Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 49


__ADS_3

Abian mengajak Bella ke suatu taman di area pusat Jakarta.


Bukan tempat yang istimewa, itu hanya nyaman biasa yang terdapat banyak orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Kamu kenapa ajak aku ke sini," tanya Bella. Mereka baru saja selesai memarkirkan mobilnya.


"Apa kamu gak ingat, tempat ini?"


Bukan tidak mengingatnya akan tetapi Bella hanya bingung kenapa belakangan ini Abian selalu mengajaknya untuk mendatangi tempat-tempat yang dulu adalah tempat mereka pernah berkencan waktu masih memakai seragam putih abu-abu.


"Ingat kok, tapi kenapa? Kok kamu kayak lagi melakukan flashback begini. Buat apa?"


Senyum Abian tersungging. "Aku pengen mengulang semuanya dari awal makanya aku melakukan hal ini sama kamu," jawab Abian.


Tetapi Bella malah takut jika benar semuanya dilakukan mundur bukan berarti mereka bisa saja putus kembali.


"Abis dari taman ini baru aku akan ajak kamu ke tempat yang spesial Ayang."


Bella lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Abian. "Jangan panggil Ayang kalo di tempat umum malu tau! Kayak anak sekolahan."


Bukannya marah Abian malah memajukan tubuhnya dan mengecup bibir Bella. Memang belakangan ini Abian sering sekali mencuri kesempatan untuk mencuri ciuman dari dirinya.


"Gak masalah, aku seneng malah berarti muka aku masih imut kayak anak sekolahan," jawab Abian Jenaka.


"Bi, nanti kalo ada yang lihat gimana?" Mata Bella menyerupai bambi yang membulat sempurna.


"Cium dikit doang kok. Lagian kaca mobil aku juga gelap. Kalo kita ngapa-ngapain di dalam juga gak ada yang tau." Seringai Abian nakal.


"Ih, kamu jangan mulai deh mesumnya." Bibir Bella sudah mengerucut.


Abian yang gemas malah mengecup bibir Bella lagi.


"Ya sudah, mending kita jalan-jalan atau cari makan aja lah Ayang."


Tangan Abian mengacak rambut Bella, hingga poni depan rambut Bella teracak.


Untung saja Abian mengajak Bella sore hari jadi cuacanya tidak terlalu panas. Banyak juga beberapa pasangan kekasih yang tak jauh berbeda dengannya berjalan sambil bergandengan tangan.


Pepohonan yang cukup rindang ada di sana dan sebuah rumah kaca yang cantik. Bella tak tau jika tempat taman kota seperti ini masih dirawat dengan baik malah Bella merasa jika pepohonan di tempat ini cukup rindang dan sejuk.


Bella juga sedikit senang sebab jika dipikirkan lagi ia jarang jalan-jalan ke tempat seperti ini. Selama ini selalu sibuk ke kampus atau ke salah satu toko kue maupun restoran mamanya untuk bekerja.


Nongkrong santai paling ia pergi ke mall bersama Alisa yang ujung-ujungnya adalah tujuannya untuk berbelanja.


"Kita beli minum atau langsung cari makan aja," tanya Abian. Kepalanya menoleh melihat Bella yang beberapa kali mengelap keringat di dahinya.


"Aku mau beli green tea latte aja, Bi." Pinta Bella.


Masih dengan bergandengan tangan Abian dan Bella memasuki sebuah coffee shop asal Amerika yang tokonya menjamur di mall besar sekitar Jakarta.


"Selamat sore Kak mau pesan apa," ucap karyawan dengan rambut terikat rapi dengan appron berwarna hijau.


Bella menyunggingkan senyumnya, ia juga terbiasa untuk membaca name tag yang tersemat di bagian dadanya bertuliskan Kikan.


"Ice green tea latte sama ice americano—" Abian menjeda ucapannya.


"Ayang, mau ukuran apa gelasnya?"


"Regular aja," jawab Bella.

__ADS_1


Karyawan tersebut kemudian mengulang pesanan yang Abian sebutkan tadi.


