
Kini wajah Alisa memandang kedua manik Bella lebih lekat. “Bel, benar udah yakin atas keputusan dan tindakan lo ini?" Alisa bertanya kembali seolah mengukur seberapa kuat niat dan keyakinan Bella untuk melakukan balas dendamnya itu.
Mendapat pertanyaan itu, Bella kembali bertanya pada hatinya lagi. "Em― jujur saja sebenarnya gue juga belum yakin seratus persen makanya gue mau tanya pendapat lo gimana."
Tentu saja Bella tidak bisa berbohong pada Alisa sebab temannya itu pasti dapat dengan mudah mencium kebohongan yang ia lakukan.
"Kalau lo nggak yakin, lebih baik jangan," ucapan Alisa terdengar santai dan terselip sebuah nada cemas di sana.
"Tapi gue mikir Sa, kalo gua terus diem aja dan pendam semua tanda tanya dalam hati gue, trauma gue gak akan sembuh. Gue pengen melepas bayangan ketakutan dan semua kecemasan gue tentang Abian. Mungkin ini jawabannya kenapa sampai gue bisa dipertemukan lagi sama Abian." Jelas Bella.
"Bel." Alisa menggenggam kedua telapak tangan temannya itu. "Gue tau apa yang lo maksud, tapi apa lo siap dengan semua kemungkinan dan resiko yang terjadi. Kadang apa yang kita rencanakan itu tidak selalu berjalan sebaik yang kita mau." Alisa memberikan nasehat.
Mendengar hal itu Bella menunjukkan kepalanya sejenak, dan ia terlintas perkataan Jodhi tentang mengatasi dan menuntaskan lukanya. Apa ia benar-benar menginginkannya.
Kepala Bella kini kembali tegak, mata bulatnya kini menatap Alisa penuh keyakinan. "Gue siap Sa, gue mau ini berakhir. Gue capek dihantui perasaan seperti ini terus gak mungkin selamanya gue hindari Abian. Gue pengen hidup normal dan membuka hati baru seperti yang lo bilang, karena selama ini urusan hati gue aja belum selesai. Gimana gue mau buka hati buat cowok lain. Termasuk Arga.“ Jujur Bella.
Dan setelah mendengar penjelasan itu, Alisa tidak bisa menyembunyikan perasaan harusnya. Alisa memeluk Bella lebih erat seolah memberi kekuatan.
Akhirnya setelah sekian lama Alisa coba menyakinkan Bella. Pada akhirnya Bella bisa berani mengungkapkannya sendiri.
"Gue lega lo udah punya keberanian untuk masalah Abian. Yang pasti gue akan selalu dukung yang terpenting lo tau apa yang akan lo pilih dan gue harap lo tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang lo ambil." Alisa sekali lagi mengingatkan.
Bella menganggukkan kepalanya mantap. "Iya Sa, gue sudah siapin hati gue lagi untuk itu."
Alisa kemudian melonggarkan pelukannya. "Tenang, nanti gue bantu cari tau tentang siapa pacar Abian sekarang." Alisa menepuk dadanya dengan bangga. Seolah ia bisa selalu diandalkan.
"Iya lo paling jago kalo suruh seperti gitu," celetuk Alisa.
__ADS_1
Alisa menunjukkan deretan gigi rapinya. "Nggak salah 'kan gue dapat julukan ratu stalker dari Jodhi." Dengan bangga Alisa mengangkat dagunya.
Bella lantas terkekeh. "Ya, memang itu bakat terpendam yang berguna banget padahal kalo dari sisi negatif lo itu macam freak," ledek Bella.
"Sialan, udah lo fokus aja yah buat goda Abian."
Mendengar itu Bella tersenyum kecut. "Abian, itu playboy tadi saja dia udah gombalin gue bilang cinta segala. Dia juga udah cium gue lagi—" Tangan Bella membekap mulutnya secara otomatis. Karena menyadari omongan nya sudah seperti ember bocor.
"Astaga, apa? Lo sudah ciuman sama Abian lagi! Artinya udah lebih dari sekali lo dicium Abian," pekik Alisa nyaring.
