Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 59


__ADS_3

Arga baru saja mengantar Bella pulang ke rumahnya. Keadaan Bella sangat kacau. Meski tau penyebabnya Arga enggan untuk membahasnya.


Selain tidak ingin membebani atau terlalu ikut campur masalah yang tidak Arga ketahui dari cerita awalnya bermuara. Arga juga tidak sakit hati tentang apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri saat Bella berciuman dengan lelaki yang Arga tau bernama Abian itu kemungkinan besar adalah pacar Bella.


Salahnya juga karena pergi tanpa kabar saat mereka dekat. Dan Arga memilih mengejar untuk mengambil alih perusahaan papa-nya terlebih dahulu.


Ponsel Arga bergetar dan menampakan nama Alisa. Tanpa pikir panjang Arga mengangkatnya sebab Arga juga perlu berbicara dengan Alisa.


Bagaimanapun Alisa pasti banyak tahu mengenai kejadian yang terjadi. Memang Arga dan Bella sudah dekat lama tetapi belum sampai tau rahasia masing-masing. Tetap ada tembok yang tak kasat mata yang dibangun oleh Arga maupun Bella sendiri.


“Ya, kenapa Sa?“


“Ga, gue perlu ketemu sama lo. Ada yang mau gue bicarain,” ucap Alisa.


“Oke mau ketemu dimana?“ tanya Arga.


“Mm, lo lagi di daerah mana?“


Sejenak Arga mengamati keadaan jalan di luarnya untuk memastikan lokasinya. “Belum jauh banget dari rumah Bella. Sekitar Senopati deh,” jawab Arga.


“Ketemu di Kopi Impian aja.“ Alisa memberi saran.


“Oke kalau kayak gitu. Sekitar lima belas menit gue sampai sana.“


Tak lama Alisa menutup teleponnya. Arga kembali berkonsentrasi pada jalanan. Satu hal, Arga juga telah memutuskan untuk membawa Bella pada dirinya sendiri.


Sesampainya di Kopi Impian, rupanya Alisa sudah melambaikan tangan dan dengan segera menghampiri.


“Sorry Sa, buat lo nunggu.“


“Santai aja Ga, sebenarnya tadi pas di rumah sakit gue udah pengen ngajak lo ngomong tapi kayaknya situasi lagi gak tepat makanya pas tau lo antar Bella gue langsung telepon lo.“ Alisa memberi penjelasan.


Arga duduk dan sudah tersedia es kopi americano dihadapannya. “Lo tau aja gue suka pesan americano.“


“Bella atau Jodhi juga tau kok kesukaan lo. Kita bukan sehari dua hari kenal. Gue juga 'kan yang jodohin lo sama Bella.“


Sudut bibir Arga tersenyum. “Eh, iya juga sih.“


“Terus lo mau ngomong apa, Sa?“ Arga bertanya sekaligus membuka percakapan.


“Jadi gue mau bicarain keadaan Bella. Sebenarnya tuh Bella itu yah kayak semacam balikan lagi sama mantannya waktu SMA itu.“ Jujur Alisa.


Tubuh Arga condong ke depan. “Maksud lo mantan yang pernah buat Bella trauma itu.“

__ADS_1


“Iya lo tau 'kan gue pernah cerita sedikit tentang percintaan Bella.“


Ya, sebelum dekat Bella diam-diam memang Arga bertanya tentang diri Bella seperti apa, sebab di pertemuan mereka Bella selalu menjadi pendiam dan pemalu.


Tentu saja Arga yang penasaran itu akhirnya berbicara pada Jodhi yang merupakan pacar Alisa dengan maksud untuk mengorek informasi dari Alisa yang merupakan teman dekat Bella.


“Ga, jujur sama gue sebenarnya lo tuh masih ada perasaan gak sih sama Bella?“ tanya Alisa.


Sebenarnya bukan pertanyaan yang mengejutkan atau pertanyaan yang aneh. Hanya saja Arga merasa dirinya terlalu lambat meminta Bella untuk bersamanya. Sampai Bella harus kembali pada lubang cacing yang tidak tau dimana ujungnya akan bermuara.


Harusnya sebelum memutuskan mengambil alih perusahaan dan sebelum mamanya meninggal Arga harusnya bersikap terbuka dan membaca bagaimana sikap Bella padanya. Bagaimanapun cepat atau lambat Bella akan mengetahui bagaimana masa lalu Arga.


Karena Arga selalu percaya jika kunci sebuah hubungan adalah keterbukaan. Dan Arga yang lambat dalam mengambil keputusan sekarang harus bersaing dengan mantan Bella yang mungkin adalah mantan terindah atau lebih buruknya cinta pertamanya.


Pekerjaannya menjadi lebih berat dan Arga merasa terbuang karena waktu selama ini dengan pendekatan jarak jauhnya bersama Bella sama sekali tidak berarti apa-apa.


