
Sesudah menyelesaikan pekerjaannya, Bella bergegas pulang ke rumah. Meskipun asisten rumah tangganya memberi tahu jika dirumah sepi karena mama Misya dan papa Gunarman sedang pergi ke luar kota untuk menghandle bisnis oleh-oleh juga furniture yang mereka punya di Bali juga Yogyakarta.
Tapi baru melangkah ke menuju bagian depan toko, Abian sudah duduk dengan manis di antara pelanggan. Abian bahkan mengerling nakal pada Bella.
“Sweetie ….“
Pipi Bella memerah sebab panggilan Abian serta lambaian tangannya yang begitu manis. Bella melangkahkan kakinya untuk lebih dekat pada Abian. Hanya dengan sosok Abian dan sikapnya yang manis, sudah membuat Bella begitu senang dan berenergi.
Nyatanya cinta yang dulu tumbuh kini bersemi lagi. Bella yang dulu mati-matian mengubur rasa cintanya dengan rasa bencinya nyatanya kalah. Bella merasa dengan memaafkan perlakuan Abian sudah membuat dirinya menjadi ringan dan lepas.
Semua hal yang diceritakan dan juga kebenaran yang terjadi malah membuat Bella semakin jatuh dalam pusaran cinta yang Abian terus dengungkan.
“Kok kamu ada disini?“ tanya Bella.
“Kangen kamu dong sayang.. kamu udah mau pulang 'kan?“
“Iya.. apa kamu mau ngobrol sebentar sama aku?“
Kepala Abian menggeleng. “Agak gak mau cuma sebentar sama aku. Maaf yah tadi aku gak balas chat kamu dan aku gak telepon balik kamu. Tadi aku banyak rapat dan ketemu sama investor penting.“
Bella memulas senyumnya. “Gak apa-apa kok. Aku senang kamu langsung temui aku.“
Tangan Abian mengambil tangan halus milik Bella dan seperti biasa ibu jarinya memberi belaian lembut di punggung tangannya. “Tentu aja, aku lebih suka buat ketemu sama kamu langsung. Kita pergi ke apartemen aku yuk, aku mau ngobrol banyak sama kamu. Gak masalah 'kan?“
Satu anggukan kecil Bella perlihatkan sebagai tanda ia setuju. Bella juga menggenggam tangan Abian dengan nyaman.
“Kamu bawa mobil?“ tanya Abian.
“Bawa, kamu juga bawa mobil?“ Bella balik bertanya.
“Enggak, aku gak bawa. Sengaja aku tadi kesini minta antar sama Bastian.“
Bella memulas senyumnya. “Ternyata udah di rencana-in,” celetuk Bella.
“Tentu aja sayang.. gak lucu kalau kita pergi naik mobil masing-masing.“
“Mm.. iya deh.“ Bella tersenyum cerah.
Abian menyetir mobil Bella menuju apartemen Abian. Sepanjang perjalan mereka terus berbicara dan berpegangan tangan satu sama lain. Bella juga merasakan jika rasa lelahnya bisa dengan ajaib menguap setelah bersama Abian. Sentuhan kulit Abian membuat pijatan-pijatan kecil di tubuhnya.
__ADS_1
“Kamu mandi aja dulu Bel, aku yang buat makan malam yah.“ Titah Abian.
“Kamu bisa masak?“ Suara Bella tampak terkejut.
Tanpa ada ragu Abian menjawab, “Tentu aja sayang. Aku jamin enak kok.“
Bella memulas senyumnya. “Mm, aku jadi penasaran. Kamu mau masak apa?“
“Aku buat steak ayam, kamu suka 'kan? Kamu harus jujur yah nanti nilainya. Kalo beneran enak aku boleh gak minta hadiah dari kamu.“
“Mm.. apa? Aku harus dengar dulu kamu minta apa.“
“Hah.. susah juga yah rayu kamu. Ya udah mandi sana, pakai aja baju aku gak apa-apa kok. Lain kali bawa aja baju kami ke sini yah.“
Namun kepala Bella menggeleng. “Aku tau itu modus kamu supaya aku bisa sering mampir 'kan ke apartemen kamu.. kita belum resmi menikah Bi, gak baik tinggal bareng.“ Jelas Bella.
Perlahan langkah Abian mendekat dan memeluk tubuh Bella. “Sayang.. gak ada salahnya tinggal bersama. Anggap aja latihan sebelum jadi resmi, gak perlu sekolot itu. Aku bakal jaga kamu kok.“ Bujuk Abian.
