Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 35


__ADS_3

Bella sudah sampai pada sebuah komplek apartemen. Dari memasuki parkiran saja, Bella sudah was-was. Memikirkan apa saja yang kemungkinan akan Abian lakukan padanya.


“Lo harus ikut ke dalam. Gue akan kasih bukti,“ ucap Abian.


“Gak, gue gak mau. Lo tukang bohong. Gue gak mau masuk kesana. Apalagi ini apartemen lo, kemungkinan lo berlaku jahat lebih besar.“ Tolak Bella dengan tegas.


“Bel, astaga.. bisa gak sih kasih gue kesempatan kedua sekali aja.“


Abian kemudian mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor darurat untuk memanggil polisi. “Lo bisa lihat 'kan di layar handphone gue ini nomor darurat buat panggil polisi. Kalo gue beneran melakukan hal. Yang buruk sedikit aja lo bisa telepon polisi.“


Bella meneguk ludahnya. Dari sorot matanya Bella bisa lihat jika Abian benar-benar serius dengan ucapannya.


“Bel, please kali ini aja. Kalaupun ini terakhir kalinya buat gue ketemu lo. Gue gak akan ganggu lagi,” tutur Abian lagi.


Memang Bella yang lemah dengan bujukan dan juga rasa tidak enak yang sangat besar jika seseorang sudah memohon, menjadikan Bella akhirnya menurut dan mengikuti langkah kaki Abian yang membawanya masuk ke dalam sebuah apartemen yang di dominasi oleh warna abu dan juga putih.


Selama masuk, Bella hanya disambut sofa besar berwarna hitam dan juga pandangan mata Bella tertuju pada dua pintu yang terdapat di apartemen Abian itu.


“Duduk Bel, sebentar gue ambil hal yang pengen gue tunjukkan sama lo.


Bokong Bella mendarat di sofa besar berwarna hitam itu. Sedangkan Abian sudah masuk kedalam satuh satu kamar yang paling dekat dari sofa hitam besar yang ia duduki ini.


Banyak pertanyaan yang mulai muncul di kepala Bella. Terutama rasa penasarannya yang tinggi tentang apa yang ingin Abian tunjukan padanya.


Beberapa menit kemudian, bola mata Bella bergetar dengan salah satu benda yang tengah dipegang oleh Abian.


Iya, meski sudah bertahun-tahun lamanya Bella tidak mengira jika Abian masih menyimpan toples yang berisi bintang-bintang yang ada di dalam toples kecil yang berbahan kaca itu dengan rapi.


Pupil Bella bergetar. Kenapa Abian masih menyimpan semua kenangan saat mereka bersama. Jadi apa benar tentang ucapan Abian ketika mabuk itu benar adanya dan cewek yang Abian maksud adalah Bella.


Pening, mual dan dada Bella seketika sesak. Dan pandangan Bella tiba-tiba menjadi gelap. Sedetik berikutnya Bella tidak tau apa yang terjadi pada dirinya lagi.


•••


“Bel… Bella!“ Abian memekik kencang.


Dengan berlari dan meletakan begitu saja barang-barang yang ia bawa di meja kayu yang tidak jauh dari sofa begitu saja.


Dengan cekatan Abian menangkap tubuh Bella, Abian tentu saja panik, ia langsung menyandarkan kepala bela pada dada bidangnya. Sementara tangannya yang lain mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang bisa langsung membantunya.


“Cil! Buruan lo datang ke apartemen gue. Bella pingsan nih.“ Suara Abian tampak panik.


“Hah? Lo ngomong apa?“ Sesil menyahut di ujung telepon-nya.


“Buruan kesini!“ Tidak lama Abian menutup begitu saja teleponnya.


Satu hal saat keadaan genging seperti ini ada satu orang teman yang menjadi sandaran Abian. Dengan tergesa Abian membuat panggilan.


“Bel.. bangun sayang,” ucap Abian. Suara Abian tampak panik dan mencoba terus memegang pergelangan tangan Bella guna merasakan denyut jantungnya.


Abian takut, ia takut terjadi apa-apa pada Bella.


Beberapa menit menunggu Abian tidak mendapatkan jawaban dari telepon-nya malah suara mesin yang menjawab. Abian tidak menyerah, ia mencobanya lagi.


