Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 58


__ADS_3

Bella terdiam saat Arga bersikap begitu perhatian dengannya. Sedangkan Bella malah berlaku tidak adil pada Arga.


Perdebatan hebat yang ia lakukan dengan Alisa tadi jelas membawa pukulan telak bagi dirinya. Apa yang dibilang Alisa bukan kebohongan atau kekeliruan. Apa yang dikatakan Alisa memang membuat tatinya bertanya. Tetapi Bella tidak mengerti kenapa dirinya masih egois dan menginginkan Abian untuk tetap disisinya.


Sekarang ada tanda tanya besar pada dirinya dan kebingungan apakah benar ia tidak bisa hidup tanpa Abian ataukah memang mencintai harus seperti ini?


Sedangkan selama ini pengalaman cintanya sangat minim. Hanya Abian, ia Abian sedangkan Arga mereka hanya berputar dalam lingkaran friend zone.


“Mm.. Arga, maafin aku yah. Aku—” Bibir Bella bergetar.


Arga mendekap tubuh Bella dalam pelukannya. “Udahlah Bella, enggak apa-apa. Kamu lebih baik tenangin diri kamu dulu. Jangan minta maaf begitu aku jadi merasa bersalah karena aku membuat kamu terbebani dengan pernyataan cinta aku.“ Arga berucap bijak.


Bibir Arga tersenyum manis. “Bel, kita makan aja yuk atau nyemil gitu.. sekalian liat live music.“ Ekspresi wajah Arga riang.


Apakah Bella akan menjadi wanita jahat jika menjadikan Arga penyembuhnya. Atau memang harus seperti itu agar ia bisa melepaskan Abian dengan mudah.


“Memangnya ada Ga, cafe/resto kayak gitu di Ancol?“ tanya Bella.


“Ada di pantai karnaval, kamu mau ke sana gak.“


Kepala Bella mengangguk. “Em, boleh.. aku juga mau makan yang pedas, siapa tau bisa hilangin stres,” celetuk Bella.


Pembawaan Arga yang santai dan hangat membuat Bella nyaman dan tidak canggung sama sekali.


“Ayo kalau gitu.“ Arga mengulurkan tangannya.


Dengan senyum di bibirnya Bella menyambut uluran tangan Arga yang ia genggam dengan hangat.


Bella dan Abian kembali menaiki mobil lagi sebab pantai karnaval yang Arga maksud ada disebelah barat dan letaknya cukup jauh dari pantai yang mereka singgahi.


Cafe dengan nuansa kayu yang mengapung di tengah laut, membuat suasana malam semakin indah. Alunan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita dengan suara yang merdu juga membuat perasaan semakin nyaman.


Arga mengajak Bella duduk di dekat panggung dengan pemandangan lampu-lampu gedung yang cantik di luarnya.


“Bel, mau makan apa?“ tanya Arga.


Seperti biasa Arga bertanya apa yang Bella inginkan. Sikap gentleman Arga selalu melekat semenjak mereka saling kenal sampai sekarang.


“Ada ayam geprek kesukaan kamu. Jus mangga juga ada.“ Arga menyerahkan menu yang baru saja diberikan oleh pelayan cafe.


Hati Bella merasa hangat saat mengetahui Arga yang hafal dengan makan kesukaannya. Entah mengapa Bella menjadi menyesal meminta permintaan maaf Abian. Sekarang hatinya kembali labil.


Nyatanya Bella selalu bodoh saat ia berhadapan dengan cinta dan perasaan.


“Em, iya Ga boleh. Kamu mau pesan apa?“


“Nasi goreng seafood aja, Bel.“ Arga menjawab.


Bella memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Alunan musik berubah menjadi berirama ballad yang sedih. Sepertinya kebetulan yang menyentuh hatinya.


“Kamu mau request lagu enggak? Biar aku bilangin sama Mbak-mbak pelayannya tadi,” ucap Arga.


