
"Astaga Bel, bercanda lo gak lucu tau," ucap Alisa mengudarakan tawanya. Tangannya bahkan memegang perutnya.
Namun Bella hanya diam sebab apa yang Bella katakan memang benar adanya dan kemudian Alisa yang merasa janggal akhirnya berhenti tertawa.
"Bella!" Panggilan itu seakan bertanya lewat ekspresi meyakinkannya.
"Apa Sa," ucap Bella. Wajah Bella tampak datar minim ekspresi.
"Bilang kalau ini cuma prank 'kan. Kayak di sosmed atau televisi itu?"
Bella mengerutkan dahi nya. "Gak ada yang bilang prank. Tadi 'kan gue bilang supaya lo jangan marah." Bella berucap lemah.
Alisa memijat kepalanya yang pening. "Gila!" Satu kata meluncur dan terkesan sedang memaki.
"Apa yang gila sih Sa," tanya Bella dengan suaranya yang mengecil.
"Lo lah Bel, lo bilang mau balas dendam sama Abian. Tapi malah terima lamarannya gini. Sama aja itu menunjukkan kelemahan lo," ujar Alisa setengah emosi.
"Memang kenapa sih Bel sampai lo terima Abian lagi? Apa rasa cinta lo itu masih besar," tanya Alisa lagi yang kini telah duduk di dekat Bella.
Bella sejenak menatap Alisa. Matanya memejam sejenak, rasanya ia menduga pasti reaksi Alisa lebih akan mengomel dari pada mendukung keputusan yang ia ambil.
"Ya, gue memang masih cinta sama Abian.. Sa. Lagi juga setelah gue dengar cerita dari Abian tentang masa lalu nyatanya dari pada balas dendam sama Abian lebih baik gue balas dendam sama si Amel. Mm, Abian juga udah kelihatan menyesal kok sama perbuatannya."
"Terus sejak kapan lo jadian sama dia," tanya Alisa lagi.
Sepertinya hari ini ia akan diwawancara dan dicecar banyak pertanyaan oleh Alisa. Ya, tapi bagaimana lagi daripada Alisa nanti tau dari orang lain atau tidak sengaja Alisa memergoki Bella dan Abian saat jalan bersama itu 'kan lebih berbahaya.
Bisa-bisa akan terjadi perang dunia. Alisa akan langsung mencak-mencak meminta penjelasan langsung. Dan suaranya yang cempreng akan mendominasi.
"Baru kemarin malam, Sa."
Alisa menepuk keningnya. "Bella, terus lo jangan bilang kemarin seharian penuh sama dia. Lo jangan bilang semalam tidur juga bareng sama dia!" Suara Alisa sudah terlihat geram.
Dengan polos Bella mengangguk lemah. "Iya, kita bareng."
"Di mana?" Mata Alisa menyalak.
Ponsel Alisa berdering kencang dan Bella bisa melihat jika ada nama bisa Astrid di sana.
Bella langsung saja menekan tombol hijau untuk mengangkat teleponnya. Padahal Alisa sudah melarangnya. Tapi Bella ingin menyelamatkan perutnya dulu sebelum ia habis dimakan oleh berbagai macam pertanyaan dari Alisa.
"Alisa … Bella. Makan dulu." Tiba-tiba suara Bunda Astrid yang menggema di balik pintu kamar Alisa.
Percakapan keduanya terpaksa terhenti.
"Iya Bun," sahut Alisa cepat. Dan langsung menutup teleponnya.
Alisa menatap Bella dengan wajah sebalnya. "Kita lanjutin nanti. Jangan harap bisa kabur yah, Bel! Dari semua pertanyaan gue. Astaga sumpah gue masih bingung kenapa lo bisa ambil keputusan kayak gini." Alisa mendumal.
Alisa kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu, diikuti Bella yang mengekor.
Sesampainya di bawah bunda Astrid sudah menata makannya di meja makan dengan apik.