“Gue masih ada perasaan kok Sa, tapi waktu itu gue putusin gak terlalu intens komunikasi lagi sama Bella karena gue lagi ada masalah dengan keluarga. Gue butuh waktu buat atasi-nya.“ Jujur Arga.


“Kalau gitu lo perjuangkan kalau memang lo serius sama perasaan dan kata-kata lo itu.“ Alisa menghela napasnya. “Gue takut Bella terjebak sama perasaan sama mantannya itu. Mantannya gak baik Ga, dia mau nikah karena calon nya itu hamil.“


Seketika hati Arga terasa diremas. Rasanya Arga tidak ingin membayangkan wanita yang ia cintai menderita lagi. Hal ini mengingatkan Arga pada nasib mama-nya yang menderita dengan pernikahannya.


“Ga, tolong yah. Kalau lo benar-benar punya perasaan serius. Tapi kalau gak lo bisa 'kan bantu gue buat sadarin Bella. Jangan terjebak sama perasan cintanya yang bodoh.“


Hanya itu yang bisa Arga katakan saat ini. Banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dipikirkan.


Sesudah pertemuan itu, Arga memutuskan untuk pergi ke rumah Bella lagi. Arga bukan menghubungi Bella tetapi ia memilih untuk menghubungi tante Misya.


“Ga, ada apa kamu minta ketemu Tante?“


“Aku mau bicarain tentang Bella,” ucap tante Misya.


“Mm, iya sebenarnya Arga mau ajak Bella buat ketemu orangtua Arga terus kalau misalnya gak ada halangan pengen nemuin Tante dan om buat saling ketemu.“ Jelas Arga.


“Memang kamu sama Bella udah serius?“


“Iya Arga mau serius Tante. Rasanya udah cukup Arga kenal Bella sebagai teman selama ini. Arga juga udah persiapkan lahir dan batin buat memikirkan pernikahan,” jawab Arga. Dengan ucapan yang percaya diri dan tatapan mata yang mantap.


“Kalau Tante sih senang aja. Yang penting kamu dan Bella memang saling mencintai.“


Tante Misya tersenyum simpul. “Bella ada di kamarnya. Tante lihat dari sepulang kamu anterin dia wajahnya terus sedih dan gak keluar kamar. Coba kamu temui dan ajak ngobrol.“ Pinta tante Misya.


“Mm iya Tante nanti Arga coba ngobrol sama Bella.“

__ADS_1


“Iya sekalian bujuk dia buat makan juga. Kalau lagi ada sesuatu yang terjadi biasanya Bella susah banget makan.“


Kepala Arga mengangguk. Perlahan Arga menuju kamar Bella.


Tok.. tok. Arga mengetuk pintu kamar Bella.


“Ma.. nanti Bella makan kok,“ sahut Bella.


Jawaban Bella itu membuat sudut bibir Arga tersenyum.


“Bel, boleh gak aku masuk. Ini Arga.“


Tak lama setelah itu, Arga mendengar suara langkah kaki yang ribut dan pintu kamar Bella membuka.


Dengan pandangan malu-malu Bella menatap wajah Arga. “Sorry Ga, aku pikir itu Mama. Kamu ngapain kesini? Apa ada yang ketinggalan?“ tanya Bella.


Kepala Arga menggeleng. “Aku khawatir sama kamu, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku Bel. Sorry yah.. kemarin-kemarin aku gak ada buat kamu.“


Tubuh bela yang semula berada di tengah pintu kemudian bergeser. “Mm, masuk Ga.“


Sesudah mengatakan hal itu kemudian Arga masuk kedalam kamar Bella.


Arga duduk di kursi dekat meja belajar Bella. Sementara Bella duduk di tepi ranjangnya.


“Bel, apa mau jalan-jalan cari udara segar? Atau mau makan sesuatu?“


Bella menghela napasnya. “Disini aja Ga, kalau kita jalan yang ada nanti gue susahin lo. Badan gue masih terasa lemas.“ Jujur Bella.


“Ya gak apa-apa nanti gue gendong,” canda Arga.


Sesudah mengatakan hal itu, Arga bisa melihat tawa kecil di wajah Bella.


“Gue berat kali Ga— Mm, Ga.. boleh gak gue minta peluk.“ Pinta Bella dengan wajah sendunya.


Mengabulkan permintaan Bella dengan senang hati Arga memeluk tubuh Arga erat.


“Ga.. sebenarnya kamu anggap aku itu apa sih. Hubungan kita—”


Arga melepaskan pelukannya. Kedua matanya memandang Bella dengan serius.


“Aku udah bilang aku punya perasaan sama kamu. Sekarang aku yang tanya gimana perasaan kamu ke aku? Apa kamu mau kita mulai dari awal lagi?“


“Mulai dari awal?“

__ADS_1


“Ya, tapi bukan mulai sebagai teman. Aku mau kita mulai sebagai suami istri. Kamu mau gak jadi istri aku Bel?“


__ADS_2