"Atas nama siapa Kak?" tanya Kikan.


"Ayang beb aja.. Mbak," ucap Abian jenaka.


Tangan Bella langsung memukul pangkal lengan Abian cukup kencang.


"Mbak Kikan, atas nama Bella ice green tea latte-nya." Bella menunjukkan cengirannya kikuk. Sebab ia malu mendengar ocehan Abian yang sembarangan.


Namun Abian tetap bergeming. Dan mengudarakan suara tawanya. Sesudah membayar Bella dan Abian memilih duduk dekat jendela, sambil menunggu untuk dipanggil.


"Kamu narsisnya makin tua makin parah yah, Bi." Cibir Bella menggelengkan kepalanya.


"Narsis dikit gak malasalah Ayang. Ya, 'kan Mbak Kikan."


Dan Kikan yang menjadi perdebatan antara pasangan ini hanya tersenyum simpul.


Tanpa banyak berkata Bella duduk di kursi yang tak jauh dari area tempat memesan tadi. Untuk menyudahi kecanggungan yang terjadi. Wajahnya masih bisa terselamatkan juga karena tidak ada pelanggan lain yang mengantri di belakang mereka.


"Kamu kenapa sih sensian banget lagi datang tamu bulanan?" Celetuk Abian.


"Ya," jawab singkat Bella. Nadanya terdengar ketus.


"Duh, ya udah nanti di apartemen aku cek yah benar apa cuma bohong aja." Snantai Abian mengoceh.


Bella hanya diam tak banyak menanggapi. Karena Abian sedikit banyak akan membawanya untuk berbicara dirty talk belakan ini.


Isi kepala Bella malah dipenuhi dengan tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang sebab omongan Alisa kemarin saat mereka bertemu di kediaman Alisa kembali memenuhi kepalanya.


"Bi, Aku dengar Amel lagi hamil muda apa itu benar?"


"Kenapa Bi, kamu gak suka yah aku tanya begitu?"


Bibir Abian tetap mengatup dan Bella menjadi sedikit curiga jika benar adanya jika Amel masih suka bertemu Abian.


"Aku cuma tanya loh seandainya kalau dia hamil memang kenapa? Asalkan itu bukan anak kamu. Meski kalian pacaran 'kan kamu bilang udah pisah." Bella menekan kata anak kamu dna pisah.


"Atas nama Bella dan Ayang beb," panggil Kikan, pegawai yang melayani Bella tadi.


Tanpa menunggu jawaban Abian lebih lama lagi, Bella segera bangkit dari kursinya. Melangkahkan tungkai kakinya menuju ke arah suara itu bermuara.


Wajah Bella memulas senyum dan tangannya mengambil kedua pesanan itu.


"Terima kasih," ucap Bella.


"Sama-sama Kak Bella," jawab Kikan.


Menghampiri Abian lagi, Bella menaruh ice americano pesanan Abian di sisi meja yang dekat dengan tempat Abian duduk itu.


Sementara Bella memilih menyumpal mulutnya dengan ice green tea latte-nya.


Keterdiaman Abian yang masih terus berlanjut, membuat Bella malas. "Kalo kamu masih bad mood gara-gara aku tanya gitu. Lebih baik aku pulang aja." Nada Bella terdengar sedikit mengancam.


Abian yang memang sedang merasa banyak tekanan itu akhirnya bangkit dari kursinya.


"Ya, udah aku antar kamu pulang," ucap Abian. Pada akhirnya membuka suaranya.


Tubuh Bella tersentak kaget. Kenapa hanya dengan pertanyaan sederhana itu, Abian langsung meng-iya-kan keinginannya.

__ADS_1


"Gak perlu antar pulang. Aku bawa mobil. Kalau kamu gak mau pulang ke apartemenmu aku bisa pulang sendiri naik taksi online," jawab Bella.


Dengan setengah menahan kesal Bella bangkit dari kursinya.


"Terima kasih untuk nge-date hari ini. Aku pulang."


