di tempat lain aja. Gak enak kayaknya kalo di kampus.“
“Ya udah, lo mau cerita di mana?“
“Ke tempat mie ayam mang Udin aja deh Sa, kayaknya gue kalau situasinya gini perlu makan yang pedas dan gue suka. Biar mood cerita.“
“Oke deh, siap. Ayo kalo gitu. Lo udah selesai 'kan bimbingannya?“
“Udah kok.. tenang aja, udah kelar.“
Bella dan Alisa sudah bersiap menuju parkiran depan kampus mereka, tetapi belum sampai menuju mobil Bella, langkah kaki Bella harus terhenti saat ada Abian yang menghadang langkahnya.
“Bel, kita harus bicara.“ Suara Abian tampak putus harapan.
Bella menghela napasnya berat. Disatu sisi ia tidak tega tetapi di sisi lain hati Bella terasa sangat berat bertemu lagi dengan Abian semenjak mereka bertengkar.
“Abian, ngapain lo kesini?“ Alisa nge-gas.
“Bel, please.. aku janji cuma mau jelasin aja kok. Aku gak akan melakukan hal yang kurang ajar.“
Wajah Alisa menyalak dan mencengkram kerah baju Abian. Melihat hal itu Bella yang tidak ingin keributan terjadi kemudian menarik tangan Alisa lembut. “Sa, ini di kampus. Udahlah, gue bisa kok atasin ini.“
Bella menatap mata Alisa dengan yakin. Pada akhirnya Alisa melepaskan cengkeramannya itu.
“Sa, gue tau lo lindungin Bella.. tapi kali ini gue harus selesaikannya berdua sama Bella. Gak perlu khawatir teman lo gak gue apa-apain kok.“
“Ya udah Abian kita omongin di tempat lain aja. Tunggu sebentar gue perlu bicara dulu sama Alisa,” ucap Bella.
__ADS_1
Pada akhirnya Bella menyetujui permintaan Abian itu. Tapi sebelum ikut dengan Abian, sejenak Bella meminta waktunya. Sebab Bella ingin mengatakan satu hal pada Alisa.
“Sa, gak perlu khawatir. Gue bisa kok atasin-nya.“
Alisa tiba-tiba memeluk Bella erat. “Gue percaya lo bisa kok Bel, hati-hati yah. Kalau sampai Abian macam-macam sama lo gue bakal ambil tindakan Bel.. walaupun lo cegah gue. Udah cukup lo tahan dirinya. Sekarang ingat lo orang yang berbeda, lo cantik dan kuat. Gak ada lagi yang bisa merendahkan lo,” tutur Alisa.
Kepala Bella mengangguk. “Iya Sa, sorry yah gue gak jadi cerita. Nanti kalau udah selesai urusan sama Abian.. Gue bakal cerita.“
“Iya.. ya udah. Hati-hati, Bel.“
Alisa tersenyum simpul dan Bella ikut dengan Abian menuju mobil Abian.
“Kita mau pergi kemana?“
“Ke Legit Coffee tempat pertama kali kita ketemu,” ucap Abian.
Dan Bella memilih diam sampai Abian kembali lagi mengatakan sesuatu untuk membuka pembicaraan.
“Bel, kali ini lo harus jujur yah sama gue. Kita bakal sama-sama saling jujur,” ucap Abian.
“Bel, gue tau gue memang brengsek. Lo boleh kasih label buruk buat diri gue tapi harusnya lo tau kalau tindakan kecil dan gestur tubuh gue gak akan pernah bisa bohong.“
“Ya.. kita lihat nanti aja. Gue juga harap masalah ini cepat selesai dan gue rasa gue gak mau untuk kita sering bertemu lagi.“
“Kenapa ambil keputusan yang ekstrim gitu sih Bel? Di hotel itu hanya ajakan biasa jus kissing, we falling love.. cuma itu. Lo gak perlu jadi kolot, Bel.“
Pada akhirnya suasana di mobil sudahulai memanas. Bella bukan memicu hal itu terjadi. Sedikitpun ia tidak berniat menyulut emosi Abian dengan kata-kata pedasnya tapi Bella hanya ingin meluruskan semuanya secara jujur saja. Bella merasa daripada balas dendam dengan cara membuat Abian patah hati dengan berpacaran, lebih baik Bella berkata jujur dan menohok tentang apa yang terjadi saat Bella masih SMA dulu dan tau jika Abian sengaja mengabaikannya.
“Gue gak kolot, gue memang gak seharusnya kasih hal yang berharga buat lo, Bian! Lo brengsek! Playboy.“ Kesal Bella.
