Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 27


__ADS_3

Sementara Abian hanya bisa tersenyum sambil melangkah mengejar langkah Bella yang sudah jauh di depannya.


“ Bel, kamu memang tau tempat makan buburnya sebelah mana?“


Abian hanya mendengus geli dengan ingatannya tentang kejadian beberapa jam lalu. Kejadian lucu yang sedikit Abian manfaatkan untuk kembali merengkuh tubuh Bella dalam dekapan tubuhnya.


Abian juga harus berterima kasih pada gadis kecil itu, sebab kalau bukan tanpanya tidak mungkin ia bisa mendapat kesempatan langka seperti ini.


"Di sebelah mana tempatnya."


"Tunggu di situ nanti aku kasih tau tempatnya. Lo lari cepat banget sih kayak lagi lomba aja." Celetuk Abian.


Bella tidak membalas ucapan Abian tetapi hanya diam ditempatnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang seolah menjadi topi.


Setelah mendekati Bella, tubuh Abian sengaja berada untuk membelakangi matahari agar Bella tidak perlu capek untuk mengangkat tangannya guna melindungi wajahnya dari sengatan matahari yang semakin naik.


“Tuh disana.“ Jari telunjuk Abian menunjukkan arah pada sebuah tenda biru dengan gerobak coklat yang bertuliskan bubur Mang Slamet.


"Lo nggak masalah 'kan makan di tenda pinggir jalan.“ Sambung Abian lagi.


"Nggak masalah asal makanannya bersih dan enak,” sahut Bella.


Jawaban santai itu membawa setitik senyum merekah di wajah Abian. Bukan hanya tidak menyangka akan tanggapan positif yang diberikan Bella.


Hati kecil Abian benar-benar senang, sejenak ia jadi teringat dengan wanita idamannya. Seorang wanita yang sudah Abian cintai sejak lama dan tidak pernah Abian lupakan sampai saat ini.


Bella duduk dengan tenang di kursi plastik dengan meja kayu panjang yang dilapisi oleh alas plastik licin warna-warni khas pedagang kaki lima.


Tidak terlihat jijik ataupun tidak suka dengan usulan Abian. Yang terlihat malah Bella yang sedang serius memandang ponselnya.


"Mang, bubur ayamnya dua porsi ya," ucap Abian pada penjual bubur.


"Mang yang satu jangan pakai kacang dan seledri yah,” sahut Bella


"Oke, Non."


Entah sejak kapan atau memang sudah dari awal mereka bertemu, Abian sangat suka memperhatikan wajah Bella. Bukan semata karena paras Bella yang cantik. Bagi abain ada daya tarik yang membuat Abian selalu ingin tahu tentang banyak hal tentang Bella. Termasuk saat ini kedua bola mata Abian betah melihat Bella yang mengikat rambut panjangnya cukup tinggi sampai memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Kalau soal wangi, saat Abian berdiri di dekat Bella harum manis dan lembut sangat tercium di hidung Abian. Seperti aromaterapi beraroma vanilla dengan campuran cherry blossom.


"Mau minum apa, Bel?" Abian bertanya.


"Teh botol aja, tetapi jangan pakai es." pinta Bella dengan sopan.

__ADS_1


"Oke, tunggu di sini dulu ya."


Tak lama, keduanya makan dengan santai, sesekali berbicara tentang hal-hal serius seputar tugas Bella maupun membahas tentang usaha masing-masing sambil menyuapkan buburnya atau sesekali menunggu buburnya sedikit hangat untuk disuapkan ke dalam mulutnya.


Abian senang mengobrol dengan Bella, selain seumuran Bella juga punya wawasan yang luas dan tipe pendengar yang baik.


"Jadi habis, lulus ini langsung melanjutkan bisnis keluarga Bel." Abian membuka pembicaraan.


Kepala Bella mengangguk, menyuapkan bubur terakhir yang ada di mangkuknya.


"Padahal sayang banget loh, kelihatannya Lo lebih tertarik dengan hal lain dan juga di umur yang masih muda gini masih ada waktu buat eksplor."


Bella mengusap mulutnya dengan tisu. "Pengennya begitu, tetapi gue anak tertua. Jadi yah nggak masalah. Lagi kalau bukan gue siapa lagi yang bakal urus perusahaan itu. Adik gue juga masih terlalu kecil." Bella bersikap realistis.


"Iya.. lo benar kok sebagai anak pertama. Persiapkan diri lo buat ke dunia bisnis. Ini bukan Cuma katanya tetapi memang benar butuh banget banyak effort, konsistensi dan manajemen yang baik dalam mengurus perusahaan. Terkadang di Ibu Kota kita butuh orang yang bekerja gila aja gak cukup." Abian mencoba memberikan pengalamannya.


"Ya, lo benar meski belum terjun secara penuh gue sudah merasakan sedikit hal-hal seperti yang lo bilang tadi. Bukan cuma harus gila kerja kita juga harus perhatikan detail kecil meski orang lain mungkin anggapnya lebay."


Abian menganggukkan kepalanya. "Kita tetap bisa saling sharing, supaya dapat pandangan lebih luas dan semakin bisa menjalin kerja sama dengan banyak pihak."


Bella tersenyum namun matanya menatap Abian sendu. "Dalam bisnis, kita memang perlu koneksi. Tapi jangan pernah campuri urusan bisnis dengan perasan."


Dan Abian terdiam tidak bisa menanggapi sebab sedari awal hatinya memang sudah menaruh perasaan pada Bella.


