Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 14


__ADS_3

Dari sebagian besar entitas pria yang mencoba mendekati Bella, saat ini hanya Arga Mahardika yang mampu mendekati hatinya dengan mudah. Bagi Bella, Arga itu punya rasa yang sama dengan rasa saat bersama Alisa. Memang perasaan itu tidak terbentuk dalam waktu singkat. Ia mengenal Arga sejak dua tahun lalu. Dan terhitung beberapa bulan terakhir Bella mulai mengenal Arga lebih dekat berkat Alisa juga yang beralih profesi mencoba membuka biro jodoh.


Awalnya Bella sempat menolak usulan Alisa tersebut. Ia malu sebab Alisa dengan terang-terangan bilang pada Arga untuk melakukan pendekatan padanya. Astaga benar-benar apa yang dilakukan Alisa itu memang selalu kelewat sembarangan. Bagi Alisa lebih baik melakukan sesuatu daripada berdiam dan nantinya menyesal. Prinsip yang selalu dipegang seumur hidupnya.


Namun lain bagi Bella, ia bukan tipikal pemberani dengan percaya diri kelewat tinggi yang bisa melakukan hal seperti itu.


Bella harus akui beberapa bulan terakhir memang kehidupannya lebih menyenangkan. Arga sering memberinya perhatian kecil yang membuat Bella merasa tenang. Belum lagi Arga termasuk dalam pendengar yang baik. Arga yang kebetulan memang lebih tua darinya tiga tahun memiliki sifat layaknya seorang kakak.


Kalo boleh menilai fisik Arga itu memiliki paras yang tidak kalah dengan beberapa selebgram atau aktor papan atas. Kulitnya memang tak terlalu putih cerah seperti artis Korea. Arga punya kulit sawo matang khas orang Asia, menjadikannya terlihat manis ditambah lesung pipit yang menyembul ketika tersenyum. Postur tubuh yang tinggi dan berisi membuatnya berpenampilan manly.


Kadang Bella ragu apa iya, hanya ia seorang yang sekarang dekat dengan Arga. Melihat apa yang Arga punya rasanya mustahil jika pria sepertinya hanya dekat pada satu wanita.


"Bel, kapan kamu mau main ke Bandung?" Suara barito bergema mengisi kamar dengan dinding tembok berwarna kelabu.


Raut wajah hangat terpancar menatap ke arah kamera seperti layaknya sosok yang tengah berada di dalam layar ponselnya berbicara langsung di hadapannya. "Nanti kalo aku udah liburan semester, biar agak lama main disana."


Arga tersenyum manis hingga tercetak jelas lesung pipit yang semakin membuatnya menawan.


"Aku tunggu loh," sahut Arga dibujung teleponnya.


Tangan Bella mencoba meraih gelas yang ada di dekat ponselnya. Meneguk teh madu hangat yang sengaja ia buat. Bella senang menghabiskan waktu lama-lama mengobrol dengan Arga. Terkadang jika sudah tak ada tema obrolan mereka hanya saling menatap atau menemani satu sama lain sampai salah satu bersedia mengakhiri percakapan.


"Bel, nanti party Jodhi datang kan?"


Bella nampak berfikir sejenak sebab ia mengingat kembali perkataan Alisa lagi. Entah satu sisi hatinya masih terasa berat.

__ADS_1


"Em, lihat situasi aja, Ga― " Belum sempat Bella melanjutkan perkataannya, Arga sudah menimpalinya.


"Aku datang. Jadi pasangan aku ya … please." Arga memohon.


Wajah Arga terlihat menunjukan permohonan. Sorot matanya terlihat begitu tulus dan Bella tak mengerti mengapa ia selalu lemah ketika Arga memberi tatapan seperti itu.


"Aku usahakan datang." Final Bella, lagi-lagi ia ragu pada dirinya. Bahkan segala bujuk rayu Alisa seakan mengalahkan segala rasa takut serta segala pertimbangan yang penuh di otaknya membuat dirinya semakin hilang arah.


Arga hanya tersenyum tipis.


"Okey, semoga ada kabar baiknya yah." Sedikit berharap Arga tidak ingin memaksa Bella sedikitnya Arga tau salah satu penyebabnya.


"Em." Jawab Bella singkat menyungingkan senyum sebab ia juga tak ingin membuat Arga terlalu kecewa.


Kira-kira setengah jam lamanya Arga video call, ia memilih merebahkan dirinya diranjang yang empuk. Entah tubuhnya terasa begitu lelah hari ini, mungkin ada kaitannya dengan keadaan toko yang sedang ramai. Memaksanya bekerja ekstra lebih. Toko baju dan tempat ngopi yang Arga kelola di Bandung memang tak pernah sepi pelanggan. Bisnis ini memang bermula dari usaha patungan antara ketiga temannya.


Belum lama Arga memejamkan matanya suara ketukan pintu terdengar. "Den, dipanggil bapak." Dengan langkah sedikit gontai ia berjalan menuju pintu. "Ditunggu di gazebo taman belakang." ucap Asisten rumah tangganya yang bernama Bi Anih.


