
Tubuh Bella meremang, jantungnya berdegup kencang. Arga masih saja betah untuk memangut bibirnya. Bella tau ini bukan first kiss-nya dengan seorang lelaki tetapi ini adalah pertama kalinya dengan Arga. Semenjak mereka dekat beberapa tahun yang lalu.
Arga kemudian melepaskan tautan bibirnya, manik mata hitam jelaga itu menarik jiwa Bella jauh lebih dalam, seperti berada di lubang hitam yang tidak tau di mana ujungnya. Dan sekali lagi Arga mengecup bibir Bella yang masih bengkak akibat kulumannya itu. "Bel, maaf atas sikap lancang aku. Tetapi aku hanya ingin membuktikan perasaanku lewat tindakan impulsif aku buat cumbuan ini."
Arga mulai menjauh, tetapi apa yang ada di pikirkan Bella, ia malah menarik kerah jaket Arga dan mempertemukan kembali bibirnya dengan Arga. Seperti apa yang dikatakan Arga, sejenak Bella hanya ingin mengungkapkan perasaannya dan juga membuktikan apa yang ia pikirkan salah.
Bagaimana bisa saat Arga menciumnya ia masih bisa-bisanya memikirkan Abian di kepalanya. 'Si playboy itu malah ninggalin kamu gitu aja Bel! cuma karena bahas Amel aja.'
Pertanyaan lain malah masih muncul di kepala Bella tanpa permisi. "Astaga! Bella ingat pacaran dengan Abian tujuan awalnya hanya untuk balas dendam dan pembuktian." Pekik Bella dalam hatinya.
Bella mengakhiri tautan bibirnya sebab bukan alih-alih menyalurkan emosi perasaan, ia malah mengingat dan memenuhi pemikirannya dengan Abian. Harusnya Bella pantas untuk dimarahi atau dimaki saat seperti ini masih sempat memikirkan lelaki lain. Dan mencumbu lelaki yang berbeda dari pikirannya.
"Arga makasih yah, sudah mau antar aku pulang dan temani aku seharian ini." Pipi Bella bersemu memerah, ia tampak sedikit malu dengan apa yang ia lakukan pada Arga tadi.
"Bel, tunggu." Panggil Arga.
Bella yang baru hendak melangkah masuk ke dalam rumahnya, sejenak terhenti saat Arga memanggilnya. Manik mata coklat madu Bella memandang ke arah Arga yang menatapnya dengan lekat.
"Ada apa Ga."
Kemudian Arga menggapai tangan Bella, sementara Bella hanya dapat melihat ke arah tangannya yang di pegang Arga itu. Hatinya juga bertanya-tanya apa yang akan dikatakan oleh Arga padanya kali ini. Ada perasaan penasaran dan juga gugup yang menyerang dirinya saat ini.
"Bel, maaf kalau ini bukan waktu yang tepat dan aku gak mempersiapkannya dengan baik, tapi aku gak bisa terus tunggu dan diam memendamnya."
Tenggorokannya Bella terasa mengering. Produksi salivanya se akan berhenti. Ditambah wajah Arga terlihat serius. Bella jadi takut apa yang dipikirkannya benar adanya.
"Bella Gunarman, aku serius punya perasaan sama kamu. Aku mau kamu jadi pacar aku,” ucap Arga.
__ADS_1
Sedetik kemudian Bella merasa waktu berhenti sejenak dan hembusan napasnya terdengar pendek, sebab sedang menahan rasa keterkejutannya. Anehnya ada rasa aneh yang kini menyerang diri Bella, perasaan yang tak seharusnya datang hinggap di dalam hatinya. Rasa bersalah dan wajah Abian yang muncul di hadapannya. Bella merasa dirinya benar-benar gila.
Sampai langkah Bella sedikit mundur dengan wajah yang tertunduk.
"Kamu gak harus jawab sekarang Bel," ucap Arga.
Bella yang kembali tersadar, lalu mendongakkan kepalanya menatap tepat ke mata Arga. "Makasih yah Ga. Aku akan pikirkan baik-baik dulu. Kamu hati-hati nyetirnya."
"Ya Bel. Kalo ada apa-apa hubungi aku aja yah." Tangan besar milik Arga itu mengusap lembut rambut bagian depannya.
Kepala Bella mengangguk, memulas senyumnya sebelum melihat Arga berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran rumahnya. "Hati-hati, Ga." Hanya itu yang bisa Bella katakan saat Arga membuka pintunya dan menoleh ke arah Bella dan segera dibalas dengan senyuman manis Arga.
Menunggu sejenak sampai Arga melajukan mobilnya, Bella langsung masuk ke dalam rumahnya. Baru saja berjalan beberapa langkah dari pintu utama, suara bel pintu rumah Bella berbunyi.