Setelah mengatakan hal itu, Bella kemudian melangkahkan tungkai kakinya. Sambil berjalan, Bella meredam kesalnya dengan memesan layanan taksi online.


"Dasar nyebelin," gumam Bella kesal.


Pikiran dan perasaan Bella dipenuhi dengan perasaan dongkol, bagaimana bisa Abian yang awalnya bersikap sangat manis dan berubah menjadi seratus delapan puluh derajat menjadi tidak peduli padanya.


Padahal tadi mulutnya sangat manis melebihi minuman latte yang Bella pesan.


Bella menendang ujung sepatunya. "Dasar playboy." Umpat Bella dalam hati.


Namun saat menunggu taksi online-nya tiba, Bella malah dikejutkan dengan kedatangan Arga yang datang menghampirinya.


Mengerjapkan matanya beberapa kali, Bella hampir tak percaya jika itu sosok Arga yang ia kenal


"Cit, ngapain kamu di sini sendiri?" Suara Arga mengalun di telinga Bella dan membuat Bella tersadar jika ini nyata dan bukan halusinasi.


Mata Bella memandang penampilan Arga yang menggunakan celana training dan kaos olahraga, jelas hanya dari penampilannya Bella tau jika Arga sedang berolahraga di sekitaran taman.


"Aku lagi nunggu taksi online," jawab Bella seadanya.


"Loh, kamu gak bawa mobil?"


Dengan cepat Bella menggeleng.


"Aku antar pulang aja yah, kebetulan apartemen aku dekat sini. Kamu batalin aja pesanannya."


"Tapi, Ga. Bapak supir taksi onlinenya sudah ke sini dua menit lagi sampai." Bella merasa tidak enak.


"Ya sudah, nanti aku yang bayar."


Sesudah membayar layanan taksi online yang akhirnya tidak Bella gunakan, Arga dan Bella berjalan di sekitar trotoar pejalan kaki. Sambil sesekali berbincang ringan. Mungkin sekitar lima belas menit dari sana, Bella sampai di sebuah apartemen yang menjadi tempat tinggal Arga.


Beruntung tadi ia tak pakai sepatu hak tinggi, jika saja itu terjadi bisa dipastikan kakinya akan terasa sangat pegal seperti menemani Alisa saat berbelanja.


"Ga, omong-omong kamu sudah tinggal di sini berapa lama? Kok, kamu gak kabarin aku. Bukannya kita pernah ketemu di apartemen kamu tapi beda tempat deh kayaknya."


Sudut bibir Arga menyunggingkan senyum. "Aku rencananya minggu depan pas wisuda kamu mau kasih kejutan. Eh, tapi malah ketemu di taman."


Mereka lalu keluar dari lift dan Arga langsung berjalan melewati lorong hingga sampai pada unit delapan. Setelah menekan pin kode kunci. Arga langsung mempersilahkan Bella untuk masuk.


"Kamu tunggu sebentar yah, aku mandi dulu habis itu baru aku antar kamu pulang."


Dan Bella menganggukkan kepalanya.


"Duduk aja, anggap aja rumah sendiri ya Cit." Arga berucap santai.


Sesudah mengatakan hal itu, Bella dapat melihat Arga yang memasuki sebuah pintu berwarna putih.


Terlihat sekali Arga seseorang yang suka dengan kesan yang minimalis dan simpel. Nuansa apartemennya juga terlihat didominasi dengan warna putih dan coklat kayu. Tidak jauh berbeda dengan apartemen yang sebelumnya.


Menggambarkan sisi maskulin dan nuansa alam yang cocok sekali dengan diri Arga.


Setidaknya hari ini, hati dan pikiran Bella terselamatkan oleh Arga. Bella tidak tau kenapa dengan Abian. Sampai sekarang saja belum menghubunginya.

__ADS_1


Abian, tetaplah Abian yang sulit dimengerti oleh Bella. Dan terkadang bisa seperti gunung berapi yang meledak-ledak.


__ADS_2