
Meski tak bisa mengelilingi lapangan GBK satu putaran penuh seperti pengunjung lainya tetapi bagi Bella sudah bisa melakukan setengahnya saja sebuah pencapaian yang besar mengingat Bella sangat tidak mood berolahraga di hari libur seperti ini.
Iya benar Bella memang suka melakukan pilates, yoga atau bermain tenis tapi Bella paling tidak suka pada pemilihan waktunya saja.
Nyatanya pesona dan kemampuan penyihir Abian masih sangat tinggi.
“Bel, habis ini makan dulu yah. Lapar juga habis jalan santai gini 'kan. Lo juga pasti belum sempat sarapan,” tutur Abian.
“Boleh aja sih. Tapi gue udah sarapan kok tadi.“ Bella menjawab.
Dahi Abian berkerut. “Sarapan apa? Kita 'kan janji ketemuannya pagi banget. Memang sempat makan apa?“ Abian sudah berondong dengan pertanyaan.
“Em, minum susu tadi.“ Bella menjawab seadanya.
“Aduh itu bukan makan tapi minum, sayang.. beda namanya.“ Suara kekehan manis Abian terdengar menyapa rungu Bella.
Kata sayang yang Abian katakan seperti ditunjukkan hanya untuknya tapi Bella yang mengenal Abian meragu kata sayang itu memang tulus dari hatinya. Tetapi seorang wanita yang suka diperlakukan manis membuat Bella merasa ada getaran di dalam hatinya dan juga kupu-kupu kecil yang menggelitik perutnya.
Wajah galak dan ucapan pedasnya sudah luluh. Setelah Abian menggandengnya dan berhenti di area parkir timur tempat mereka bertemu pagi-pagi buta tadi.
“A-bian gimana kita sarapan- nya sekalian jalan arah pulang aja.” Pinta Bella.
kepala Abian mengangguk. “Ya sudah gue ikut pulang sama lo aja yah. Gak masalah 'kan.” Abian memamerkan deretan gigi rapinya.
Pertanyaan yang menjebak dan berisi bujukkan yang mematikan. Bella juga tidak bisa untuk bilang tidak pada hal seperti ini. Jelas Abian sangat paham kelemahannya. Satu hal yang membuat Bella penasaran kali ini. Apa Abian benar-benar tidak membawa mobil.
“Tadi ke sini naik apa,” tanya Bella.
“Taksi online, lagian malas kalau harus bawa mobil di hari libur. Kayak gak paham Jakarta gimana situasinya.” Santai Abian berucap.
Kepala Bella mendidih dan memutar bola matanya malas. Abian benar-benar mengerjainya rupanya. “Pulang sendiri nanti yah, gue males antarnya lagian rumah kita berlawanan arah.” Bella tetap tak ingin kalah dan ingin menegaskan jika hubungan mereka harus punya batasan yang jelas.
Iya, Bella tau ia harus balas dendam tapi jika ia sendiri yang jatuh dalam jurang tipu daya dan rayuan mulut manis Abian malah ia yang akan berbalik menjadi seekor kelinci yang akan diterkam oleh macan.
“Ya, sayang.“ Abian mengerlingkan sebelah matanya.
“Apa,” kata Bella seakan tak percaya pada pendengarannya, sebab Abian terus mengatakan kata sayang padanya.
“Ayo, makan lapar. Atau mau dicium lagi.” Tatapan mata Abian terlihat genit.
Melihat hal itu Bella bergidik ngeri kemudian melemparkan kunci mobilnya ke arah Abian yang langsung berhasil ditangkap dengan sempurna.
__ADS_1
“Lo numpang, jadi lo yang nyetir.“ Tegas Bella.
“Siap tuan putri. Siap laksanakan.“
Bella mendengus geli dan menghentak langkahnya menuju bagian penumpang bagian belakang stir. Tapi pintu yang baru Abian buka malah kembali ia tutup.
“Bel, memangnya gue supir lo, duduk samping gue lah.“
Mata Bella memandang pada wajah Abian yang benar-benar ingin sekali ia cakar dengan kukunya. Tapi tentu saja keberanian Bella hanya sebatas ujung kukunya. Tentu Bella masih ingat jika ia masih membutuhkan Abian sebagai jaminannya untuk mendapat ijazah.
(Nyebelin! Awas yah Abian gue tau lo cuma lagi modusin gue aja.) Batin Bella kesal.
Dan Bella tidak tau apa setelah ini hatinya baik-baik saja dan firasatnya kini mulai bermain. Pikiran negatifnya tentang Abian kembali muncul.
Apa ini adalah perlakuan Abian yang sebenarnya pada semua perempuan yang cantik atau?
Bella lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak mungkin ia tahu." Monolog Bella.
Abian sedang duduk tenang di balik kemudi. Sementara sampingnya ada Bella yang tengah asik diam memandang ke arah luar kaca jendela mobil.
"Bel, jangan melamun." Tegur Abian.
