
Sesudah pertemuan keluarga Arga, sejenak Bella menjadi berpikir. Kesungguhan Arga untuk meminangnya bukan hanya sebatas omongan saja. Arga membenar-benar mbuktikan omongannya bukan sekedar janji manis ketika jatuh cinta.
Bella sadar, keputusannya untuk menjauhi Abian sudah benar dan itu sudah ia niatkan jauh di dalam hatinya. Tapi entah mengapa, Bella merasakan sedikit rasa rindu pada Abian lagi. Seolah siksaan rasa itu bersemayam dalam hatinya. Mengakar dan sulit ia basmi hanya dengan mengingat rasa sakit. Karena nyatanya hatinya terlalu lembek hanya dengan mengingat kenangan manis bersama Abian sedikit saja hatinya sudah kembali memaafkan dan melupakan sakit hatinya.
Kenapa dan kenapa ia menjadi bodoh. Pikiran lain dari Bella mengomel. Tidak mungkin ia menyia-nyiakan Arga yang jelas-jelas sudah lebih baik dari Abian.
“Bel, kamu kenapa?“
Pertanyaan sederhana itu membuat Bella yang sedang berada di restoran bersama Arga memandang wajah Arga.
“Enggak apa-apa kok.“ Jawaban klise yang disertai dengan senyuman palsu
Arga memperhatikan wajah Bella hati-hati dan itu membuat Bella menggigit pipi hagian dalamnya. “Kenapa?“ Bella balik bertanya.
“Muka kamu gak bisa bohong. Kenapa? Cerita sama aku gak ada salahnya, sayang.“ Suara Arga mengalun lembut. Tangannya yang hangat mengusap sebelah pipi Bella dan mengusap lembut Surai rambutnya.
Sayangnya, kata-kata itu malah membuat Bella tersadar jika pernikahannya dengan Arga tinggal menghitung bulan saja. Jujur saja hatinya masih saja menimbang apa dengan menikah dengan Arga ia bisa benar-benar move on dan melupakan Abian.
Tentu semenjak pertemuan keluarga besar dimulai, status Bella bukan hanya sekedar teman dekat. Jelas Bella otomatis diperkenalkan sebagai pacar Arga padahal jika diingat keputusan Bella kala itu menerima Arga hanya sebatas untuk membuat Abian menjauh dan juga untuk membunuh perasaan cintanya yang terlalu bersarang di dalam hatinya.
Bella tidak mau lagi menjadi bodoh karena mencintai Abian. Rasanya sudah cukup tentang semuanya hatinya benar-benar lelah. Sepertinya semesta memang tidak mengizinkan Bella bersama Abian. Seperti cerita cinta dengan latar happy ending, dua manusia yang jatuh cinta. Kisah cinta Abian dan Bella hanya sebatas rasa sakit yang terus Bella terima.
Sebagai wanita ia tidak tega meminta Abian untuk meninggalkan Amel yang sedang hamil. Meskipun Abian bilang bila ia bisa membuktikannya kalau di janin Amel adalah milik Marsel tapi sekali lagi Bella tidak ingin membuat kedua orangtuanya sengsara hanya karena keinginan kuatnya bersama Abian.
Cinta yang Bella alami nyatanya hanya cinta yang sakit dan memerlukan lebih banyak pengorbanan dengan membuat dirinya kehilangan diri sendiri. Tapi kenapa saat bertemu Abian dan menyadari kenyataan ia malah seolah menikmati setiap titik kecil rasa sakit itu.
Ia menjadi bodoh dengan perasaan dan kata cinta. Berharap rasa sakitnya yang ia tanggung sedemikian rupa bisa berkurang
Jelas itu bukan jenis cinta yang sehat dan juga cjnta yang layak untuk di pertahankan seumur hidupnya.
“Aku gak apa-apa Ga,” jawab Bella.
Bella selalu merasa ia lebih baik menyimpan semuanya. Ia juga tidak mau membuat Arga terluka. Lelaki di depannya ini terlalu baik dan terlalu bodoh jika sampai Bella menyia-nyiakan nya.
__ADS_1
Arga menghela napasnya. “Ya, aku ngerti kok. Tapi Jangan terlalu memendam semuanya sendiri. Aku nggak mau kamu tertekan dan trauma kamu makin memburuk.“
Mencoba menampakan senyuman terbaiknya, Bella menggapai tangan Arga dan mengusap punggung tangannya lembut.
“Dari pada bahas aku kenapa, lebih baik kita bahas tentang pemotretan prewedding kita. Kamu bilang kita mau fotonya di Bandung?“ tanya Bella.
Mendengar topik itu, Bella bisa melihat ada binar terang di mata Arga yang tidak bisa dipungkiri jika Arga— Calon suaminya itu memang sangat bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menikahinya.
