
Setelah pergulatan bibir keduanya yang cukup intens itu. Bella berusaha menepuk pundak Abian, juga mencoba mendorong tubuh Abian agar tautan mereka yang panjang itu berakhir.
Bella juga butuh udara di tengah badannya yang masih cukup lemas
"I love you," ucap Abian. Sesudah berhasil melepaskan tautannya dari bibir Bella.
Namun, baru Bella ingin menyudahi keintiman ini dengan beranjak dari kursi, bibir Abian sudah kembali membungkam bibirnya. Tak kalah semangat dari sebelumnya.
Bella tidak memungkiri jika Abian termasuk pencium yang ulung. Dirinya terbuai juga menikmati sentuhan nikmat itu yang membuat seluruh tubuhnya bergelenyeran bagai sepotong jelly kenyal.
Dan setelah melakukan usaha itu lagi. Tautan bibir mereka terlepas menyisakan benang saliva yang menjuntai.
"A―abian, please …."
Mendengar ucapan Bella yang terdengar memohon itu Abian yang tadinya sudah dikuasai kabut gairah lantas membawa bibirnya untuk mengecup kening Bella dan membelai sayang rambut cokelat milik wanita yang ia cintai itu.
"Ya Bel, aku sedang berusaha mengendalikannya. Maaf," ucap Abian sedikit mengeram.
Bella lantas meringsak masuk lebih dalam ke pelukan Abian. Merasakan detak jantung Abian yang berdebar nyata seperti miliknya.
"Makasih yah. Sudah mau mengerti keadaanku."
"Ya, sayang. Sekarang kamu ganti baju. Aja habis ini kita jalan-jalan aja sebentar ke mall. Kamu mau kencan gak sama aku?"
Mendengar ajakan Abian itu, Bella langsung mendongakkan kepalanya. Memandang manik mata hitam milik Abian yang ternyata terlihat indah dari sudut seperti ini.
"Aku mau main ke tempat permainan arkade," ucap Bella.
Abian langsung memandang Bella dengan sorot wajah bingungnya.
"Kamu yakin mau main arkade dengan kondisi begini. Katanya masih capek badannya. Padahal aku rencananya mau ajakin kamu nonton di bioskop."
Bella mengangguk cepat tanpa ada rasa ragu. Wajahnya bahkan memancarkan raut wajah ceria.
"Aku sudah lama banget gak main arkade. Kan aku nanti minum vitamin yang kamu beliin. Masih bisa jalan kok," ucap Bella dengan penuturan polosnya.
"Kalau kamu ada kesulitan kasih tau aku aja,”ucqp Abian.
Abian mulai mengelus punggung Bella dengan lebih seduktif. Bella langsung menegakkan tubuhnya dan matanya melotot.
"Ih, kamu mah modus. Ayolah masa kita terus seharian di apartemen aja. Kamu tega banget sama aku."
Mendengar Bella yang mencebik dan bibirnya yang mengerucut. Membuat Abian terkikik geli, ternyata Bella yang biasanya jutek dan ketus bisa berubah jadi manja juga.
"Abis gimana. Aku makin candu sama kamu." Abian mencolek dagu mungil Bella.
"Gombal,” sahut Bella.
"Gak masalah.. aku gombalnya cuma sama kamu." Abian lagi-lagi senang menggoda.
Bella kemudian mendorong dada Abian hingga pelukan keduanya terlepas.
"Aku mau siap-siap kalo meladeni kamu yang ada kita beneran gak jadi pergi main arkade-nya."
Abian hanya tersenyum simpul melihat Bella yang segera berjalan dengan sedikit berlari kecil itu, seakan takut jika Abian benar-benar menggodanya.
"Gila! Woo.“ Abian dengan semangat melayangkan tinjunya ke udara. “Akhirnya lo bisa dapetin cewek pujaan lo. Cewek impian lo.. Bian!" Monolog Abian. Menunjukan betapa bahagia hatinya kini.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Bella sudah selesai berganti baju dan memulas wajahnya dengan riasan tipis yang menawan. Tubuhnya juga sudah harum dan segar.
Tapi baru saja keluar kamar mandi Bella, sudah disambut dengan Abian yang langsung meraih tangannya.
"Kamu cantik banget, sayang." Puji Abian.
Pipi Bella bersemu memerah bukan hanya karena ada pulasan blush-on tetapi juga karena tingkah manis Abian. "Makasih, aku gak harus muji kamu balik 'kan?"
Abian bergelak tawa. "Pengennya gitu sih. Ya udah kalau gak gitu sini cium dulu," ucap Abian lagi.
Bella mengerjapkan matanya lucu. "Apaan sih, kamu cium-cium melulu!"
"Gimana yah, aku tuh seneng banget bisa ketemu sama kamu. Makanya aku begini."
"Terus kalo udah lama ketemunya nggak kayak begini lagi." Bella menajamkan tatapan matanya penuh selidik.
Abian kemudian memamerkan gigi rapinya. "Enggak dong. Gak begitu, tetapi tergantung juga gimana cara kamu anggap hubungan kita." Jujur Abian.
Bella kemudian menatap Abian dengan tanya. "Maksud kamu?" Suara Bella penasaran.
"Ya, kita nggak tau ke depan bakal seperti apa hubungan kita ini. Aku maunya sama-sama kamu terus. Tetapi kadang aku suka takut sama perkataan kalo jodoh itu di tangan Sang Pencipta,” tutur Abian.
"Kenapa mesti takut?" Bella balas bertanya .
Abian kemudian menatap gemas Bella. "Ya, aku takut kalo Sang Pencipta bilang kamu bukan jodoh aku."
