
Pagi Abian tidak pernah membayangkan paginya akan sangat indah dengan tidur di samping Bella. Wajah polos seperti bayi dan kulit harus yang membuat Abian ingin terus menyentuhnya.
Sebenarnya Abian ingin sekali mencumbu bibir Bella dan juga menyentuh gunung kembar Bella yang bersembunyi dibalik kaos polos milik Abian yang menutup tubuh Bella yang sudah Abian jelajahi dengan mata maupun bibirnya.
Tapi Abian sudah berjanji ia tidak akan memaksa Bella dengan sentuhan fisik yang intim tanpa persetujuan.
Mencoba untuk tidak membuat suara, Abian bergegas dari kasurnya dan keluar apartemennya untuk membeli sarapan untuk Bella. Maklum saja Abian itu masih seorang bujang dan ia tinggal di apartemen sendiri hanya untuk tidur.
Bahkan Abian juga menyewa jasa pembersih apartemen untuk membersihkan setiap minggunya.
Abian juga tidak tega melihat wajah Bella yang terlihat lelah.
"Terima kasih yah Mbak," ucap Abian tersenyum setelah melakukan pembayaran
"Sama-sama Mas. Apa ada lagi yang bisa saya bantu."
"Enggak ada. Yang penting tadi gak ada saus kacangnya 'kan Mbak?" tanya Abian.
Mbak penjual nasi uduk itu pun mengangguk sebagai tanda ia mengerti tentang permintaan Abian.
"Oh iya apa di sekitar sini ada yang jual bunga juga?"
"Ada kok Mas, itu dekat pertigaan ada toko bunga," jawab Mbak penjual nasi uduk.
"Oke makasih yah Mbak. Saya soalnya gak terlalu tau daerah sini. Ini aja dikasih tau satpam dari apartemen,” tutur Abian.
“Pantes saya juga kayak baru liat,” sahut penjual nasi uduk itu.
Abian tersenyum simpul. "Mungkin nanti saya bakal sering kesini. Kalau gitu saya permisi." Abian bersikap sopan.
"Iya Mas, makasih."
Abian bergegas menuju toko baju yang kebetulan letaknya tak jauh dari tempat ia menginap. Sekitar pasar ia beli nasi uduk.
Meski sedikit risih dengan tatapan si penjaga toko. Abian tetap melangkah pasti memasuki toko pakaian dalam wanita.
Jujur saja Abian tidak tega jika Bella harus memakai pakaian kotor yang sama sampai besok. Jadi ia meruntuhkan urat malunya hanya demi Bella, wanita tercintanya.
Dan setelah berhasil mendapatkan satu set dalaman wanita, Abian juga berpindah membeli baju untuk Bella kenakan juga.
Setelah dua puluh menit menghabiskan waktu untuk berbelanja, Abian bergegas memasuki unit apartemennya lagi.
"Bel, sayang." Suara Abian menggema.
"Iya," ucap Bella.
Abian bisa melihat Bella sedang mendudukkan dirinya di kursi dekat ranjang. Bella juga terlihat seperti baru saja selesai mandi karena tubuhnya yang masih dibalut dengan kimono handuk dan juga rambut hitamnya yang masih setengah basah.
"Kamu habis kemana?" tanya Bella karena melihat penampilan Abian terlihat santai dengan celana drawstring dan juga kaos polos berwarna hitam yang senada.
Abian langsung mendekati kursi Bella dan memberikan kecupan singkat di pelipis Bella yang otomatis membuat tubuh Bella sedikit terlonjak kecil.
"Nih, aku beliin juga buat kamu." Abian kemudian menyerah kan dua kantong plastik berukuran kecil. Bella yang membuka isinya wajah nya terkejut.
"Astaga, kamu beli dalaman juga." Pipi dan telinga Bella sudah bersemu merah.
