
Anggap saja Bella plin-plan menikmati ciuman yang diberikan Abian. Hatinya selalu berkhianat pada apa yang ia katakan. tembok yang Bella bangun dan sudah ia pastikan dibangun dengan material yang kuat nyatanya runtuh seketika.
Abian bagaikan badai yang mampu memporak-porandakan hatinya dengan mudah. Seperti badai yang mampu menyapu dan meruntuhkan bangunan. Rupanya benar jika banyak yang bilang kalau janji yang dikeluarkan dari mulut tidak dapat dipercaya. Karena bagaimanapun hati manusia akan mudah berubah.
Manusia tidak bisa selalu bersikap objektif. Mereka akan lemah pada siapa yang akan dihadapi, sikap subjektif yang sulit untuk ditepis.
“Ayang, makasih yah sudah mau ngertiin aku.“ Abian berucap manis.
Tangan Abian mengapai tangan mungil Bella dan mengusap punggung tangan Bella lembut dengan ibu jarinya.
“Aku janji bakal berjuang buat kamu, aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu kasih yang kedua ini.“
Bella tersenyum simpul, ia tak bisa memungkiri hatinya senang menerima kata-kata Abian. Tetapi di sisi lain ia juga berpikir apa Abian akan menepati janjinya? Karena sudah banyak janji yang Abian katakan, nyatanya tidak ada satupun yang benar-benar Abian pegang.
Apa tidak salah saat ia ingin mencoba dan memberi kesempatan untuk hubungan mereka lagi. Bella juga sadar dirinya tidak sempurna dan ia juga tidak bisa menuntut sepenuhnya Abian berubah untuk menjadi seperti yang Bella. Berubah memang butuh waktu. Ya, Bella sadar itu.
“Ya, udah ayo kita pulang. Biar aku yang antar kamu.“ Ajak Abian.
Namun kepala Bella menggeleng. “Lebih baik kamu pulang. Aku mau ketemu mama dulu,” ucap Bella.
“Ya udah aku temenin yah.“ Tawar Abian.
“Nggak perlu Bian, wajah kamu babak belur gitu yang ada mama-ku nanti tanya yang macam-macam. Ada Alisa juga di sini yang bisa jaga aku.“ Dalih Bella.
Abian menghela napasnya panjang. Tangannya mengenggam tangan Bella yang satunya lembut. “Ya udah kalau itu mau kamu, nanti kalo udah sampai rumah kabarin aku yah.“ Pinta Abian.
Kepala Bella mengangguk. “Ya, kamu hati-hati.“
Tak lama setelah Bella berbicara seperti itu Abian melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tetapi sebelum benar-benar pergi, Alisa datang dari balik pintu dan menatap Abian dengan tajam.
“Sa, tolong jagain cewek gue yah.“ Abian bertutur.
Alisa tidak menjawab memilih masuk begitu saja. Sampai akhirnya Abian pergi melangkah menjauh dari kamar tempat Bella dirawat.
“Bel, sebenarnya apa sih yang ada dipikiran lo.“ Tatapan Alisa penuh rasa kecewa.
“Maksud lo gimana?“ tanya Bella.
__ADS_1
“Lo kenapa malah bersikap lembek sama Abian. Hah, lo maafin juga tuh kesalahan dia yang udah jelas-jelas enggak bisa ditoleransi lagi. Dia bakal nikah sama Amel! Pikiran lo dimana sih, Bel. Segitu cintanya lo sama Abian sampai lo gak bisa mikir pakai logika. Lo berharga Bella.. buat apa lo tungguin dia. Apa lo bisa jamin dia bakal mulus aja lakuin rencananya terus lo menikah sama dia dan akhirnya lo happy ending?“ Suara Alisa menggebu.
Bella menghela napasnya, ia tau jika Alisa kecewa dengan keputusannya. “Sa, tapi ini belum tentu seperti yang lo pikirin tentang Abian, lagi pula 'kan Amel juga lo tau sendiri bisa aja dia bohong tentang kehamilannya. Tabiat Amel yang bisa melakukan segalanya sampai dia dapat yang dia inginkan.“ Bella mencoba menjelaskan.
Alisa melebarkan kelopak matanya, tatapannya tampak sangat kentara jika Alisa merasa kecewa berat dengan jawaban Bella yang terkesan membela Abian.
“Bella! Buka mata lo lebar-lebar.. gue tau lo cinta mati sama Abian, tapi dengan lo ikutin kemauan Abian untuk tunggu Abian menyelesaikan masalahnya sama Amel itu cuma omong kosong! Balas dendam udah selesai. Mantan harusnya dibuang Bel. Lo harus buka lembaran baru. Gue bujuk lo balas dendam dan berubah supaya mata lo terbuka. Supaya lo bisa move on dan melanjutkan lagi hidup lo. Buka sama Abian lagi tapi sama pria yang lebih baik!“ Pekik Alisa.
Napas Alisa tersengal, seperti seseorang yang sedang berlari maraton. Matanya tampak memerah dan giginya gemeletuk. Untuk pertama kalinya Bella melihat Alisa yang begitu marah padanya.
“Sa, lo kenapa sih kok kayaknya emosi banget ngomongnya. Kalo lo masih emosi lebih baik lo tenangin diri lo dulu baru kita ngomongin lagi masalah Abian, gue sama Amel lagi.“
Bella merasa sangat terintimidasi dengan tatapan Alisa, ia juga masih sedikit pusing akibat pingsan yang tadi ia rasakan.
