
Satu minggu setelah permintaan Bella untuk bertunangan, mereka semakin dekat. Komunikasi yang terjalin antara mereka juga semakin lancar, meski mereka tidak punya status pacaran tapi Abian selalu bangga memamerkan Bella pada teman-teman juga karyawan Abian jika Bella adalah pacar Abian.
Masalah Amel, dengan lancar dan kerja keras Bastian akhirnya bukti penting bisa Abian dapatkan.
Abian juga sudah menunjukkannya pada Amel langsung. Abian juga meminta agar Amel mengatakan untuk membatalkan pernikahan mereka ini atau Abian akan memberitahu informasi ini pada orangtua Amel dan orangtua Abian juga.
Nyatanya Abian benar-benar sedang fokus dan juga tergila-gila dengan semua hal yang menempel pada Bella. Di malam dengan yang dingin ini dan ditemani rintik hujan, Abian merebahkan dirinya.
Suara ponsel Abian berdering sedikit mengusik waktu bersantainya. Jika ponselnya berdering karena pekerjaan Abian mungkin akan mengabaikannya tapi sudut bibir Abi menyungingkan senyum melihat layar ponselnya melihat nama Bella.
“Sayang,” ucap Abian.
Suara Abian sumringah dan menjadi manja.
“Mm, kenapa? Telepon aku?“ tanya Abian lagi.
Matanya memandang langit-langit kamarnya pikirannya juga melayang membayangkan wajah Bella.
“Itu katanya kamu besok jadi mau ke rumah ketemu mama sama papa?“ sahut Bella diujung teleponnya
Mendengar suara Bella saja sudah membuat aliran darah Abian berdesir.
Kemudian Abian menjawab sambil menggulingkan tubuhnya ke samping. “Iya tapi aku datang sendirian dulu gak apa-apa 'kan?“
“Iya.. memangnya kalau main ke rumah aku harus bawa langsung orangtua kamu?“
“Mm, kali aja. Aku soalnya udah gak sabar tau buat tinggal sama kamu.“ Jujur Abian.
“Dasar.. aku aja belum lulus yah.“ Bella tertawa diujung teleponnya.
Andai saja Bella ada di sampingnya Abian pasti betah untuk membuat candaan dan mendengarkan bela yang tertawa merepon leluconnya yg kadang payah.
“Sebentar lagi kok. Kamu lagi apa sekarang?“
“Aku lagi periksa lagi skripsi, mau ngelengkapin yang direvisi kalo udah oke aku mau minta tanda tangan doain yah semoga cepat,” tutur Bella.
“Tenang aja, pak Agus tuh sebenernya baik kok. Asal kamu sabar aja.“
“Ya udah nanti sambung lagi yah. Aku gak mau sampai revisi lagi.“
Abian terkekeh, mendengar suara Bella yang lemah dan Abian mengerucutkan bibirnya.
“Ya udah kamu semangat. Minum vitamin juga supaya fit badan kamu. Besok aku antar ke kampus yah.“
“Besok aku kabarin. Dah.. aku tutup yah.“
__ADS_1
“Tunggu sayang.. nanti kirim foto kamu yah ke aku yah.“ Pinta Abian.
Suara Bella terkekeh. “Aku lagi kucel.“
“Gak ada kucelnya kamu. Cantik kamu ah.“ Gombal Abian.
“Dasar.. kamu pintar ngomong.. ya udah nanti aku kirim.“
Sesudah itu Bella mengakhiri panggilannya. Sementara Abian sedang menunggu foto yang dikirim Bella.
Tak lama menunggu Bella mengirimkan foto melalui aplikasi chat yang biasa mereka pakai. Kedua bola mata Bella berbinar.
“Ah Bel, sengaja apa gimana sih kamu. Aku malah jadi gak bisa tidur.“ Abian mengusap wajahnya resah.
Bagaimana tidak Bella mengirim gambar dirinya yang sedang duduk di meja belajar tetapi dengan menggunakan baju tidur seperti tank top yang membuat bukit kembar Bella terlihat menonjol dan seperti buah jeruk Bali mengkal.
Astaga Abian bisa gila. Jelas itu adalah kelemahan Abian sebagai wanita normal.
***
“Bella.. Sayang.“ Rancau Abian.
Abian memonopoli bibir Bella lebih dalam dan menuntut. Menjulurkan lidahnya mencoba untuk mengajak Bella bercumbu dengan gaya french kiss. Hal ini membuat Bella terhanyut, tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya pada perpotongan leher milik Abian dan berusaha membalas setiap sentuhan nikmat yang Abian berikan.
"Eugh.." Suara Bella terdengar parau di bawah bungkaman bibir Abian.
Bagaimanapun Abian tau Bella bukan tipe wanita dengan gaya yang cepat, sensual dan menggebu. Bella tipe wanita yang lembut dan intens, ia harus mencoba membuat Bella nyaman.
Kecupan kupu-kupu Abian berikan pada wajah dan tubuh Bella. Jemari lengan Abian mencoba membangun gairah di dalam diri Bella sekaligus mencari di mana titik paling sensitif yang membuat Bella menggeliat dan menjerit karena-nya.
