Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 62


__ADS_3

Mata Bella mengerejap. Kepalanya pening dan saat matanya membuka ada wajah Abian yang terlihat cemas di depannya.


“Ayang gimana? Masih pusing?“ tanya Abian.


Sejenak Bella memandang Abian dengan tatapan kosongnya dan kemudian membalik tubuhnya menjadi menyamping, memunggungi Abian.


“Sayang,” panggil Abian lagi.


Tapi Bella tetap bergeming dan memejamkan matanya.


“Oke.. oke deh kalau gitu. Aku biarin kamu tenang dulu. Kalau apa-apa aku ada di luar yah kamu panggil aja,” ucap Abian.


Setelah mengatakan hal itu, Abian kelaut dari ruangan tempat Bella terbaring.


Rasanya sakit, mata Bella panas dan air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. Kepalanya sudah pusing karena pingsan sekarang ia bertambah pusing karena memikirkan ucapan Tante Wina tentang apa yang terjadi pada Abian yang tidak Bella ketahui.


Kejadian yang selama ini selalu Abian tutupi dengan rapat dan sekarang Bella bertanya-tanya sejauh mana juga berapa banyak hal yang Abian sengaja tutupi darinya.


Abian memang nakal, dia playboy dan Bella tau ia tidak bisa memperbaiki Abian. Angannya serta harapannya yang mulia tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan.


Menekan diri, menahan perasaan sakitnya nyatanya hanya sebuah lingkaran api yang terus berputar melahap dirinya. Menguji dirinya sejauh apa Bella akan bertahan pada laki-laki yang ia cintai.


Tidak seperti sebuah dongeng dalam sebuah buku atau kisah film romantis yang ada di layar kaca. Bella harus menerima kenyataan jika cinta dan sakit hati tidak pernah bisa terpisahkan.


Bella mengambil ponselnya yang berada di dalam ponselnya. Saat ini Bella butuh Alisa, sahabatnya.


Maka dengan keberaniannya Bella menekan tombol memanggil sambil menekan bibirnya.


“Iya Bel, ada apa?“ Alisa menjawab panggilan teleponnya.


Mendengar suara Alisa saja membuat Bella lega. Sahabatnya ini memang marah tapi dibalik semua itu Bella tau jika sahabatnya masih baik padanya.


“Sa.. gue ada di rumah sakit. Bisa lo datang ke sini.“ Pinta Bella.


“Lo di rumah sakit mana?“ tanya Alisa. Suara Alisa tampak terkejut dan juga khawatir


Bella kemudian memberitahu rumah sakit dan juga ruang inap tempat ia berada saat ini.


“Ya udah tunggu gue bakal ke sana,” jawab Alisa.

__ADS_1


“Sa, tapi jangan bilang mama Misya yah gue masuk rumah sakit,” cicit Bella.


Rasanya tidak ingin membuat mama Misya semakin panik apalagi menambah beban pikiran. Tapi lebih dari itu Bella tidak mau Abian menajdi masalah yang diketahui mama Misya. Bagianya urusan pribadinya biarkan ia yang menyelesaikannya sendiri.


“Oke, gue tau pasti ini ulah si playboy tengik itu.“ Nada suara Alisa terdengar kesal.


“Sa, jangan kayak gitu.“


“Terserah deh Bel, gue on the way.“


Tak lama setelah itu Alisa mengakhiri percakapan telepon mereka terlebih dahulu.


Jika dilihat dari tanggapannya Alisa, pasti perasaan sebal Alisa masih besar pada dirinya. Wajar sih, Bella sadar dirinya memang selalu bodoh soal menyoal Abian.


Sekarang pikiran Bella sudah lebih terbuka. Ternyata benar lebih baik mencegah dari pada mengobati itu memang pepatah yang pantas tidak hanya untuk sakit secara fisik tetapi sakit secara batin juga.


Sesaat menyelesaikan teleponnya, pintu ruangan kamar Bella kembali terbuka menampilkan Abian yang masuk. Bella memilih memejamkan matanya, ia malas melihat wajah Abian saat ini.


Bella hanya berharap Alisa cepat datang dan membawa Bella untuk segera pergi dari rumah sakit.


“Kamu gak perlu pura-pura tidur seperti. Aku tau kok kamu lagi menghindari aku. Aku minta maaf soal itu,” tutur Abian.


“Abian,” panggil Bella.