Sesuai janjinya Abian membiarkan Bella untuk pulang ke rumahnya dengan mengemudi sendiri dan ia berakhir dijemput oleh Bastian di tempat bubur ayam tempat mereka makan bersama.


"Apanya yang gila sih, Bas." Abian tampak mendudukkan bokongnya di atas sofa ruang kantornya.


Abian memang bukan pulang ke rumah tetapi ia pulang ke kantornya. Suasana rumahnya juga belakangan ini menjadi tidak nyaman. Semenjak mami-nya terus menekan dan memarahi Abian tentang masalah pernikahannya dengan Amel.


"Lo deketin Bella. Modus banget lo. Ingat, sebentar lagi lo mau kawin." Celetuk Bastian.


Mendengar hal itu Abian malah memunculkan raut wajah jengkelnya. "Biarin aja, lagi pula ini bukan murni kemauan gue buat menikah. Kalo kawin mah gue udah sering.“ Abian berbicara serius dengan selipan ucapan brengseknya.


Bastian hanya bisa menggelengkan kepalanya, Abian kalau sudah membahas pernikahan bisa menjadi bermulut pedas dan terlihat sebagai seseorang yang egois.


"Batalin aja sih Bi, lo mau menjalani pernikahan beracun kayak gitu. Capek tau banyak dramanya."


"Bas, itu kedengaran seperti judul sinetron." Abian malah mengudarakan tawanya. Menanggapi dengan candaan.


Bastian mendengus sebal. "Heh, dasar! Gue sebagai teman yang baik kasih saran yang bener lo malah tanggapin bercanda." Bastian mengangkat tangannya ke udara seakan menyerah pada sikap Abian yang menganggap masa depannya tidak serius.


Abian tersenyum simpul. "Bas, membatalkan pernikahan gue dengan Amel gak semudah yang lo kira, gue bukannya nggak coba mengakhiri. Tetapi Amel itu sulit diprediksi dan dia selalu punya cara nekat buat buat tetap paksain ini pernikahan terjadi."

__ADS_1


Dahi Bastian berkerut. "Nekat apa sih Bi, gue nggak mengerti. Masa cewek kayak Amel yang kelihatan kalem dan lembut begitu punya pemikiran yang picik persis peran antagonis di sinetron." Celetuk Abian.


"Lo bisa bilang begitu karena lo nggak kena imbasnya, sedangkan gue―" Abian menghela napasnya panjang rasanya berat untuk menceritakan kejadian ini pada Bastian.


"Sudahlah Bas, sudah terlanjur kejadian. Lagi juga gue sudah memutuskan. Biarin aja kayak begini, pusing gue.. bodo amat lah.“ Lanjut Abian lagi kesal dan menutup matanya dengan sebelah tangannya.


Bastian malah mengerutkan keningnya. "Bian, lo nggak jelas! Tadi mengeluh sekarang lo terima. Apa lo bipolar."


Abian langsung menepuk pangkal lengan Bastian. "Apa-apaan gue dibilang bipolar. Sial! Yang bener aja lo kalo ngomong, Bas. Gini-gini gue bos lo.“


"Buset, nggak perlu pakai mukul juga, Pak." Tangan Bastian mengusap pangkal lengannya yang dipukul Abian tadi.


"Yang penting lo tutup mulut. Lagi gue rasa ada yang perlu gue selidiki tentang Bella."


Bastian menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Apa lo berpikir Bella itu mantan lo waktu SMA yang pernah lo ceritain," tanya Bastian hati-hati.


Abian menekan pelipis kepala-nya. "Dia terlalu mirip gue kadang nggak percaya tetapi semakin gue terbiasa sama dia kemungkinan itu semakin nyata, Bas. Bukan cuma sikap tetapi ekspresinya juga."


"Duh Bian, hidup lo dilema banget. Lo sih dahulu playboy," tukas Bastian.


"Yah, mau gimana tampang gue bintang lima sih Bas."


Bastian menegakkan tubuhnya dan membulatkan matanya lebar. "Gila, kepercayaan diri lo patut diacungi jempol." Bastian mengudarakan kedua jempol tangannya.


"Ah, curhat sama lo selalu berujung begini. Lawak nggak pernah serius."


Bastian menepuk pundak teman dekatnya itu sambil menekan-nya seolah sedang memijatnya. "Bian, gue sebagai sahabat lo tugasnya mendukung, kasih pandangan dan mengarahkan lo kalau tersesat. Masalah ambil keputusan semua tergantung di lo sebab itu hidup lo, Bro. Gue cuma pesan jangan sampai lo menyesali setiap keputusan yang lo ambil aja."


Dan Abian hanya bisa terdiam mendengar kata-kata bijak Bastian yang sayangnya sangat mengena di hatinya.


"Thanks Bro." Abian menepuk pundak Bastian.


"Oh, iya lo tadi minta reservasi restoran di hotel ForSea.. itu jadi?" Bastian mengkonfirmasi.


Abian mengangguk. "Iya, sudah selesai reservasi?"


"Iya, sudah. Struk tagihannya ada di chat. Cek aja,” tutur Bastian.


Abian mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Dan benar saja Bastian telah menjalankan apa yang diminta Abian tadi pagi-pagi buta.


"Memang lo paling bisa diandalkan Bas. Nggak percuma lo jadi teman gue." Ekspresi Abian terlihat senang.


Kemudian, jemari Abian lincah mengetikkan pesan.

__ADS_1


Pesan untuk Bella. “Malam ini jam delapan.“ Dan tak lupa Abian mengirimkan lokasinya.


"Ah, sedikit kelicik-an gak masalah kayaknya," gumam Abian dalam hati.


__ADS_2