Sampai pada kecupan di puncak gunung kembarnya dan juga kelopak mawar merekah Bella yang berhasil Abian jelajahi dengan bibirnya.
“Bella, bicara sayang.” Abian setengah menggeram. “Kalau kamu tidak jawab itu artinya iya dan aku tidak akan menahannya.”
Entah karena rayuan Abian yang luar biasa atau karena keinginan Bella.
Bella menarik tengkuk Abian dan mencium bibir Abian kembali, tangannya mulai aktif mengusap bagian tubuh Abian. Memberikan efek yang luar biasa di antara keduanya. Hasrat semakin meninggi.
Dan akhirnya apa yang Abian katakan menjadi kenyataan, keduanya saling bekerja sama untuk menanggalkan pakaian meraka masing-masing.
“Apa ini yang pertama?“ tanya Abian. Sudut bibir Abian merekah dan matany berbinar seperti sedang memupuk harapan besar.
Abian masih sempat bertanya seperti itu. Sedikitnya ia tahu Bella, perempuan itu masih terlalu polos untuk hal intim seperti ini. Abian bisa merasakannya tubuh Bella yang masih terlalu sensitif menerima setiap sentuhannya.
Bella mengangguk malu. Ia juga sedikit mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Aku akan hati-hati, ini gak akan sakit.. sayang.”
“Jangan banyak bicara, cepat lakukan,” ucap Bella.
Abian mengusap belah pipi Bella lembut. “Aku berjanji akan membawamu ke surga, I love you.. sayang.”
Penyatuan dua insan itu pun pada akhirnya terjadi, rintihan dan ******* terdengar di kamar hotel itu. Menjadi saksi seorang Abian Damara yang tergila memuja tubuh Bella, ia tidak bisa menahan euforianya. Dan bisa di tebak jika Abian dengan semangat melakukan percintaan itu. Seolah tidak ada hari esok.
“Abian. A-ku,” ucap Bella terbata. Punggungnya melengkung bak busur panah yang tengah ditarik kencang. Bahkan kuku-kukunya sudah menggores kulit punggung Abian. Mungkin karena benda asing milik Abian masih terasa asing untuk Bella. Lagi pula, Abian tau jika pertama kali Bella bercinta dengan seorang lelaki dewasa.
“Ya, sayang. Aku akan datang.”
Hujaman benda keras itu semakin menusuk hingga terasa sampai ke perut ramping Bella.
Kriing! Kriing.
“Ah! Sialan!“ Geram Abian.
Wajahnya kusut dan matanya memerah. Karena semuanya ternyata hanya mimpi.
Tadi malam Abian tertidur, setelah menatap foto Bella. Lagi-lagi Abian bermimpi basah tentang Bella. Luar biasa memang Bella atau diri Abian yang memang terlalu mesum.
“Sial, gue kira kalo beneran nanti gue make out sama Bella gue bisa gila kali yah.“
Abian masuk begitu saja ke kamar mandi mengingat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Bersiap memakai kemeja rapi dan tidak lupa menyemprotkan parfum. Dengan bibir yang bersiul Abian melangkah keluar apartemennya. Tapi sekali lagi, kebahagian tidak berjalan mulus seperti yang diinginkan Abian saat berdiri tepat di depan cap mobilnya.
Abian sudah malas melihat wajah Amel dan berusaha tidak menghiraukannya.
“Abian, apa maksud kamu!“
Abian membuka kunci mobilnya dan tidak ingin memulai perdebatan lebih lanjut lagi. Sayangnya, niatan baik Abian tidak disambut baik oleh Amel yang menarik lengan kemeja Abian.
“Abian, jawab!“
“Semuanya udah jelas, buktinya juga sudah ada terus penjelasan apa lagi? Harusnya kamu bukan datang ke aku tapi datang ke Marsel.“ Tegas Abian.
“Anak ini anak kamu!“ pekik Amel.
Mendengar itu Abian geram, akhirnya Abian tak tahan untuk menatap Amel dan menunjukkan wajah jengkelnya sebab Amel masih saja terus bersandiwara dan terus saja meminta pertanggung jawaban Abian.
“Amel, kita memang pernah berhubungan intim tapi aku gak pernah buat kamu hamil. Kita memang pacaran tapi bukan berarti aku harus tanggung jawab dan nikahi kamu. Dengar yah aku udah punya calon istriku sendiri.“ Abian sekali lagi menegaskan situasi dan posisi Amel.
Namun kemudian, Amel tiba-tiba saja terjatuh dan pingsan. Abian tentu saja panik danau tak mau ia harus membawa Amel pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Satu hal yang Abian harus selesaikan lagi yaitu bertemu dengan Marsel dan membuatnya bertanggung jawab atas bayi yang ada di perut Amel.
Sebuah karma yang Abian harus terima karena masa lalu dan juga sikap playboy-nya. Tapi apapun itu jika itu menebus dosanya atau untuk mendapatkan Bella Abian rela, demi wanita tercintanya.