Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 18


__ADS_3

"Bel, lo pikir aja dulu apa yang tadi kita bicarakan," ucap Jodhi saat di depan Legit Coffee.


"Makasih ya Jod, nanti gue kabarin lagi."


"Ya, Bel hati-hati. Dan sebaiknya jangan cerita dulu sama Alisa, lo tau kan dia suka ribet sendiri. Gue pengen lo berpikir jernih dan semua itu harus dari dalam diri lo."


Bella lantas mengangguk. "Jod, gue enggak ngerti lagi Alisa benar beruntung bisa jadi pacar lo."


Jodhi lantas terkekeh. "Enggak ada konsep kaya gitu Bel, saling melengkapi gue sama Alisa."


"Ya, sudah hati-hati berkendara. Gue pamit."


"Lo juga hati-hati Jod."


Dan kemudian Bella berjalan menuju parkiran, memasuki mobilnya Bella masih terngiang dengan perkataan Jodhi yang logis dan dewasa. Ia sampai tak menyangka dibalik sisi Jodhi yang kelihatannya tidak pernah serius menyimpan jiwa bijak.


Bella kemudian melajukan mobilnya perlahan, sekarang tujuan terakhirnya adalah rumah, meski penat dengan berbagai pemikiran Bella harus tetap waras.


Besok ia akan melakukan bimbingan dengan pak Agus lagi. Dan otaknya harus benar-benar ia persiapkan untuk bimbingan besok.


"Ma, Bella pulang," ucap Bella setelah membuka pintu utama rumahnya.


"Ma …."


Namun tak ada jawaban yang ia terima, maka Bella langsung mengecek ponselnya siapa tau mamanya tadi menitipkan pesan kenapa ia pulang terlambat.


Menatap layar ponselnya cukup lama Bella tertegun dengan pesan yang dikirimkan Abian. Isi pesannya sangat menyebalkan.


Bella jadi penasaran apa benar Abian bukan seorang playboy. Jemari Bella lincah menekan beberapa kalimat untuk mengetikkan balasan pada Abian


"Kita lihat takdir akan membawa kita ke mana, aku sudah cukup muak. Aku tidak akan menjadi pengecut," ucap Bella pada dirinya sendiri


Keesokan harinya, Bella berangkat menuju kampusnya lebih pagi, kemarin mamanya pulang sangat larut karena ada masalah toko yang kecurian di daerah Bekasi. Beruntung tidak ada korban meski ada beberapa dokumen dan uang yang raib.


Mamanya juga pagi-pagi sekali sudah berangkat. Arga, juga sama. Semenjak menghilang dari pesta Jodhi tidak ada lagi kabar yang Bella tau.


Rindu? Bella tak tau pasti. Ia bahkan tidak bisa bilang apa yang tengah ia rasakan dalam hatinya.


"Selamat pagi, Pak Agus," sapa Bella ramah begitu sampai di ruang bimbingan.


"Pagi, Bella. Coba tunjukan bab satu-mu dengan arahan bimbingan terakhir kali."


Bella kemudian mengeluarkan apa yang pak Agus minta.

__ADS_1


Bella duduk dengan mimik wajah yang tetang tetapi ia juga sedikit cemas, karena ia tidak tau apa pak Agus ini meluluskan bab satu-nya ini.


Jika boleh dibilang ia menyiapkan semua bahan materi ini hanya satu minggu dan Bella merasa kurang sebab ia tidak menjelaskan dengan pasti perusahaan mana yang ia teliti.


Pa Agus kemudian meletakkan kertas-kertas itu di meja dan kini tubuh Bella ikut menegang.


"Bagaimana Pak, apa masih ada yang perlu diperbaiki," tanya Bella hati-hati.


"Konsep dan kerangkanya sudah bagus, saya rasa sudah cukup tetapi." Bella sejenak menahan nafasnya. "Saya rasa kamu masih terlalu umum untuk pembahasannya. Karena lebih baik tugas akhir untuk studi kasus, Apa kamu belum dapat narasumbernya,"ucap pak Agus


"Maaf Pak, saya memang ada kesulitan untuk mencari narasumber yang pas."


"Saya mengerti memang nggak mudah apalagi kamu belum banyak persiapan. Nanti saya coba bantu mungkin ada kolega saya yang bersedia bantu."


Seperti mendapat air dingin di tengah terik cuaca matahari di Jakarta, Bella lega dosennya mau membantu.


"Baik Pak, sambil menunggu saya juga akan coba mencari narasumbernya."


"Ya sudah, kamu bisa lanjut bab dua, itu lebih berisi tentang teori yang mendukung konsep dari latar belakang penelitianmu."


"Kamu ambil dari buku atau ebook. Boleh mengutip dari skripsi senior tetapi saya sarankan sebanyak lima persen karena kamu bisa kena copyright. Apa ada lagi yang kamu tanyakan," ucap pak Agus.


"Untuk sekarang cukup Pak, saya sudah mengerti."