"Maksud lo udah lebih dari sekali Bel!" Tambah Alisa.
"Alisa, jangan keras-keras ini sudah malam." Bella mencoba mengingatkan dengan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Duh, memang benar-benar tuh si playboy!" Alisa menggelengkan kepalanya. "Untung aja Jodhi nggak gitu."
Bella malah mengulum bibirnya dan menahan tawa. Sementara Alisa yang melihat itu menggerakkan alisnya ke atas. "Kenapa,” tanya Alisa.
Alisa lantas tertawa. "Udah kayak sambel aja gue ulek Bel. Iya lah, enggak boleh macam-macam. Satu aja gue pusing."
Mereka berdua akhirnya bisa tertawa lepas, saling melontarkan candaan satu sama lain. Dan sekarang Bella menjadi lebih yakin dalam menjalankan rencananya ini karena sudah mendapatkan dukungan dari sahabat yang paling Bella percaya.
Semoga saja Abian benar-benar masuk dalam permainannya.
"Ya sudah Bel, sekarang lebih baik tidur, siapin energi buat balas dendam."
"Ya, Mama Alisa," ucap Bella meledek.
__ADS_1
Sambil merebahkan dirinya di ranjang, Bella menarik segaris senyum di bibirnya. "Sa, ingat gak terakhir kali gue menginap di rumah lo kapan."
Alisa menyunggingkan senyumnya. "Lupa Bel, seingat gue sih sudah lama banget. Mungkin waktu kita SMA."
"Iya, waktu itu gue masih jelek banget 'kan yang pasti." Alisa teringat dengan masa lalu.
Mendengar hal itu Alisa yang tidur di sampingnya lantas berpindah posisi menjadi saling berhadapan. "Ih, jangan bilang begitu yah, lo tuh dari dulu cantik.. Bel. Hanya waktu itu Lo kurang terawat aja." Wajah Alisa terlihat menunjukan ekspresi kesal yang sayangnya malah terlihat lucu dimata Bella.
"Iya, waktu itu lo sampai beliin dan ajarin gue gimana ngerawat diri pakai skincare dan olahraga pilates buat bentuk tubuh,” sahut Bella.
"Tapi sekarang jadi bagus 'kan hasilnya, dulu lo tuh susah banget kalau diajak skincare sama olahraga. Masih ingat gak waktu pertama kali habis pilates seharian lo nggak bisa bangun dari tempat tidur sampai bilang kalau sendi-sendi di badan lo pada copot."
Bella terkekeh. "Ingat lah! sumpah itu badan gue kayak abis dilindas truk tau."
"Yah memang begitu. Makanya ada istilah beauty is pain. Tapi setelah itu sekarang siapa yang paling rajin ajakin pilates." Alisa menaik turunkan alisnya.
"Bagus dong itu kemajuan namanya, lo juga jadi ikut sehat."
"Iya sih, ya sudah gue mau tidur. Lo juga besok harus ke Senopati lagi 'kan buat rapat mengurus keperluan proyek iklan buat resto juga."
Bella mengangguk dan mengeratkan selimutnya sampai di atas dadanya. "Iya, semoga aja Abian menyetujui permintaan gue. Kalau enggak gue harus cari cara lagi buat deketin dia. Demi skripsi," ucap Bella cemas.
"Abian kalo dari cerita lo udah cium lo lebih dari sekali dan tipu lo buat ketemu sama dia. Seratus persen dia penasaran dan tertarik sama lo. Tenang aja Bel. yang terpenting persiapan sama diri lo aja.. Gue lebih khawatir lo yang jadi lemah."
"Bel, jangan sampai jatuh cinta lagi ya sama Abian." Lanjut Alisa kembali berucap.
Bella mengangguk kecil. Meskipun ia tidak tau apa mungkin itu terjadi. Kemudian Alisa mematikan lampu kamarnya yang digantikan dengan lampu tidur yang temaram.
__ADS_1
(Bel, mulai sekarang lo harus jadi kuat.) Batin Bella memberi sugesti pada dirinya.
Alisa benar hatinya harus menjadi lebih keras untuk ditembus oleh Abian dan hanya Arga yang seharusnya menjadi prioritasnya.