Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 7


__ADS_3

Bella tak pernah menyangka hari seperti ini bisa datang dalam hidupnya, ia mengira bertemu Abian saja sudah membuat hatinya terasa berat. Harinya bertambah semakin buruk setelah bertemu Arletta. Wanita paling menyebalkan atau biasa Alisa sebut Arletta itu si wanita ular alias Medusa.


Harusnya dari awal Bella tidak meladeni permintaan Cecil, harusnya ia bisa mengabaikan hal seperti itu karena memang terbiasa. Sekarang lihat bagaimana Bella akan pergi ke pesta Jodhi setelah pertemuannya kembali dengan Abian sore tadi, ia harus bagaimana. Sulit sekali rasanya mencari alasan.


Di depan cermin kamar mandi yang masih berembun Bella menatap pantulan dirinya yang terlihat samar, ia tersenyum kecut mengingat bagaimana sikap Abian padanya tadi.


Rangkulan dan sentuhan Abian masih terasa sama. Bahkan sikap brengseknya mungkin masih sama atau bertambah parah.


Dulu …


Seorang gadis remaja berjalan dengan membawa tas punggung yang cukup besar. Jika di lihat dari penampilannya memang seperti remaja pada umumnya, hanya saja— Seragam yang sedikit besar.


Rok pendek yang seharusnya berada di lutut tapi yang terlihat rok pendek itu ada di betisnya. Ditambah kacamata tebal bulat yang bertengger di wajah polos tanpa riasan sedikitpun. Bisa dibilang itu adalah tampilan lengkap yang mencerminkan tipe anak sekolah baik-baik yang taat pada peraturan. Sebagian temannya tidak jarang memberi sebutan dirinya aneh sebagai bahan perundungan.


Punya seorang teman yang menerimanya dengan tulus itu sangat sulit. Bella sering mendapat perlakuan tidak adil, terkadang mereka mendekati dengan embel-embel pertemanan tapi berakhir dengan permintaan sebagai bahan contek dan bahan pesuruh. Bella dulu hanya bisa menangis dan diam menerima semua perlakuan itu sampai ia mengenal Abian.


Bella mengusap wajahnya kasar, ingatan itu tak seharusnya hadir kembali. Itu adalah gambaran masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam.


Menatap wajahnya yang masih basah di depan cermin lekat-lekat. Senyum tipisnya tersemat, lihat sekarang.. Walaupun bentuk wajahnya masih tetap sama tapi ia sudah pintar dalam mengatur penampilannya. Bella juga sekarang sudah tidak lagi menggunakan kacamata super tebal dengan bentuk aneh sampai Abian sama sekali tidak mengenali-nya. Malah mencoba mencium dan memeluk tubuhnya.


Brengsek memang! Abian tak pernah berubah. Umpat Bella dalam hati.


***


Semalam tidur Bella jauh dari kata nyenyak setelah banyak memikirkan hal ini dan itu sampai jam di dindingnya terus memutar waktu menjelang matahari terbit, ia tidak bisa memejamkan matanya hingga terlelap. Maka pagi ini berakhir dengan wajah lesu ditambah kantung mata yang muncul. Jangan lupakan kewajiban utamanya mengenai deadline yang masih belum menemukan titik temu penyelesaiannya.


Memoles sedikit wajahnya dengan make up untuk menyamarkan kantung matanya yang sedikit menghitam dan bengkak. Mengerikan jika Bella tetap polos. Pikiran Bella yang sekarang harus selalu tampil segar dan cantik.


Terkadang Bella tidak mengerti mengapa ia harus selalu menyembunyikan dirinya. Perasaan takut menunjukan diri yang dulu selalu terngiang-ngiang dalam benaknya.


Bella memang terlihat ceria dan suka bersosialisasi dengan siapa saja. Alisa malah pernah bilang jika dirinya itu punya julukan primadona fakultas manajemen bisnis karena kemampuan social butterfly-nya yang sangat baik.


Bella kira itu hanya gurauan yang Alisa buat. Namun hal itu benar adanya sampai Arletta dari fakultas ilmu komunikasi datang menemuinya dengan cara mencari keributan. Kalo untuk menyebut musuh sih Bella tidak ingin.


Tapi lihat sekarang wajahnya sengaja ia telungkupkan pada tumpukan buku-buku di dalam bilik baca. Yah, Bella memang sedang ada di perpustakaan untuk tidur. Walaupun Bella termasuk dalam jajaran mahasiswa pintar tetap saja Bella itu punya sisi malas dan kenakalannya tersendiri, ia tidak sekaku yang dipikirkan karena menyandang predikat mahasiswa pintar.

__ADS_1


Sebisa mungkin Bella ingin tetap menikmati dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh wanita seusianya. Lagi pula semua telah tersedia saat ini, tidak perlu memikirkan uang atau fasilitas lagi.


"Bel," cicit seseorang yang sangat Bella hafal suaranya.


Kepalanya bergerak sedikit mendongak. "Apa?" Mulutnya bergerak tanpa mengeluarkan suara.


"Ke salon yuk." Seketika Bella kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam tumpukan buku tersebut.


Bukannya pergi Alisa malah menepuk bahu Bella bahkan terus memanggil Bella. Astaga! Bella cepat-cepat menarik Alisa keluar sebelum petugas dan pengunjung lain mengusirnya karena suara cempreng Alisa yang mengganggu ketenangan di perpustakaan.


"Ngantuk banget." Tolak Bella halus, memasang wajah lelahnya.