“Nggak perlu Ga, aku mau nikmati aja sama lagi yang mereka pilih. Lagipula suara penyanyinya bagus, jadi nyanyi lagu apa aja enak aja buat di dengerin.“


Arga manggut-manggut saja dan tersenyum simpul. “Eh, Bel.. bentar yah aku harus ke toilet dulu. Gak apa-apa aku tinggal 'kan?“

__ADS_1


“Ya, enggak masalah Ga. Lagi enggak ada yang mau culik gue kok.“


Arga terkekeh. “Ya udah aku tinggal sebentar yah.“


“Oke,” jawab Bella.


Bella menghela napas panjang. Setidaknya malam hari ini, suasana hatinya sedikit lebih membaik. Meski bukan berarti permasalahan yang sedang Bella alami akan hilang begitu saja. Bella sadar, ia hanya sedang menunda dan takut pada apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Berkat Arga, setidaknya Bella bisa sedikit berselera makan. Arga juga bisa dengan baik mengalihkan Bella sejenak dari berbagai pemikiran yang memenuhi kepalanya, ia boleh saja berubah dalam hal penampilan dan nasib. Tetapi rasanya sang pencipta tetap memberikan nasib percintaan yang selalu saja mengenaskan dan berakhir dengan orang yang sama.


“Bel, habis ini beli es krim mau gak?“ tanya Arga.


Mereka baru saja selesai makan dan beranjak dari cafe menuju parkiran.


“Em, boleh aja, nanti sekalian pulang aja kita mampir Ga.“


“Iya Bel. Udah jangan sedih lagi yah, kamu kalau butuh teman buat hilangin segala pemikiran hubungi aku aja. Jangan sungkan hubungi aku. Sebisa mungkin aku akan hibur kamu. Maaf yah, dulu saat aku dekat kamu selalu pasif dan terakhir menghilang mungkin kamu anggap aku gak serius dan kasih kamu PHP (Pemberi Harapan Palsu).“ Arga tersenyum simpul.


“Aku juga minta maaf. Aku kali ini mau belajar buat ngertiin kamu,” ucap Arga.


Bella mengulum bibirnya. Hatinya bergetar mendengar kata-kata yang diucapkan Arga. Kepala Bella mendongak dan langsung mencium bibir Arga begitu saja.


Tidak tau apa yang terlintas dipikiran Bella tetapi ia hanya membutuhkan pembuktian. Dan Bella bingung ketika Arga tidak melakukan apapun pada bibirnya seperti apa yang pernah ia lakukan sebelumnya pada saat mereka berciuman di rumah Bella.


Perlahan Bella melepaskan ciumannya, manik mata coklatnya memandang wajah Arga yang memulas senyum simpulnya.


“I love you,” ucap Bella.


•••


“Bella, kamu pulang sama siapa?“ tanya mama Misya.


“Sama Arga, Ma.“


“Kamu gimana, masih sakit badannya?“ Wajah Mama Misya tampak khawatir.


“Ya, aku baik-baik aja kok Ma. Maafin Bella yah gak bisa bantu mama kerja hari ini.“ Ada nada menyesal yang terselip di dalam ucapannya.


Bibir mama Misya tersenyum dan tanganya mengusap surai rambut panjang Bella dengan lembut. “Enggak apa-apa. Yang terpenting kesehatan kamu.“


“Bel, boleh nggak Mama bicara sama kamu.“


Kepala Bella mengangguk. Kemudian mama-nya duduk di sofa ruang televisi.


“Mama sebenernya mau tanya tentang Arga. Tadi waktu kamu pingsan dia yang langsung kabarin Mama.m,” tutur mama Misya.


Sejenak Bella sedikit terkejut, sebab semenjak tadi mereka bersama Arga sama sekali tidak menyinggung apapun tentang Bella yang pingsan maupun mama Misya.


“Arga bilang apa aja Ma?“ Bella penasaran, sejauh mana Arga menceritakan kejadian itu. Sebab Bella pingsan saat ada Abian juga.


“Arga bilang kamu tiba-tiba pingsan saat kalian lagi ketemuan di cafe. Awalnya Mama panik, tapi Arga bilang mungkin karena kamu kecapean aja jadi bisa sampai pingsan tiba-tiba.“ Wajah Mama Misya tampak khawatir dan tangan rentanya menggenggam tangan Bella penuh kasih sayang.