Tangan Abian bahkan sudah mengusap perut rata Bella dibalik blouse satin yang Bella kenakan. Sentuhan seduktif itu membuat kupu-kupu di perut Bella terbangun dan menggelitik.
“Abi-ian, aku harus mandi.“ cegah Bella.
“Gimana kalau kita mandi bareng?“ celetuk Abian.
Mata Bella menatap Abian dan menunjukan tatapan sebal.
“Cuma mandi bareng sayang.. bukan making love kok.“ Dengan santai Abian berucap.
Bella langsung menutup bibir Abian, tapi Abian malah terkekeh dan mengecup telapak tangan Bella yang membungkam bibir Abian.
Seketika membuat Bella melepaskan tangannya dan menatap Abian dengan matanya yang membuat mata Bella membulat lucu. “Abi!“ Suara Bella merengek manja.
“Bel, boleh aku tanya satu hal sama kamu.“
“Apa?“ tanya Bella.
“Sejak kapan kamu tau aku sama Amel mau menikah?“
Tatapan Abian berubah menjadi serius dan Bella tau jika Abian tidak sedang bercanda. Bella menerka jika Abian mungkin saja sudah tahu banyak tentang pembicaraannya dengan Amel saat mereka sepakat bertemu langsung.
__ADS_1
Bella tau jika rencana balas dendamnya batas untuk Abian tapi tidak dengan rencana balas dendamnya dengan Amel.
Setelah bertemu Abian dan memikirkan banyak hal, Bella tau jika semua luka dan hal yang menjadi mimpi buruk Bella.
“Apa kamu marah?“ Bella balik bertanya.
“Aku gak ngerti maksud kamu, terus kenapa kamu masih berurusan dengan Amel. Aku gak mau kamu membahayakan diri kamu. Gak dengan kedua kalinya aku kehilangan kamu.“ Suara Abian bergetar dan ada nada takut.
Rupanya kemarah yang Abian rasakan karena ketakutan. Setelah melihat hal itu, tangan Bella melingkar di leher Abian dan memberikan pelukan hangatnya.
“Bi.. aku bukan lagi Bella yang dulu, aku mau balas dendam sama Amel. Janji aku akan hati-hati, aku cuma mau dia berhenti buat obsesi sama kamu. Aku tau semua yang terjadi sama kamu juga karena sikap kamu yang gak bisa tegas sama Amel,” ucap Bella.
“Jadi ini yang mau kamu obrolin,” ucap Bella lagi.
“Bel, tunggu aku sebentar yah. Aku janji setelah masalah aku, Amel dan juga mamaku selesai aku bakal nikahin kamu.“
Pelukan Bella renggangkan dan mengusap rambut bagian depan Abian yang menutupi kening. Bibir Bella tersenyum, mata coklatnya diam-diam betah menghadapi setiap lekuk wajah Abian yang memang tampan.
“Jangan janji dulu, kita jalani aja yah. Aku gak mau nanti janji aku malah jadi beban bagi kamu.“ Bella bersikap realistis.
Tanpa banyak berkata, Abian meraih tengkuk Bella dan menyatukan bibir mereka untuk saling menyalurkan perasaan, adrenalin dan hormon endorphin untuk memenuhi keinginan biologis keduanya.
Bunyi decakan, rasa hangat bercampur menjadi satu lewat kedua bibir mereka yang elastis untuk saling melahap.
Abian menarik dirinya dan menghentikan pertautan bibir mereka.
“Bella, aku gak mau kehilangan kamu. Bell, aku tau ini bukan cara yang manis untuk melamar kamu tapi—” Abian menjeda ucapan-nya.
Bella merasa tubuhnya membeku saat Abian berlutut dan memamerkan cincin yang tersemat pada sebuah kotak berwarna hitam.
“Bi.. kamu—”
“Bella Gunarman, maukah kamu jadi istri aku.“
Terkejut dan juga merasa bahagia, dengan mata yang berkaca-kaca Bella menghampiri Abian dan memeluk tubuh Abian erat.
“Yes, I do.“
Dan Bella merasa menjadi wanita beruntung, meski ia belum tau seperti apa ke depan, juga lamaran yang mengejutkan ini, tapi Bella yakin jika Abian tulus mencintainya.
__ADS_1
Mencintai sosok Bella yang cupu, tidak berdaya dan tidak punya apa-apa.