Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 28


__ADS_3

"Ma, Bella pergi dulu ya."


Misya yang sedang duduk di ruang televisi lantas menoleh melihat putrinya sudah dalam keadaan cantik dengan mengenakan atasan halter neck crop yang dipadukan dengan celana kulot yang memiliki potongan pinggang lebih tinggi di atas pusar.


Penampilan Bella cukup sederhana, ia hanya mengikat rambutnya lebih tinggi dan memakai anting bulat dengan ukuran yang cukup besar agar terkesan glamor.


"Mau ke mana kamu," tanya Misya.


"Mau makan malam Ma sama Abian." Jujur Bella.


"Ya sudah hati-hati,” ucap Misya menyunggingkan senyumnya.


Setelah mendapat persetujuan dari sang mama, Bella bergegas menaiki mobil-nya. Bella memang tidak mau Abian menjemputnya dan mencegah Abian tau di mana ia tinggal, padahal sedari tadi lelaki itu terus saja membujuk Bella agar mau dijemput.


Namun, Bella menolak mentah-mentah, ia malah mengatakan ingin membatalkan saja sampai mengancam tidak jadi makan malam, jika Abian tetap memaksa untuk menjemputnya di rumah.


Sesampainya di restoran Bella langsung saja bertanya pada pelayan di sana, untuk menunjukkan di mana meja Abian berada. Bukan tanpa alasan. Abian bahkan sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu saat Bella baru sampai pada area parkir.


Bella tau itu saat mengecek ponselnya yang terus berdering.


"Maaf, ya. Padahal tadi gue sudah antisipasi berangkat lebih awal,” tutur Bella.


Abian lantas memulas senyumnya. "Nggak masalah Bel, gue tau macet memang gak seharusnya jadi alasan 'kan. Padahal gue udah baik hati tawarin lo buat bareng. Tapi yah tanggapan lo selalu negatif,” sarkas Abian.


Bella memilih tidak menanggapi sindiran Abian itu dan memilih untuk menggeser kursi yang ada di dekatnya lalu mendudukkan bokongnya di atas kursi kayu dengan bantalan kulit yang terasa empuk.


"Sudah pesan makanan?" Bella bertanya


"Belum. Sengaja tunggu lo," ucap Abian.


"Ya, sudah pesan sekarang saja aja." Bella berinisiatif.


Bella mengangkat tangannya ke udara sambil matanya berkelana mencari pelayan yang sekiranya dapat melihat keberadaannya dengan jelas.


Tak berselang waktu lama, seorang pelayan laki-laki datang menghampiri meja mereka.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak," ucap si pelayan ramah.


Seperti menjadi kebiasaan Bella menyipitkan matanya dan membaca nama yang tersemat di seragam sang pelayan tersebut.


"Iya, Mas Gilang saya mau minta menu." Bella tersenyum ramah.


Pelayan restoran bernama Gilang itu lantas membalas senyuman Bella. "Sebentar, saya ambilkan." Kemudian, Gilang melangkahkan kakinya kembali membawa apa yang Bella minta.


"Saya pesan salad bebek dan vongole pasta. Minumnya jus nanas." Setelah itu, Bella menutup menunya.


"Abian ada tambahan?"


"Tambah steak sirloinnya satu dan wine untuk dua orang." Abian kemudian meletakan menunya.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Sang pelayan undur diri.


Bella lalu mengangguk tersenyum ramah sementara Abian yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecut.


“Kenapa kamu pesan wine. Aku sama gak minum alkohol,” ucap Bella.


“Ya gak apa-apa. Aku bisa habisin sendiri,” sahut Abian.

__ADS_1


"Bella, kenapa sih lo sama gue tuh sering judes," panggil Abian.


Bella yang sedang bercermin merapikan anak rambutnya lantas menoleh. "Ya lo sendiri yang nyebelin.“ Singkat Abian.


"You look so good. Kamu berdandan cantik gini buat aku 'kan,” celetuk Abian.


Bella menyimpan kembali kaca kecilnya pada tas handbag-nya. "Terima kasih atas pujian lo.. Em, gue gak harus balik memuji ‘kan." Bella terkekeh. "Aku dandan untuk aku sendiri bukan semata karena lo.. Abian." Jelas Bella.