Dari kejauhan tampak seorang pria paruh baya yang sedang duduk di gazebo kayu ditemani oleh secangkir kopi yang masih tampak mengepul. "Ada apa, Pa?" ucap Arga berdiri di depan kolam ikan.


"Besok ada makan malam di rumah keluarga Hartono. Kamu harus ikut." Dengan nada datarnya.


Mendengar ucapan itu Arga sudah hafal betul sering kali ia dipaksa mengikuti kemauan Papanya yang memang selalu bersikap otoriter.


"Arga enggak bisa, Pa. Besok ada kerjaan."

__ADS_1


Tanpa menunggu balasan dari Papanya. Arga beranjak pergi menuju kamarnya kembali. "Sekali saja menurut. Selalu menghindar. Kamu itu anak satu-satunya tapi mengecewakan. Apa kata teman-teman Papa nanti. Kamu selalu sibuk dengan bisnis kecil mu itu. Ingat kamu itu pekerja laki-laki satu-satunya di keluarga dan calon penerus Maha Group."


Seketika langkah Arga terhenti tangannya terkepal erat namun tubuhnya masih membelakangi papanya. Ucapan menyakitkan itu memang sering Arga dengar. papa Arga selalu saja merendahkan bahkan pendengaran Arga sudah kebal menerima kata-kata seperti itu. Walaupun hatinya selalu memanas saat menghadapi sang papa ia hanya akan selalu diam dan meredam kemarahannya semata ia lakukan karena wanita yang ia cintai.


"Papa masih punya anak lain. Minta Arleta, dia lebih nurut daripada aku persis seperti mamanya itu!" ucap Arga.


Entah hari ini benar-benar ia tidak mampu mengatur emosinya. Pikirannya begitu lelah semenjak mamanya terbaring semakin lemah. Semenjak kecelakaan tunggal dua tahun silam di ruas Tol Pasteur, mama Arga hanya dapat terbaring lemah di rumahnya. Segala daya upaya sudah dikerahkan bahkan sampai berobat di luar negeri. Tetapi semua hal yang dilakukan tidak menuai hasil signifikan. mamanya lebih mirip seperti mayat hidup yang terbaring lemah. Mungkin jika salah satu alat dari tubuhnya tidak terpasang mamanya akan kehilangan nyawa.


"Kalo Papa malu punya anak kaya aku, mending coret aja aku dari daftar keluarga. Dan satu lagi Mama sekarang jadi tanggung jawab Arga."


Sebuah keputusan berani yang Arga ambil dalam hidupnya ia sungguh tak tahan dengan semua tekan yang ia terima dari papanya. Padahal selama ini ia sudah bersikap sabar.


Suara bangku yang berderit dengan lantai menambah suasana yang menegang. "Kamu harus mengikhlaskan Mamamu, Ga." Dengan helaan nafas tertahan bercampur emosi.


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut papanyaa membuat Arga semakin naik pitam, ia tidak pernah habis pikir papanya yang jelas-jelas mengkhianati mamanya itu tega berbicara seperti itu. Segera Arga membalikan wajahnya menatap tajam, sarat akan intimidasi dan raut wajah kecewa yang amat kental.


"Tidak pernah, sampai kapanpun aku tidak akan menuruti keinginan terbesar Papa itu. Jangan harap Wanita itu bisa jadi pengganti Mama."


Langkah seribu Arga ambil memasuki kamar sang mama yang nampak tentraman. Tangannya meraih jemari lemah yang nampak pucat di balut beberapa jarum yang menancap. Kepalanya tertunduk lemas. Matanya sudah berkaca-kaca. Suara mesin yang berlomba saling berbunyi. Menandakan alat yang terpasang sebagai penunjang hidup itu berfungsi sebagai mestinya.


"Mah, tolong tahan sebentar yah. Arga tau Mama kesakitan menerima semua siksaan ini. Arga janji secepatnya bakal ngelepasin semua penderitaan ini."


Air mata Arga yang terbendung sejak tadi dipelupuk matanya kini penuh, tidak mampu lagi ditahan lelehannya mengalir begitu saja. Arga dengan sigap mengusapnya, ia tidak boleh bersedih apa lagi bersikap lemah. Bagaimanapun mamanya selalu bilang jika anak laki-laki harus kuat.


"Ma, besok kita pindah ketempat yang lebih baik yah." Dan segera Arga bangkit mengusap surai hitam Mamanya serta mengecup tangan itu dengan lembut.

__ADS_1


Hatinya sungguh terisak. Bagaimana rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan tempat paling nyaman menjadi sebuah neraka baginya. Arga tak habis pikir papanya tega membuang begitu saja istri yang selama ini setia mendampinginya setelah wanita sialan itu datang membawa perut besarnya kerumah


Arga sangat ingat kejadian itu bahkan kejadian yang membuatnya sadar jika wanita yang ia lihat kala itu di kantor papanya sedang bermesraan adalah wanita yang sama datang ke rumahnya membawa kabar buruk serta perpecahan bagi keluarganya.


__ADS_2