Sampai akhirnya..


“Kenapa Bian telepon?“ Suara seorang lelaki menjawab di ujung telepon-nya.

__ADS_1


“Bas.. tolong gue! Ada Bella di apartemen gue pingsan. Gue harus gimana Bas.“ Abian berbicara tentang keadaan Bella.


“Duh Bian, tenang.. lo tenang dulu. Coba Lo cek, dia masih bernapas gak?“


Tanpa banyak bicara Abian memeriksa napas Bella dengan jari telunjuknya yang ia taruh di hidung mancung Bella.


“Masih Bas.. denyut jantungnya juga masih ada tapi lemah,” jawab Abian.


“Ya udah sekarang posisi badan Bella buat terlentang dan naikkan kakinya lebih tinggi sekitar dari dada, supaya aliran darah kembali ke otak lancar dan bisa cepat sadar.“ Jelas Bastian.


“Oh iya, Mik.. si Bella lagi pakai baju apa?“


“Hah? Kenapa?“ Abian menjawab dengan bingung.


“Itu loh kalo misalnya dia pakai ikat pinggang atau pakaian ketat lo longgarin pakaiannya suapan dia bisa napas. Termasuk lo buka juga kaitan bra-nya.“ Titah Bastian.


“Hah Bas, lo gila.. nanti gue disangka mesum lagi.“


“Aduh lo lakuin aja kalo mau Bella selamat! Gue telepon dokter deh biar on the way ke tempat lo yah. Kalo lo punya minyak aroma terapi lo kasih aja di dekat hidungnya Bella atau kaos kaki lo yang bau udah gak dicuci seminggu,” celetuk Bastian.


Abian yang awalnya tegang dan panik menjadi bisa sedikit tersenyum. “Sial lo, Bas.. thanks yah. Nanti gue kabarin lagi.“


Sesudah mengakhiri sambungan teleponnya, Abian langsung melakukan apa yang Bastian katakan termasuk membuka pengait bra yang digunakan Bella.


Jika Bella sadar mungkin akan berbeda perasaan yang Abian rasakan. Tapi sekarang ini Bella hanya tertidur lemah.


Abian tidak punya minyak aroma terapi, ataupun kaos kaki yang belum ia cuci. Biar dia seorang lelaki tetapi Abian tidak suka hal yang kotor lain hal jika jorok yah, asal joroknya memberi kenikmatan dunia mungkin Abian masih bisa mempertimbangkan hal itu.


(Tuh 'kan pikiran gue jadi kemana-mana.) Batin Abian.


Lama menunggu dan mengamati Bella yang masih terbaring, suara Bel memecah keheningan. Abian langsung mengambil langkah lebar dan membuka pintu apartemennya.


“Sebelah sini Dok, pasiennya sebelah sini.“ Abian langsung mempersilahkan dokternya untuk memeriksa keadaan Bella secepat mungkin. Abian berdiri di dekat sofa dibaringkan. Kedua bola matanya tidak bisa lepas dari Bella dan mengamati pergerakan dokter lelaki yang tengah menempelkan stetoskop.


Tanpa sadar gerakkan kaki Abian gelisah dan bibirnya ia gigit. Abian takut terjadi sesuatu pada Bella yang wajahnya semakin pucat.


Tidak lama dokter, meletakkan stetoskopnya dan membuka sebuah tas yang cukup besar.


“Gimana Dok,” tanya Abian.


“Saya kasih suntikan obat dulu yah. Sepertinya ini karena darah rendah dan juga asam lambungnya naik terlampau banyak sampai ke dadanya sehingga sesak napas dan pingsan.“ Jelas sang dokter.


Tingtong! Suara Bel apartemen Abian berbunyi, sudah bisa ditebak jika adik Abian, yaitu Cecil yang datang.


“Sudah selesai pak, nanti mungkin sepuluh menit sampai setengah jam pasiennya akan siuman,” jawab Dokter.


“Baik Dok, kalau begitu terima kasih.“ Abian langsung mengantar dokter lelaki itu keluar dari apartemen dan mengucapkan rasa terima kasihnya.


“Cil, gila lo lama banget. Kalo gue yang pingsan yang ada gue udah keburu lewat!“ Geram Abian.