Mendengar hal itu, Abian menghentikan laju mobilnya untuk berhenti di tepi jalan. Bukan karena mereka mang sudah berhenti di tempat tujuan.
Sudut bibir Abian menyeringai. Sekarang tubuh sedikit bergeser sehingga kedua mata mereka saling bertemu.
“Akhirnya.. akhirnya! Firasat gue selama ini benar. Lo itu Bella Gunarman, anak SMA Bhakti Mulya yang selama ini gue cari. Bel, kita dulu pernah pacaran saat SMA, lo juga udah dengar pengakuan gue tentang cinta pertama gue.“ Suara Abian terdengar putus harapan, bahagia, dan sedih bercampur menjadi satu.
Waktu seakan membeku, Bella mencoba memproses semua hal yang Abian baru saja katakan. Rupanya selama ini Abian mencurigai dirinya itu adalah mantan yang selama ini di cari. Cinta pertama dan mantan terindah yang sempat Bella pandang adalah pernyataan cinta Abian untuk wanita lain.
__ADS_1
Kepala Bella menggeleng kuat. “Lo jangan ambil kesempatan dengan situasi ini Abian.“
Abian memejamkan matanya rahangnya tampak gemeletuk kemudian mengeluarkan ponselnya. Abian melakukan sesuatu yang Bella tidak tau tapi tidak lama setelahnya Abian menunjukan layar ponselnya pada Bella.
Pupil mata Bella bergetar tak percaya jika Abian masih menyimpan foto mereka berdua. “Lo lihat ini 'kan.. ini foto saat pertama kali kita kencan.“
Abian kembali melakukan sesuatu pada ponselnya dan memperlihatkan percakapannya pada panitia reunian sekolahnya yang Bella ikut bergabung juga.
“Lo baca Bel, kalo gue selama ini cari lo kayak orang gila. Gue pengen banget ketemu lo.“ Abian memberikan ponselnya pada Bella.
Bella terdiam, tangan Bella bergetar saat pertama kali melihat isi percakapan tentang Abian yang terus bertanya apa ketua panitia mengundang Bella dalam acara reuni dan menanyakan semua info yang mereka tau tentang dirinya.
“Bel.. gue tau gue salah saat itu tapi saat itu gue gak punya pilihan. Sumpah Bel, semua hal itu karena gue terjebak karena keadaan dan gue gak punya pilihan.“ Suara Abian lirih.
Hati Bella terasa diremas, sudut matanya tanpa terasa mengeluarkan air mata yang seharusnya tidak jatuh di depan Abian.
Tapi sekali lagi, Bella yangenyangka dirinya sudah bisa kuat dan bisa balas dendam nyatanya sangat rapuh kerupuk yang keras di luar dan kosong di dalamnya.
Dengan cepat telapak jari Bella mengusap sudut matanya. Dagunya Bella angkat sebaik mungkin, bibirnya mulas senyum meski sudut bibirnya bergetar dan harus ia gigit pipi bagian dalamnya untuk mengurangi isakan dalam dirinya yang sebenarnya sudah sangat lemah.
“Itu masa lalu Abian, jangan mendramatisir dengan alasan reuni atau apapun itu. Gue udah lupa semuanya, soal sakit hati aku udah lupa.“ Bella merapatkan giginya sejenak guna menahan getaran hatinya untuk menampil perasaan sebenarnya yang sangat tersakiti oleh perlakuan Abian di masa lalu, tapi sekali lagi ego dan keinginan Bella untuk balas dendam sangat besar.
Bella harus bisa menekan perasaan, ekspresi dan tutur katanya.
“Bagus kalo lo ingat dosa juga kelakuan buruk sama gue di masa lalu. Itu karma yang pantas lo dapatkan!“ ketus Bella.
“Ya gue memang pantas untuk itu, tapi sekarang lupain itu semua Bel. Sekarang kita dipertemukan lagi dan gue mau mulai semuanya dari awal dan dengan cara yang baik.“
Nafas Bella mendengus, seakan meremehkan. “Mulai apa? Kita udah selesai. Mulai sekarang jangan hubungi aku lagi!“ Tegas Bella.
Tapi saat Bella ingin membuka pintu mobil Abian, sialnya pintunya masih Abian kunci dan Bella menatap nyalak Abian.
“Buka! Abian buka.. atau gue teriak.“ Ancam Bella.
“Terserah, kalo lo gak malu. Gue belum selesai, kita gak bisa akhir kayak gini.“
Kemudian Abian melajukan mobilnya kembali. Bella tidak tau akan mengarah kemana mobil Abian membawanya pergi tapi satu hal yang Bella bisa pastikan jika Abian benar-benar tak ingin melepaskannya kali ini.
__ADS_1