Tanpa menoleh sedikitpun Bella menjawab, "Siapa yang melamun, gue lagi lihatin jalanan kali.“
Namun Bella memilih diam dan tidak menanggapi ocehan Abian yang berusa melucu tapi sayangnya malah ditanggapi dengan garing oleh Bella.
"Buat apa diliatin terus tuh jalanan gak akan berubah. Setiap hari tetap sama kok. Isinya cuma kendaraan aja paling ada polisi atau pedagang asongan aja,” tutur Abian.
"Nggak masalah, dari pada melamun. Kan kata lo nggak boleh melamun,” balas Bella.
Abian mendengus geli. “Ya, terserah pacar gue deh yang lagi ngambek."
Bella memutar bola matanya malas. Abian benar-benar menyebalkan serta tingkat percaya dirinya sangat tinggi melebihi gedung pencakar langit. "Itu lo aja gue mah enggak. Kita mau makan di mana sih?" Akhirnya Bella memandang ke arah Abian.
Abian menginjak pedal remnya lembut. Meski masih sedikit terlambat, Abian cukup mempunyai respons yang baik. Membiarkan para pejalan kaki untuk menyeberangi jalan yang hilir mudik menyebrang secara sembarangan itu.
"Bel, sarapan bubur ayam. Lo suka 'kan?" Dari nada suaranya Abian tengah meminta persetujuan dari Bella.
"Padahal di GBK (Gelora Bung Karno) juga tadi ada,” celetuk Bella.
Tak berselang lama Abian kembali melajukan lagi mobilnya.
__ADS_1
"Tetapi gue enggak suka rasanya." Dalih Abian.
Bella menyipitkan matanya. "Abian lo banyak trik," ucap Bella acuh.
Bibir Abian menyunggingkan senyum, sementara tangannya menarik tuas rem tangan dan bersiap mematikan mesin mobil.
"Gue kerja di bidang kreatif sudah pasti harus punya banyak trik. Sudah, marahnya. Atau mau dicium lagi. Ketagihan yah.“ Abian menatap Bella dengan pandangan genitnya.
Abian semakin mendekatkan wajahnya, tubuh Bella secara perlahan mudur teratur hingga ia bisa merasakan kaca jendela pintu mobilnya menyentuh kepalannya.
"A-abian!" Bella memekik, menutup kedua matanya rapat-rapat.
Jarak antara keduanya semakin menipis. Suara Bella seperti tertelan di dalam perutnya. Bibir tipisnya berusaha ia kulum ke dalam mulutnya. Bella tidak mau sampai Abian mendapatkan kembali bibirnya.
Satu atau dua kali mungkin Bella bisa terpedaya tapi untuk ketiga kalinya Bella tidak mau hal itu terjadi. Hal itu sama saja ia menikmati dan membiarkan Abian telus memonopoli dirinya.
"Jangan takut, Bel. Gue memang suka curi kesempatan tetapi gue nggak akan paksa lo Apa lagi lo udah kasih penolakkan gini. Kalau memang nggak ada konklusi antara kita berdua gue gak akan melakukan kekerasan fisik sama lo." ucap Abian berbisik tepat di telinga Bella.
Tak lama Abian mendaratkan bibirnya di pipi dan sudut bibir Bella. Dan menjauhkan dirinya dari Bella.
(Heh! dia bilang gak akan cium tapi kenyataannya zonk.) Batin Bella setelah abain selesai mendaratkan bibirnya bagian wajah Bella.
"Hei, ayo. Jangan tidur di sini sayang," ucap Abian, disusul suara kekehannya.
Bella membuka matanya perlahan. Pandangannya kini menajam kearah Abian yang tersenyum tepat ke arahnya.
Plak! Bella memukul dada bidang Abian. "Jangan cium-cium sembarangan, Abian!" Bibir Bella mencebik kesal.
"Kenapa sih, memang memang gak boleh."
Bella kini menatap Abian horor. "Pakai tanya lagi, nggak boleh pokoknya yah nggak boleh. Tadi bilang gak maksa,”
“Ya emang gak maksa cuma memanfaatkan kesempatan aja. Lagi pula cuman ciuman pipi atau bibir itu biasa, Sa. Gak perlu kolot gitu.“ Abian santai menjawab.
Kemudian tersenyum dengan penuh arti. "Waktu di lounge apa lo gak ingat atau lupa.. Bukannya Lo juga pernah memanfaatkan kesempatan juga sama kayak gue. Perlu gue ingetin lo sendiri yang cium gue duluan, naik ke pangkuan gue terus― " Perkataan Abian terputus sebab Bella sudah menutup mulut Abian terlebih dahulu. Dan Abian dapat memastikan wajah Bella sudah bersemu memerah.
"Cerewet, lebih baik kita makan." Bella berlalu begitu saja keluar dari mobilnya.
Dan disusul oleh Abian yang juga ikut keluar mengekori. Dengan wajahnya yang tersenyum.
“Sayangku yang gemes.. tunggu dong.“ Abian bertutur jahil.
__ADS_1
Dan Bella malah semakin melaju cepat seakan tengah dikejar maling.
"Dasar sinting!" Gerutu Bella.