“Mama mau tanya sebenarnya kamu lagi mikirin apa sih? Apa ada masalah? Soalnya Mama perhatian kamu beberapa hari belakangan sering melamun.“


“Sebenarnya Bella ada masalah sama Abian Ma, kita bertengkar hebat.“ Harusnya Bella mengatakan itu tapi itu hanya sebatas dalam hatinya.

__ADS_1


Kepala Bella menggeleng dan bibirnya memulas senyum tipis. “Iya Ma, lagi ada yang Bella pikiran aja tapi Mama enggak perlu khawatir, Bella bisa kok mengatasinya.“


Sementara mama Bella memandang putrinya lekat. “Jangan terlalu sering memendam perasaan kamu, Mama nggak mau kamu sakit. Kamu udah cukup kesulitan saat kamu masih SMA Bel.“ Mama Misya mengingatkan.


“Enggak kok, Ma. Tenang aja Mama gak perlu khawatir.“ Bella memulas senyumnya, sedikit memaksakan.


“Ya udah kamu istirahat sana.“


Kepala Bella mengangguk. “Ya Ma, Bella ke kamar dulu yah.“


Bella langsung berjalan menuju kamarnya. Hatinya terasa lesu bukan karena tubuhnya yang lemah tetapi karena ucapan Alisa yang terus terngiang. Bella membasuh tubuhnya, merendam tubuhnya guna melebur semua rasa lelah di hatinya.


Bahkan tadi saat Bella bilang pada Arga kata 'I love you' Arga hanya tersenyum simpul tanpa membalas ucapannya. Dan menyiratkan tanda tanya besar di kepala Bella.


Dan satu perkataan Arga yang masih terngiang di kepala Bella, menjadikannya sebagai cambukan kuat meski bukan kata-kata yang pedas.


'Bella, biarkan rasa cinta aku milik aku sendiri kalau kamu tidak bisa membalasnya tidak apa-apa yang terpenting kamu masih percaya dan bergantung sama aku.'


Bella menyudahi mandinya. Ponsel yang tadi sengaja ia matikan setelah pulang dari rumah sakit, kini mulai penuh dengan berbagai notifikasi. Dan paling banyak notifikasi dari Abian. Ada pesan chatting dan telepon.


Tetapi Alisa maupun Arga tidak mengirimkan pesan apapun. Entah mengapa Bella merasa hampa, ia malah mengharapkan pesan dari orang lain dibanding kekasihnya.


Ponsel Bella berdering. Menampilkan nama Abian, beberapa detik setelah berpikir akhirnya Bella menggeser tombol hijau dan menempelkan telinganya pada ponsel.


”Halo ayang, kenapa kamu lama banget jawab pesan dan nomor kamu nggak aktif.“ Suara berat Abian menyapa.


“Aku ketiduran begitu sampai rumah. Aku baru sadar ponselku mati kehabisan daya.“ Dalih Bella.


”Oh, kamu udah makan?“ tanya Abian.


“Em, udah. Aku udah makan kok.“


“Kalo gitu istirahat. Besok aku jemput yah.“


“Hah, memang mau kemana?“ Bella terdiam sejenak, kira-kira apa maksud Abian.


”Kita jalan-jalan supaya kamu bisa lebih fresh pikirannya.“


“Iya,” jawab Bella.


“Oke besok aku jemput di rumah yah cantik. I Love you.“


Bella merasa dirinya mengalami dejavu dengan kata-kata I Love You.


“Ayang.. kamu masih di situ 'kan?“ tanya Abian lagi.


Tenggorokan Bella berdehem. “Iya.. love you too,” jawab Bella.


Dan kemudian Bella mengakhiri panggilannya. Bella malah memikirkan Alisa. Apa mungkin tadi Bella berucap keterlaluan?


Lama berfikir menatap ponselnya, Bella akhirnya menekan tombol memanggil untuk menelepon Alisa. Tapi di detik berikutnya Bella langsung menekan tombol mengakhiri panggilan.


“Sa, maafin gue.“ Gumam Bella dan memejamkan matanya, tanpa terasa lelehan air matanya keluar begitu saja dari sudut matanya tanpa permisi.


Bella bimbang apa yang harus ia pilih rasa cintanya pada Abian, Persahabatan dengan Alisa atau sosok lelaki gentleman seperti Arga?

__ADS_1


__ADS_2