"Ayo Bella, makan dulu. Nanti lanjut lagi ceritanya sama Alisa," ucap bunda Astrid yang sudah menyodorkan piring pada Bella.
__ADS_1
"Iya, Bun. Makasih," jawab Bella.
Kemudian Bella mengambil nasi dan lauk yang tersaji di sana. Sementara Alisa juga masih diam dan tenang melahap makanannya.
"Bel, kamu bulan depan lulus ya," ucap bunda Astrid tiba-tiba membuka pembicaraan.
Bella mengangguk. "Iya, Bun. Doain lancar yah."
"Duh, kamu udah cantik pinter lagi. Kenapa ambil cepat lulusnya. Apa ada rencana lanjut S2 atau mau menikah."
Ucapan itu sontak membuat Bella meringis. Sebab tadi ia membahas tentang menerima lamaran Abian.
"Bunda, jangan tanya gitu dong," ucap Alisa masuk di antara percakapan mereka berdua.
"Kan Bunda cuma tanya aja kok, Sa. Bukan maksud gimana-gimana. Bunda tau mungkin tujuan Bella lulus itu gak seperti yang Bunda bilang tadi. Makanya bunda tanya." Jelas bunda Astrid.
Bella tersenyum canggung. Sebab ia mengerti apa maksud Alisa dan apa maksud bunda Astri namun terkadang ia malas ditanyakan pertanyaan retorik seperti itu.
"Mau cepat bantu mama aja, Bun. Kasian soalnya repot banget," jawab Bella seadanya.
"Iya, sih pasti gitu. Kalo Alisa dia santai banget anaknya kayak Bundanya gitu. Tapi bersyukurlah masih ada Jodhi yang selalu ingetin dia." Curhat bunda Astrid.
"Ih, Bunda. Anaknya gak dipuji. Malah puji orang lain." Wajah Alisa terlihat mencebik.
"Ya, Bunda tuh bukan cuma asal muji aja. Ini 'kan lagi bicarain fakta."
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan ketiganya saling menikmati makanannya masing-masing. Sampai akhirnya Alisa dan Bella kembali ke kamarnya Alisa lagi.
"Sa, gak mau tanya lagi?" Bella membuka pembicaraan.
"Gue masih pusing sama cerita lo itu loh, Bel. Tau, gue tau lo cinta sama Abian tapi gue takut kalau nanti Abian kumat dan tiba-tiba ninggalin lo gimana. Apa Lo yakin omongan si playboy buaya darat itu bisa dipercaya."
Bella terdiam sejenak memang benar apa yang dikatakan Alisa. Tidak bisa dipungkiri hatinya juga merasakan hal itu.
"Iya Sa, gue paham kok. Maksud lo juga baik. Tapi sebelum akhirnya gue terima Abian itu gue sempat tanya sama dia. Apa dia tau siapa sebenarnya gue ini siapa."
Namun Alisa masih terdiam menunggu Bella kembali meneruskan omongannya.
"Abian tau gue itu Bella mantan pacarnya waktu SMA dan sebenernya gue juga baru tau dari Jodhi kejadian dibalik Abian putusin gue dan tiba-tiba gandeng Amel gitu aja," ucap Bella mencoba menjelaskan pada Alisa.
"Apa memang alasannya dia aja kayak hilang tiba-tiba aja tanpa penjelasan, seperti apa yang dibilang Jodhi."
"Jodhi bilang kalau itu semua karena Amel. Dan Abian gak punya kuasa buat lawan Amel karena masalah terkait tawuran yang dilakukan Marsel juga waktu itu. Padahal Abian cuma bantu tapi dia malah ikut keseret."
"Dasar tuh nenek lampir," ujar Alisa sebal.
"Memang dari awal Amel itu udah meresahkan dan dia pakai ancam Abian juga. Kalo masalah Abian gak bisa lawan gue tau Bel itu karena gak mungkin lagi ia bisa pindah sekolah lagi 'kan ditambah lo juga murid beasiswa disana," ucap Alisa lagi.
