Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 25


__ADS_3

Mungkin ini sudah berlangsung beberapa minggu, Bella setiap harinya sering datang mengunjungi kantor atau bertemu di tempat lain.


Penelitian yang Bella susun juga sudah sampai pada bab ke empat yang sebenarnya sudah dalam tahapan akhir.


"Gue sudah sampai di GBK (Gelora Bung Karno)," ucap Bella di ujung teleponnya.


"Gue ada di area parkir timur," jawab Bella lagi.


Kemudian, ia memutuskan sambungan telepon itu dan memasukkan ponselnya lagi dalam saku celananya. Setelah mendengar jawaban Abian.


Terkadang Abian memang mengajaknya bertemu di tempat-tempat yang tidak terduga seperti saat ini, pagi hari disaat hari minggu, Bella sebenarnya terbiasa bangun sedikit lebih siang pada hari libur seperti ini, tetapi Abian malah memintanya bertemu di lapangan stadion olahraga. Tentu ia harus rela meninggalkan ranjangnya yang empuk.


Semuanya demi skripsi-nya yang harus berjalan lancar. Karena itu pula Bella benar-benar terjebak dengan Abian di dalam kesehariannya, ia juga sekarang lebih intens berkomunikasi dengan Abian dibanding dengan Arga.


Sebenarnya Bella kemarin baru akan mengajak Abian bertemu di hari selasa, tetapi tiba-tiba Abian memajukan hari dan waktunya begitu saja.


Dan Bella tidak bisa protes pada Abian meski ia sangat kesal saat ini. Karena Bella tau Abian sangat sibuk. Padahal Abian itu bos besarnya tapi setelah mengikuti keseharian Abian seperti apa di kantor, Bella tau Abian itu bos tidak menjadikannya tenang-tenang saja di kantor dan duduk menandatangani dokumen.


Abian tipe bos yang suka turun langsung mengawasi anak buahnya. Terkadang ikut membantu pekerjaan mereka. Maka dari itu benar adanya jika pak Agus, selaku dosen pembimbingnya sangat merekomendasikan Abian yang memang sangat tahu seluk beluk usaha creative yang ia bangun.


"Dasar sok seenaknya!" Bella mendumal.


"Jangan bicara begitu, gue sudah berusaha meluangkan waktu liburku loh." Suara barito itu lantas membuat tubuh Bella terlonjak kaget. Bella sudah hafal dengan jelas pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan Abian.


Sambil memegangi dadanya, Bella menoleh ke arah suara itu yang terdengar jelas di telinga sebelah kanannya.


"Untung, gue nggak punya penyakit jantung," ucap Bella ketus.


"Lagian kenapa sih selalu bicarain gue saat orangnya enggak ada," ucap Abian kemudian menegakkan tubuhnya kembali setelah sedikit membungkuk. Abian memang punya postur tubuh yang cukup tinggi dari Bella. Maka dari itu Abian suka membungkukkan tubuhnya jika mereka saling berhadapan.


Bella memicingkan tatapannya, Abian luar biasa sekali percaya dirinya. Lagipula, Bella itu mengeluh bukan membicarakan hal yang tidak-tidak tentang Abian.


"Siapa juga yang bicarain lo, gue mengeluh sendiri yah!" Bella melipat kedua tangannya di dekat tulang rusuknya.


Abian malah tersenyum melihat wajah kesal Bella. "Ya udah jangan marah-marah ini masih pagi, Bel. Harusnya bibirnya tuh senyum."


"Abian, serius kita mau olahraga?" Bella bertanya dengan wajah yang tidak yakin.


Abian berdiri di tempatnya kemudian memindai penampilan Bella yang memakai kaus juga training olahraga. "Lo sudah siap juga, jadi ayo." Abian sudah memimpin jalan.


Bella yang masih bersandar di mobilnya itu mau tidak mau mengikuti Abian, mencoba mensejajarkan langkahnya.


"Jadi gimana penelitian bab empat lo sudah sampai sejauh mana?" Abian membuka pembicaraan.