Abian lantas menggapai jemari Bella dan menggenggam telapak tangan yang terasa lembut menggelitik kulitnya.


"Ternyata lo itu harus dipancing dulunya." Jemari Abian mulai mengusap punggung tangan Bella perlahan. Tatapan matanya memandang intens manik madu kecoklatan milik Bella yang terlihat semakin indah di bawah lampu temaram.


"Gue hanya bersikap sewajarnya. Gak perlu curi kesempatan pegang tangan gitu." Bella menatap datar ke arah tangan mereka yang masih saling bertautan.


Bukannya melepaskan tangan Bella Abian malah menarik tangan Bella ke dekat wajahnya dan mencium begitu saja punggung tangan Bella.


Setelah mendapat ciuman tangan itu Bella, dengan gerakan otomatis merasakan alarm bahaya kemudian menarik lengannya cepat. "Abian, kenapa sih lo suka cium-cium di tempat umum." Wajah Bella tampak menyalak marah.


Bukannya merasa canggung Abian malah memamerkan senyum manisnya dan kembali meraih tangan Bella. "Jadi lo sukanya saat kita berdua aja," ucap Abian dengan intonasi yang berat


Bella memutar bola matanya malas. "Susah bicara sama lo."


"Jangan merajuk begitu, Bel. Tambah gemes." Abian mengerling nakal.


(Astaga, benar-benar playboy kelas kakap.) Batin Bella.


Tak lama seorang pelayan wanita datang dan menaruh beberapa hidangan yang tadi telah mereka pesan sebelumnya.


"Lebih baik gue makan daripada meladeni ucapan lo yang makin melantur."


“Itu ide yang buruk. Jangan salah paham apalagi buat spekulasi sesuka hati lo apa lagi gue selalu nurut."


Abian malah tersenyum. "Sepertinya lo beneran lapar deh, makan yang banyak sayang."


Bella yang baru memasukkan makannya itu ke dalam mulutnya hanya bisa mengunyah makanannya dengan baik, ia tidak mau tersedak hanya karena mulut kurang ajar Abian atau rayuan-rayuan mautnya.


Keduanya selesai menyantap hidangan pembuka sampai dengan hidangan utama, kini mereka tengah menunggu hidangan penutup ditemani segelas wine.


"Bel, boleh gak gue bahas sesuatu yang pribadi." Abian membuka percakapan baru.


"Tergantung dari pertanyaan kalau merasa terlalu pribadi gue nggak akan menjawab."


Abian menggoyangkan gelas dengan leher tinggi yang memang dikhususkan untuk meminum wine, ia mencoba menyesap aroma wine tersebut sebelum memasukkannya ke dalam tenggorokan.


Hari ini Abian ingin sedikit mabuk agar ia bisa tanpa pikir panjang bicara jujur pada Bella.


"Apa lo percaya pada cinta pertama Bel."


Pertanyaan Abian sontak membuat Bella menekuk jari kakinya. Sedangkan tangannya menjadi sedikit dingin. Pertanyaan yang sebenarnya Bella juga belum tau jawabannya sampai saat ini.


"Mm, gue gak tau pasti, kenapa lo tanya hal klise gitu. Kayak lo percaya aja?" Kini giliran Bella yang membalikkan ucapan Abian.


Menyesap sedikit wine-nya, Abian merasa tubuhnya menjadi sedikit ringan setelah menghabiskan satu gelas penuh. Meski samar Bella dapat melihat sudut bibir Abian tersenyum tipis.


"Gue tanya karena gue percaya akan hal itu tetapi gue bodoh karena terlambat menyadarinya."


Ungkapan yang terasa jujur jika melihat sorot mata sendu yang Abian perlihatkan pada Bella.

__ADS_1


"Lalu lo menyesal," tanya Bella hati-hati.


Abian kini malah menenggak wine kedua milik Bella sampai tandas. "Gue berharap bisa ketemu lagi walau cuma sekali."


"Untuk apa?" Bella bertanya.


Abian lantas tersenyum kecut dan ia kembali meminta pelayan yang ada di dekatnya untuk menuangkan wine lagi padahal itu sudah gelas dua yang ia tandaskan.