“Tentu, aku udah siapin semuanya dan aku juga mau ajak kamu ketempat yang spesial dan ketemu sama orang yang berjasa banyak untuk hidup aku.“
“Kalau gitu aku harus bawa sesuatu dong ke sana. Aku bawain kue yah, gimana?“
“Dia nggak bisa makan kue sayang.. Lebih baik kamu bawa bunga dia lebih suka kalau kamu bawa bunga,” jawab Arga.
“Sukanya bunga apa?“ Bella balik bertanya.
“Mawar, Lili atau Krisan juga boleh kok.“
Secercah senyum Bella sunggingkan. Ia bersembunyi bertemu orang yang banyak berjasa untuk Arga itu. “Oke, aku bawa tiga-tiganya deh.“
Mendengar itu hati kecil Bella tersentuh. Bagaimana bisa ia masih memikirkan Abian sementara Arga dengan jelas-jelas mencintainya tanpa pamrih. Harusnya Bella tau diri dan belajar dari pengalamannya untuk tidak menyia-nyiakan lelaki sebaik Arga.
Tangan Mela menarik lengan Arga dan mempertemuakn bibirnya dengan bibir Arga. Sedikiymemberi dorongan dan juga memberikan sentuhan pada pinggang Arga yang ia peluk dengan erat.
Keberanian keinginan bela terbentuk. Ia tidak merasa malu karena sedang ada di kantor Arga.
“Ciuman buat apa, Bel?“ tanya Arga. Deru hangat napasnya terasa harum jus mangga dan membuat Bella kembali memberi kecupan singkat lagi di bibir Arga.
“Pengen cium kamu aja. Harus banget pakai alasan yah cium bibir kamu pakai alasan buat aku?“ Nada suara Bella menjadi manja.
Arga terkekeh kecil. “Memang kamu itu gak pernah bisa terprediksi yah.“
“Nanti malam aku main ke rumah,” ucap Arga.
__ADS_1
Kepala Bella mengangguk kecil. “Mm, datang aja. Aku gak kemana-mana kok.“
Dengan nyaman Bella menyandarkan wajahnya pada tulang selangka Arga. “Aku harus dandan juga gak?“
“Terserah kamu aja. Kalaupun kita mau keluar aku gak masalah tunggu kamu dandan,” timpal Raka.
Mendengar jawaban itu Bella sedikit mendongak. “Sabarnya pacar aku. Kadang aku suka merasa gak pantes buat dapatkan kamu, Ga.“
Arga menatap Bella dengan tatapan sendunya. “Aku yang lebih merasa begitu Bel. Jangan merendahkan diri kamu.“
“Tapi kamu tau aku bahkan udah—” Kata-kata Bella tertelan di tenggorokannya. “Aku.. udah kasih kegadisan aku sama orang lain. Bukannya sama kamu yang nikahin aku.“ Suara Bella bergetar.
Ia merasa perlu mengungkapkan hal ini langsung pada Arga meski saat ini bukan saat yang tepat tapi Bella tidak ingin hal ini malah membuat Arga semakin kecewa di malam pertama mereka nanti.
“Aku juga udah melakukan hubungan intim intim yang pertama bukan sama kamu. It's okay sayang. Bukan berarti aku nikahin kamu karena ini dan itu masalah kamu masih gadis atau apapun itu. Aku nikah karena aku cinta kamu dan aku merasa ingin menghabiskan sisa hidup aku sama kamu dan terpenting kalau Sang Pencipta kasih aku kepercayaan buat punya anak dari kamu itu bakal melengkapi hidup aku.“
Penjelasan itu semakin membuat Bella tidak bisa berkata-kata dan beruntung Sang Pencipta mempertemukannya dengan Arga.
•••
Sepulang dari kantor Arga, kembali lagi Bella melakukan aktivitasnya pergi kesalah satu cabang toko kue milik keluarganya dibilangan Jakarta Utara.
Semua berjalan biasa saja sampai Bella memarkirkan mobilnya dan tubuh Bella membeku.
“Cecilia, kamu—”
“Kak Abian kecelakaan Kak, please ikut aku ke rumah sakit buat ketemu kak Abian sebentar aja.“ Suara Cecilia terdengar sesegukan.
Dan membuat hati kecil Bella menjadi tidak tega.
“Kamu ke sini sama siapa?“ tanya Bella.
“Aku naik taksi. Aku kesini karena tanya salah satu karyawan Kakak di toko kue.“ Jelas Cecilia.
__ADS_1
“Ya udah kita langsung ke rumah sakit.“
Kembali Bella masuk ke dalam mobilnyydan memberi tahukan karyawannya Bella ada urusan mendadak. Dan satu lagi yang Bella lakukan, ia memberitahu Arga tujuannya menjenguk Arga.