__ADS_1
Abian mengangguk dengan polosnya, tangannya sudah mengambil tanpa permisi segelas air mineral yang ada pada meja di hadapan Bella. Sepertinya Abian sedikit haus setelah berjalan cukup lama di pasar tadi.
Abian juga meletakan bungkusan nasi uduk yang masih hangat itu.
“Aku beliin nasi uduk juga buat kamu. Gak pakai sambal kacang kok.“
“Kok kamu tau aku gak makan sambal kacang,” ucap Bella.
“Taulah sayang.. kan kamu pernah bilang.“
“Kapan?“ Bella balik bertanya.
“Dari waktu kita SMA terus waktu ketemuan lagi di Legit Coffee kamu bilang kalo kamu gak bisa makan timun dan kacang-kacangan.“ Jelas Abian.
Abian membuka bungkusan nasi uduknya. "Oh iya aku beliin kamu dalaman tuh.. Yah, masa aku biarin kamu enggak pakai dalaman sih. Sama aja aku―" Perkataan Abian terjeda karena Bella sudah membekap mulutnya dengan kerupuk.
"Sudah ah, jangan dibahas."
"Ngapain malu sih. Orang aku sudah melihat dan merasakannya." Seringai Abian nakal, sengaja menggoda Bella.
"Lebih baik kamu makan daripada bicarain hal kayak begitu."
"Oh, jadi mau dipraktekin aja yah."
Bella memukul lengan Abian. "Ih, kamu beneran yah."
Terlihat Bella yang malu dan salah tingkah itu membuat Abian malah semakin senang menggoda karena benar-benar menggemaskan.
"Bercanda sayang, jangan marah begitu." Abian langsung mencubit kecil puncak hidung Bella.
Dahi Bella berkerut. "Apa?" Wajahnya terlihat bingung.
Tangan Abian langsung memberikan satu paper bag yang ukurannya cukup besar. Bella mengambilnya dan melihat isi di dalamnya. Buket kecil bunga mawar yang harum dan cantik.
“Kamu suka gak?“ tanya Abian.
Dengan cepat Bella mengangguk. “Suka.. Makasih yah Bi. Bunganya cantik.“
Abian lantas mengangguk. "Sama kayak kamu cantik sayang. Oh iya, habis ini kamu mau jalan-jalan, atau masih mau istirahat."
"Aku kayanya mau istirahat bentar lagi deh. Nanti siang aku langsung pulang ke rumah aja. Mama sama papa sore pulang," tanya Bella memastikan.
"Ya udah nanti aku temanin kamu yah di rumah gak apa-apa kan sekalian ketemu calon mertua aku," celetuk Abian.
Tangan Abian mengeluarkan bungkusan kecil. "Minum ini sayang.“
"Obat apa," tanya Bella.
"Itu vitamin supaya kamu fit, aku lihat wajah kamu lelah banget pasti capek deh ngerjain skripsi dan mantau usaha kamu juga."
Bella tersenyum simpul. "Makasih ya, aku baru aja mau minta beliin tapi kamu lebih peka."
"Ya sudah, abisin makannya."
"Loh kamu gak makan juga kok beli nasi uduknya cuma satu porsi.“
__ADS_1
“Oh itu, aku tadi beli bubur ayam soalnya udah laper banget.. he-he maaf yah aku gak sarapan bareng sama kamu tapi aku temenin kok.“
"Oh gitu.. makan berdua aja yah aku gak abis kayak-nya," jawab Bella seadanya.
Bibir Abian menyungingkan senyum. “Suapin aku yah tapi.“ Pinta Abian manja.
Pada akhirnya Bella yang memang baik dan punya sifat keibuan itu menyuapi Abian.
"Soal semalam itu." Abian membuka pembicaraan.
Bella yang baru selesai menyantap makanan itu kemudian memusatkan perhatiannya pada Abian.
Dengan lembut Abian mengusap punggung tangan Bella. Dan meraih dagu sempit milik Bella. Abian langsung mengecupnya singkat.