"Abian cukup, lo bisa mabuk." Bella mencoba mengingatkan Abian.


"Hari ini gue harus mabuk untuk menceritakan ini, Bel." Tanpa peduli peringatan Bella, Abian kembali menenggak wine di dalam gelasnya.


"Gue pengen ketemu sama cinta pertama gue meski sekali seumur hidup gue. Gue pengen ada kesempatan kedua. Ada hal yang harus gue luruskan di antara kami berdua," ucap Abian.


Dan setelah Abian mengatakan hal itu, rasa penasaran Bella semakin besar rasa penasarannya. "Kenapa lo gak berusaha mencarinya."


"Huh, gue bahkan udah mencarinya, tetapi ia selalu bisa bersembunyi dengan baik dari gue."


Melihat Abian yang semakin kacau akhirnya Bella memutuskan mengambil gelas wine milik Abian untuk menghentikan aksi mabuk Abian. Terlihat sekali Abian saat ini duduk di hadapannya terlihat kacau dan rapuh berbanding seratus delapan puluh derajat dari Abian yang genit dan nakal sebelumnya.


"Mas, saya minta tagihannya," ucap Bella setelah pelayan menghampirinya.


Setelah tagihan pembayaran datang Bella melihat dompetnya, namun sialnya ia tidak bawa uang tunai tunai dengan jumlah yang cukup jadi terpaksa ia harus menggunakan kartu kreditnya dan meninggalkan Abian sejenak yang masih terduduk diam di kursinya.


"Abian tunggu sebentar, gue mau bayar ini dahulu. Tunggu saja disini. Gue bakal bantu cari taksi buat lo pulang."


Bella sudah berdiri dari kursinya dan hendak berjalan menuju kasir, tetapi Abian yang sepertinya masih memiliki sedikit kesadaran lantas menggenggam pergelangan tangan Bella. "Tunggu," ucap Abian.


Kemudian, Abian mengambil dompet yang ada di sakunya dan mengeluarkan kartu kreditnya.


"Pakai punya gue." Abian menaruh kartu kredit berwarna hitam itu di telapak tangan Bella.


Mata Bella memandang ke segala arah tubuhnya sedikit membungkuk guna menggapai telinga Abian. "Tetapi, gue nggak tau pin-nya."


Abian lantas bangun dari kursinya dan kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Bella. "060908." Bisik Abian tepat di telinga Bella dan dengan jahilnya Abian mengecup daun telinga Bella. Sontak membuat Bella memejamkan matanya dan memekik. "Abian!"


Bibir Abian hanya tersenyum simpul dengan sedikit terhuyung kembali duduk di kursinya.


Sesampainya di kasir, Bella memberikan kartu kredit Abian dan menekan nomor pin yang sesuai dengan apa yang Abian bisikan padanya tadi.


"Kenapa pin yang Abian berikan terasa familier." Monolog Bella. Namun, Bella segera menepis pemikirannya itu jauh-jauh.


"Abian.. Ayo pulang. Gue pesan-in taksi." Bella mendekatkan dirinya pada Abian.


Namun, Abian malah menelungkupkan kepalanya pada kedua tangannya yang dilipat saling menumpuk dan Bella menjadi kesulitan melihat dengan jelas wajah Abian.


"Abian …."


Bella mencoba menggoyangkan tubuh Abian. Lama menunggu, Bella tidak mendapatkan respons sama sekali.


"Abian jangan bilang lo tidur." Bella semakin mengguncang tubuh Abian lebih kencang.


Oh, sial hari ini benar-benar sial. Dan Bella tidak tau harus memulangkan Abian ke mana, yang ia tahu hanya alamat kantornya saja. Tidak mungkin juga ia ke sana di jam sepuluh malam seperti ini, sedangkan kantor Abian dari tempatnya sekarang berjarak dua kali lipat.


Bella menggigit bibirnya cemas, apa yang harus ia lakukan dengan lelaki mabuk ini. Bahkan pelayan sudah menghampiri untuk membereskan meja mereka. Apa harus Bella mengambil keputusan ini. Bella bertanya dalam hatinya.


“Bedebah! Abian!“ pekik Bella mengumpat.

__ADS_1


__ADS_2