Mendengar hal itu Bella terdiam. Sedikitnya apa yang dikatakan Abian memang benar adanya. Bella juga tidak bisa menampik hal tersebut karena beberapa orang di sekitarnya dan juga yang sudah pacaran lama kenyataannya bisa dan banyak yang putus. Dan ada yang baru kenal langsung menikah.
Sampai sekarang memang jodoh itu misteri yang tidak akan pernah kita ketahui kepastiannya.
"Sayang, kok kamu diam. Apa yang aku bilang itu bikin kamu sedih." Tangan Abian meraih wajah Bella dan mengusap pipi tirus wanita yang ia cintai itu dengan lembut.
"Sudah, gak usah dipikirin lagi." Sikap Abian yang tidak bisa diprediksi kemudian bergerak mencium kedua belah pipi Bella lembut.
"Yuk, katanya tadi mau main arkade." Ajak Abian.
Bella kemudian mengangguk cepat. Terlihat sekali wajahnya berseri dan antusias menerima ajakan Abian itu.
Keduanya lalu berjalan keluar kamar sambil berpegangan dengan tangan yang saling bertaut satu sama lain layaknya seorang pasangan yang sedang dimabuk cinta.
"Kamu memang bisa main arkade Bel," tanya Abian. Sesaat mereka sudah memasuki area mall.
"Bisa dong. Aku paling jago main basket sama mesin dance itu loh." Bella berucap dengan percaya diri tinggi.
"Memang kamu jago dance?" Nada bicaranya seakan terkejut dan tak percaya.
"Iya dong, aku bisa buktiin kok nggak cuma omongan doang. Nanti kamu lihat ya skornya."
Abian kemudian mengacak puncak kepala Bella gemas. "Iya deh percaya."
"Ih, kamu kayak enggak ikhlas begitu bilangnya." Keluh Bella seperti merajuk.
"Ikhlas sayang. Ya, ampun aku cium juga nih." Ekspresi Abian gemas. Wajah Abian juga sudah ingin mendekat pada wajah Bella.
Namun, Bella dengan cepat memundurkan wajahnya. "Tuh, kan kamu kumat!“
Abian hanya bergelak tawa menanggapi tingkah imut Bella. Dan pasrah menerima pukulan di dada bidangnya.
__ADS_1
Sesampainya di area arkade, Bella langsung bersemangat menghampiri mesin basket. "Bi, udah beli tiketnya?" tanya Bella. Pupil mata Bella membesar, seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan impiannya.
"Iya, tunggu sebentar sayang." Abian menyahut.
Dengan sabar Abian mengantri dan membeli kartu akses yang sudah berisi sejumlah saldo.
“Ini sayang kartunya,” ucap Abian.
“Makasih Abi ….“ Bella menyungging senyum manisnya.
Setelahnya bola basket itu turun bergelindingan, suara tanda permainan dimulai serta penghitung waktu mulai berbunyi.
Bella dengan santai memasukkan bola basket itu ke dalam ring-nya. Abian yang berada di sampingnya hanya takjub bagaimana tangan ramping mungil itu bisa selalu memasukkan tepat ke dalam ring.
"Kan. Aku enggak cuma omong doang,” celetuk Bella.
"Eh, belum ketahuan jagonya. Masih ada babak selanjutnya. Kamu jangan sombong dulu yah."
"Oke. Siapa takut." Sahut Bella mulai mengangkat bola basketnya lagi.
Dan sampai babak terakhir Bella dapat melakukannya dengan baik meski tidak mendapat nilai sempurna. Tetap saja itu adalah nilai yang cukup besar dibanding milik Abian.
Bibir Bella menyungingkan senyum. "Sekarang, benarkan kamu sudah lihat buktinya," ucap Bella dengan percaya diri.
"Iya.. iya deh kamu jago deh. Padahal 'kan kamu itu betina." Abian berucap jenaka.
Keduanya kemudian larut dalam permainan, kegembiraan yang selama ini Abian rindukan. Ia menatap lekat setiap tawa dan ekspresi Bella untuk ia rekam dalam kepalanya.
'Semoga saja kita berjodoh Bel.' Gumam Abian penuh dengan pengharapan.
"Bel, kamu udah puas belum mainya," tanya Abian saat keduanya telah selesai bermain di mesin dance.
"Kamu laper yah," tanya Bella.
"Iya laper banget. Tadi pagi aku sarapan cuma sedikit soalnya takut kelamaan kamu tunggu aku di apartemen."
"Ya, udah ayo. Kita makan aja sekarang, kamu mau makan apa Bi?"
"Belum kepikiran. Kamu mau makan apa?" Abian balik bertanya.
"Terserah," ucap Bella.
Abian menghembuskan napasnya panjang. "Kebiasaan deh jawabnya begitu. Aku 'kan jadi tambah bingung."
Bella terkikik geli. "Kamu yang mau makan juga malah bingung. Lucu yah kamu."
"Baru tau aku lucu." Diiringi dengan cengiran Abian.
"Habis selesai makan antar aku pulang yah Bi," ucap Bella.
"Enggak bisa nanti agak malaman aja.. Aku masih pingin berdua sama kamu."
Bella menggeleng. "Mama, bisa khawatir anaknya nggak pulang ke rumah dua hari."
Mendengar penuturan Bella itu Abian juga tidak bisa egois karena bagaimanapun Bella memang masih tinggal bersama orangtuanya tak seperti Abian.
"Ya, sudah. Kalau begitu kita makan nasi Padang aja deh. Aku mau makan rendang.“ Ajak Abian.
__ADS_1
Kepala Bella mengangguk dan mengamit tangannya pada Abian.