Dan kemudian Bella memberikan respon anggukan. "Ya, makanya itu Abian pura-pura. Padahal dia bilang cari gue sampai sekarang ini."
Kedua bola mata Alisa memandang Bella. "Lo juga 'kan yang memilih menghindar," ucap Alisa.
"Iya, dan kalau bukan karena bujukkan lo buat gue ikut party Jodhi sudah pasti gue gak akan pernah ketemu Abian lagi, Sa."
Alisa menghela napasnya panjang. "Udahlah Bel, sekarang lo udah pilih sama Abian lagi. Gua cuma bisa berharap hubungan lo lebih baik kedepannya," ucap Alisa.
__ADS_1
"Terus semalam lo ke mana sama Abian," tanya Alisa penuh selidik.
"I-itu gue ke—" Bella menjeda ucapannya dan bola matanya berkeliaran mencoba mencari alasan.
"Ke apartemen?"
Ucapan Alisa sukses membuat Bella membuatkan matanya.
"Bener! Ke apartemen," tanya Alisa memastikan.
Dan kemudian Bella mengangguk kecil.
"Pusing gue Bel. Gue rasa lo juga pasti udah make out sama Abian," celetuk Alisa lagi.
"Dari mana kamu bisa ambil kesimpulan gitu? Mm.. gue cuma foreplay aja kok." Bella membuat pengakuan.
"Itu, gue lihat di dada lo ada bekas merah-merah gitu," ucap Alisa dengan nada santainya. Tangannya menunjuk baju yang Bella kenakan.
Bella seketika langsung menundukkan pandangannya dan segera menutup pakaiannya yang cukup terbuka itu.
Wajah Bella memerah dan ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya itu.
"Ya sudah Bel, santai aja gak usah malu," ucap Alisa.
"Sekarang yang terpenting lo jaga hubungan sama Abian dan lo harus waspada sama Amel. Gue takut dia masih obsesi sama Abian," ucap Alisa lagi.
Dan setelah mendengar hal itu membuat Bella tercenung, bagaimana ia tidak memikirkan hal itu lagi. Bagaimana ia terlalu senang dan lupa tentang hal sepenting itu.
"Kok diem Bel? Kenapa?"
Alisa kembali menyuarakan tanyanya pada Bella yang menjadi terpaku.
Namun Bella tersenyum. "Gak kenapa-kenapa kok, Sa cuma masih malu aja," jawab Bella seadanya. Mencoba menutupi keterkejutannya tentang Amel.
"Wajar sih Bel, ini kan pengalaman pertama jadi yah gitu."
Alisa dengan jahil memandang wajah Bella yang merah.
“Kalau bisa o pertahankan jangan sampai lo diajak make out dan gak pakai pengaman yah. Itu bahaya." Alisa memberi peringatan keras.
"A-ah, iya tenang aja Sa. Gue masih waras untuk hubungan sebelum nikah atau sampai punya baby kayak Amel.."
Alisa kemudian mengangguk. "Baguslah, jangan sampai lo nanti menyesal. Oh iya memang benar kalo Amel itu mengandung anak Marsel bukan Abian?“
Kepala Alisa mengangguk. “Iya, Abian juga punya buktinya supaya bisa batal nikah sama Amel secepatnya,” tutur Bella.
"Lo mau menginap lagi atau pulang," tanya Alisa lagi.
"Kayanya gue pulang deh, kasian Mama di rumah sendiri."
"Ya sudah, tapi agak malaman yah. Masih banyak yang pengen gue tanya dan ceritain sama lo."
Bella kemudian tersenyum simpul dan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin diajukan Alisa tanpa ia duga. Meskipun awalnya Alisa marah tapi sahabatnya itu nyatanya masih menilai dan bijak dalam menilai keputusan yang Bella ambil.
Tidak salah Bella sangat percaya pada sahabat satu-satunya itu.
__ADS_1