
“Bel, sayang. Sorry yah aku gak bisa antar kamu ke kampus. Ada masalah mendesak yang harus aku selesaikan,” ucap Abian pada ujung teleponnya.
“Ya udah, gak apa-apa aku bisa berangkat sama mang Ujang kok.“
“Hati-hati yah.. Nanti aku hubungi kamu lagi. Dah sayang.“
“Mm, aku tutup teleponnya.“
“Iya.. love you,” ucap Abian.
Semenjak Abian kembali saling dekat dan mesra, Abian sangat kecanduan dengan memanggil Bella di barengi ucapan sayang.
Mau tidak mau karena Amel yang pingsan, Abian merasa hati nuraninya terpanggil walaupun sebenarnya ia sangat geram dengan sikap Amel.
“Suster, gimana keadaan teman saya?“
Suster yang sedang mengecek selang infusan itu kemudian berkata, “Sudah membaik Pak, sebaiknya bapak hubungi keluarganya juga soalnya kondisi kehamilan ibu Amel ini sangat lemah.“
Mengerti tentang penjelasan dari suster tersebut, Abian menganggukan kepalanya. Setelahnya suster itu memberikan Abian resep obat yang harus ditebus.
Terpaksa, Abian menghubungi orangtua Amel untuk menyampaikan keadaan anaknya itu.
Lama menunggu, tidak ada jawaban apapun dari mama atau papa Amel sekalipun. Abian juga sudah menghubungi asisten rumah tangga di rumah Amel dan mereka bilang jika orangtua Amel sedang pergi ke luar kota.
Ah, memang susah. Amel yang bertingkah seperti gadis pick me girl itu hanya sedang berusaha menunjukan dirinya yang sebenarnya sangat lemah seperti bola kaca yang tipis.
Sedari SMA Amel memang banyak tingkah dan suka cari perhatian. Kalau istilah Cecil, termasuk dalam kaum problematik.
Tangan Abian memijat keningnya Abian pusing. Kembali Abian menelepon asisten rumah tangga Amel lagi.
“Halo Mbok Nah, ini Abian. Mm jadi Amel 'kan di rumah sakit. Bisa gak Mbok nah teman-in di rumah sakit. Soalnya Abian harus kerja.“ Jelas Abian di ujung telepon-nya.
“Ya udah Mas kalo gitu. Saya siap-siap dulu yah, Mas Abian kirim alamatnya aja sama Pak Muh.“ Mbok Nah memberi jawaban.
“Iya Ma, kalau gitu usahakan secepatnya yah.“
“Oke, Mas.“
Dan Abian menyelesaikan panggilannya. Bagaimana memulai hari dengan kejadian yang tidak mengenakan ini membuat mood Abian jadi berantakan. Padahal tadi pagi sehabis mimpi basah itu, Abian sudah berencana untuk mengantarkan Bella dan mencuri sedikit bibir atau memeluk sedikit tubuh Bella sebagai penyemangat hatinya.
Tapi harapannya benar-benar kandas. Karena jam delapan yang sudah menanti rapat penting dengan klien yang menanamkan saham pada perusahaan Abian. Akan banyak energi yang harus Abian keluarkan mulai dari presentasi, membuat obrolan dan juga berbicara dengan lihai untuk melobi sana-sini.
__ADS_1
Jika saja bisnis itu sama dengan menjerat wanita sudah pasti Abian tidak perlu bersusah payah tinggal membuka kedua kancing kemejanya dan juga melirikan mata dengan penuh arti.
Duduk menunggu mbok nah dan pak Muh datang, Abian merasa penasaran dengan isi ponsel Amel yang sesungguhnya sangat susah untuk dilacak. Abian tau ini lancang, tapi Abian ingin tau kenapa Amel sangat bersikukuh ingin meminta pertanggung jawaban darinya dan sangat menginginkan Abian.
Maka dari itu, Abian membuka tas selempang kulit yang tergeletak di nakas samping ranjang tempat Amel berbaring.
Memeriksa apa yang ada di dalamnya dan membuka kunci ponsel Amel dengan cara memindai wajahnya.
“Ada untungnya gue bantuin lo, Mel. Anggap aja ini bayaran gue karena udah bantuin lo,” gumam Abian.
Abian juga berterima kasih karena suster sudah memberikan Amel obat tidur untuk membuat Amel istirahat. Abian juga senang ia lahir di jaman teknologi yang semakin canggih.
Saat sedang asik, membuka pesan mata Abian terbelalak saat melihat pesan dari Marsel.
Meskipun Abian adalah lelaki bejat yang playboy tapi Abian cukup tau diri dengan tidak memanfaatkan harta Amel, apalagi sampai memberi ancaman.
Setelah membaca semua pesan Marsel dan juga mengirimkan beberapa bagian pentingnya pada ponsel Abian, mata Abian kini bergulir pada nama Bella dan juga nama mami Diana yang merupakan nama mami Abian.