"Aku pengen mulai saat ini kita bakal sering ke apartemen ini yah. Aku mau setiap pagi aku dan malam aku ada kamu," ucap Abian lagi yang kini mengarahkan telapak tangan Bella untuk menyentuh area jantungnya.
"Kamu bisa merasakannya 'kan Bel." Lagi-lagi Abian seperti tengah mencoba untuk menyakinkan Bella atas semua perkataannya adalah sesuatu kejujuran yang keluar dari dalam lubuk hatinya.
"Bi, aku masih bingung sebenarnya untuk mencerna semua kejadian ini. Soal semalam aku minta foreplay sama kamu itu.. aku melakukannya dengan perasaan bukan semata karena nafsu."
Abian kemudian mengusap perlahan rambut hitam panjang milik Bella. "Ya, aku tau kamu cewek seperti apa. Jadi aku mau kita semakin dekat bukan semata aku ingin berhubungan intim aja sayang."
“Tapi Bi.. kita bisa mulai pelan-pelan yah aku pengen kamu selesaikan dulu masalah Amel dan bantunaku balas dendam sama dia,” ucap Bella.
Abian kemudian bangkit dari kursinya dan memeluk tubuh Bella yang masih terduduk di kursinya. "Kalau itu yang kamu mau, aku bakal wujudkan balas dendam kamu. Secepatnya aku akan bawa orangtuaku juga buat lamar kamu, sayang."
Abian yang sebenarnya tengah menguatkan hatinya dengan apa yang akan terjadi jika sampai Bella tau jika sebenarnya Abian tengah berusaha meminta Bella menjadi alasan untuk membatalkan pernikahannya dengan Amel.
Tetapi ia tidak bisa merusak Bella dengan membuatnya hamil maka dari itu ia tidak memaksa Bella untuk berhubungan intim dengannya.
Setidaknya untuk saat ini Abian ingin menikmati waktunya dengan wanita yang ia cintai. Dan mencari cara lain untuk secepatnya lepas dari Amel. Karena tanpa sepengetahuan Bella Abian bisa sukses juga karena ada orangtua Amel yang membantunya. Fakta ini Abian tau setelah berdebat hebat dengan mama-nya.
Bukti yang Abian cari bersama Bastian tidak sepenuhnya menjadi jurus pamungkas untuk berpisah dari Amel. Karena Abian juga bisa ikut terpuruk dengan ia yang jatuh miskin.
"Makasih, Bian." Bella mengusap lengan Abian yang mengalung di atas dadanya.
"Ya, sayang."
"Bi, kenapa sering banget sih panggil aku sayang. Kamu nanti kebiasan di tempat umum panggil begitu."
Abian mendekatkan wajahnya ke telinga Bella. "Nggak masalah, biar yang lain tau kamu milik aku."
"Posesif banget kamu.“ Protes Bella dengan bibir mengerucut.
"Nggak masalah, aku enggak mau lagi main kucing-kucingan kayak dulu lagi. Biarpun kita belum resmi pacaran. Aku tetap mau nunjukin perasaan aku ke kamu enggak peduli orang lain lagi. Lagian aku udah lamar kamu dan kamu udah terima aku."
Bella melepaskan pelukan Abian pada tubuhnya, bangkit dari kursinya dan menangkup wajah Abian.
"Seterah kamu deh," jawab Bella mencubit pipi Abian gemas. Dan kemudian mengambil paperbag yang tadi Abian berikan padanya.
"Kirain aku mau cium." Suara Abian terdengar merajuk.
Bella terkekeh geli. "Bahaya kalo cium kamu." Bella menjulurkan lidahnya.
Abian yang melihat itu lantas menarik tangan Bella. Tubuh Bella meringsak masuk dalam pelukan Abian. Tanpa basa-basi Abian langsung memegang tengkuk Bella dan menyatukan bibir mereka kembali dengan gelora cinta yang membara.
__ADS_1