Kemudian Bella melepaskan cincin yang tersemat di jarinya. Cincin yang baru beberyhari Abian berikan, rasanya seperti dejavu. Bella selalu melepaskan cincinya saat ia akan putus dengan Abian.


“Abian rasanya lebih baik kita tetap jaga jarak. itu lebih baik untuk kamu dan aku. Perasaan kita hanya sebatas cinta yang terselesaikan aja. Aku rasa udah cukup untuk menebus masa lalu, rasa bersalah maupun dendam yang aku rasakan pada kamu.“


Cincin yang Bella genggam, diletakkannya pada tangan Abian yang telah Bella genggam.


“Bella sayang.. please jangan kayak gini. Aku sedang berusaha mati-matian buat cari jalan keluar. Aku udah nunjukin keseriusan aku buat pinang kamu tuh seberapa besar. Kenapa sih kamu gak percaya aku. Apa gak bisa kamu bertahan sebentar lagi?“


Suara Abian yang lirih membuat hati Bella lemah. Tapi Bella merasa batas kesanggupannya untuk mempertahankan cintanya untuk Abian sudah diambang normal.


“Abian.. aku capek! Aku gak mau bertahan. Aku mau hidup, aku mau bahagia.“


Pada akhirnya Bella merasa hubungan dengan Abian tidak akan pernah berhasil hubungan bolak-balik yang selama ini ia lakukan dengan Abian hanya berujung saling menyakiti sama lain dan itu sangat tidak baik.


Bella tidak mau dirinya hancur, hancur perlahan dengan mengubah dirinya hanya demi mempertahankan hubungannya dengan Abian dan juga sebaliknya. Abian tidak bisa mengubah semua yang telah terjadi di masa lalu untuk Bella.

__ADS_1


Masalah yang mereka hadapi terlalu pelik dan Bella rasa ia tidak bisa bertahan lagi.


Abian terdiam, namun Bella bisa mendengar jika Abian meletakkan cincinnya di atas nakas dekat tempat Bella berbaring.


“Aku akan bahagiain kamu Bel. Apapun caranya!“ Tegas Abian.


Air mata Bella kembali menetes dan urat di darinya terlihat tegang karena lelah menangis memerah sebanyak mungkin air mata.


“Please Abi, caranya buat aku bahagia dengan ikhlaskan aku. Kita cari kisah hidup masing-masing.“


Dengan sisa tenaga dan keberaniannya Bella menggapai pergelangan tangan Abian. “Maaf, maafin aku Abian.. Aku gak bisa nyebuhin kamu, aku juga gak bisa buat mewujudkan hubungan yang kamu impikan.“


“Ya aku juga..aku gak bisa wujudkan apa yang kamu inginkan.“


Sesudah perdebatan itu Abian keluar begitu saja dari kamar tempat Bella dirawat.


Bella mencoba ikhlas dan ia mencoba berhati lapang. Hatinya terus berucap jika ini pilihan yang terbaik, semuanya ke depan akan baik-baik saja. Untuk Abian, Bella maupun dengan Amel dan jangan lupakan bayi yang Amel kandung.


Meskipun Bella amat membenci Amel tetapi Bella tidak bisa bisa membenci dan berhak untuk menyalahkan bayi yang ada di perut Amel. Terutama penjelasan Amel yang harus keguguran anak Abian sebelumnya.


Biarpun pasti ada cerita dibalik itu semua tapi Bella memilih tidak ikut campur terlalu dalam lagi. Sudah cukup bagi Bella dan rasanya ini yang dinamakan jika cinta tidak harus memiliki itu hal yang pantas untuk hubungan Abian dan dirinya.


Lama berselang, Alisa datang namun ia tidak sendirian ada Arga yang datang.


Disaat terburuknya semenjak Bella berada dititik terendah karena Abian, hanya satu lelaki yang setia menemaninya yaitu Arga.


Laki-laki yang mencintainya dalam diam sampai saat Bella dengar baru-baru ini.


“Bel, nanti minta suntik vitamin aja yah. Bibirnya pucat banget. Nanti pulang mau makan apa? Mie ayam atau bakso?“ tanya Arga.


Mendengar itu Bella menangis.


“Bel? Apanya yang sakit?“


Alisa dengan sigap memeluk Mela dan Bella meluapkan perasaannya yang sedang dalam deburan ombak yang ganas di tengah lautan.


Kini Bella tau ia harus selalu bersandar pada rumah yang nyaman. Dan tidak ada salahnya untuk mengenal Arga kembali.


Memulai semuanya dari nol.

__ADS_1


__ADS_2