Dalam diam dan dengan mata yang memerah Abian menatap Amel. Bahkan sudut mata Abian sampai mengeluarkan air mata.
Cklek!
Mendengar suara pintu yang membuka Abian langsung saja mengantongi ponsel Amel di saku celananya. Dan tidak lupa mengusap sudut matanya yang basah.
“Pak, nanti kira-kira sepuluh atau lima belas menit lagi pasien akan sadar. Tolong kasih beri makan ini yah. Dan obatnya juga.“ Jelas sang Suster.
Abian memulas senyumnya tipis. “Baik Suster, terima kasih.“
Setelah suster keluar dari kamar, Abian meletakan kembali ponsel Amel ke tempatnya semula.
Sekarang Abian mengerti dan paham apa rencana dan langkah Amel selanjutnya. Abian juga sedikit kecewa sebab nyatanya Bella sempat membohongi-nya dengan hal yang lebih jauh dari sekedar balas dendamnya pada Abian.
***
Sementara itu, Bella melakukan bimbingannya di kampus. Tapi hari ini tidak ada Alisa yang menemani. Alisa juga sibuk untuk mengurus kuliahnya. Meskipun mereka satunkamous tapi mereka beda fakultas. Jadi wajar jika terkadang bisa tidak bertemu.
“Bel,” panggil seorang dengan suara berat.
Bella yang merasa namanya dipanggil kemudian menoleh ke arah sumber suara. Dan Bella mendapati Arga yang ada di hadapannya.
“Eh, kok bisa ada di sini Ga?“ Bella bertanya sedikit terkejut.
__ADS_1
“Memangnya cuma mahasiswa aja yang bisa datang ke sini, alumni dilarang gitu?“ Arga menjawab dengan suara jenaka.
“Mm, gak juga sih. Tapi gak biasanya aja maksudnya Ga.. bukan gak boleh.“
“Iya.. bercanda kok. Masih ada kelas gak?“
Kepala Bella menggeleng. “Udah selesai kok. Mahasiswa tingkat akhir gak ada kelas. Tinggal bimbingan aja.“ Bella kemudian menatap Arga sejenak. “Ga, ke kampus lagi ada acara apa?“
“Oh itu, diminta suruh isi seminar motivasi gitu buat mahasiswa baru.“
Kepala Bella mengangguk. “Oh gitu, mau ketemu pak Beni dong. Eh.. baru mau ketemu atau udah selesai?“
“Baru mau ketemu sih.. terus sekarang mau kemana lagi Bel?“
“Mau ke toko bantu Mama,” jawab Bella.
“Gitu, ya udah lain kali kita makan bareng yah atau gue mampir deh ke toko. Kangen juga ngobrol sama tante Misya,” tutur Arga.
Bibir Bella menyungingkan senyum manisnya. “Boleh kok, asal kalo mau main kasih tau yah jangan dadakan gitu.“
“Siap laksanakan Bos,” ledek Arga.
Tak lama disusul suara kekehan Bella. “Apaan sih Ga.. garing tau kayak kerupuk bercandanya he-he. Ya udah sana temui pak Beni. Nanti kena omel.“
“Iya.. Bel, hati-hati yah.. sampai ketemu,” jawab Arga.
Kepala Bella mengangguk kecil. Dan ibu jarinya mengacung ke arah Arga.
Selagi dalam perjalan, Bella memikirkan tentang Abian yang sampai sekarang belum juga memberikan kabar. Abian juga sedikit khawatir jika masalah yang dimaksud Abian mungkin saja ada hubungannya dengan Amel. Entah mengapa firasatnya sangat kuat.
Pengalaman dan sedikit trauma di masa lalu menjadi bayang-bayang hubungan Bella dan Abian yang berjalan baik menjadi terlalu mudah. Bukan tidak bersyukur tetapi hanya terasa aneh. Sebab sebelum memulai niat balas dendam Bella taunkikaemnag Amel masih sangat dekat dengan Abian. Malah Asa yang menjadi sumber informasinyanbilang jika Amel dan Abian akan segera menikah.
Ditemani dengan berbagai pikirannya, Bella sudah sampai di toko pusat Misya Kitchen.
Cukup sering, Bella berkunjung bukan hanya formalitas. Tapi benar-benar bekerja dengan serius.
“Selamat siang Bu,” sapa para karyawan.
“Siang semuanya,” sahut Bella.
Langsung menuju ruang kerjanya, Bella harus memeriksa beberapa berkas dan juga memantau laporan yang ada di ruangannya.
__ADS_1
Jika sudah duduk di kursi kerjanya Bella selalu tidak sadar menghabiskan banyak waktu disana. Seperti saat ini mat hari yang tadinya bersinar cerah sudah hilang dan berganti dengan sinar bulan.
Satu hal yang membuat Bella kosong, kenapa Abian tidak menghubunginya sama sekali? Apa terjadi sesuatu?