
Sore itu sesampainya di rumah Bella mendapat telepon dari Arga tentu saja Bella senang dan ada sedikit perasaan lega setelah Arga mengabarinya jika ia baik-baik saja
Perihal nomor teleponnya tidak aktif Arga berdalih jika saat itu ia terlalu sibuk dan lupa jika ponselnya tertinggal di toko.
"Iya Ga, good night ya," ucap Bella mengakhiri panggilannya.
Bella hendak bersiap untuk tidur namun ia urungkan setelah mendapat pesan dari pak Agus yang merupakan dosen pembimbingnya itu.
From pak Agus : Bella ini nomor narasumber yang saya rekomendasikan, silahkan kamu hubungi sendiri. Namanya Damara.
Setelah mendapatkan pesan itu beserta nomor kontak nya. Besok pagi Bella rasa waktu yang lebih tepat untuk menghubunginya lagi pula ia juga kan belum kenal. Setidaknya ia harus buat kesan pertama yang baik dan sopan.
Pagi kembali menyambut hari Bella semua rutinitas ia jalankan seperti biasanya, hanya saja hari ini ia memilih tidak pergi ke kampus. Karena rencananya ia akan membantu mamanya untuk mengadakan kunjungan ke toko cabang lain yang ada di wilayah Tangerang.
"Bel, kamu nanti datang saja dulu ya apa ulasan dan komplainnya dulu. Kalau untuk kinerja Mama belum perlu soalnya yang di Tangerang itu baru mama evaluasi sekitar satu bulan masalah kinerja. Jadi walaupun ada perubahan mama rasa masih transisi," ucap Misya.
"Ya, Ma. Hati-hati Bella berangkat ke sana mungkin agak siang."
"Iya, Mama pergi dulu." Misya masuk ke dalam mobilnya.
Bella yang berdiri di depan pelataran rumahnya lantas melambaikan tangan dan perlahan memasuki rumahnya kembali.
Sebelum bersiap pergi Bella kembali mengambil ponselnya yang ada di atas nakas kemudian mengetikkan beberapa kalimat yang ia kirimkan pada narasumbernya itu.
"Semoga saja pak Damara orang yang berbaik hati." Monolog Bella.
Lama Bella menunggu tidak ada jawaban dari pak Damara padahal ia sudah mengirim pesan itu sekitar tiga jam yang lalu. Tetapi dibaca saja belum.
Apa pak Damara ini tipikal orang yang sangat sibuk sampai membaca pesan darinya saja tidak sempat
Bella menggigit bibirnya cemas. Apa ia dia perlu menerima tawaran Abian saja.
"Permisi Mba, ini makanannya," ucap seorang perempuan pegawai resto.
"Ah, iya. Ini sudah termasuk dengan menu baru," tanya Bella memastikan.
"Iya Mba, sudah."
"Oke, terima kasih Mira," ucap Bella setelah berhasil membaca nama yang tersemat di baju seragam itu.
"Iya Mba, saya permisi." Mira kemudian meninggalkan Bella.
Bella makan dengan tenang selagi mengulas menu-menu yang ada dihadapannya. Ia makan bukan semata karena lapar tetapi mencicipi apa makanan yang di jual di restonya ini sudah sesuai standar yang mereka terapkan.
Selesai membantu mamanya Bella memilih pulang, sampai sekarang juga belum ada balasan dari pak Damara itu.
Aduh, ternyata begini ya rasanya jika menunggu sesuatu yang tidak pasti. Batin Bella, ia kini sudah sampai pelataran rumahnya.
Dan sepertinya hari ini ia harus berlapang dada karena usaha pertamanya untuk berkomunikasi saja masih tertunda.
"Tidak apa-apa Bel, masih ada hari esok." ucap Bella pada dirinya seolah memberi semangat.
Namun belum sampai masuk membuka pintu rumahnya tiba-tiba ada pesan masuk dari pak Damara.
__ADS_1
Sejenak Bella menahan nafasnya dan ia langsung melonjak senang karena pak Damara mau bertemu dengannya saat ini.
From pak Damara : 'Temui saya di lounge di Hotel Semua Musim ya.'
Pesan singkat itu lantas Bella balas secepatnya. Ia tanpa pikir panjang langsung berlari menuju kamarnya dan menyiapkan dirinya.
"Duh, harus pakai baju seperti apa," ucap Bella bingung di depan lemari bajunya.
Setelah memilah cukup lama akhirnya Bella menentukan pilihannya pada dress hitam di atas lutut yang dipadukan dengan blazer oversize berwarna nude.
Rambut hitam panjangnya sengaja ia ikat rendah agar terlihat lebih rapi dan profesional. Riasannya juga ia buat sesegera mungkin ditambah lipstik berwarna orange yang cantik.
Sesampai di tempat tujuannya Bella menatap sekeliling lounge tersebut tadi setelah Bella sampai pak Damara hanya mengatakan jika ia menggunakan kemeja hitam dan duduk di meja nomor tujuh yang tak jauh dari jendela.
Mata Bella berhenti pada lelaki yang tengah memunggunginya dan ia berkemeja hitam itu adalah pak Damara. Setelah sebelumnya bertanya pada salah satu pelayan di sana.
Dengan langkah lebar Bella melangkahkan kakinya, ia harus cepat menghampiri sebelum kehilangan kesempatan.
