
“Ayang, aku jemput di toko yah. Kita jadi mau makan malam sama mami dan Cecil.“
Itu adalah isi pesan yang dikirimkan Abian sekitar sepuluh menit yang lalu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang sekitar dua satu jam lagi waktu istirahat akan berlangsung.
Kemarin jujur saja Bella sedikit terkejut dengan apa yang Abian perlihatkan dan juga katakan. Meski ucapan Alisa yang masih terniang jelas di dalam kepalanya tetapi perasaan dan keinginan hati kecil Bella untuk memaafkan juga sangat menggebu untuk Abian.
Lagi-lagi masalah Abian akan membuat Bella lemah. Cukup dengan perlakuan baik dan janji yang Abian ucapkan dengan sepenuh hatinya sudah membuat Bella luluh, ikhlas untuk memberikan kesempatan kedua.
Rasanya semua orang harus memberikan hal itu bukan. Karena sebagai manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan kesalah di masa lalu selalu punya jalan yang baik di masa depan.
Tok.. Tok!
“Nak, boleh Mama masuk?“ Suara mama Misya terdengar dibalik pintu.
Bella bangkit dari kursinya dengan segera membukakan pintu. Senyuman Bella terpancar manis untuk menyambut kedatangan mama-nya.
“Ada apa Ma?“ tanya Bella.
Mama Misya melangkah masuk dan duduk di kursi yang tak jauh dari meja kerja Bella.
“Bel, katanya kamu memang siang ini kauakan malam bersama sama mami dan juga adik Abian?“ tanya mama Misya.
Kepala Bella mengangguk. “Iya Ma, nanti setelah itu katanya Abian juga mau makan ketemu sama Mama dan papa juga,” sahut Bella.
Netra mama Misya tampak memandang putrinya dengan tatapan mendalam dan sulit untuk diartikan. Tangannya juga mengelus rambut Bella dengan sayang.
“Bel.. Mama senang kamu bisa kenal orangtua Abian. Begitu juga Abian yang mau ketemu sama Mama dan papa. Kemarin pas kamu pergi Arga datang ke rumah.“
Bella terdiam dan rasa penasarannya timbul. “Berapa lama di rumah Ma? Tapi Arga gak kabarin Bella.“ Jujur Bella.
Benar, setelah sampai di rumah pun Bella hanya mendapat pesan dari Abian.
“Gak lama sih, Mama tapi sempat ngobrol banyak sama Arga— Papa juga banyak ngobrol sama Arga.“
Iya, memang tidak ada yang salah interaksi antara orangtuanya dengan Arga. Maklum saja semenjak kuliah dan sebelum bertemu dengan Abian lagi Arga memang sangat dekat dan saling mengenal satu sama lain. Arga juga pernah membawa Bella pada acara keluarganya.
“Oh gitu, nanti deh coba Bella tanya sama Arga.“
“Bel, sepertinya Arga memang belum bilang sama kamu yah. Atau karena kalian sempat sibuk masing-masing beberapa bulan ini.“
Kerutan dahi Bella semakin dalam. Hela napasnya menjadi sedikit berat.
__ADS_1
“Bilang apa Ma?“ Bella bertanya.
“Lebih baik kamu tanya langsung sama Arga aja Nak, mama gak mau ikut campur terlalu jauh sama hubungan kalian kalau memang Arga belum bilang sama kamu.“
Menyentuh sebelah pipi Bella lembut. Sorot mata keibuan yang membuat Bella merasa lebih baik setiap harinya.
“Ya udah kamu berangkat sana. Hati-hati yah, salam aja buat Abian dan juga keluarganya.“
Berpamitan, juga melakukan pelukan singkat, Bella menyampirkan tas selempang kecilnya pada bahu kanannya.
Dengan langkah tegak, pandangan yang lurus juga senyumnya Bella melangkah menuju tempat parkir. Sesudah pamit tadi, Abian menelepon Bella dan memberi tahu jika ia akan sampai di sekitar lima menit lagi.
“Hai ayang, maaf yah aku terlambat.“ Abian turun dari mobilnya dan menghampiri Bella.
“Gak apa-apa kok, aku yang kecepatan tunggu kamu.“ Bella memulas senyumnya.
“Loh, kamu bawa apa?“
“Ini,” Bella menunjukkan kantong plastik besar di tangan kanannya seakan mengerti maksud Abian.