“Ye.. Lo marah-marah aja. Gue udah berusaha secepat mungkin. Lo kuta gampang cari ojek online. Gue udah bela-belain loh nak ojek biar cepat. Gak ada apresiasinya.“ Suara Cecil meninggi.


“Ya udah lah. Lo teman-in dulu Bella deh. Gue mau beli makan dan juga beli obat yang diresepkan dokter dulu.“


“Lo apaain Kak Bella sih Kak.. kok dia bisa pingsan di apartemen lo?“ ucap Bella.


Abian yang belum melangkah itu kemudian menatap wajah adinyaudengan wajah kusutnya. “Gue gak tau.. jagain dulu yah Cil. Nanti kalo Bella udah sadar baru gue ceritain.“

__ADS_1


Kepala Cecil mengangguk dan Abian keluar dari apartemen-nya.


Melihat Bella pingsan dan terbaring lemah malah semakin membuat Abian merasa bersalah.


“Bel, apa lo punya trauma masa lalu karena gue?“ gumam Abian.


Satu jam kemudian,


Sesudah membeli obat, Abian berharap Bella sudah siuman. Dan untung saja apa yang menjadi harapannya terkabul.


Perlahan Abian mendekati sofa. “Bel, are you oke?“ Abian bertanya.


Kepala Bella mengangguk. “Makasih udah tolong gue.“


“It's oke. Lo sebaiknya makan buburnya dulu yah habis itu minum obatnya. Cecil udah cerita tadi Lo dapat suntikan juga dari dokter 'kan?“


“Iya.. makasih yah Bi.. maaf ngerepotin lo,” ucap Bella.


Mendengar Bella dengan sebutan Bian, membuat hati Abian menghangatkan seba itu adalah panggilan yang dulunya sering Bella ucapkan padanya.


“Cil, siapin Bella yah.“ Titah Abian


Tapi belum sempat Cecil menjawab, Cecil menempelkan ponselnya pada telinganya dan pergi menjauh dari sofa.


“Em, Abian.. gue bisa kok makan sendiri,” ucap Bella.


Abian menghela napasnya. “Ya udah gue bantu lo duduk sandaran aja yah supaya makanya lebih enak.“


Kepala Bella mengangguk dan Abian membantu tubuh Bella yang lemah untuk bersandar.


“Pusing gak Bel kalau duduk?“


“Kak, sorry nih.. gue harus segera pulang. Mami suruh gue pulang.“ Cecil menyela percakapan antara Abian dan Bella.


Lalu satu. Hal yang membuat dahi Abian berkerut adalah mulut Cecil yang mengucapkan kata Amel tanpa suara.


“Kak Bella, sorry yah Cecil harus pulang. Kalo gitu sampai ketemu yah. Tenang aja Kak Abian gak gigit kok,” ucap Cecil.


Sebelum melangkah keluar, Cecil memeluk Bella dan juga Abian sejenak.


(Tumben pamit pakai acara pelukan.) Batin Abian.


Tapi rasa asing itu terganti saat Cecil membisikan satu kalimat pada telinga Abian saat mereka berpelukan.


“Mami ngamuk cariin lo. Amel di rumah,” bisik Cecil.


Sesudah membisikan hal itu, Cecil tergesa untuk cepat keluar dari apartemen.


Abian memejamkan matanya sejenak. (Kali ini apa lagi, masalah Bella saja belum selesai.) Pikir Abian dalam hatinya.


“Bian, kenapa? Apa lo harus pulang ke rumah juga?“ tanya Bella.


Bibir Abian memulas senyumnya. “Gak kok, gue nanti pulang ke rumahnya. Gue mau pastiin dulu lo udah makan, minum dan minum obat. Gue antar pulang yah, Bel. Gue gak mau lo kenapa-kenapa dijalan.“


“Mm.. iya,” jawab Bella.


Tiba-tiba saja Bella mengambil tangan Abian. Tentu saja membuat Abian terkejut. “Kenapa Bel?“ Reflek Abian bertanya.

__ADS_1


“Abian, kita lupain tentang masa lalu. Jangan bahas itu lagi.. gue udah maafin lo. Kita hidup masing-masing yah.“


__ADS_2