"Analisis pasar tinggal dimasukkan dan gue butuh data statistiknya,” jawab Bella.


Selagi berjalan santai mengelilingi arena stadion, mereka terus berbicara mengenai skripsi Bella dan bimbingan nya sudah sejauh apa. Bella dapat melihat wajah Abian yang tampak lelah juga kantung mata Abian yang terlihat menghitam.


Meski raut wajahnya terlihat segar tetapi Bella dapat menangkapnya dengan baik.


"Ya, boleh aja sih. Tetapi hanya data pasar yang analisisnya belum diolah kembali. Sebagai lampiran tambahan aja.“ Jelas Abian.


Bella menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu nanti kirimkan datanya via email aja bisa 'kan?"

__ADS_1


"Nanti malam aja kita bertemu di restoran yang ada di Hotel ForSea aja," ucap Abian menyunggingkan senyum.


Mendengar hal itu Bella mendengus sebal, lagi-lagi Abian menjadi seenaknya menentukan tempat mereka bertemu. Lagipula kenapa harus di hotel hanya untuk sebuah dokumen saja. Bella tau ini hanya bagian modus Abian.


"Sepertinya lo adalah tamu reguler di sana," sarkas Bella.


"Bisa dibilang begitu," jawab Abian ringan.


Guk!Guk! suara seekor puppy berwarna hitam yang tengah menggonggong kencang di dekat Bella.


"Akh!" Bella memekik kencang sambil berlari, mencoba menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung Abian.


"Abian, tolong singkirkan itu. Usir! Hus.. Hus!"


Suara Bella terdengar terengah. Bahkan, Abian bisa merasakan napas Bella yang berhembus kencang di punggungnya.


"Ya ampun Bel ini cuma puppy. Badannya juga lebih kecil dibanding lo." Abian terkekeh geli.


“Tetap aja giginya tajam. Gue takut.. Jangan ketawa-in dong! Abian gue serius takut,” ucap Bella.


Tapi Bella yang mendengar suara tawa Abian lagi lantas memukul punggung Abian. Sampai si empu memekik. "Aw! Nggak perlu pukul juga kali, Bel." Keluh Abian mengaduh.


"Abian, cepat usir. Gue takut." Suara Bella kini berubah menjadi serak. Mengatakan kedua kalinya jika ia benar-benar takut.


Abian langsung membalikkan tubuhnya dan malah mendekap Bella, menepuk punggungnya perlahan. "Hei, jangan takut gue di sini. Tenang," ucap Abian lembut mencoba membuat Bella tidak panik.


Tak lama kemudian saat Abian tengah menenangkan Bella karena gonggongan puppy yang tidak mau berhenti, datanglah seorang lelaki yang cukup matang datang menghampiri bersama dengan seorang gadis kecil didekatnya.


"Miki ke sini!" panggil gadis kecil itu merentangkan tangannya ke arah puppy yang ada di dekat kaki Bella.


"Aduh maaf yah tadi gak sengaja tali pengaitnya lepas." Kata lelaki itu yang Abian tebak adalah kerabat dari gadis kecil yang mempunyai puppy itu.


"Iya, maaf yah Om dan Tante. Tenang saja Miki gak menggigit, mungkin tadi Miki sedang panik karena tantenya mungkin ketakutan atau mau serang Miki.“ Jelas si gadis kecil itu.


Sementara Bella masih bersembunyi di dalam dada bidang milik Abian.


"Maaf yah, pacar Om itu takut," tambah si gadis kecil itu dengan raut muka yang menunjukkan rasa bersalah.


Abian lantas tersenyum. "Iya, enggak apa-apa. Pacar Om memang punya trauma sama puppy jadi agak takut kalau melihat puppy sekalipun ukurannya yang sangat kecil. Tapi pacar Om gak lakuin apa-apa kok sama Miki." Jelas Abian.


"Maafin Miki yah tante,” ucap sang gadis cilik


Namun Bella tetap diam dan tangannyanmasih erat memeluk tubuh Abian.


"Ya, tidak apa-apa," jawab Abian seolah mewakilkan.