"Ya sudah, nanti untuk narasumbernya saya kasih kontaknya ke kamu saja. Kamu silahkan perkenalkan diri dan bilang saja kamu mahasiswa saya yang butuh narasumber untuk penelitian," Jelas pak Agus panjang lebar.


"Kalau bisa seminggu lagi kita ketemu di ruang bimbingan lagi, karena dua minggu lagi saja harus ke Yogyakarta."


"Baik Pak, Saya pamit."


Pak Agus mengangguk. Bella kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan wajah leganya. Akhirnya ia bisa melaju ke tahap yang selanjutnya.


Setidaknya, ada hal yang berjalan baik di tengah banyaknya masalah yang Bella hadapi saat ini.


Bella mengambil ponselnya, ia ingin mengirim pesan pada Arga. Bagaimanapun Arga sudah banyak membantunya semoga saja hari ini Arga membalas pesannya.


To Arga : Ga, kamu apa kabar. Aku sudah lolos bab dua, rasanya senang. Akhirnya aku bisa selangkah lebih maju. Doain aku ya lancar sampai lulus. Kabari aku secepatnya.


Setelah selesai mengetiknya Bella langsung saja mengirimnya dan memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.


Sekarang ia harus ke perpustakaan lagi mencari bahan teori.


***

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain. Abian tengah bersiap melakukan rapat dengan beberapa timnya. Tentu saja sebagai owner iya harus terbiasa melakukan rapat seperti ini. Abian tidak hanya ingin menerima laporan saja, ia ingin ikut terjun dalam bisnisnya.


Lagi pula bisnis yang dirintisnya ini masih tergolong baru dan kecil, jadi ia harus melakukan peninjauan ekstra untuk memastikan semuanya dapat berjalan dengan semestinya.


"Mas Abian, untuk promosi ada baiknya kita melakukan endorsement dengan salah satu influencer saya pikir itu adalah cara yang cukup populer dan mudah diterima masyarakat," ucap salah satu staff perempuan yang bernama Anita.


"Kita coba dulu salah satu, cari influencer yang engagement cukup bagus. Tidak perlu yang sangat populer karena saya juga tidak mengeluarkan dana yang cukup besar,"


"Baik Mas."


"Saya kira rapatnya sampai di sini dulu. Untuk besok rapat dengan tim produksi. Bas, tolong dicatat semua minat dan konsep yang sedang diminati konsumen."


"Baik Bos," ucap Abian.


Rapat selesai dan Abian masih duduk terdiam bersama Bastian yang masih ada di dalam ruang rapat.


"Pusing banget muka lo," celetuk Abian.


"Kerjaan," tanya Bastian lagi.


"Bukan," jawab Abian memijat pangkal hidungnya.


"Ah, Amel."


Dan Abian tidak bisa membantah sepenuhnya tebakkan Bastian.


"Bian, gue cuma saran aja sih." Bastian nampak lebih serius dengan menggeser posisi duduknya semakin menghadap Abian.


"Mungkin lo lagi mikirin rencana pernikahan lo 'kan sama Amel dalam waktu dekat ini."


"Bas, gue bingung apa keputusan gue itu udah tepat," ucap Abian dengan nada yang terdengar tertekan.


"Dari awal gue sudah ingatkan lo Bi, ini pernikahan bukan sehari dua hari lo lakuin tapi selamanya sampai sisa hidup lo. Apa lagi lo bilang sebenarnya lo enggak ada perasaan cinta sama Amel. Semua murni karena bentuk tanggung jawab dan penyesalan karena kenakalan lo."


"Iya, gue tau Bas, tapi mau sampai kapan. Gue bahkan sudah tunggu Bella, tetapi dia enggak pernah muncul di hadapan gue. Dan yang ada sekarang malah sosok Bella baru yang gue enggak kenal."


Bastian hanya dapat menghela nafasnya panjang sebab temannya ini memang sudah sangat lama mencari Bella yang katanya adalah mantan pacarnya di sekolah menengah atasnya itu.


"Ya, Bi. Gue tau lo juga nggak bisa berharap apapun. Gue bukan minta lo cari mantan pacar lo dan terus nikahin dia. Tapi gue mau lo beneran cari pasangan hidup yang buat lo yakin mau menghabiskan waktu selamanya sama dia. Perempuan yang mau belajar memahami lo."


Seketika Abian makin menenggelamkan wajahnya ia tidak tau, perasaan cintanya seolah tertutup hanya untuk satu wanita yang ia sendiri tidak tau keberadaannya.


"Pikirkan baik-baik Bi, dengan kepala dingin. Dan kalau misalnya takdir mempertemukan lo lagi sama mantan lo kira-kira apa yang bakal lo lakuin." Bastian menepuk bahu Abian

__ADS_1


Bastian kemudian bangkit dan keluar dari ruang rapat meninggalkan Abian yang masih terduduk lesu berkutat dengan pikirannya.


Sekarang Abian hanya berpikir apa takdir akan membantunya. Dan apa tiga bulan adalah waktu yang cukup, sementara Abian sudah mencarinya selama tiga tahun belakangan ini.


__ADS_2