“Ini kue buat cemilan aja.“
“Pantas kamu tadi nanya mami suka coklat atau buah. Aduh ayang, gak perlu repot-repot.“
Tangan Abian menggenggam tangan Bella, tatapan matanya penuh cinta. “Makasih yah, aku yakin mami pasti senang. Kalau gitu ayo. Aku gak sabar mau tunjukkan kamu sama mami.“
Pengalaman pertama bertemu dengan 'calon mertua' pasti sangat menegangkan. Meski Abian terus meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Mamanya akan menyukai Bella.
Setidaknya ada sedikit kepercayaan dalam diri Bella meski itu hanya setitik. Keadaan Bella masuk ke dalam kehidupan Abian saat ini memang membuat posisinya tidak baik.
Bukan tanpa sebab karena Abian ingin menikah dengan Amel dalam kondisi Amel yang berbadan dua.
“Halo Tante Wina, salam kenal.“ Bella memberikan salamnya saat pandangan mereka bertemu.
“Ya, salam kenal Bella.“
Entah mengapa tanggapan tante Wina terasa sangat datar ataukah memang Bella yang berharap terlalu berlebihan.
“Hai, Kak Bella. Aku gak sangka Kakak jadi pacarnya Kak Abian.“ Sambutan Cecil terasa lebih riang dan hangat bahkan memeluk Bella untuk melakukan cipika-cipiki.
“Oh iya, ini ada kue cheese fruit berry dari Bella, Mi.“ Abian mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit kaku.
__ADS_1
“Jadi kamu sudah berapa lama pacaran sama Abian?“ Pertanyaan langsung tanpa basa-basi itu ketika Bella baru duduk sangat mengidikasi jika Tante Wina terlihat keberatan dengan hubungannya dengan Abian.
“Udah lama Mi sebenarnya. Abian baru ngenalin aja sama Mami. Aku sama Bella itu udah kenal lama dari SMA.“
Tante Wina menatap tajam pada Abian. “Kenapa sih kamu gak berhenti buat masalah Abian.“
Mendengar hal itu Bella bisa merasakan tangan Abian mengepal. “Terserah Mami mau bilang apa. Yang pasti Abian hanya akan menikahi Bella.“ Abian berucap serius.
Sementar Cecil terlihat merunduk takut dengan adegan bersitegang ini.
“Tante maaf,” ucap Bella.
Pantasnya Bella mengucapkan hal itu terlebih dahulu.
“Kamu gak perlu minta maaf sayang,” ucap Abian.
Tatapan mata Tante Wina kemudian menatap Bella dengan sorot matanya yang tajam dan penuh intimidasi.
“Bella saya tau kamu siapa. Keluarga kamu seperti apa. Lebih baik kamu lupakan perasaan kamu dengan Abian, cari lelaki yang lebih baik. Saya tau kamu dulu mantan Abian, semua cerita itu sudah saya dengar dari Amel.“
Sekujur tubuh Bella, lemah mendengar penjelasan itu.
“Mi!“ pekik Abian.
“Abian, apa kamu tau kalau dulu Amel pernah keguguran anak kamu? Terus kamu bilang kalau ini bukan anak kamu dan Amel, meskipun begitu kamu harus menikahi dia Abian kamu harus bertanggung jawab untuk masa lalu kamu. Pikirkan rasa kemanusiaan kamu.“ Jelas tante Wina dengan suaranya yang bercicit dan bergetar menahan amarahnya.
Bagai tersambar petir disiang bolong, Bella tidak tau jika semua hal yang terjadi pada Amel dan Abian di masa lalu benar-benar membuat pikirannya syok. Kedua matanya bahkan membeku. Telinganya yang mendengar kabar itu juga ikut memanas.
Bila saja ini semua mimpi Bella ingin bangun secepatnya. Bagianya ini mimpi yang lebih seram daripada bertemu makhluk halus.
“Mi, tapi Abian gak bisa nikah sama Amel. Abian mencintai Bella dan anak yang di dalam perut Amel itu bukan Abian yang lakuin. Itu punya Marsel— Mi!“ Meski suara Abian tetap tenang tapi Bella bisa merasakan Abian menakan kata-katanya cukup dalam.
“Mi.. Kak Bian, kalian jangan berantem di tempat umum. Kak Bella nanti syok dengarnya.“
“Bella harus tau ini Cecil, kamu juga harus tau kelakuan Kakakmu itu seperti apa!“ Tegas tante Wina.
Dan kepala Bella pening sampai akhirnya kepalanya berputar dan napasnya sesak. Semuanya terasa lambat, Bella tidak bisa ada di situasi ini dan tanganya mencengkeram kuat ujung dressnya.
Bruk!
“Bel.. Bella Sayang,” pekik Abian.
__ADS_1
Karena trauma di masa lalu, tubuh Bella ambruk jatuh begitu saja tidak sadarkan diri.