"Kalau begitu saya permisi maaf yah atas keteledoran saya dan anak saya," kata lelaki itu. Yang ternyata Ayah dari sang gadis cilik.


"Iya Pak, gak apa-apa kok. Saya mengerti," jawab Abian diiringi senyum ramahnya.


Dan setelah Ayah, anak dan puppy itu pergi menjauh Bella mulai mengangkat kepalanya mendongak melihat Abian yang masih tersenyum dan mengelus lembut punggungnya dengan penuh kasih sayang.


Abian juga merengkuh pinggang Bella untuk lebih dekat dengannya. Membelai lembut kedua pipi Bella menggunakan ibu jarinya.

__ADS_1


"Makasih Abian," ucap Bella.


Perlahan Bella mendorong bahu Abian dan melepas tangannya dari pinggang Abian. Hingga tubuh mereka sudah tercipta jarak.


"Jangan nangis puppy-nya udah pergi. Benar punya trauma, Bel."


Bella lantas mengangguk lemah. "Iya." Suaranya terdengar serak.


Entah ada angin dari mana Abian menangkup pipi Bella dan mendaratkan bibirnya pada kedua sudut mata Bella.


"Udah, jangan nangis lagi. Gue nggak suka liat perempuan nangis." Dengan wajah yang terlihat santai.


Sementara Bella hanya mengerjapkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja Abian lakukan padanya, bahkan Bella tidak bisa protes, sebab Abian langsung berlalu begitu saja berjalan mendahuluinya.


"Abian," panggil Bella nyaring.


Abian malah berlari kecil sengaja agar Bella tertinggal jauh di belakangnya.


"Ayo lari, biar keringatan dan sehat," ucap Abian menolehkan pandangannya.


Bella kemudian berhasil memegang pergelangan tangan Abian. "Bian."


"Kenapa." Wajah Abian tampak tenang mengamati Bella yang sedang berusaha mengatur napasnya untuk kembali berbicara.


Tubuhnya yang tadinya sedikit membungkuk kini kembali tegak. "Kenapa sih suka banget cium-cium gue di depan umum." Bella tampak memberi tatapan sebal dan menagih penjelasan.


"Memang harus ada alasan khusus untuk itu?"


Bella malah semakin membelalakkan matanya tak percaya dengan jawaban Abian yang memberinya tanggapan tidak serius.


"Harus dong! Gue nggak terbiasa dengan sentuhan sama cowok yang bukan pacar gue, lagi kita bukan seseorang yang terlalu akrab untuk bisa melakukan hal seperti itu."


"Ya sudah mulai sekarang biasakan, Bel. By the way kita masih status pacar." Abian menjawab dengan nada santainya lagi.


"Hah! apa lo bilang," pekik Bella tidak terima.


"Kan tadi anak kecil itu sudah bilang lo pacar gue. Gak ingat.“


Abian langsung mengulang ucapan anak kecil itu dengan baik.


Baru saja Bella ingin protes Abian malah mendekatkan wajahnya pada Bella. "Kalo ngomel terus gue cium." Wajah dan tatapannya syarat akan ancaman.


Namun Bella tidak takut, ia malah ingin buat perhitungan atas tindakan Abian yang menciumnya di depan umum.


"Abi― em," ucapan Bella terhenti karena Abian benar-benar mencium bibirnya dengan nekat sesuai ucapan-nya.


Dan beberapa detik kemudian Abian melepaskannya. Ternyata Abian tidak pernah main-main atas ucapannya.


"Abia― "


Abian lagi-lagi mencium bibir Bella dan kali ini ********** lebih lama. Membuat kelopak mata Bella terbelalak.


"Jangan ngomel terus, nanti malah gue buat bibir lo bengkak." Suara Abian terdengar rendah. Sudut bibirnya tersenyum.

__ADS_1


"Ayo, nanti keburu siang dan olahraganya jadi enggak efektif. Habis ini gue beliin jus mangga, favorit lo 'kan."


Tanpa menunggu jawaban Bella lagi Abian menggenggam telapak tangan Bella dengan berani.


__ADS_2