“Bella gue tuh kenal sama lo bukan sehari, atau sebulanan dua bulan tapi bertahun-tahun. Kita udah temenan bahkan keluarga kita sudah saling dekat tapi kenapa lo masih nggak ngerti sih. Si brandal Abian playboy itu nggak pernah serius sama perasaan cintanya ke lo. Karena Abian itu rumit, Abian bahkan belum bisa nyembuhin dirinya sendiri. Gimana dia atasin Amel ataupun lo.“ Tegas Alisa.
Alisa tanpa sadar mengeluarkan air matanya dan mengusapnya cepat. Memalingkan wajahnya.
“Satu hal Bella kalau dia cinta dan dia menyesal akan tindakannya dulu sama lo harusnya dia buat sikap tegas menjauh dari Amel sebelum dia cari lo sebelum dia jadiin lo pacar dia lagi! Apalagi dia nekat lamar lo tanpa jelas dia sama Amel bisa batalkan pernikahannya apa gak. Dia pasti enggak akan mau ngulangin kesalahan yang sama, dia seharusnya jaga perasaan lo!“ Lanjut Alisa.
“Tapi Sa, gue tau semuanya butuh proses.“ Bella menyahut.
Apa yang dibicarakan Alisa memang sangat pedas menusuk ke hati Bella, tetapi Bella juga tidak bisa memungkiri jika hatinya merasa lebih sakit saat Abian meninggalkannya.
“Sa, lo enggak ngerti perasaan gue!“
“Ngerti!“ Alisa menatap Bella dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sebaiknya lo pikirin baik-baik perkataan gue dengan kepala jernih Bella. Karena cinta lo buat Abian bukan buat lo bahagia, cinta lo malah yang buat lo sakit. Gue memang dari awal nggak pernah setuju lo pacaran sama Abian. Gue tau karena akhirnya bakal kayak gini, Bel! Lo harus bedain artinya gak bisa hidup tanpa seseorang atau mencintai seseorang,” ucap Alisa.
Kaki Alisa melangkah menjauh, pergi meninggalkan Bella begitu saja.
Bella menangis tersedu-sedu. Meski Bella sering cekcok dengan Alisa, tetapi baru kali ini mereka beradu pendapat begitu keras dan melibatkan emosi tinggi.
Setelahnya, Bella mendengar pintu yang membuka. “Bella, lo udah baikan?“
Bella langsung mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya dan juga pipinya dengan cepat. “Udah baikan kok, Ga.“ Meski memaksakan Bella mencoba tersenyum.
__ADS_1
“Mama-mu tadi telepon aku. Dia bilang minta tolong buat jagain dan antar kamu pulang,” tutur Arga.
“Ga, bisa gak bawa aku ke tempat lain gitu. Aku enggak pengen pulang dulu. Pikiran aku masih suntuk banget.“ Jujur Bella.
Tanpa banyak bertanya, Arga mengangguk. “Yah, boleh aja Bel. Ayo kalo gitu.“
Arga langsung menggapai tangan dan menggenggam tangan Bella lembut. Bella hanya mengekor mengikuti Arga dan membiarkan Arga menggenggam tangannya.
Lama berkendara sekitar satu jam setengah lamanya, Bella sampai di pantai Ancol di kawasan Jakarta. Bella jadi ingat dulu ia ke sini terakhir kali saat masih sekolah dasar.
Arga memarkirkan mobilnya di tengah cahaya matahari yang mulai berubah berwarna jingga.
“Bel, disini kamu bisa tumpahin semua perasaan dan keluh kesah kamu. Aku janji bakal dengerin kamu aja tanpa ada komentar.“
Bella menganggukkan kepalanya kecil. Arga membawanya pada sebuah jembatan kayu yang dan lautan yang terhampar luas. Arga juga dengan sangat perhatian memberikan Bella jaketnya. Sebab angin yang berhembus kencang.
“Ga, makasih yah udah mau ajak dan temani aku jalan-jalan.“
“Ya Bel. Habis ini kita makan yah. Tadi siang kamu belum makan juga.“
“Kamu udah makan belum?“ Kini Bella balik bertanya.
“Aku bisa makan kapan aja. Yang penting kamu, apalagi kamu kurang sehat.“
Manik mata coklat madu Bella berbinar. Dengan sikap Arga yang sangat gentleman, Arga yang selalu memikirkan Bella terlebih dahulu dibandingkan dengan dirinya sendiri. Tapi kenapa hati Bella selalu menganggap hal itu biasa. Tidak ada kejutan listrik seperti sentuhan maupun kata-kata yang Abian berikan padanya.
Bahkan Arga selama di perjalanan tidak pernah bertanya hal yang menyangkut kenapa Bella pingsan atau Bella yang menangis di ruangan rumah sakit. Membiarkan Bella untuk menenangkan dirinya sendiri seperti yang diucapkan tadi saat mereka baru sampai.
“Ga, kenapa sih kamu baik banget sama aku,” tanya Bella.
Entah mengapa Bella mengatakan pertanyaan klise itu pada Arga, tetapi hatinya sangat penasaran.
Sudut bibir Arga tersenyum manis. “Kan aku sudah bilang aku cinta kamu Bella.“
Kata sederhana yang Bella tau maknanya. Dan juga bisa Bella rasakan. Tapi bukan pada Arga melainkan pada Abian. Sekarang Bella merasa dirinya buruk. Kenapa ia bisa sejahat itu pada Arga yang baik hati padanya.
Sepanjang perjalanan kepalanya juga selalu terisi penuh pada perkataan Alisa yang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Air mata Bella kembali menetes begitu saja membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
“Bel, kok nangis? Apa perasaan aku membebani kamu?“ tanya Arga.