
Abian menginjak pedalnya sedikit lebih dalam. Pandangannya menjadi lebih jernih seperti siap untuk menjadi pembalap terdepan. Tak sabar ingin segera melihat wajah sang kekasih hatinya dan juga tak sabar untuk mencium aroma minis dari tubuh Bella yang menjadi candunya akhir-akhir ini.
Sambil bersiul memasuki lift menuju unit apartemennya, Abian langsung melangkahkan kakinya segera ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dan ingin terlihat segar di mata Bella.
Tak lupa, Abian menyemprotkan body musk yang beraroma maskulin di tubuhnya yang telah bersih dan kembali segar berkat basuhan air dingin.
Abian memakai pakaian rumahan dan kemudian berjalan dengan santai mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan begitu saja di ranjangnya.
Pesan dari Bella. “Aku udah ada di parkiran basement."
Pesan yang dikirimkan Bella sekitar lima menit yang lalu. Abian mengambil langkah lebar untuk langsung keluar dari unit apartemennya dan memasuki lift dan menekan tombol menuju lobi dan parkiran basement.
Telinganya kini sudah menempel ponsel pintarnya. "Sayang, kamu masih di parkiran atau di lobi?"
"Ya sudah, kamu tunggu disitu. Aku on the way.“ Lanjut Abian lagi bicara.
Setelahnya Abian mengantongi ponselnya pada saku celana pendeknya.
Begitu pintu lift membuka dan ia sampai pada lobi utama apartemennya. Manik mata Abian berkelana, melihat keadaan lobi dan menemukan Bella yang dengan anggun duduk di sofa dengan kaus merah berpotongan crop top dan juga rok mini berpotongan lebar berwarna hitam.
"Sayang," ucap Abian berdiri di hadapan Bella yang sedang fokus pada ponselnya.
Kepala Bella menoleh kemudian senyum di bibirnya menyungging.
"Cepet juga kamu sampainya," ucap Bella.
Abian memamerkan cengiran khasnya. "Iya dong, kan udah kangen banget sama Ayang aku."
"Ayang," ucap Bella membeo.
"Iya … aku suka panggil kamu ayang dibanding sayang. Kayaknya lebih cute gitu buat kamu pas bangt kamu gemesin soalnya," Abian mengulurkan tangannya dan di sambut dengan jamari Bella yang meraihnya.
Bella hanya menyunggingkan senyumnya. "Sok, romantis banget kamu kayak anak SMA aja."
Keduanya langsung berjalan menuju lift sambil kedua tangan mereka yang bertautan hangat.
"Iya, enggak masalah dong. Hitung-hitung kita ingat masa lalu, Ayang."
"Bian," ucap Bella sedikit merengek.
Sebab saat mereka berdua di dalam lift, tangan Abian dengan jahil merengkuh pinggang Bella dan bibirnya dengan jahil berkelana di sekitar leher Bella.
"Kamu wangi banget, cantik … seksi lagi. Kamu dandan kayak gini buat ketemu aku 'kan?" Bisik Abian dengan nada yang seduktif tepat di telinga Bella.
Tak lama pintu lift membuka dan Abian terpaksa melepas rengkuhannya pada tubuh Bella.
"Ayang, kamu tinggal bareng aja sama aku." Pinta Abian.
__ADS_1
Tak lama pintu apartemen Abian terbuka. Dan Bella tau jika permintaan Abian sudah ia utarakan lebih dari satu kali saat mereka resmi lebih dari sekedar teman. Lamaran Abian dan cincin yang melingkar manis di jati tengah tangan kirinya.
"Bian, memang kamu sudah siap buat tanggung jawab sama diri aku. Kalau kita tinggal bareng artinya kamu ngajak aku menikah."
Bokong Bella kini sudah duduk di sofa besar dengan bantalan empuk yang lembut dan tak lupa menaruh tas selempangnya pada meja kayu di hadapannya. Sementara Abian masih menjulang tinggi berdiri di hadapannya.
Tangan besar Abian kemudian terulur mengusap sayang puncak kepala Bella.
"Tentu aja, kita bisa tinggal bersama dulu. Setelah itu menikah. Aku serius ayang." Mata Abian menatap mantap langsung kedua bola mata Bella.
Sejenak Bella terdiam sebab bukan itu yang ia maksud.
"Kenapa kok diam. Maksud kamu kita nikah dulu gitu, Ayang."
"Lebih baik begitu. Lagipula kita itu orang timur. Kamu tau Bian, aku anak satu-satunya dan orangtua aku pasti punya ekspektasi mereka ke aku."
Abian kini duduk di samping Bella. "Kita tinggal bersama biar semakin mengenal. Dan kamu nanti gak kaget saat tau kebiasaan aku setelah kita menikah. Aku janji kok buat selalu bermain aman."
Entah mengapa setelah kalimat terakhir tentang bermain aman, membuat bulu roma Bella bergidik. Sebab Bella kembali mengingat tentang apa yang dikatakan Alisa tentang betapa berbahaya-nya kadar kemanisan rayuan lelaki playboy seperti Abian ini.
Bella juga memang sengaja berpakaian lebih seksi, atas saran Asa. Untuk melihat sejauh mana reaksi Abian. Dan benar saja Abian seperti seekor buaya yang diberi santapan daging segar yang siap ia nikmati seorang diri dengan tatapan buas dan air liur yang menetes.
Bergerak lambat namun sesaat mangsa mendekat ia mengeluarkan jurus yang mematikan lawannya. Bella menelan ludahnya namun sebisa mungkin ia bersikap santai.