"Ih, Bel.. memang semalam tidur jam berapa," tanya Alisa polos.


"Gue belum tidur sampe siang ini." Telapak tangan Bella terulur menutup mulutnya yang mulai menguap.


Mata coklatnya terlihat sedikit berair pada bagian ujung matanya. Melihat hal tersebut Alisa menjadi tidak tega untuk memaksa.


"Ya udah, tidurnya di rumah aja jangan di perpus. Atau Lo masih ada kelas?" Alisa mendudukan dirinya di tangga masuk.


Alisa menghela napas dalam wajahnya terlihat lesu. “Bel, ayo lah ikut gue. Lo juga bisa kok kalo tidur di salon.. Kita bisa pilih spa, yah.“ Bujuk Alisa manis.


Bella melipat bibirnya dan sedikit menggigitnya. "Alisa," panggilnya lirih. Kemudian Alisa memperhatikan mimik wajah Bella yang nampak ingin mengatakan sesuatu.


"Kayaknya gue nggak bisa deh dateng ke party-nya Jodhi. Mama minta temenin." Bella mengulas senyum tipis yang terlihat kikuk.


Alisa menyipitkan matanya, biasanya jika begini Alisa akan langsung menceramahi Bella atau kadang merengek sampai Bella yang tidak tega merubah pikiran, tapi kali ini Alisa tidak akan melakukannya.


"Mau ke acara apa sampe ngelanggar janji." Tangan Alisa sudah melipat kedua tangannya di bawah dadanya.


Mendapat pertanyaan itu Bella mencoba memikirkan alasan yang logis. Tentu sebelum berencana bicara hal seperti ini Bella sudah menyiapkan beberapa jawaban. "Em, ada acara keluarga dadakan ini makanya mau ketemu dan mau diomongin."


"Oh, ya udah gue bolehkan tunggu lo sampai dijemput 'kan? Kalo lo mau tidur lagi juga nggak masalah," jawaban Alisa yang lain dari biasanya.


Membuat Bella hanya mampu diam merutuki alasan apalagi yang harus disiapkan. Mengapa berbohong pada Alisa itu sulit sekali.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit mereka menunggu sampai sebuah mobil hitam berhenti di depan parkiran perpustakaan kampus. Tamatlah riwayat Bella.


Mamah Bella keluar dari mobilnya. Wajah dan penampilannya terkesan anggun. Senyumnya berseri nampak ramah.


"Hai, Tante Misya. Gak biasanya jemput Bella di kampus," sapa Alisa memberondong berbagai pertanyaan.


"Iya, kebetulan sekalian lewat Tante tadi habis ada kerjaan sekitar sini. Kamu apa kabar?" sahut Tante Misya.


Sementara Bella hanya diam melihat interaksi antara Alisa dan Mamanya itu. Sekarang dalam kepalanya telah berpikir untuk cepat mengajak mamanya pergi sebelum menimbulkan pertanyaan yang ingin ia hindari.


Bella menggenggam tangan mama-nya mencoba untuk memberi sedikit tarikan untuk beranjak. "Ma yuk, nanti bisa kejebak macet, lagi juga Alisa udah mau pulang juga. Ditungguin Pak Deni.. Ya 'kan, Sa." Bella menekan perkataannya.


Belum sempat kakinya melangkah. Suara Cempreng Alisa sudah menghentikan gerakan Bella.


"Tan, kue Jodhi gimana bisa diambil lebih cepat," ucap Alisa sedikit lebih kencang.


Yang mau tak mau menghentikan langkah Bella dan mama Misya. Hingga kembali lagi ketempat semula. Dan Bella yang ada di sampingnya hanya bisa menghela napas panjang.


"Oh, kamu minta antarnya jadi siang yah. Tante sudah bicarakan sih katanya bisa tapi kemungkinan kamu harus ambil sendiri nanti di cabang Bandung atau pake MoSend, kebetulan pas jam itu lagi penuh orderan di sana dan takut telat datangnya." Misya melirik sejenak ke arah Bella.


"Kamu minta antar Bella aja sekalian Tante juga mau minta tolong untuk cek toko yang di sana kebetulan sudah dua bulan tante nggak cek. Bisa yah, Nak." Pinta mama Misya.


Seketika wajah Bella memucat.


(Mati! Gue gak bisa berkelit lagi.) Batin Bella, sejenak kedua matanya memejam.


Astaga Bella ingin sekali menyembunyikan wajahnya atau membenturkan kepalanya ke dinding, sekarang ia harus menjawab apa lagi. Dan alasan apa lagi yang harus ia lontarkan, jika alasan tugas kampusnya sangat tidak mungkin karena saat ulang tahun Jodhi adalah long weekend.


Bella menelan ludahnya kasar. "Iya Mah," jawab Bella dengan nada pasrah.


Alisa tersenyum cerah setelah mendengar penuturan tante Misya, sebenarnya saat datang ke toko roti dan restoran tempo hari Alisa sudah meminta izin mengajak Bella untuk pergi keluar kota menjelaskan ini dan itu selagi dirinya memesan kue. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bella karena kali ini Alisa sangat ingin Bella hadir, bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk membantu Bella melepaskan ketakutannya.


"Oke Tante, makasih banyak. Hati hati dijalan. Bel, Lusa gue jemput, jangan tidur kemaleman."


Alisa melambaikan tangannya dengan berat. Sedangkan Bella membalas lambaian tangan Alisa dengan berat. Karena jelas pupus sudah harapannya untuk kabur dari pesta Jodhi dan menghindari Abian.

__ADS_1


__ADS_2