"Ya, tunggu sebentar." Bella menyahut.
"Ayang, maafin aku yah," ucap Abian.
Tanpa permisi, memeluk tubuh Bella begitu erat. Sementara Bella masih tertegun, ia tidak menyangka jika Abian datang ke rumahnya selarut ini. Tangan Bella kemudian mendorong pundak Abian perlahan untuk mengurai pelukan yang dilakukan Abian secara mengejutkan dan dengan paksa.
Mata Bella memperhatikan wajah Abian dengan seksama. Sekilas Bella bisa mencium bau alkohol yang cukup pekat menguar dari mulut Abian.
"Mbak Bella, maaf tadi Mas Abian nya maksa ikut. Ini kunci mobilnya." Pak Deni supir Asa tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Abian.
Bella hanya dapat tersenyum simpul. "Makasih Pak Deni— Oh ya, Pak Deni pulang sama siapa?"
Bella berusaha mendudukkan Abian di depan kursi teras rumahnya. Meski itupun dengan bantuan pak Deni pada akhirnya, karena tubuh Abian yang berat dan sulit diatur.
__ADS_1
"Mau naik taksi online aja paling Mbak."
Mendengar itu Bella bergegas ke dalam rumahnya. "Pak Deni tunggu sebentar." Ucap Bella. Dari balik pintu rumahnya yang membuka. Tak lama Bella keluar membawa ponsel pintarnya. Sedikit lebih lama untuk menekan beberapa tombol pada layar ponselnya.
"Pak Deni, sebentar lagi, sekitar sepuluh menit sopir taksi online-nya datang. Bella sudah pesan."
Mendengar hal itu pak Deni tersenyum. "Terima kasih Mbak Bella."
Menunggu sekitar sepuluh menit taksi online yang pak Deni pesan akhirnya datang. "Mbak, gimana sama Mas Abian?" Pak Deni terlihat bingung.
"Nanti itu urusan saya Pak. Sekarang Pak Deni pulang aja— Oh iya, hampir lupa ini buat jajan Pak Deni. Makasih, sudah mau antar mobil saya."
"Iya Mba, sama-sama." Pak Deni langsung menerima beberapa uang lembaran seratus ribu yang Bella berikan. Perlahan taksi online yang ditumpangi pak Deni menjauh pergi kari pelataran rumah Bella.
Sejenak Bella memandang Abian, tangannya memijat kepalanya yang pening. "Astaga! Kenapa sih kamu nekat banget Bi." Bella mengguncangkan pundak Abian. Namun wajah Abian malah semakin tertunduk.
"Abian! Bangun. Lebih baik kamu pulang," ucap Bella.
Di detik berikutnya Abian menegakkan tubuhnya sambil tersenyum ke arah Bella yang sialnya terlihat tampan di mata Bella dan jantungnya berdegup hebat. Meski Bella sering berkelit tentang perasaannya pada Abian tak sepenuhnya sama saat mereka masih sekolah dulu, nyatanya melihat Abian seperti ini saja rasa marah Bella yang tadi siang yang menggebu kini berubah menjadi berkurang. Bahkan bibirnya dengan mudah menyunggingkan senyum saat melihat wajah Abian.
"Tapi kamu maafin aku 'kan Ayang. Tadi itu aku cuma lagi kesel aja saat kita jalan berdua kamu bahas Amel. Sumpah asal kamu tau Ayang aku lagi muak dengar Amel, dengar namanya buat aku naik emosi. Aku gak mau menikah sama dia." Rancauan Abian membuat Bella terdiam.
Kata 'Menikahi Amel' membuat bermacam spekulasi di kepala Bella.
"Kenapa begitu?" Bella bersuara, meskipun tak siap dengan kemungkinan jawaban yang akan membuatnya sakit hati, rasanya Bella hanya ingin tahu apa yang tengah Abian sembunyikan dari dirinya.
Seketika wajah Abian terlihat geram dan rahangnya gemeletuk. "Dia hamil dan aku harus tanggung jawab bayi yang ada di kandungannya padahal aku yakin itu bukan bayi yang aku buat. Aku tau masa lalu aku sulit dimaafkan tapi Bella.. sayang! Bisa gak kamu percaya aku satu kali ini aja. Aku janji akan buktikan semua rasa cinta aku gak bohong. Jangan pergi. Maafin aku,“ ucap Abian bahkan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Semua terlihat kacau sebenarnya Bella sudah tau tentang kabar Amel. Ya, Bella tau tapi sikap Abian yang menariknya lagi membuatnya lemah dan bertanya-tanya apa ia harus memberi kesempatan lagi dan kembali bersama Abian.