"Maksud kamu bermain aman gimana?"
"Tentu aja pas kita making love, Ayang." Dan lengan Abian sudah turun ke pinggang Bella. Mulai merambat naik ke perut rata Bella yang sedikit terbuka untuk mengusapnya dengan seduktif.
Abian mendekatkan wajahnya pada telinga Bella. "Kalau sampai itu terjadi aku bakal tanggung jawab. Karena making love sama kamu tuh senikmati itu sampai aku bisa aja lupa diri. Janji, aku gak akan lari kok."
Sudut bibir Bella menekan segaris tipis. Perasaannya jadi sulit digambarkan dengan jelas.
"Tapi aku belum mau punya anak, Bi."
"Gak masalah, Ayang. Kita bisa konsultasi ke dokter kalau kamu belum mau punya anak kita bisa pakai alat kontrasepsi kok." Abian terus memberikan solusi.
Mata Bella membulat. "Abian! kita belum nikah, aku malu konsultasi kayak gitu sama dokter."
"Aku bisa bilang kamu istriku, itu gak masalah. Lagipula memang ada ketentuan periksa ke dokter itu bawa buku nikah atau semacamnya. Kalo kartu identitas yah kamu bilang aja kita pasangan baru menikah. Ini, kota metropolitan. Gak ada masalah dengan hal seperti itu." Jelas Abian penuh percaya diri.
Jawaban Abian memang ada benarnya tapi Bella merasa itu adalah hal yang tabuh. Ia juga tidak mengerti kenapa pemikiran Abian bisa seperti itu. Terasa janggal dan mengerikan.
"Tetap aja Bi, hati kecil aku gak bisa biarin itu," ucap Bella tegas.
Abian yang sedari tadi berada di dekat area perpotongan leher Bella kemudian bangkit.
"Ya sudah, kita bisa pakai cara lain. Atau aku bisa pakai pengaman saat kita bermain atau aku bisa mengeluarkannya di luar kalau itu kamu mau"
__ADS_1
Manik mata Bella menatap lekat Abian. "Jadi kamu sekarang kalo ketemu aku pikiran kamu tuh cuma sebatas di ranjang aja," sarkas Bella.
"Ya nggak sepenuhnya gitu, Ayang …."
Bella tersenyum miring. "Iya tapi lebih mendominasi pikiran kayak gitu 'kan?"
Tanpa aba-aba Abian mendorong tubuh Bella untuk berbaring di sofa.
"Aku sama kamu tuh selalu merasa lagi pengantin baru anggap aja gitu. Kamu jangan pikir aku cuma sebatas hasrat dan nafsu aja selalu ingin bawa kamu ke ranjang. Ini cara aku ungkapkan bahwa aku memuja kamu, Ayang."
Dengan sorot mata yang parau, Abian langsung memagut bibir Bella dengan begitu semangat seolah tak ada hari esok.
Abian selalu se-ekspresif itu saat mereka bertemu di tempat yang lebih privasi.
"B-bian, emmp." Bella tak kuasa melenguh nikmat.
Abian memang sangat lihat melakukan foreplay. Bella tidak tau bahkan pelindung kedua gunung kembarnya sudah Abian singkap hingga ke atas dan menampilkan bulatan sebiji kacang yang mulai menegang.
Bella melirik ke bawah dan melihat seringai mesum tergambar jelas di wajah Abian.
"Ayang, kita pemanasan dulu yah sedikit. Habis itu. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Kita mau ke mana," ucap Bella.
Namun sesudah mengatakan hal itu, kepala Bella mendongak dan tubuhnya seketika melengking.
Sebab Abian sudah menangkup kedua gunung kembarnya dan memasukan mulutnya untuk menghisap salah satu biji kacang itu. Dan tangan satunya lagi mencubit gemas sebelahnya.
Bella sekarang tau apa yang dinamakan nikmat sekaligus dosa secara bersamaan.
Tangan mungil Bella sudah terulur menjambak rambut hitam Abian.
Sebab kini Abian mulai memberi gigitan dan hisapan yang kuat.
"Bian, sakit! Jangan buat bagian itu merah lagi," ucap Bella. Nadanya terdengar memohon.
Dan Abian kemudian mengangkat kepalanya. Dan seketika hinggap rasa dingin serta rasa ngilu terasa di bagian gunung kembarnya itu, terutama pada area biji sekacangnya.
"Oke, Ayang. Nanti malam kamu jangan harap aku kasih ampun yah. Aku pengen coba making love sama kamu."
Bella hanya mematung saat Abian kembali menggeser penutup gunung kembarnya ke tempatnya semula. Bibir Abian yang masih memerah itu lantas mengecup kening Bella dalam.
Dan seketika hati Bella menghangat. Sebab Abian itu seperti percikan bola api yang bisa membuatnya hangat atau membuatnya terbakar.
"Kamu tunggu di sini dulu yah. Aku mau ambil sesuatu untuk kamu."
Tangan Abian terulur dan membantu Bella untuk kembali menegakkan tubuhnya hingga terduduk lagi pada sofa.
__ADS_1
Bella hanya bisa menatap kepergian Abian yang berjalan menuju sebuah pintu berwarna coklat kayu itu dan bertanya-tanya dalam hati. Apa yang akan Abian berikan padanya dan tempat seperti apa yang akan Abian tunjukkan padanya.
Dan apa Bella benar-benar siap melepas kesuciannya?