"Halo, selamat siang pak Damara, saya Bella," ucap Bella sopan.
Dan sepersekian detik berikutnya mata Bella semakin membulat, bibirnya mendadak kelu.
"Hai, Bella akhirnya datang juga. Padahal kemarin sudah ditawarkan dengan mudah, ternyata lebih pilih cara yang susah."
Bella hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu sebelum Abian mencekal lengan Bella terlebih dahulu.
"Kalau lo nekat pergi, Gua bakal bilang sama pak Agus kalau mahasiswanya menolak rekomendasinya," ucap Abian tenang.
"Bisa-bisanya memakai ancaman." Bella tersenyum kecut melepaskan jemari Abian yang ada di pergelangan tangannya.
Bella memilih mengalah dan duduk disamping Abian.
"Baik, lebih cepat saya bicarakan pada intinya saja." Bella mengeluarkan semacam proposal guna menjelaskan informasi apa yang ia butuhkan dari Abian.
"Sebelumnya perkenalkan dulu nama lengkap," ucap Abian menopang salah wajahnya menggunakan salah satu lengannya.
Sementar Bella yang mendengar permintaan itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Untuk apa memangnya mau wawancara kerja."
"Anggap saja seperti itu, anda meminta data perusahaan saya yang cukup rahasia," ucap Abian tak mau kalah.
"Perkenalkan Pak Damara, nama saya Bella Gunarman," ucap Bella datar.
"Ah, Jadi kamu anak tertua dari pak Gunarman. Saya kenal baik dengan ayah anda."
"Saya tidak peduli, sekarang kita bertemu sebagai profesional. Saya seorang pencari berita anda seorang narasumber."
Abian lantas tersenyum, menekan senyum tipisnya. "Baiklah, pertama saya suka dengan penampilan anda. Terlihat sekali mempersiapkannya dengan baik."
Bella seolah tuli ia tidak ingin menanggapi Abian dengan situasi seperti ini.
"Sekarang coba anda lihat dan putuskan ingin menjadi narasumber saya tidak."
__ADS_1
"Kenapa harus terburu-buru sekali, anda harus sabar menunggu Nona Bella. Setidaknya biarkan saya berpikir sampai besok."
Bella memutar bola matanya malas. Entah dorongan dari mana. Ia langsung saja mengambil minuman yang ada di hadapan Abian. Menenggaknya sampai tandas tak bersisa.
"Astaga apa ini kenapa pahit sekali." Bella mengernyitkan darinya.
"Tentu saja itu koktail dengan campuran alkohol."
Sialan, Bella benar-benar menyesali tindakan implusif-nya itu.
"Baiklah terserah lo saja," ucap Bella menenggelamkan wajahnya pada kedua lengan yang sengaja ia lipat di atas meja kayu berwarna hitam itu.
Abian tidak dapat menyembunyikan senyum gemasnya. Padahal tadi Bella sendiri yang memintanya menjadi profesional dan kini ia sendiri yang tiba-tiba bersikap santai.
"Hei, kita masih dalam suasana profesional, tadi anda sendiri yang meminta."
Bella kemudian menimbulkan kepalanya. "Gue nggak peduli kalau mau adukan sama pak Agus atau papa juga gak peduli!"
Jika dibilang ia putus asa, ada benarnya tetapi ia hanya menyerah pada Abian, hatinya seolah masih ragu untuk melakukan rencananya.
"Bella," panggil Abian dan menepuk bahu Bella lembut.
"Hei, lo kenapa. Apa ada yang salah dengan perbuatan gue. Sampai lo kaya menghindar dan sebal kalau ketemu gue."
Bella menegakkan tubuhnya, meski sekarang kepalanya sedikit pusing. "Enggak biasa aja."
"Yakin, atau karena ciuman itu?"
"Ciuman apa?"
Abian mendengus. "Kenapa lo malu," tanya Abian dengan wajahnya yang semakin condong mendekat ke hadapan Bella.
"Malu kenapa, gue mabuk memang enggak ingat apa-apa tuh," kilah Bella.
"Tapi kali ini gue jamin lo akan ingat."
Abian langsung mendekatkan dirinya dan meraih tengkuk Bella, bibir mereka akhirnya saling bertemu kembali saling mengisi satu sama lain.
Tangan Bella mencoba memukul dada dan pundak Abian. Tetapi semuanya seakan sia-sia setelah Abian berdiri dan memojokkan tubuh Bella di antara kursi tanpa ada sisi penjagaan itu.
Suasana remang dan musik yang jazz yang mengalun merdu menambah suasana romantis yang tercipta antara dua insan ini.
Tangan Bella yang sebelumnya memukul tubuh Abian, kini mengalung sempurna di antara perpotongan leher Abian.
"I'm so in love with you."
Abian melepaskan cumbuanya. Menyatukan dahinya dengan Bella dan mengusap lipstik Bella yang berantakan karena ulahnya.
Katakan Bella memang munafik ia tidak bisa memungkiri hatinya yang penuh dengan bunga.
Apa benar ia memang masih membiarkan Abian untuk masuk kedua kali ke dalam hatinya.
Dengan sorot matanya yang sayu Bella kembali menggapai bibir Abian. Sambil memejam Bella kembali meneruskan cumbuan itu dengan Abian yang bersemangat membalas setiap gerakannya.
__ADS_1